Viendra Dan Viona

Viendra Dan Viona
eps 42


__ADS_3

Di kediaman Pak imam.


”Ini rumahnya Pak imam?” tanya Genta pada Ibra. Mereka telah berada di sisi kanan rumah Pak imam. Mereka bersembunyi di kegelapan.


”Iya, Tuan.” Ibra menunjuk Viona dan berkata, ”Dan itu wanita yang bernama Viona. Gadis yang di lindungi sama ular cobra emas.”


Genta melihat Viona. Ia terkejut saat melihat wajah gadis itu. Raut wajah Viona punya kemiripan sedikit dengan wajah Maria.


”Apakah dia anak dari Maria?” Genta bertanya dengan penasaran.


”Maaf, Tuan. Aku tidak tahu hal itu. Mungkin saja itu benar, Tuan. Karena Berlia sangat melindunginya.” jawab Ibra.


Ibra terkejut melihat anaknya dan ibu dari anaknya itu berada di depan rumah pak imam bersama para warga lainnya.


Kenapa mereka berdua harus ada di sini? Sudah ku bilang mereka tidak usah pergi, mereka malah datang kesini. benak Ibra.


”Tuan, anak buah kita tidak bisa masuk ke rumah pak imam, rumahnya di bentengi oleh pak imam. Lihatlah, ke enam anak buah kita selalu mencari cara menerobos pertahanan pak imam tapi tidak bisa. Padahal Viona berdiri tepat di teras rumah. Jika Viona keluar dari teras, dengan mudah anak buah kita menyakitinya dan membuat Berlia dan Maria untuk datang kesini.” jelas Ibra pada Genta.


Genta mencoba menghancurkan benteng yang di buat oleh pak imam dengan kekuatannya.


”Ugh! Ukhuk... ukhuk.” Genta terbatuk-batuk, darah segar keluar dari mulutnya. Ia tidak bisa menghancurkan benteng tersebut.


”Tuan! Tuan tidak apa-apa?” tanya Ibra khawatir.


”Aku tidak apa-apa! Bentengnya lumayan kuat. Aku tidak bisa hancurkan dengan tenaga dalam ku.” ucap Genta.


”Bagaimana kalau kita menyatukan kekuatan kita dan membuka pertahanan benteng itu.” usul Ibra.


”Hum.” Genta menyetujui.


Genta dan Ibra menyatukan kekuatannya. Mereka mencoba menghancurkan benteng pak imam agar anak buahnya bisa masuk ke rumah pak imam dan menyerang Viona.


Tubuh Ibra gemetar, ia tidak mampu bertahan lagi. Benteng yang di pasang pak imam memang sangat kuat.


”Argh!”


Gedebug! Tubuh Ibra dan Genta sama-sama terpelanting ke tanah. Darah segar keluar dari mulut mereka berdua. Tangan kanannya memegang dadanya yang sakit.


Pak imam melihat Genta dan Ibra yang bersembunyi di kegelapan sana.


Kalian ingin menghancurkan benteng yang aku buat? Tidak semudah itu. benak Pak imam.


”Kekuatan benteng pak imam sangat kuat sekali. Bagaimana bisa membuat Viona keluar dari teras rumah? Aku tidak bisa melewatkan kesempatan ini untuk membunuh keturunan Prayoga.” gumam Genta. Namun, masih terdengar di telinga Ibra.


”Tidak ada cara lain untuk memancing Viona keluar dari teras itu! Kecuali, mencelakai Andra. Tuan, perintahkan anak buah mu untuk menyerang Andra. Semakin banyak ular yang menyerangnya, Viona akan khawatir dan secara sukarela Viona akan menghampiri Andra untuk membantu Andra.” usul Ibra.


”Hum.” Genta melihat anak buahnya. Ia menyuruh meraka untuk menyerang Andra. Anak buahnya menurut. Mereka melaksanakan perintah Genta.


Andra, Ali, Pak imam, Viona, Anisa, dan Ibu Ali juga para warga sangat terkejut melihat ular hitam semakin banyak yang berdatangan. Tapi anehnya, ular-ular yang datang itu lebih menyerang ke Andra.


”Pa, Ali seakan tidak mampu lagi untuk melawan mereka, Pa. Mereka semakin banyak. Dan kita... kita hanya bertiga.” ucap Ali.


”Terus bertahan!” ucap Pak imam. ”Lindungi Papa sebentar.”


Ali mengangguk. Ia melindungi papanya. Pak imam memejamkan mata, ia melakukan telepati dengan kakek Andra.


”Arifin! Cepat datanglah ke rumah ku! Kami dalam masalah!” ucap Pak imam.


”Ada masalah apa, Musthofa? Kenapa kamu panik, apa yang terjadi di sana?” tanya Arifin.


”Kediaman ku tiba-tiba di serang oleh sekelompok ular hitam. Mereka sangat banyak. Kami hanya bertiga, kami sudah kewalahan menanganinya.” jelas Pak imam.


”Apa? Kediaman mu tiba-tiba di serang sekelompok ular hitam?” Arifin terkejut. Ia jadi panik dan khawatir.


”Iya, cepatlah datang!” titah Pak imam. Ia memutuskan sambungan telepati nya dengan Arifin.


”Ma, ular-ular itu... mereka semakin banyak. Bagaimana ini, Ma?” Anisa semakin khawatir dan cemas melihat sekelompok ular yang tidak putus-putus datangnya. Sementara Ali, Andra, dan papanya terus bertarung melawan ular-ular itu.


Ibu Ali terdiam. Dia tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya berdoa di dalam hati meminta perlindungan kepada Allah SWT. untuk keselamatan suami dan kedua anak lelakinya yang sedang bertarung dengan siluman ular.

__ADS_1


”Itu Viona! Semua ini karena wanita pembawa sial itu!” teriak Nia dari kerumunan warga. Ia berusaha memprovokasi Anisa agar Anisa semakin tersulut emosinya dan semakin membenci Viona.


”Iya, benar! Ini semua karena Viona! Ular-ular ini adalah komplotan Viona!” sambung para warga.


Anisa melihat Viona. Benar apa kata Nia dan para warga. Ini semua terjadi karena Viona.


Viona sendiri menjadi panik dan khawatir melihat Andra yang di keroyok sama sekelompok ular. ”A__Andra! Hati-hati!” teriak Viona. Viona berbalik badan hendak masuk ke dalam rumah.


Anisa menahan langkah Viona. ”Kamu mau kemana?” Anisa menggenggam erat lengan Viona.


”Aku ingin ke belakang. Lepaskan aku, Anisa.” pinta Viona.


”Anisa! Lepaskan Viona! Apa yang kamu lakukan? Hah!” Ibu Ali menggertak Anisa.


”Ma, ini semua terjadi karena Viona! Mama jangan membelanya! Siapa di sini anak kandung Mama, hah! Aku apa Viona?” Anisa membentak Ibunya dengan kasar.


”Anisa! Jangan membentak Ibu. Kamu akan berdosa.” Viona menegur Anisa. ”Minta maaf pada Ibu.”


”Kamu jangan mengajari ku tentang apa itu dosa, Viona! Kamu tidak pantas!” sahut Anisa.


Nia menyeringai melihat Anisa yang bertengkar dengan Viona.


*


*


Di goa, kediaman Berlia.


Berlia sedang merendam dirinya dengan air hangat sambil membayangkan kemesraan dirinya dengan sang suami, Ali.


Berlia mengelus perutnya dengan tersenyum senang, ”Sayang, Mama sudah tidak sabar menantikan mu hadir di dunia ini.”


”Nyonya... Anda di mana Nyonya?” terdengar suara pelayan Berlia yang panik mencari dirinya.


Kening Berlia mengerut, ”Aku di kamar mandi. Ada apa?”


”Nyonya. Para anak buah Genta datang menyerang ke kediaman pak imam,” lapornya.


”Baik, Nyonya!” Ia keluar dari kamar Berlia. Ia menyampaikan perintah Berlia pada prajurit setia Berlia.


”Semua sudah siap?” tanya Berlia.


”Siap, Nyonya!”


”Ayo berangkat!” titah Berlia. Mereka pergi ke kediaman pak imam.


*


*


*


Di kota, kediaman Kevin.


”Hah! Aku... perasaan ku semakin gelisah! Aku tidak bisa menahan rasa gelisah ini.” racau Maria. Ia mondar-mandir di ruang keluarga.


”Ma, ada apa dengan Mama?” tanya Lirjan.


”Lirjan, Mama sangat khawatir dengan Viona! Mama takut... Mama... Mama benar-benar takut, Lirjan.” ucap Maria.


Lirjan terdiam, ia tidak tahu bagaimana menanggapi mamanya tersebut. Ia dapat melihat kekhawatiran, kecemasan, kepanikan di wajah mamanya.


”Mama... Mama tidak bisa tenang, Lirjan.” ucap Maria lagi.


Lirjan merangkul pundak mamanya mencoba menenangkan mamanya tersebut.


”Ada apa ini, Lirjan?” tanya Kevin. Ia baru saja pulang dari kantor. Ia terkejut melihat istrinya yang panik di rangkulan Lirjan.


”Lirjan gak tau, Pa. Mama sangat gelisah malam ini.” jawab Lirjan. Ia melepas rangkulannya dari Maria.

__ADS_1


Kini Kevin yang memeluk istrinya tersebut. ”Apa yang Mama cemaskan? Hum?” tanya Kevin dengan lembut.


”Mama mencemaskan Viona, Pa. Mama benar-benar gelisah. Mama gak bisa sembunyikan rasa gelisah ini, Pa. Hu... hu... hu... Mama takut terjadi sesuatu pada Viona, Pa.” Maria berkata sambil menangis di pelukan suaminya.


Kevin terdiam. Ia juga tidak tahu bagaimana menanggapi dan menenangkan perasaan istrinya ini. Ia hanya memeluk dan mengelus punggung istrinya untuk mencoba menenangkannya.


*


*


*


Di kediaman Pak imam.


”Anisa__”


”Jangan bicara padaku lagi Viona! Kamu lihat di depan sana... itu semua adalah komplotan mu, kan?” pangkas Anisa.


Viona menggeleng.


”Pergilah ke komplotan mu, Viona! Hentikan semua ini!” Anisa mendorong tubuh Viona dengan kuat dari teras, hingga Viona terjatuh dari teras rumah.


”Viona...!!!” teriak Andra, Ali, dan Pak imam bersamaan. Mereka khawatir dan cemas pada Viona.


Viona terkejut. Ia terjatuh tepat di hadapan seekor ular. Bukan hanya itu, beberapa ekor ular lainnya menjalar menghampiri Viona. Viona bergeming di tempatnya.


Nia tersenyum senang. Bagus Anisa! Kamu sungguh luar biasa! Kamu sangat mengerti yang aku inginkan, benaknya.


Ibra dan Genta juga tersenyum senang. Akhirnya Viona keluar dari benteng yang di buat pak imam. Sekarang saatnya memancing Berlia dan Maria untuk datang.


”Anisa, apa yang sudah kamu lakukan, Nak? Mama kecewa padamu.” ucap Ibu Ali pada Anisa.


”Mama...! Mama jangan keluar dari teras.” teriak Pak imam dan Ali.


Ibu Ali menghentikan langkahnya. Ia mundur ke belakang.


”Ibu, ambilkan Viona sapu atau atau apakah benda tajam lainnya.” teriak Andra pada Ibu Ali. Ia berusaha untuk mendekati Viona, ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Viona.


Ibu Ali menurut, ia berbalik badan. Anisa menahan pundak ibunya. ”Biarkan saja Viona, Ma. Ular-ular itu tidak akan menyakiti Viona. Dia adalah komplotannya.


”Kamu tidak punya hati nurani Anisa.” Ibu Ali melepaskan tangan Anisa dari pundaknya. Ia pergi ke dapur. Anisa sangat kesal.


Pak imam tersenyum melihat Arifin telah datang membantunya, bahkan Arifin tidak datang sendiri. Ia datang dengan temannya.


”Maaf, aku baru datang.” ucap Arifin.


”Tidak apa-apa! Awas...!” Pak imam menggeser Arfin ke belakangnya dan menyerang ular yang ingin menerkam Arfin.


”Terima kasih!” ucap Arfin. Ia ikut Pak imam menyerang para ular-ular itu.


Temannya Arifin bergegas menghampiri Viona. Dengan keahliannya memainkan pedang, ia membunuh ular-ular yang ada di hadapan Viona. ”Kamu tidak apa-apa?” tanya pria itu pada Viona.


”Aku tidak apa-apa!” jawab Viona.


”Viona ini bambu runcing, kamu bisa menggunakannya?” tanya Ibu Ali yang baru datang dari dapur.


”Iya, Bu. Ke-marikan.”


Ibu Ali memberikan bambu runcing yang panjangnya 160 centimeter itu pada Viona. Viona mengambilnya. Dengan menggunakan bambu runcing, ia ikut membantai ular-ular itu.


Andra merasa lega, Viona ada yang melindungi. Sedari tadi ia berusaha mencari cara untuk mendekati Viona tetapi, ular-ular itu mencegah langkah Andra.


Anisa, Nia, ibu Sania dan ibu Nia tidak senang karena Viona di lindungi.


Genta dan Ibra terkejut dengan hadirnya pria yang melindungi Viona. ”Bukan kah... dia sudah mati terkapar di atas tanah waktu itu? Ba__bagaimana bisa dia masih hidup?” ucap Genta dan Ibra bersama.


”Tapi... tidak apa-apa! Ini adalah hal yang bagus! Hahahaha. Kita bertemu lagi Prayoga! Ayo Ibra, kita hampiri dia.” ucap Genta pada Ibra.


”Baik, Tuan!”

__ADS_1


Mereka keluar dari persembunyiannya. Mereka melangkah menghampiri Prayoga.


__ADS_2