Who Am I ( Linzy Story )

Who Am I ( Linzy Story )
8


__ADS_3

Author POV


Saat ini Linzy sedang berada di rumahnya , keadaannya sungguh sepi hanya ada Linzy di rumah dan bibi asisten rumah tangga.


“ Jam berapa sekarang tumben sekali mommy belum pulang , apa masih ada proyek ?"


Sedang asyik - asyiknya menonton televisi Linzy sampai tak sadar jika daddy dan kakaknya sudah pulang.


“ Serius banget nontonnya sampai kakak pulang pun gak disambut " Martin mulai bicara.


“ Loh daddy sama kakak sudah pulang , maaf Linzy gak dengar mobil kalian " ujar Linzy memelas.


“ Sudah pulang ke rumah rupanya " ujar daddy nya.


Linzy mendongakkan kepalanya melihat sang daddy.


“ Ma - maksud daddy ?"


Andrew hanya menatap putrinya sebentar.


“ Maksudku ? Biar daddy tanya padamu. Apa pantas jika seorang gadis menginap sendirian di rumah seorang pria?"


Linzy hanya diam membisu mendengar ucapan daddynya , ia bingung harus berkata apa.


“ Eum... A - aku hanya "


“ JAWAB LINZY !!!!!! " Andrew mulai membentak Linzy.


“ DADDY ! " Martin berteriak karena merasa tak terima jika sang adik dibentak oleh daddynya sendiri.


Setetes cairan bening keluar dari mata indah Linzy ia merasa marah sedih dan kecewa karena tidak pernah bisa mewujudkan apa keinginan daddy nya.


“ Aku hanya merasa bingung dan putus asa dad karena aku tahu aku tidak bisa menjadi yang kau banggakan tidak bisa menjadi yang kau inginkan. Kau selalu membanggakan kak Martin dan tidak pernah mengajakku bicara. Aku terima semua apa yang kau katakan padaku , aku terima ketika kau menyalahkan aku meski aku tak tahu dimana letak kesalahanku. Apa itu tak cukup untukmu dad? Hiks... Hiks...." ucap Linzy seraya terisak bahkan wajahnya sudah memerah.


Andrew dan Martin hanya diam tidak mampu berkata apapun. Linzy beranjak menuju kamar dan mengunci pintu kamarnya.


Author POV End


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Andrew POV


Aku hanya mampu terdiam membisu ketika mendengar semua unek - unek Linzy selama ini bisa kulihat sorot matanya yang penuh luka yang telah kubuat selama ini padanya.


Apa selama ini aku terlalu kasar padanya ?


Aku hanya mengusap kasar wajahku tidak tahu harus berbuat apa pada putriku sendiri.


Hufft....


Sikapku yang seperti ini kurasa sudah benar adanya semoga saja Linzy akan mengerti suatu saat nanti.


Andrew POV End


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Martin POV


Aku nggak menyangka kalau adik bakal keluarin unek - uneknya selama ini. Jujur aku merasa bersalah banget sama adikku sendiri , gara - gara aku adikku menderita dan gak pernah rasain kasih sayang seorang ayah.


Aku juga merasa bersalah karena selama ini aku juga kurang perhatian dengan Linzy.


Masih aku ingat bagaimana ketika Linzy mengeluarkan unek - uneknya sambil terisak. Hatiku merasa terluka saat lihat adikku terisak dan berdebat dengan daddy tadi.


Maafin kakak Linzy karena kakak kamu jadi menderita.


Martin POV End


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kepada sang surya....


Bolehkah kubertanya padamu


Sekali lagi saja


Apakah aku termasuk sebuah dosa?


Kepada langit biru....


Boleh ku tanya padamu


Sekali saja


Apakah aku merupakan sebuah kesalahan?


Kepada luasnya dunia...


Boleh aku bertanya padamu


Sekali saja...


Apakah aku sebuah aib bagimu?


Jika itu iya....


Aku meminta tolong pada ombak


Tenggelamkan aku bersamamu


Jika itu benar....


Aku meminta tolong pada inti bumi


Hanguskanlah aku dengan panas bumi mu


Jika itu kenyataan yang ada


Aku meminta tolong pada dunia

__ADS_1


Lenyapkanlah aku dan hilangkanlah jejakku....


Karena mungkin itu adalah jalan terbaik...


Untuk membuat orang lain bahagia..


Tanpa adanya aku...


.


.


.


.


.


.


.


.


Sebenarnya aku lelah. Sebenarnya aku sudah tidak kuat jika terus seperti ini. Aku merasa tidak akan pernah ada orang berjalan disampingku. Tidak akan ada orang yang memberikan support.


Apa aku akan terus berjalan sendirian ?


Jawabannya mungkin iya. Ya aku akan berjalan sendiri mulai hari ini hingga aku mencapai batasku.


Hati dan pikiranku mulai lelah tanpa sadar aku tertidur tanpa makan siang.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Author POV


Malam hari telah tiba waktunya makan malam anggota keluarga Richardson bersiap untuk makan malam , mereka telah berkumpul di meja makan.


Martin yang sedari tadi nampak gelisah di ruang makan. Ia melihat kursi yang biasa ditempati oleh Linzy kosong.


“ Martin mana adikmu ? " tanya Gladys sang mommy.


“ E - eum mungkin masih di kamarnya mom " jawab Martin.


“ Kenapa jam segini dia masih berada di kamar ? Kalian tidak membuat masalah kan terhadap Linzy? " tanya Gladys. Hal itu membuat Andrew dan Martin terdiam membisu.


Martin menatap pintu kamar Linzy entah kenapa hatinya merasa tak tenang.


“ Mom biar aku saja yang memanggil Linzy "


“ Heum baiklah kalau begitu tolong panggilkan "


Martin beranjak menuju kamar Linzy ia mengetok pintu kamar Linzy.


“ Dek , ayo keluar sudah waktunya makan malam "


..........


“ Dek kakak mohon buka pintunya "


.......


Kekhawatiran Martin semakin menjadi karena tidak ada sahutan dari Linzy yang berada di dalam kamar.


“ Dek buka pintunya sayang , jangan buat kakak khawatir" ucap Martin mulai frustasi.


Karena sudah kehilangan kesabaran Martin mendobrak pintu kamar Linzy.


Braaaaaakkkkk........


Dalam sekejap Martin masuk dalam kamar Linzy , Ia melihat sang adik tidur dalam keadaan telungkup.


Martin duduk ditepi ranjang Linzy dan membangunkan Linzy yang sedang tertidur.


Tidak ada pergerakan sama sekali dari Linzy , Martin menyentuh kening adiknya seketika Martin merasakan panas tinggi dari kening adiknya.


“ Astaga sayang , kamu demam dek panas banget badan kamu " Martin yang sudah mulai cemas ia segera memanggil asisten rumah tangganya.


“ BI , BIBI TOLONG AMBILIN BASKOM ISI AIR DINGIN SAMA KOMPRESAN CEPETAN BI !!!!!!" Teriak Martin spontan.


Andrew dan Gladys yang mendengar teriakan Martin pun segera berlari menuju kamar Linzy.


“ Ada apa Martin , kenapa kamu panik?" tanya Gladys.


“ Mom , Linzy. Linzy demam mom dan Linzy demam tinggi " ujar Martin panik.


Andrew mencoba menyentuh kening Linzy dan benar saja badannya terasa panas sekali. Ia merasa khawatir tetapi ia berusaha menyembunyikan kekhawatirannya.


Tok.... Tok....


“ Permisi tuan besar nyonya dan tuan muda , ini untuk air dan kompresannya" ujar asisten rumah tangga mereka , Martin menerimanya segera ia mengambilnya dan mengompres kening Linzy dengan air dingin.


“ Terimakasih bi " ucap Andrew.


“ Sama - sama tuan , kalau begitu saya permisi " pamit ART itu undur diri.


“ Bagaimana ini ? Kenapa dirimu bisa sakit nak " ucap Gladys dengan sendu.


“ Kita tunggu beberapa waktu lagi , jika demamnya belum turun juga panggil dokter" perintah Andrew.


“ Baik dad. Kalau begitu aku akan menyiapkan obat penurun demam dahulu" kata Martin.


Martin mengambil obat dalan kotak obat yang ada di kamar Linzy setelah menemukannya ia meletakkan obatnya di meja nakas.


“ Cepat sembuh adikku sayang " Martin mengelus surai Linzy.


“ Eum mom apa aku boleh tidur di kamar Linzy hari ini ?" izin Martin pada mommy nya.


Gladys hanya tersenyum menatap anak sulungnya.


“ Tentu boleh sayang jaga adikmu , jika ada apa - apa panggil mommy ya " ujar mommy lembut.


Martin mengangguk. Sebelumnya ia turun kebawah untuk bergabung makan malam.


Di dapur Martin melihat mommynya sedang membuat bubur untuk Linzy.


Mereka makan dengan tenang tak ada obrolan apapun selesai makan Gladys menyerahkan nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air putih.


“ Martin , kamu mau ke kamar adek kan ? " tanya Gladys.


“ Iya mom "


“ Kalau gitu bawa ini ke kamar adikmu. Pastikan dia makan lebih dulu sebelum minum obatnya" ujar Gladys.


“ Baik mom " Martin mengambil nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air dan membawanya ke kamar Linzy.


Author POV End


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Martin POV


Aku kembali ke kamar Linzy malam ini aku akan tidur di kamarnya. Tentu saja aku lakukan itu untuk menjaga Linzy yang sekarang sedang terbaring lemah karena sakit.


Ketika memandangi Linzy aku merasa kehilangan separuh jiwaku dan kehilangan semangatku.


Aku tahu kalau Linzy belum makan dan mungkin tubuhnya tidak akan kuat walau hanya sekedar untuk bangun. Maka aku berinisiatif menyuapkan bubur cair itu ke mulutnya dengan pelan - pelan menggunakan sendok.


Satu suapan......


Dua suapan...


Tiga suapan...

__ADS_1


Dan seterusnya hingga habis. Puji Tuhan akhirnya bubur itu habis tanpa sisa.


Setelah itu aku memberikan obat penurun panas yang sudah kuhaluskan dan menyuapkannya bersamaan dengan air minum secara perlahan.


Aku kembali meletakkannya di nakas setelah semuanya selesai dan bersiap untuk tidur disamping Linzy.


“ Good night my princess and get well soon. Have a nice dream "


Aku memejamkan mata dan berlabuh ke alam mimpi.


Martin POV End


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Author POV


Sinar mentari telah menyapa. Matahari telah bangun dari tidurnya. Cahayanya menembus melalui jendela kamar Linzy membuat Martin terusik dalam tidur nyenyaknya.


“ Eunghh..... " Lenguh Martin matanya mengerjap beberapa kali menyesuaikan cahaya matahari yang masuk ke retinanya.


“ Oh ternyata sudah pagi " gumamnya. Tangan besarnya reflek menyentuh Linzy. Ia merasakan demam Linzy belum juga turun.


Saat dia sedang mengganti kompres tiba - tiba terdengar dering notifikasi dari ponsel Linzy. Segera saja Martin menempelkan ibu jari sang adik ke ponsel tersebut agar ponselnya terbuka. Ternyata itu adalah chat dari Glory sahabatnya.


...Glory...


Kau dimana


Kenapa belum berangkat juga?


Read 06.17


^^^Linzy tidak masuk hari ini tolong izinkan. Dia sedang sakit.^^^


^^^Send^^^


Sakit ?


Aku ini bicara dengan siapa ?


Ponselmu tidak dibajak kan?


Read 06.19


“ Astaga cerewet sekali Glory ini benar - benar tidak berubah " batin Martin.


Karena merasa tak mendapatkan balasan akhirnya Glory menelepon ponsel Linzy. Martin pun menerimanya.


“ Halo Linzy jawab yang benar dong kamu itu sakit apa? Ngomong kok setengah - setengah. Mana nggak balas lagi " Glory menggerutu diseberang sana.


“ Glory " Martin menjawabnya dengan suara deep voice nya.


“ E.. Eh k - kak Martin maaf kak aku kira itu Linzy hehehehe....." ucap Glory cengengesan dengan tidak jelas.


Martin yang mendengarnya hanya tersenyum


“ Linzy sedang sakit dia demam tinggi sejak semalam " jelas Martin.


“ Hah a - apa demam tinggi yaampun kak kok bisa sih ? Harusnya Linzy itu gak boleh sampai drop "


“ Kok kamu jadi marahin kakak sih Glo ? "


“ Habisnya mau marahin siapa lagi masa iya aku marah ke om Andrew sedangkan sekarang aja aku telfon kakak. Asal kakak tahu ya Linzy itu sering kesakitan dan pingsan di sekolah. Dia itu ga pernah senyum sedikitpun dan jarang berinteraksi sama temannya. Ya meskipun sedikit sih orang yang dia ajak interaksi. Perhatian sedikit lah jangan seperti om Andrew" cerocos Glory panjang lebar.


Martin hanya diam adiknya tidak mau berinteraksi dengan orang lain tapi kenapa?


“ Benar Linzy gak mau berinteraksi dengan orang lain ? Tapi kenapa?"


“ Ya menurut kakak sendiri aja kenapa ? Maaf Glory gak bisa cerita semuanya ke kakak. Mungkin ada waktunya nanti aku cerita. Pokoknya nanti aku datang ke rumah titik "


“ Heum. Sekalian kamu ikut nemenin ke RS soalnya kakak mau bawa Linzy ke RS terdekat"


Tuuuuut........


Martin mematikan teleponnya.


“ Dasar Glory aneh berani - beraninya dia membentak ku. Memangnya salah apa kalau tanya" gerutu Martin dalam hati.


Author POV End


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Glory POV


Hari ini aku dipastikan akan sendirian karena apa? Karena sahabatku itu sakit lagi dan aku pastikan bahwa kondisinya sedang drop. Aku sangat hafal sekali kenapa Linzy bisa sampai drop seperti ini pasti dia sedang banyak pikiran dan itu pasti tidak jauh - jauh dari pertengkaran yang terjadi di keluarganya.


Aku sampai heran di keluarga itu apa tidak ada sama sekali yang ada dipihaknya sungguh sangat malang. Sepertinya semuanya berpihak pada kak Martin.


Ngomong - ngomong tentang kak Martin , ya benar kakak dari Linzy heum.... Sebenarnya dia itu tampan dan keren bahkan aku yakin kalau ada perempuan yang melihatnya pasti perempuan itu akan jatuh cinta ya termasuk diriku sih hehehe.....


Tapi yang sangat disayangkan dari seorang Martin Gerald Eclesia Richardson tersebut adalah sikapnya yang cuek dan terlampau tidak peka serta dingin. Tatapannya juga tajam dan menusuk persis seperti daddynya. Bahkan tak jarang ada yang menyebutnya galak.


Dan setahuku hingga saat ini kak Martin belum memiliki kekasih huh semoga saja selamanya dia belum memiliki kekasih , jadi kesempatanku untuk menjadi kekasihnya semakin besar hihihi...


Tenang Glory kau harus tetap anggun dan elegan jangan terlalu agresif karena itu dapat menjatuhkan harga dirimu sebagai perempuan.


Pokoknya harus dengan cara halus dan anggun untuk bisa mendapatkannya karena jujur aku sudah menyukainya sejak kecil dan aku rasa Linzy mengetahuinya dan menyetejuinya.


Glory POV End


.


.


.


.


.


.


.


.


Author POV


Saat ini kelas bahasa sedang berlangsung beruntung sedang tidak ada ulangan hari ini jadi Glory sedikit aman.


Namun ditengah proses belajar mengajar ada seorang guru yang datang dengan seorang pria dibelakangnya.


“ Permisi , maaf saya mengganggu pak. Apakah Glory masuk hari ini ? Karena ada seorang Pria yang ingin bertemu dengan Glory saat ini " jelas guru tersebut.


“ Glory angkat tangan " kata pak guru yang sedang mengajar dan Glory mengangkat tangannya.


“ Baiklah silahkan keluar Glory "


Glory pun yang duduk berada paling pojok merasa bingung siapa yang ingin bertemu dengannya. Ia pun segera keluar dari kelas dan betapa terkejutnya ia sudah ada Martin disamping pintu kelas dengan kacamata hitam yang berada di saku kemejanya.


“ Homina , apa yang kakak lakukan disini. Gak tahu apa kalau sedang *** ( Kegiatan belajar mengajar )"


“ Aku tahu kok makanya aku udah izinin kamu untuk skip pelajaran hari ini " ucap Martin dengan santainya.


“ Apa skip ? Memangnya kakak mau ajak aku kemana? "


“ Ke rumah sakit Linzy ada disana kondisi dia drop "


“ Bentar mau ambil tas dulu. Bilang daritadi kek jadinya kan aku bolos sekolah aja" gerutu Glory.


“ Sekolah yang benar bukannya bolos " Martin menjitak kepala Glory.


“ Lah ini kan mau diajakin bolos juga kak apa bedanya?"


“ Aku sudah izin sama guru kamu ya jadi itu BEDA. Cepat sana pamit izin sama gurumu" titah Martin.

__ADS_1


Glory mendengus ia mengambil tasnya dan berpamitan pada gurunya setelah itu mereka berdua bergegas menuju rumah sakit.


Author POV End


__ADS_2