
Mr . X POV
Eleonora Linzy Eclesia Richardson atau biasa dipanggil Linzy. Ya nama itu akhirnya nama itu yang selama ini kucari telah kutemukan. Wajahnya yang nampak seperti malaikat , hatinya yang baik dan lembut , serta pembawaannya yang ramah. Siapa yang tidak menyukainya ? Pasti semua orang menyukainya bukan ? Ya termasuk aku. Aku juga menyukainya namun bukan untuk kucintai namun untuk kulenyapkan. Tak hanya dia yang menjadi targetku namun ada seseorang lagi. Ah tidak mungkin dua orang. Mau tahu siapa?
Gladys Agraciana & Martin Gerald Richardson. Ya betul sekali aku ingin melenyapkannya juga , melihatku lenyap dari dunia ini adalah sebuah kepuasan tersendiri bagiku. Namun untuk Martin aku tidak bisa gegabah. Pria itu sangat kuat selain itu ia juga sama liciknya seperti pak tua Andrew. Mungkin bahkan lebih licik. Jadi aku harus mengatur strategi agar dia masuk perangkapku.
Tunggu saja hingga waktu itu tiba....
Mr X. POV End
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Weekend telah tiba aku ingin bersenang - senang dengan jalan - jalan bersama dokter Vernon. Kuhubungi kekasihku itu saat ini untuk menanyakan apakah dia sibuk atau tidak.
“ Halo " sapanya di seberang sana.
“ Selamat pagi dokter , aku ingin bertanya apakah kau sibuk saat weekend ini ?" tanyaku.
“ Tentu saja tidak karena ini weekend. Ada apa , apa kau mengiginkan sesuatu ? "
Ahh.. Dia perhatian sekali bisa menebaknya. Hebat juga dia.
“ Aku ingin jalan - jalan bersamamu dokter. Ya mungkin ini bisa dibilang ken —can ?" tanyaku dengan suara memelan diakhir.
“Tunggu. Kau mengajakku kencan ? Ada apa ini ? Tidak seperti dirimu yang biasanya "
“ Tidak biasanya bagaimana ? Apa aku terlihat berbeda ?" tanyaku bingung.
“ Hmm... Sejujurnya kau nampak sedikit agresif " sial jawabannya jujur sekali. Sangat to the point.
“ Ya sudah kalau tidak mau. Kututup teleponnya " ketusku.
“ Otw sayang. Aku mandi sebentar setelah itu aku akan menjemputmu " jawabnya dengan suara ya mungkin agak sedikit terkejut karena perkataanku. Hihihi....
“ Baiklah kututup teleponnya. Sampai nanti" jawabku dan kumatikan sambungannya. Karena aku tadi sudah selesai dengan urusan ritual mandiku , aku tinggal memilih baju untuk pergi.
“ Mau kemana Zy? " tanya Glory yang terheran - heran melihatku memilih baju.
“ Aku mau jalan bersama dokter Vernon " jawabku.
“ Kau ingin kencan ?" tanyanya kemudian.
“ Benar " jawabku lagi.
“ Demi apa ??? Kalau begitu aku akan ikut. Akan kuajak kak Martin juga kita akan double date aku tidak mau tahu. Tunggu aku " ucap Glory ia segera bergegas berganti pakaian sementara aku memoles wajahku dengan make - up tipis. Kemudian diikuti dengan Glory.
FYI disini juga ada baju - bajunya Glory mengingat Glory sering menginap di rumahku begitu juga sebaliknya.
Selesai dengan semua persiapan kami , akhirnya kami turun kebawah dan voilla dokter Vernon sudah ada di ruang tamu dengan kak Martin.
“ Kalian mau kemana ? " tanya kak Martin.
“ Jalan - jalan " jawabku.
“ Lalu Glory ? " tanya kak Martin bingung.
“ Aku juga mau ikut " jawab Glory.
“ Dan menganggu q - time mereka berdua?" ucap kak Martin dengan intonasi sedikit tinggi.
“ Mungkin. Bisa jadi " jawab Glory enteng.
“ Itu tidak bisa dan tidak boleh " jawab kak Martin tegas.
“ Kalau begitu cepatlah kak , kau bersiap juga kita akan double date" ucapku.
“ Double date ?" Glory mengangguk.
__ADS_1
“ Cepatlah jika tidak akan kami tinggal " tegasku.
“ A - ah iya aku akan bersiap wait a minute " kata kak Martin agak berteriak.
Kami bertiga hanya menunggunya percayalah kak Martin tidak akan lama. Karena kak Martin itu tidak suka yang terlalu ribet.
Selang beberapa menit kemudian kak Martin telah bergabung dengan kami dan kita bersiap pergi dengan kendaraan masing - masing.
“ Kita akan double date dimana?" tanya dokter Vernon lewat sambungan telepon dengan kak Martin dan Glory.
“ Terserah yang penting jangan ke mall. Capek " jawabnya ketus.
“ Ya lalu kemana ? Taman bermain , bioskop ?" tawarku.
“ Oke. Bioskop saja kalau begitu" jawab Kak Martin.
Tak lama kemudian dokter Vernon mengarahkan mobilnya mencari bioskop terdekat. Aku tidak masalah sih sebenarnya.
“ Nah , sudah sampai Zy. Ayo turun" ajak dokter Vernon padaku ia juga membukakan pintu untukku.
“ Terimakasih sayang " ucapku berniat menggodanya. Sepertinya ia merasa terpancing. Terbukti ia langsung menarikku ke dalam pelukannya.
“ Kamu mengatakan apa ? Bisa katakan sekali lagi ?" pintanya.
“ Tidak ada replay mr " jawabku sembari memberikan wink padanya.
Saat kami sedang menikmati posisi kami yang sedikit intim tiba - tiba ada yang mengganggu kami dengan berdeham.
“ Ekhem... Mohon maaf ini bioskop yang mana masih tempat umum dan masih banyak orang berlalu lalang. Jadi jika ingin memadu kasih mohon lihat tempat " ucap kak Martin sinis , hal itu membuatku mendengus tak suka , sedangkan dokter Vernon menggaruk tengkuknya tak gatal.
“ Wah Glo , sepertinya kau harus pergi ke apotek setelah ini " kataku pada Glory.
“ Memangnya kenapa ?" Glory mengerutkan keningnya bingung.
“ Kekasihmu kurang vitamin , tolong dikondisikan ya " balasku dengan cengiran hingga membuat kak Martin melotot. Aku segera menarik dokter Vernon untuk pergi dari sana sebelum singa itu bangun.
“ Dasar anak nakal " geram kak Martin. Aku ? Masa bodoh.
“ Sudahlah. Jangan marah banyak orang disini " Glory berusaha menenangkan.
Kami berjalan masuk ke gedung bioskop dan melihat - lihat daftar film yang akan diputarkan.
“ Film apa yang akan kita tonton ?" tanya dokter.
Heol apa dia gila barusan film yang dia tunjuk adalah film yang menceritakan seorang psikopat. Dia ini tujuannya ke bioskop mau apa sih sebenarnya ? Jika seperti itu bisakah disebut kencan? Aku tak habis pikir.
“ Tidak " tolakku cepat dan sepertinya pendapatku disetujui oleh Glory dan dokter Vernon.
“ Kau pikir ini acara dalam rangka apa ? Dasar tidak normal. Aku heran kenapa Glory mau menjadi kekasihmu. Sudah dipastikan dia pasti akan shock therapy setiap hari" sungutku.
“ Tapi aku tidak suka film yang romantis. Banyak adegan cengeng di dalamnya " kak Martin masih mempertahankan pendapatnya.
“ Itu karena kau yang tak memiliki ekspresi tuan muda. Aish... Kenapa aku harus mempunyai kakak sepertimu " keluhku.
“ Kau tidak mau mempunyai kakak sepertiku ? Lalu kakak seperti siapa yang kau impikan ? Vernon? Jika memang seperti itu silahkan. Namun sebaiknya kita menjadi sepasang kekasih" ucap kak Martin menaik turunkan alisnya. Aku jadi merinding seketika.
“ Sudahlah bagaimana jika kita menonton film komedi? Ini alternatif terbaik daripada kalian berdua perang dunia" usul Glory.
Kami semua mengangguk , langsung saja aku menyuruh dokter Vernon untuk membeli popcorn agar dinikmati saat menonton film nanti. Begitu juga dengan Glory dan untungnya para kaum adam menyetujuinya mereka sudah pergi membeli popcorn dan tiket.
Beberapa menit kemudian...
Dokter Vernon dan kak Martin telah kembali dan kita menunggu pintu theater dibuka. Setelah film yang sebelumnya telah selesai , kami menunggu semua orang yang di dalam gedung bioskop itu keluar saat sudah mulai sepi kami masuk.
Aku dan dokter Vernon memilih ditengah. Sedangkan kak Martin dan Glory memilih duduk di belakang. Film sudah dimulai kami fokus menonton.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Vernon & Linzy side :
“ Kau suka filmnya ?" tanya Vernon pada sang kekasih. Linzy menjawabnya dengan anggukan kemudian tersenyum dan berkata “Suka kok. Filmnya sangat menghibur , aku tak tahu jika Glory memilih genre komedi romantis" jawab Linzy.
Vernon tersenyum dia mulai mengelus tangan Linzy dengan lembut. Linzy yang merasakannya membalas dengan menggenggam tangan Vernon.
“ I Love you Linzy " ucap Vernon seraya berbisik.
“ Love you too my doctor and my boyfriend " balas Linzy.
Martin & Glory side :
“ Bagaimana filmnya menurutmu ?" tanya Glory pada Martin.
“ Hmm... Tidak buruk. Biasa saja" jawab Martin sekenanya. Glory hanya mengelus dada dengan sabar. Martin yang menyadari perubahan Glory segera berbuat sesuatu.
“ Glory " panggilnya. Glory yang merasa dipanggil kekasihnya pun menoleh dan betapa terkejutnya ia bagaimana tidak ? Saat dia menolehkan kepalanya tiba - tiba bibirnya disambar secepat kilat oleh kekasihnya.
“ Eumhh.... Nggghh... " lenguh Glory ketika Martin mengulum bibir Glory dengan bibirnya cukup intens. Beruntunglah posisi mereka di pojok bagian belakang. Martin yang merasakan pukulan ringan di dadanya sontak melepaskan tautan mereka.
“ Jika kau menginginkan film romantis , aku bisa membuatnya lebih romantis daripada film itu" bisiknya pada Glory. Glory hanya terdiam pipinya merona dan ia lebih melanjutkan menonton film nya. Martin yang melihat Glory merona hanya terkekeh.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author POV
“Hufft... Akhirnya film itu selesai juga. Itu sangat lucu , selain itu juga romantis benarkan Glory? " tanya Linzy pada sahabatnya.
“H - huh oh iya Zy sangat lucu " jawab Glory gelagapan , hal itu membuat Linzy bertanya - tanya sekaligus curiga.
“ Kau baik - baik saja Glo ?" tanya Linzy.
“ A... Ku baik - baik saja " jawabnya.
“ Kau tidak sedang baik - baik saja Glory. Kau ini kenapa macam pencuri yang tertangkap basah saja. Gugup hingga terbata- bata begitu jika ditanya" Linzy berkata dengan mempoutkan bibirnya.
Saat ini mereka sedang berada di sebuah restaurant sedang menikmati makanan mereka. Ditemani Vernon dan Martin yang menyimak percakapan dua sahabat ini.
“ Jangan bicara pada saat makan " perintah Martin mutlak. Keadaan menjadi hening seketika. Mereka langsung makan dengan tenang.
Selesai makan Vernon mulai angkat suara. Disaksikan oleh Martin dan Glory.
“ Zy " panggil Vernon dengan lembut.
“ Iya ?" jawab Linzy dengan menaikkan satu alisnya.
“ Kamu mau turuti permintaanku kan ?" tanya Vernon.
“ Permintaan apa dulu ? " balas Linzy.
“ Tutup mata terlebih dahulu ya " pinta Vernon pada Linzy meskipun Linzy juga merasa bingung ia tetap menurut kemudian memejamkan matanya. Vernon mengeluarkan sebuah kalung buatan Martin dan Verren dan memasangkan pada leher Linzy. Setelah selesai Vernon kembali ketempatnya semula.
“ Sudah belum ?" tanya Linzy.
“ Sudah sekarang bukalah matamu ?" titah Vernon. Linzy membuka matanya dan betapa terkejutnya ia kala melihat kalung sudah terpasang cantik dilehernya.
“ Wow... Bagus sekali , kalung ini darimu dokter? " tanya Linzy girang.
“Tentu itu dariku sayang. Jangan sampai hilang ya ! Jagalah dengan baik" ucap Vernon. Linzy mengangguk.
“ Apa sudah selesai jika sudah mari kita pulang " perintah Martin.
Mereka segera bersiap untuk pulang ke rumah masing - masing.
Author POV End
__ADS_1