Viendra Dan Viona

Viendra Dan Viona
eps 11


__ADS_3

Di belakang rumah Andra.


”Awas! Hati-hati!” teriak Andra, saat melihat Viona mengambil kayu yang ada pakunya di sisi kayu tersebut.


”Iya, mataku gak buta kok. Aku lihat ada paku di sisi kayu ini.” jawab Viona santai. Ia tetap mengambil kayu itu dan memisahkannya dari papan, agar memudahkan Andra meraih papan lainnya.


”Hum, baguslah kalau begitu. Coba kamu hitung papan yang sudah aku pisahkan, sudah cukup delapan buah belum?” titah Andra pada Viona.


Tanpa bersuara, Viona duduk berjongkok, menghitung papan-papan tersebut. Namun, perasaannya seperti tidak nyaman. Ia merasa selalu di awasi. Ia menghitung papanya dengan cepat. ”Masih kurang dua, Dra,” lapornya.


”Oh. Loh, kamu kenapa? Kok lirik sana lirik sini, apa yang kamu cari?” tanya Andra.


”Gak tahu merasa merinding saja... kayak selalu di awasi sama seseorang.” jawab Viona.


Andra semakin bingung melihat Viona.


Viona berdiri di samping Andra. Ia melihat papan. ”Tuh, papan itu agak bagus.” Viona menunjuk papan yang ada di samping kanan Andra.


Andra melihat papan itu. Namun, di saat dia ingin mengambil papannya, ia terhenti. Andra mempertajam pendengaran nya. Benar! Ia mendengar desiran ular di dalam tumpukan kayu dan papan-papan yang banyak itu. Dan dari pendengarannya, ular itu berada di papan yang di tunjuk Viona.


”Vi, tunggu!” cegah Andra.


Viona tidak menghiraukan Andra. Ia tetap meraih papan tersebut. Viona terkejut, ia kembali menaruh papan itu dengan takut. Langkahnya mundur beberapa langkah saat ular cobra hitam menegakkan kepala melihat dirinya.


”Viona, hati-hati!” ucap Andra. Ia juga terkejut sekaligus khawatir. Dengan pelan, ia berusaha meraih kayu yang ada di kakinya, saat ular hitam itu masih bertatapan mata dengan Viona yang tidak bergerak dari tempatnya.


Namun, siapa sangka ularnya sangat gesit dan cepat. Ular hitam tersebut terbang ke arah Andra saat tangan Andra meraih kayu dan badan Andra bergerak menunduk saat mengambil kayu tersebut.


”Andra! Awas!” Viona mendorong tubuh Andra agar ular hitam tidak sampai melukai Andra.


Andra berhasil berpindah posisi dari dorongan Viona. Dan ular tidak mengenainya sedikitpun.


Ular berbalik melihat Viona. Viona menjadi takut. Ia kembali berdiam diri melihat ular hitam yang menjulurkan lidahnya melihat dirinya. Viona menelan kasar saliva nya. Pandangan ular hitam sangat mematikan, berbeda dengan ular cobra emas yang dia jumpai sebelumnya.


”Vi, ular itu__” Andra menghentikan ucapannya. Ia terkejut, ular hitam telah menyerang Viona. ”Viona....”


Namun, sebelum ular hitam menyentuh tubuh Viona, tiba-tiba ada seekor ular cobra lainnya yang menyerang ular hitam. Ular cobra emas mematuk kepala ular hitam, membuat ular hitam mundur beberapa langkah. Ular cobra emas berdiri dekat sekali di hadapan Viona, seakan ular emas cobra melindungi Viona.


”Syukurlah kamu baik-baik saja Vi. Aku...aku sangat takut terjadi sesuatu padamu.” ucap Andra lega. Dia melihat ular cobra emas.


Apakah ular cobra emas ini yang Viona ceritakan padaku?Yang mendatangi Viona di sore hari, di kamar mandi. Dan tadi subuh di dapur. benak Andra.


Viona terkejut dari mana hadirnya ular cobra emas? Tapi ia juga bersyukur, ular cobra emas mematahkan serangan ular hitam yang menyerangnya. Ular cobra emas melebarkan kepalanya lebih lebar dari pada kepala ular cobra hitam.


”A__aku baik-baik sa__saja Andra.” ucap Viona terbata-bata.


Andra dan Viona semakin terkejut saat melihat dua ekor ular hitam lainnya datang dan berdiri di samping ular hitam tadi.


Dan beberapa ekor ular dengan warna coklat dan bintik-bintik hitam dan putih juga datang dan berdiri di samping ular emas.


Ada apa ini? Apakah ini pertarungan di antara para ular? Tapi, mengapa...semuanya mendadak seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ibu benar-benar sudah membuat para ular cobra marah dan membalas dendam? benak Andra dan Viona.


Viona dan Andra saling memandang. Lewat kode mata, Andra menyuruh Viona untuk pergi dari tempat seram ini.


Viona berjalan mundur kebelakang dengan pelan. Ia menjadi takut saat ular hitam memandangnya. Keringat dingin sudah mengguyur di sekujur tubuh Viona. Ia gemetar sekaligus merinding melihat para ular di hadapannya.


Andra melihat Viona berhenti, ia yang bergerak maju mendekati Viona. Namun, teman ular hitam tersebut menyerang Andra.


Tapi, serangannya di patahkan oleh teman dari ular cobra emas. Andra meraih tangan Viona dan pergi dari sana. Mereka pergi bersembunyi di balik dinding. Mereka berdua sama-sama mengatur nafas lega.

__ADS_1


”Astaghfirullah! Apa kamu bisa menafsirkan peristiwa hari ini, Andra? Aku bingung untuk memaparkan apa yang telah terjadi.” ucap Viona. Badannya masih gemetar dan ketakutan.


”Aku juga tidak tahu, aku bingung! Mengapa para ular menyerang kita dengan tiba-tiba? Aku sangat merinding! Vi, apakah ular cobra emas itu yang kamu ceritakan padaku?” Tanya Andra penasaran. Tubuhnya sama gemetarnya seperti Viona.


”Iya.” jawab Viona.


Mereka berdua melihat keadaan para ular. Ketiga ular itu saling menyerang satu sama lain. Ular cobra hitam beradu kekuatan dengan ular cobra emas. Kekuatannya hampir sama, tapi ular cobra emas masih mendominasi.


Dan dua teman ular hitam beradu kekuatan dengan dua teman ular cobra emas.


”Sepertinya... ular cobra emas melindungi mu, Vi.” tebak Andra.


”Kalaupun melindungi ku, memangnya aku siapa? Dan mereka apa? Aku manusia, mereka hanyalah hewan, bagaimana kami bisa berhubungan? Jadi, jangan menebak apapun.”


”Iya. Ini memang aneh! Apa kita sedang syuting sinetron? Bukan kah ular cobra membalas dendam hanya ada di film-film saja?” tanya Andra.


”Berhenti bercanda, Andra! Kita lagi menghadapi masalah! Nyawa kita sedang terancam hanya karena seekor ular!” ucap Viona ketus.


”Kenapa setelah tiga bulan aku di sini baru di teror sama ular? Bukan aku saja, tapi ibumu bahkan meninggal karena di gigit ular. Apakah hal ini ada hubungannya dengan kejadian yang menimpa mu pagi itu, Andra? Apakah ada hubungannya dengan mantan pacar mu, Nia?” tebak Viona.


”Jangan ngaco ah! Tidak ada hubungannya dengan itu!” sahut Andra.


”Tapi Andra, musibah ini ada setelah kejadian pagi itu. Coba kamu pikir, sebelum ada kejadian itu kita tidak pernah di teror sama ular. Tapi...setelah kejadian itu kita langsung di teror.” jelas Viona.


Andra terdiam, jika di hubungkan kejadiannya memang akan timbul tafsiran seperti ini.


Viona dan Andra membelalakkan kedua matanya saat melihat dua rekan ular cobra hitam berubah menjadi manusia dan meninggal, karena serangan ganas dari dua ekor ular rekan dari ular cobra emas.


”Me__mereka si__siluman u__ular!” ucap keduanya terbata-bata.


Dan di saat itu pula, jasad ular hitam langsung menghilang. Andra dan Viona semakin merinding ketakutan.


Begitu pula dengan ular cobra hitam yang beradu dengan ular cobra emas, jasadnya berubah menjadi manusia dan menghilang.


”Vi...ayo pulang, kita masuk ke rumah saja. Aku butuh duduk.” ucap Andra.


”Papan mu, gimana Dra?” Tanya Viona.


”Tidak usah pikirkan papan dulu. Pikiran ku masih terkejut dengan hal tadi. Ayo masuk, tenangkan pikiran dulu.” jawab Andra.


Viona mengangguk. Mereka kembali pulang ke rumah. Mereka berdua duduk di kursi depan.


Viona dan Andra saling terdiam memikirkan apa yang terjadi pada mereka barusan. Jika bukan karena ular cobra emas dan kedua temannya datang membantu, mungkin saja mereka berdua telah terkapar di atas tanah.


”Andra, aku coba cari rumah sewaan saja ya. Ingin membuktikan apakah benar ular itu menargetkan aku apa bukan?” usul Viona.


Andra melihat netra Viona. Viona berkata serius terlihat dari wajahnya yang tegas.


”Tidak boleh! Kamu tetap tinggal di sini. Kecuali, kamu pergi ke kota baru aku tidak menolak.” jawab Andra.


Viona terdiam. Andra juga terdiam. Mereka berdua kembali terdiam dan tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


”Tidak ke pasar? Tidak ke kebun?” Tanya Viona kemudian, setelah lama mereka saling terdiam.


Andra melihat jam. Pukul 09 : 50, sudah hampir jam sepuluh pagi. Dia harus membeli keperluan untuk haul ibunya. Ia menghela nafas, ”Ayo ke pasar,” ajaknya pada Viona.


Andra masuk ke dalam rumah, ia mengambil kunci motor dan dompet nya dari kamar baru dia keluar. Dia menyalakan motornya.


Viona mengambil kunci rumah. Memeriksa semua jendela dan keluar dari rumah dan mengunci pintu. Mereka pergi ke pasar tanpa mengganti pakaian.

__ADS_1


*


*


*


Di kota, di salah satu tempat perbelanjaan.


Maria berhati gelisah. Ia sedang gelisah, rasa khawatir menghantui dirinya. Permata emas yang ada di mainan gelangnya berkedip-kedip. Yang tentunya, hanya dia saja yang dapat melihat permata itu menyala.


”Mama kenapa? Mama sedang gelisah? Apa yang Mama pikirkan? Lihatlah tatapan mata Mama, Lirjan takut lihat tatapan mata Mama. Sangat tajam.” bisik Lirjan ke telinga Maria.


”Ah, Mama baik-baik saja. Mama hanya memikirkan Viona, mungkin ada sesuatu yang terjadi pada Viona. Tapi...semoga saja itu hanya perasaan Mama. Viona pasti baik-baik saja saat ini.” balas Maria berbisik pada Lirjan.


"Apa yang terjadi pada adikku, Berlia? Kenapa permata nya berkedip-kedip? Apakah sesuatu hal buruk terjadi padanya?" benak Maria.


”Maaf Ma, Lirjan belum menemukan keberadaan Viona sampai saat ini.” sesal Lirjan, wajahnya sedih.


”Mama tidak menyalahkan kamu. Viona orangnya memang nekat! Siapa yang sangka dia berani kabur dan sudah menghilang selama tiga bulan ini? Mama akan memberi perhitungan sama dia kalau dia pulang.”


”Iya Ma, Viona sangat nekat sekali. Dia bikin kita khawatir saja.” sahut Lirjan.


Lirjan kembali melihat layar handphone di tangannya. Antrian pembayaran masih panjang untuk giliran mereka, masih harus melewati enam orang lagi baru tiba giliran mereka.


*


*


*


Di pasar, di desa.


Andra dan Viona membeli semua keperluan haul. Mereka juga membeli beras untuk persediaan beras di rumah.


Setelah membeli semua keperluannya, mereka berjalan-jalan sebentar di dalam pasar.


”Viona, apa ada yang ingin kamu beli?” Tanya Andra.


”Tidak ada.” jawab Viona, ”Kalau ada yang ingin kamu beli, belilah mumpung kita masih ada di pasar,” ucapnya lagi.


”Tidak ada yang ingin aku beli. Kalau begitu, kita pulang saja, kita juga harus pergi ke kebun.” ucap Andra.


”Iya.” sahut Viona.


Andra dan Viona berjalan kembali ke parkiran pasar sambil membawa barang belanjaan mereka.


”Eh, hati-hati, Mba.” tegur Viona sambil menahan tubuh wanita yang menabraknya agar tidak sampai jatuh.


Wanita itu memperbaiki berdirinya, ”Ah maaf, aku tidak berhati-hati. Terima kasih,” ucapnya. Ia langsung berlalu begitu saja meninggalkan Viona.


Andra menoleh melihat Viona, ”Kamu gak apa-apa, Vi?” tanyanya.


”Iya, aku baik-baik saja.” jawab Viona sambil melihat punggung wanita yang berlalu itu. Ada perasaan aneh yang dia rasakan saat bersama wanita itu.


Kening Andra mengerut melihat tangan Viona. Dia meraih tangan Viona, ”Ini...kenapa tangan mu ada darah?” tanyanya.


”Hah! Darah?” Viona terkejut, ia melihat tangannya, ”Iya, kok bisa ada darah? Padahal aku gak merasakan sakit apa-apa, terjatuh juga tidak, tersenggol apa-apa juga tidak.” ucap Viona dengan heran.


”Jangan-jangan...” Viona dan Andra sama-sama melihat punggung wanita yang menabrak Viona tadi. Tetapi, wanita itu sudah tidak ada.

__ADS_1


”Ayo kita pulang.” ajak Andra. Ia memegang tangan Viona sampai di parkiran motor. Mereka pergi dari pasar.


Viona maupun Andra selalu memikirkan hal-hal aneh yang mereka alami di sepanjang jalan perjalanan pulang.


__ADS_2