
Sore hari, di goa.
”Tuan, Ibra dan anak buahnya sudah datang. Mereka ada di luar ruang istana.” lapor salah satu anak buah Genta pada Genta.
”Hum, ayo ke sana!” Genta berdiri dari kursi kerajaan. Ia melangkah keluar menemui Ibra. Ia melihat Ibra sedang mengarahkan para anak buahnya.
”Ibra, kau sudah datang?” Genta berdiri di samping Ibra.
”Salam... Tuan!” Ibra membungkukkan badannya menghormati Genta. ”Iya, aku baru datang. Bagaimana... apakah kita pergi sekarang?” tanya Ibra pada Genta.
”Jangan buang-buang waktu lagi... ayo pergi!” titah Genta.
”Baik, Tuan.” Ibra melihat anak buahnya dan anak buah Genta yang sudah bersatu, ”Kita serbu kediaman pak imam sekarang! Tujuan kita membunuh Viona dan memburu ular cobra emas. Siapa yang menghalangi, bunuh mereka!!” ucap Ibra.
”Baik, Tuan!” Seru para anak buah. Mereka membubarkan diri. Mereka semua pergi ke kediaman pak imam.
”Apa Tuan yakin jika Maria akan datang di sana juga?” tanya Ibra pada Genta.
”Dia pasti datang!! Gelang yang ada padanya akan memberitahukan jika Berlia dalam masalah. Dari gelang itu juga Maria akan tahu di mana posisi Berlia... mereka berdua harus mati! Kerajaan ular... hanya milikku!! Milik anakku!!” ucap Genta.
”Hum” Ibra menunduk, mengangguk mengiyakan perkataan Genta. ”Ayo... kita pergi, Tuan!” Tangan kanan Ibra terulur ke depan mempersilahkan Genta jalan ke depan.
Genta melangkah. Ibra ikut melangkah di belakangnya. Dan beberapa anak buah penjaga mereka... juga beranjak melangkah mengikuti di belakang Genta dan Ibra.
Di kamar istri Genta.
”Di mana Saldi dan Salni? Mengapa mereka berdua belum kembali?” tanya Lisna pada pelayannya.
”Maaf, Nyonya. Saldi dan Salni telah ketahuan oleh tuan. Tuan memberikan hukuman dua puluh cambuk pada Saldi dan Salni di rumah hukuman.” ungkap Sang pelayan.
Lisna berdiri karena terkejut, ”Apa?”
”I__iya, Nyonya. Ta__tapi... tapi... sekarang mereka berdua...” Sang pelayan merasa ragu untuk memberitahu jika kedua pelayannya sudah di bunuh oleh Rifda dan jasadnya sementara di bawah ke istana ratu.
”Apa yang terjadi pada mereka berdua?” Lisna panik dan khawatir pada nasib dua pelayannya tersebut.
”Nyonya... mereka....”
”Nyonya...! Nyonya...! Ada beberapa pelayan tuan datang di luar istana membawa dua orang mayat.” lapor salah satu pelayan Lisna.
”Apa?” Lisna semakin terkejut, ”Bawa aku ke sana!” titahnya. Kepanikan dan kemarahan terlihat di wajah Lisna.
”Mari... Nyonya....”
Lisna melangkah mengikuti langkah pelayannya.
Tidak... tidak mungkin kalau Genta membunuh pelayan ku. Dia tidak akan berani... ini... ini pasti ulah Rifda. benak Lisna.
Di luar istana.
Mereka tiba di luar istana ratu.
”Salam... Nyonya!” Para pelayan yang berada di luar istana ratu membungkuk menghormati Lisna. Lisna mengabaikan.
”Ini Nyonya... jasad Saldi dan Salni.” Pelayan itu menunjukan jenazah Saldi dan Salni pada Lisna. Lisna marah sekali melihat tubuh Salni dan Saldi terdapat terpaan hewan buas. Ia tahu... hewan itu adalah hewan milik Rifda sendiri.
”Apa yang sudah terjadi?” Nafas Lisna memburu marah.
”Nyonya... setelah tuan keluar dari kamar Nyonya. Tuan mengumpulkan semua pelayan pria dan wanita... ... ... ... ... ... ....”
Lisna sangat marah mendengar cerita pelayannya tersebut.
”... .... begitulah Nyonya. Tuan hanya menghukum dua puluh cambuk saja. Dan bukan hanya Saldi dan Salni yang tewas, penjaga rumah hukuman ikut tewas juga... Nyonya,” ungkapnya.
”Di mana tuan?” tanya Lisna.
”Tuan telah pergi, Nyonya.”
”Di mana Rifda?” tanya Lisna lagi.
”Di dalam goa, Nyonya. Seperti biasanya jika tuan pergi, ia akan berdoa di dalam goa ibadat, Nyonya.” jawab pelayannya.
”Goa ibadat! Dia tidak cocok beribadat!” Setiap ucapan Lisna penuh penekanan. ”Ambilkan pedang ku!” titahnya pada salah satu pelayannya.
Pelayan tersebut membungkuk dan pergi mengambil pedang Lisna di kamarnya. Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan membawa pedang Lisna dengan hati-hati.
__ADS_1
”Nyonya, ini pedangnya Nyonya....”
Lisna mengambilnya. ”Jaga anakku baik-baik! Kebumikan jasad Saldi dan Salni dengan layak,” titahnya.
”Baik, Nyonya.”
Lisna melangkah pergi dengan amarah di wajahnya.
*
*
*
Di kediaman Dion.
”Untuk apa kamu memanggil kami semua berkumpul di sini?” tanya salah satu warga pada Dion.
Dion menatap mereka warga satu persatu. ”Apa kalian ingin anak, saudara, istri, suami kalian untuk menjadi korban dari para ular?” Dion bersua lantang bertanya pada warga yang berkumpul di depan rumahnya.
”Tentu saja tidak! Siapa yang mau menjadi tumbal oleh orang asing di desa ini!” jawab salah satu warga.
”Iya, betul! Betul!” Seru yang lain.
”Jika begitu... mari kita sama-sama membunuh Viona! Dia harus menggantikan nyawa ibu Andra dan Sania!” ucap Dion lagi dengan lantang.
”Iya... ayo... ayo...!” Seru para warga.
”Ayo... kita pergi ke kediaman pak imam sekarang!” titah Dion. Dia sudah melangkah.
”Ayo...! Ayo...!” Seru para warga. Mereka juga melangkah dengan marah menuju kediaman pak imam.
*
*
*
Di kota, kediaman Kevin.
”Ah... Nyonya! Jari Anda terluka... sebaiknya Nyonya tidak usah memotong sayur. Biar saya saja yang kerjakan, Nyonya.” ucap bibi Sum, art di rumahnya.
”Ada apa, Bi?” tanya Lirjan yang tiba-tiba masuk ke dapur.
”Tuan muda... jarinya Nyonya teriris pisau.” jawab Bi Sum.
”Hah!” Lirjan terkejut. Ia mengambil kedua tangan mamanya dan melihat jari yang mana yang terluka. ”Bi, ambilkan plester luka dan betadine,” titahnya pada Bi Sum.
”Iya, Tuan muda.” Bi Sum pergi ke ruang tengah mengambil kotak obat.
Lirjan membawa mamanya ke wastafel cuci piring. Ia memutar kran air, dia mengambil jari telunjuk kiri mamanya dan menaruhnya di bawah air yang mengalir itu.
”Hish...!” jerit Maria. Jarinya perih terkena aliran air yang menyiram lukanya.
”Sudah tahu sakit... mengapa masih tidak berhati-hati saat menggunakan pisau. Jika papa tahu Mama akan kena omelan papa seharian penuh.” omel Lirjan.
”Tuan muda... ini kotak obatnya.” ucap Bi Sum.
”Simpan di atas meja aja, Bi.” titah Lirjan. Bi Sum menaruh kotak obat di atas meja. Ia kembali memotong sayur, mengambil pekerjaan Maria.
Maria menggeleng, ”Apa bedanya sekarang kamu dengan papa? Bukan kah kamu ini sekarang lagi mengomeli Mama?”
Lirjan menghela nafas, ”Sudahlah... lupakan! Mari lirjan obati lukanya Mama.” Lirjan mematikan kran air dan membawa mamanya kembali duduk di kursi. Ia membuka kotak obat dan mulai mengobati luka mamanya. Maria tersenyum melihat anaknya.
”Apa yang Mama pikirkan saat memotong sayur? Mengapa sampai bisa terluka begini?” tanya lirjan. Ia telah selesai mengobati jari mamanya.
”Mama tiba-tiba kepikiran Viona, adik kamu. Mama merasa Viona dalam bahaya.” jawab Maria, wajahnya sedih, tatapannya menatap ke depan.
Lirjan terdiam. Ia tidak tahu ingin menanggapinya bagaimana. Keberadaan Viona tidak di ketahui.
”Mama, itu hanya perasaan Mama saja karena Mama khawatir padanya. Yakinlah, Viona akan baik-baik saja, Ma.” bujuk Lirjan. Ia sendiri sedang khawatir. Firasat mamanya selama ini selalu benar.
Maria mengangguk. Papa di manapun Papa berada, tolong lindungi cucu mu Viona yang kini jauh di mataku, benaknya.
*
__ADS_1
*
*
Di goa ibadat.
”Rifda...! Keluar kau...!” teriak Lisna dari depan goa. Ia menghunuskan kembali pedangnya pada anak buah Rifda yang menyerangnya.
Anak buah Rifda yang lain lari ketakutan memasuki goa. ”Tuan... Tuan... nyon...nyonya Lisna datang dengan marah. Be...beliau mengamuk dan sudah membunuh enam prajurit, Tuan,” lapornya.
”Hum, aku sudah mendengar teriakannya. Ambilkan pedangku,” titahnya pada anak buahnya.
Anak buahnya menurut. Ia mengambilkan pedang Rifda. ”Ini, Tuan!” Ia memberikan pedang Rifda dengan duduk berjongkok dan menunduk.
Rifda mengambil pedangnya dan berjalan keluar dari goa. Ia terkejut, saat melihat pedang Lisna sudah berlumuran darah. Di ujung pedang menetes darah segar yang baru saja Lisna cabut dari tubuh anak buahnya. Lisna menatapnya dengan marah.
”Rifda! Kamu harus membayar nyawa kedua pelayan ku!!”
”Mereka berdua pantas mati, Lisna!! Meskipun kamu ratu dan wanita yang di cintai Genta...Kamu tetaplah anak asuh ku, Lisna. Dan Genta... Genta akan tetap menurut padaku. Kamu akan membangkang pada perintah suami mu sendiri?”
”Seharusnya aku sudah membunuh mu sedari dulu, Rifda. Saat kamu menghasut suamiku memusnahkan keluarganya!!”
”Hahahaha. Kamu ingin membunuhku? Kamu ingin durhaka pada orang yang sudah merawat mu?” Rifda mengejek Lisna. ”Maju... ayo majulah!!”
Lisna melangkah maju melewati mayat-mayat anak buah Rifda. Tatapannya menatap lelaki di hadapannya sana dengan kebencian yang mendalam.
Setelah ingatannya pulih, ia tahu siapa sosok Rifda yang sudah mengasuhnya. Ternyata... Rifda lah yang menjadikan dirinya yatim piatu. Setelah itu, Rifda mencuci pikirannya dan mengatakan jika dirinya adalah orang tua asuhnya.
Lisna mengayunkan pedangnya ke hadapan Rifda, setelah ia berada di hadapan pria itu. Rifda berhasil menahan serangan Lisna dengan pedangnya sendiri.
”Kekuatan yang kamu miliki... semuanya aku yang ajari. Apa kamu mampu melumpuhkan aku dengan mudah? Lebih baik, kamu duduk tenang menjadi istri dan ratu di kerajaan ular ini. Jangan memberontak!” ucap Rifda.
Lisna mengangkat kakinya dan menendang tubuh Rifda. Rifda terjatuh di tanah. Lisna mengarahkan ujung pedangnya di leher Rifda.
”Apa kamu yakin Genta akan menyayangimu seperti ini jika dia tahu kamu adalah pembunuh kedua orang tuaku dan kamu jugalah yang telah membunuh ibunya dan kamu adalah ayah kandungnya yang sudah menelantarkan dirinya sejak dulu?!”
”Kamu tahu itu?” Rifda terkejut, ”Pengawal....! Bunuh Lisna...!!” Ia takut jika Lisna akan membongkar siapa dirinya pada Genta.
”Tentu saja aku tahu... aku sangat tahu siapa kamu, Daiki!! Meskipun kamu adalah ayah dari suami ku... aku tidak akan menyesal jika aku membunuhmu!! Lagi pula, bagi suami ku... kedua orang tuanya telah meninggal.”
”Se__sejak kapan ingatan mu kembali?” Rifda semakin terkejut.
”Heh, tidak penting untuk kamu tahu.” jawab Lisna.
Lisna dapat mendengar suara langkah kaki pengawal Rifda ke arahnya. Lisna menggores lengan Rifda dan berbalik beradu kekuatan dengan anak buah Rifda yang menyerangnya dari arah belakang.
”Kurang ajar!!” Rifda murka...Lisna telah melukai lengannya. Ia bangun dan ikut beradu kekuatan dengan anak buahnya melawan Lisna.
Lisna berhasil melumpuhkan dua pengawal Rifda. Tinggal Rifda dan tiga anak buahnya lagi.
”Kamu tidak sungkan ingin membunuh ku... aku juga tidak akan sungkan untuk melenyapkan mu dan mempertemukan kamu dengan kedua orang tuamu.” Rifda mengayunkan pedangnya pada leher Lisna.
Secepatnya Lisna menghindar. Ia menarik pedangnya dari tubuh anak buah Rifda dan mengayunkan pedangnya ke tangan Rifda. Tangan Rifda terluka besar dan dalam.
Anak buah Rifda semua telah mati di ujung pedang Lisna. Lisna dan Rifda masih berlanjut beradu kekuatan pedang.
”Meskipun ilmu pedangku kamu yang mengajarkanku... Aku juga melatih seni pedangku dengan yang di ajarkan sama mendiang ibuku dulu. Teknik pedang ibuku jauh lebih baik dari mu.”
Lisna kembali melukai tangan Rifda. Bukan hanya itu... pedang Rifda terlepas dari tangannya.
”Saatnya... kamu membayar nyawa kedua orang tuaku... nyawa kedua pelayan ku... dan nyawa ibu mertuaku, Rifda...! Hiaaaht!! Splass!!” Lisna mengayunkan satu kali pedangnya tepat pada jantung Rifda. Lisna melepaskan tangannya dari pegangan pedangnya. Ia mengatur nafasnya yang kelelahan bertarung.
”Argh...!” jerit Rifda kesakitan. Tubuhnya jatuh ke bumi. Beberapa menit kemudian, Rifda telah tiada.
Lisna mencabut pedangnya dari tubuh Rifda. Dendamnya atas kematian kedua orang tuanya dan atas kematian kedua pelayannya yang setia telah terbalas.
Lisna pergi kembali ke istana ratu.
”Apa anakku terbangun?” tanyanya pada anak buahnya.
”Tuan muda masih tertidur dengan lelap, Nyonya.” jawab Sang pelayan.
”Bersihkan pedang ku. Siapkan aku air, aku ingin membersihkan diriku. Beritahu pada pelayan pria membereskan kekacauan di goa ibadat.” titah Lisna.
”Baik, Nyonya.” Seru para pelayannya. Mereka semua mengerjakan titah dari Lisna.
__ADS_1