Who Am I ( Linzy Story )

Who Am I ( Linzy Story )
10


__ADS_3

Vernon POV


Pagi ini aku tidak berada di sekolah karena jadwal padat di rumah sakit tempatku bekerja. Agak sedih ya , ya karena itu berarti aku tidak bertemu dengan wajah yang selalu mengganggu pikiranku akhir - akhir ini. Entah kenapa semenjak aku diperbantukan di tempat gadis itu bersekolah aku merasa sangat senang dan agak berat menjalani tugasku dirumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit aku segera masuk kedalam ruanganku sebentar lagi aku akan memulai praktekku.


Aku dengan cepat memakai jas sneli ku dan memanggil perawat sebagai tanda jam praktek dokter dimulai.


Beberapa pasien silih berganti mulai berdatangan dan kutangani dengan cepat dan teliti sungguh melelahkan.


Sembari istirahat sebentar tiba - tiba ada yang mengetuk pintu ruanganku.


Tok.... Tok....


“ Masuklah"  jawabku.


Seorang dokter lain masuk ke ruanganku ternyata ia dokter Lucianno.


“ Maaf mengganggu waktumu sebentar dokter Vernon. Apa kau ada waktu?" tanya dokter Lucianno.


“ Ahh tidak dokter santai saja ada yang bisa aku bantu ?"


Dokter Lucianno hanya tersenyum melihatku.


” Begini kita kedatangan pasien. Sebenarnya dia pasienku tapi berhubung aku nanti ada rapat mendadak dengan para petinggi. Bisakah kau menggantikan aku sebentar untuk mengecek kondisinya?"


Aku terdiam masih mencoba mendengarkan penjelasan dokter Lucianno.


“ Berarti dokter Lucianno adalah dokter pribadi keluarga pasien ?"


Dokter Lucianno mengangguk seraya tersenyum.


“ Tenang saja kau tak perlu khawatir Vernon. Aku sudah berbicara dengan keluarga pasien dan aku bilang jika junior ku yang akan menggantikannya. Aku percaya padamu son "


Ahh panggilan itu. Dokter Lucianno sudah kuanggap sebagai ayah sendiri dan aku bangga dan sangat mengagumi beliau.


“ Baiklah , nanti aku akan datang. Dimana ruangannya?" tanyaku.


“Lantai 6 di ruangan Mawar II kamar 1" jelasnya.


“ Oke "


“ Terimakasih nee?"


Aku menganggukkan kepalaku. Dokter Lucianno sering bercerita tentang pasiennya denganku tapi ia tak menyebutkan nama.


Setelah dokter Lucianno keluar beberapa menit kemudian aku berkunjung sebentar untuk mengecek kondisi pasien dokter Lucianno.


Sampai di depan ruangannya aku membuka pintunya dan sangat terkejut , ternyata ada Glory dan kak Martin.


Akupun berbincang sebentar dengan mereka mengenai perihal kesehatan Linzy. Sepertinya anak ini terkena tifus , ditambah kondisinya mudah drop. Kurasa dia mempunyai daya tahan tubuh yang rendah. Hhh... Semoga kau cepat sembuh Linzy.


Setelah memeriksa kondisinya aku izin keluar sebentar untuk melanjutkan praktek ku sebelum istirahat dengan kak Martin nanti , aku rasa ia akan membicarakan hal yang penting.


Vernon POV End


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Aku mengerjapkan kedua mataku berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk keretinaku.


“ Berada dimana aku sekarang?" batinku. Aku menolehkan kanan dan kiri ruangan bernuansa putih yang mendominasi dan tanganku yang diinfus sepertinya aku tahu aku berada dimana.

__ADS_1


Aku menolehkan kepalaku kudapati seseorang tengah tertidur dengan posisi duduk dan wajahnya ditenggelamkan di lipatan tangannya.


“ Kak Martin ?"


Kugerakkan sedikit tanganku , dia merasa sedikit terusik dengan pergerakanku.


“ Kau bangun princess?"


“ Kakak menungguku?"


“ Menurutmu bagaimana?"


Aku hanya terdiam. Aku tidak tahu akukan daritadi sedang tidur.


“ Sebenarnya tadi mommy yang menunggumu , tapi karena mommy ada client ya jadilah aku yang menggantikannya"


“ Kenapa kau tidak bekerja?"


“ Apa kau tidak suka jika kakak ada disini princess?"


Aku hanya diam tak tahu harus memberikan respon apa?


“ Biasanya kau lebih mengutamakan pekerjaan daripada apapun"


Kali ini dia yang terdiam seribu bahasa.


“ Apa kamu marah sama kakak Linzy? " tanyanya dengan suara melemah.


“ Aku ...? Untuk apa aku marah sama kakak? Lagipula marahpun juga percuma tidak akan bisa mengembalikan keadaan bukan ?" Kataku dengan senyum kepalsuan.


Sesungguhnya aku tidak mau berkata sekasar itu pada kakak sendiri tapi setiap kali melihat daddy yang selalu menomor satukan kakak , lama - lama aku merasa muak dengan kakakku.


Aku melihat kak Martin


“ Dek " katanya.


“ Tinggalkan aku sendiri " potongku cepat.


“ Tapi "


“ KELUAR " Bentakku.


“ Kak Martin mau kemana?" katanya.


“ Aku mau keluar cari angin " jawabnya dan berlalu. Tatapan Glory langsung mengarah kearahku.


“  Kau sudah bangun? Ada apa dengan kakakmu ?" tanya Glory padaku.


“ Aku baru gak ingin bahas itu Glo" jawabku tanpa minat.


“ Dugaanku adalah kamu sedang bertengkar dengan kak Martin , right?" tebak Glory.


“ Tidak "


“ Kau tidak pandai berbohong padaku sayang. Ayo coba ceritakan siapa tahu kau merasa lebih baik. Namun jika kau belum bisa cerita jangan dipaksakan. Setidaknya aku sudah bisa menebak permasalahan kalian" ujar Glory seraya tersenyum.


“ Ya begitulah. Aku tidak harus cerita padamu. Kau pasti sudah tahu kan?"


Glory naik ke ranjang dan duduk disebelahku.


“ Sabar ya , aku tahu kau gadis yang kuat sayangku" aku tersenyum mendengar ucapannya. Dia selalu memberikan energi positifnya padaku.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Author POV


Waktu telah menunjukkan pukul 12.00 siang , ini adalah waktu istirahat dan makan siang. Vernon keluar dari ruangannya untuk makan siang.


“ Selamat siang dokter , anda ingin makan siang ?"  tanya seorang perawat.


“ Hmm... Aku akan keluar sebentar permisi. Oh dan untukmu jangan lupa makan siang ya?" ucap Vernon pada perawat tersebut.


“ Iya dokter. Terimakasih sudah mengingatkan"


Dokter Vernon mengangguk dan bergegas menuju kantin , saat dalam perjalanan ia melihat Martin sedang duduk dibangku taman rumah sakit sedang menundukkan kepalanya. Vernon kemudian menghampirinya.


“ Kak? " panggilnya.


Martin yang merasa terkejut ketika ada seseorang yang memanggil namanya.


“ Oh Vernon , ada apa?"


“ Kau ingin makan bersama sekarang sedang jam makan siang. Ayo minum kopi bersama" ajak Vernon.


“ Hmm..." dehem Martin. Merekapun ke coffe shop bersama. Setelah sampai mereka duduk dan memesan menu mereka.


Sembari menunggu pesanan mereka datang , mereka sedikit berbincang.


“ Kak , ada masalah ? Maaf aku lancang bertanya , tapi sepertinya kau memikirkan sesuatu. Apa yang mengganggumu?"


Martin terdiam sejenak sebelum akhirnya dia berbicara.


“ Vernon , kau dekat dengan Linzy bukan ? Apakah Linzy bercerita tentang sesuatu padamu?" tanya Martin.


“ Hmm... Aku baru dekat dengannya beberapa minggu setelah dia menginap di apartementku. Kami tidak membicarakan apapun. Namun saat aku bercerita tentang keluargaku ia terlihat sedih" jelas Vernon pada Martin.


Martin hanya menghela nafas panjang mendengarnya. Sesaat kemudian pesanan mereka datang dan mereka melanjutkan obrolan mereka.


“ Apa ada sesuatu ? Kenapa kakak tiba- tiba bertanya?" ucap Vernon.


“ Aku tidak tahu , aku harus menceritakan padamu atau tidak. Tapi bisakah kau jaga Linzy untukku? Jika suatu saat ia berkeluh kesah padamu ataupun merasa sedih tolong tenangkan ia"


“ Aku tidak akan memaksamu untuk cerita sekarang kak , aku tahu semua butuh waktu "  Vernon berusaha menenangkan Martin.


“ Thank you very much" ucap Martin.


Vernon hanya mengangguk.


Author POV End


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sekarang aku sedang makan siang ya apalagi jika bukan dengan menu bubur hah... Aku merasa sangat bosan dengan menu ini dan sekarang Glory sedang menyuapiku.


“ Hey kau , ayo makanlah supaya kau cepat sembuh " Glory mulai menggerutu.


“ Rasanya hambar " jawabku.


“ Haish.... Tentu saja hambar karena makanan rumah sakit tidak ada yang digoreng apalagi menggunakan vetsin dimasakannya. Supaya sehat , kau ini , kau pikir ini restaurant"


Aku hanya cemberut sungguh ini sangat tidak enak.


“ Yasudah tak perlu menggerutu juga dong "


“ Aku menggerutu itu karenamu sialan"


Akhirnya aku makan dengan terpaksa karena malas mendengarkan gerutuannya.

__ADS_1


__ADS_2