Who Am I ( Linzy Story )

Who Am I ( Linzy Story )
22


__ADS_3

Author POV


Sesuai janjinya tadi dua kakak - beradik ini , Vernon dan Verren datang ke rumah Linzy sebelumnya Vernon juga sudah mengabari Andrew dan sudah menelepon Glory juga.


“ Sebenarnya ada apa sih bro ? Serius banget tuh kayanya masalah sampai minta bantuanku segala?" tanya Verren penasaran.


“ Nanti aku jelaskan disana di depan om Andrew sama tante Gladys sekalian , intinya kamu mau bantu atau tidak ?" ujar Vernon balik.


“ Ya mau sih tapi kebiasaanmu adalah tidak mau menjelaskan secara detail permasalahannya padaku , aku kan jadi bingung. Dasar kau " gerutu Verren.


“ Andai saja kau bukan kakakku , sudah kutukar tambah saja dari dulu. Ck menyebalkan " batin Verren kesal.


“ Tak perlu menyumpah serapahiku dalam hati Verren aku tahu dalam hati iblis mu pasti kau mengeluarkan sumpah serapah padaku" ujar Vernon santai.


“ Jika sudah tahu lebih baik kau diam pak tua " sungut Verren.


Dalam perjalanan Verren terus mengucapkan sumpah serapah pada kakaknya. Tak lama kemudian mereka sudah sampai dikediaman Linzy.


“ Permisi bi , pak Andrew ada?" tanya Verren.


“ Oh iya ada , ini tuan Vernon dan tuan Verren ya? Silahkan masuk tuan Andrew sudah menunggu anda di ruang kerjanya mari saya antarkan"


“ Terimakasih"  jawab mereka berdua mulai masuk mengikuti maid yang mengantarkan mereka ke ruang kerja Andrew.


“ Benar - benar seseorang yang gila kerja " gumam Verren pelan.


“ Tidak juga. Kau saja yang terlalu pemalas , makanya jika melihat orang lain bekerja keras kau akan menganggapnya gila kerja" balas Vernon.


“ Terserahmu saja " jawab Verren sembari memutar bola matanya malas.


Dan sampailah mereka di ruang kerja Andrew.


“ Ini ruang kerjanya tuan. Perlu saya panggilkan tuan Andrew? " ucap maid tersebut.


“ Ah.. Tak perlu biar aku sendiri yang menemuinya bi. Sekali lagi terimakasih " ucap Verren.


“ Baiklah tuan saya permisi " pamit maid tersebut dari hadapan mereka.


Vernon pun mulai mengetuk pintu.


Tok....tok....tok.....


Pintu ruangan itu terbuka dan nampaklah semua berkumpul disitu kecuali Linzy.


“ Vernon dan Verren , masuklah dan tutup pintunya kembali" titah Andrew. Verren pun menutup pintunya setelah mereka berdua masuk.


“ Permisi om dan semuanya maaf jika menunggu lama " ucap Vernon tak enak hati.


“ Tidak "


Verren pun mengedarkan pandangannya tak melihat sosok Gladys disana.


“ Kemana tante Gladys om ?" tanya Verren pada Andrew.


“ Aku sengaja tak memberitahunya tentang ini agar ia tak merasa khawatir. Biarkan ia dengan Linzy"


Verren menganggukkan kepalanya.


“ Jadi apa itu barang buktinya yang kau bawa?" tanya Martin to the point.

__ADS_1


Vernon yang melirik kotak yang dibawanya itupun langsung tersadar.


“ Ah iya. Ini barang buktinya dan ini rekamannya kalian bisa melihatnya termasuk kau Verren " ujar Vernon.


“ Rekaman apa?" tanya Verren bingung.


“ Kau tidak tahu ? " Heran Martin.


“ Aku ? Tahu ? Diberitahu saja tidak" gerutunya sambil menatap sinis Vernon.


Semua yang ada disitu sontak menahan tawanya ada - ada saja pikir mereka.


“ Baiklah. Mari kita lihat rekamannya " ujar Andrew.


“ Hey yang mana filenya sialan kau tak memberitahuku nama filenya. Kau pikir aku paranormal?" marah Verren pada kakaknya.


Vernon memberitahu nama file rekaman video tersebut dan Verren mulai melihatnya juga dengan Andrew dan Martin.


“ Sebenarnya apa yang terjadi om ? Apa ini ada hubungannya dengan Linzy? " tanya Verren pada Andrew.


“ Ya. Anakku baru saja mendapatkan ancaman pembunuhan. Selain itu ada yang berniat jahat pada Linzy " jelas Andrew.


“ Apa ini ada kaitannya dengan yang om ceritakan beberapa waktu lalu ?" tanyanya lebih lanjut.


“ Tak tahu sepertinya. Tapi kita tak tahu pasti Verren " jelas Andrew lagi.


“ Sayang pelakunya memakai hodie dan topi , pelakunya cukup pintar supaya tak diketahui banyak orang. Eh tapi sebentar... Glory apa kau mengenal ciri - ciri tubuh ini ?" tanya Verren. Glory mendekat dan mengamati rekaman tersebut.


“Tidak terlalu rata - rata anak di sekolahku juga banyak yang ciri - cirinya seperti itu" jelasnya.


“ Kenapa sekolah ternama dan favorit memasang cctv yang seperti ini ? Seperti tidak punya dana saja" gerutu Verren.


Semua yang ada disitu sepertinya juga sependapat dengan Verren sangat disayangkan apabila sekolah ternama dengan biaya yang tak sedikit dan fasilitas lengkap namun keamanan kurang.


Vernon menyerahkan kotak besar tersebut. “ Aku harap kalian tak terkejut melihatnya" peringatnya.


Verren membuka kotak tersebut dan reaksi mereka semua agak terkejut namun mereka dapat mengembalikan raut wajah mereka kembali.


“ Bangkai tikus dan surat ancaman ?" kekeh Verren sedikit meremehkan dan Martin hanya memyeringai tipis.


“ Sungguh seperti seorang amatiran " ucap Martin.


Andrew hanya menghembuskan nafas jengah. “ Kalau boleh tahu sebenarnya kita ini berhadapan dengan siapa dan apa ia ingin main - main dengan kita?" sambung Andrew.


“ Dengan memakai cara kuno pula " Verren tergelak , agak sedikit lucu menurutnya.


“ Aku yakin dia tidak cinta kebersihan " ujarnya kembali.


“ Walau begitu kita tidak bisa menganggapnya remeh bukan ?" ujar Vernon.


“ Kau benar feeling ku mengatakan akan ada surprise selanjutnya dari orang ini " Verren mulai memperkirakan.


Semuanya masih diam menyimak.


“ Menurutku ini adalah sebuah peringatan untuk kita bahwa akan ada sebuah permainan yang lain. Sangat terlihat sekali dengan dia mengunci Linzy di toilet dan mengirim ancaman dalam bentuk seperti ini " jelas Martin panjang.


“ Aku sangat setuju dengan pemikiran kak Martin dengan kata lain dia sedang menyusun sebuah rencana " ucap Glory.


“ Jika mereka mulai menyusun rencana maka kita juga akan mempersiapkannya. Besok aku akan ke sekolahmu dengan om Andrew Glo dengan membawa kotak itu agar ditahan oleh sekolah sebagai barang bukti "

__ADS_1


“ Lalu ?"


“ Aku akan meminta om Andrew untuk meminta izin pada kepala sekolah kalian agar bisa memasang kamera tersembunyi , dan tentunya takkan ada yang tahu soal ini kecuali kepala sekolah , kau dan juga kak Vernon "


“ Terus kau akan apa ?"


“ Aku akan datang setelah 2 jam setelah om Andrew datang kesekolah kalian dengan pura - pura akan pamit pulang. Dan disana aku akan menyamar sebagai teknisi IT untuk memasang kamera tersembunyi di tempat yang sering dikunjungi Linzy"  jelasnya.


Glory mengangguk setuju.


“ Ah kak Martin kita akan buat perhiasan untuk Linzy. Perhiasan ini bukanlah sembarang perhiasan namun ada pelacak di dalamnya yang bisa diakses dengan ponsel kalian. Setelah perhiasan itu jadi berikan pada kekasihnya agar seolah - olah kekasihnya memberinya hadiah " pinta Verren.


Martin mengangguk. “ Tenang saja itu bukan masalah besar " katanya.


“ Baiklah untuk rencana pembuatan pelacak tersebut kita mulai hari ini , sedangkan untuk memasang kamera tersembunyi akan dimulai besok" jelas Verren.


Semuanya mengangguk menyetujui , ini akan menjadi pekerjaan besar untuk mereka semua.


“ Glory besok aku akan minta bantuanmu , beri tahu aku denah ruangan sekolah kalian dan ruangan mana saja yang sering dikunjungi Linzy " perintah Verren.


“ Siap 86 " jawab Glory.


“ Jika semua ini telah selesai aku akan undur diri biarkan kak Vernon bekerja " jawab Verren.


Vernon hanya tersemyum tipis mendengarnya , ya setelah berhasil menangkap orang tersebut ia langsung akan mengeksekusinya.


“ Oh iya sebentar lagi kita akan mendapat surprise , khususnya untuk kalian " ujar Verren dengan senyuman.


“ Apa itu ?" ucap mereka.


“ Itu rahasia " ujarnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sementara itu disisi lain Linzy sedang berkutat dengan laptopnya ia sudah mulai menulis novelnya bahkan sudah mendapat beberapa chapter dalam novelnya.


“ Sayang , sudahlah istirahat dulu daritadi kau sudah berkutat dengan laptopmu. Kau harus jaga kesehatanmu sayang. Jangan sampai sakit lagi , mommy sampai sedih jika melihatmu sakit lagi " ujar Gladys lembut yang tiba - tiba masuk kamar Linzy.


“ Iya mom. Ini sedang beres - beres mau istirahat " ujar Linzy yang akhirnya mengalah sembari membereskan laptopnya.


“ Baiklah selamat tidur Princess mommy " ujar Gladys sembari mengusap surai Linzy dan mengecup keningnya.

__ADS_1


Linzy mulai memejamkan matanya dan berlabuh kealam mimpi.


Author POV End


__ADS_2