
Pagi menjelang dan matahari mulai menyapa. Hari ini aku akan memulai rutinitasku seperti biasanya namun sepertinya ada yang berbeda kali ini kau tahu apa yang berbeda? Ya aku membawa obat - obatan ke sekolah dikarenakan kondisi jantungku saat ini. Aku tidak suka rasa obatnya terlalu pahit.
Kali ini kami sedang sarapan bersama tetapi ada dokter Vernon yang bergabung dengan kami , aku dan dokter Vernon akan berangkat bersama ke sekolah.
“ Sayang , kau tidak lupa dengan obatmu kan ?" tanya mommy padaku.
“ Tidak mom aku sudah menyiapkannya semalam " jawabku.
“ Syukurlah. Cepat habiskan sarapanmu. Setelah itu segera berangkat agar tidak kesiangan" peringat mommy.
Aku menghabiskan sarapanku dan segera bersiap , dokter Vernon sudah menungguku.
“ Mom aku sudah selesai. Aku akan berangkat " pamitku pada mommy. Yah aku hanya pamit pada mommy saja karena hanya mommy yang mau mengajakku berbicara meski ia sedang sibuk. Lalu aku menyalami mommy dan segera keluar dari rumah diikuti oleh dokter Vernon.
“ Om , tante dan kak Martin kami berangkat dulu " pamitnya pada daddy , mommy dan kakakku.
“ Baiklah hati - hati di jalan Vernon " peringat daddyku.
“ Iya om " jawab dokter.
“ Pastikan ia meminum obatnya ya Vernon " peringat mommy.
“ Tentu tante " jawabnya lagi.
Dokter Vernon sudah masuk kedalam mobil dan menjalankan mobilnya menuju kesekolah. Sesampainya di sekolah aku segera turun dari mobil dan menyalami tangan dokter Vernon.
“ Ingat , belajar dengan sungguh - sungguh , dengarkan guru ketika mengajar , dan jangan lupa minum obatnya nanti. Mengerti ?" katanya padaku.
“ Mengerti komandan ! " balasku.
“ Sana masuk kelas " titahnya.
“ Siap. Laksanakan komandan " balasku seraya memberikan hormat dan tersenyum geli. Kemudian aku segera masuk kelas. Disana aku sudah melihat Glory duduk di bangkunya. Aku yang melihatnya seketika teringat kejadian saat di rumah sakit lalu. Seketika aku merasa bersalah.
Aku segera menghampiri Glory bermaksud meminta maaf padanya.
“ Glo " panggilku lirih.
Glory mendongakan kepalanya ketika mendengar suaraku memanggil namanya. Ia yang melihatku sontak langsung menerjang tubuhku dan memelukku.
“ Linzy " balasnya dengan mata memerah.
Aku segera memeluknya sambil menangis aku meminta maaf padanya.
“ Glo , maafkan aku. Aku tahu kalau selama ini aku egois. Maaf Glo " ucapku lirih seraya terisak. Entah sejak kapan airmata ku mengalir deras.
“ Tidak. Kau tidak perlu minta maaf. Kau tidak salah , aku mengerti jika saat itu pikiranmu sedang kalut hingga tak bisa berpikir dengan jernih" ucap Glory seraya menenangkanku.
Aku tersenyum haru. ” Jadi kita tetap menjadi sahabat kan ?" tanyaku. Ia mengangguk dengan tersenyum. “ Tentu" jawabnya.
Saat kami sedang berbincang datanglah Lala dan Cilla sembari menatap kami dengan sinis. Lebih tepatnya menatap kearahku.
“ Dengar - dengar tadi ada yang berangkat bersama dokter Vernon " ucap Lala dengan nada sinis.
“ Hah... Aku tak menyangka ya sepertinya sih terlihat polos ternyata " timpal Cilla.
Oh sudah aku sudah muak mendengar perkataan sinis mereka selama ini aku hanya tidak ingin membuat keributan namun ini sudah tidak bisa dibiarkan lagi.
“ Aku tak menyangka seseorang dari keluarga Richardson bertingkah seperti kupu - kupu malam. Jangan - jangan selama ini wajah polosnya hanya sebagai topeng " ucap Lala menyeringai.
“ Apa maksudmu. Jangan berbicara yang macam - macam ya tentang keluarga Richardson " sentak Glory tak terima.
“ Hey itu benarkan ? Kenapa kau marah ?" ucap Cilla.
Plaak....Plak.....Plak....Plaak....
Karena aku merasa tidak tahan dengan ulah mereka aku menampar pipi mereka kanan - kiri masing - masing. Glory yang melihatku sudah naik pitam terkejut dan tidak menyangka.
“ Tutup mulutmu anak sialan. Kau berucap seperti itu karena kalian hanya iri. Kalian pikir aku tidak tahu jika kalian menyimpan perasaan untuk dokter Vernon? Asal kalian tahu dokter Vernon tidak akan tertarik dengan wanita nakal seperti kalian yang dengan sukarela menjual tubuhnya pada banyak lelaki diluar sana. Jadi selamat mengkhayal menjadi kekasih dari seorang Vernon Devianno Stewart. Perempuan rendahan dan kotor " ucapku sarkas.
__ADS_1
Lala dan Cilla hanya menganga mendengar ucapan sarkasku pun dengan Glory yang sepertinya tak percaya dengan apa yang keluar dari mulutku barusan.
“ Yakk... Apa katamu? Kau???" ucap Lala sembari menunjukku.
“ Apa? Kau ingin bilang apa? Karena kau telah melecehkanku itu berarti kau bersiap - siaplah untuk menyambut kejutan kalian " setelah mengucapkan itu aku pergi disusul dengan Glory.
Another side :
“ Tuan ada yang ingin kulaporkan pada anda "
“................."
“ Seorang temannya telah melecehkannya tuan dan secara tidak langsung menyebutnya kupu-kupu malam. Namun ia berhasil mengatasinya sendiri dengan membalikkan kata - kata tersebut"
“..............."
“ Sudah tuan "
“............................."
“ Iya tuan baiklah laksanakan "
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Glory POV
Apa uncle sudah menyadari hal seperti ini ?
Aku tidak mau memikirkan hal itu lebih jauh lagi , yang kupikirkan adalah bagaimana Linzy selalu tersenyum dan melupakan semua kesedihannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Sekarang sudah saatnya istirahat aku dan Linzy sedang menikmati makan siang kami.
Aku melihat Linzy makan dengan pandangan datar tidak seperti biasanya. Apa dia masih kepikiran soal pagi tadi ?
Sebaiknya aku harus memberitahukan hal ini pada dokter Vernon.
Glory POV End
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author POV
Glory dengan terburu - buru menuju ke ruangan UKS untuk menemui dokter Vernon.
“ Permisi dokter " izin Linzy.
“ Ya. Oh Glory ada apa ?" tanya Vernon.
“ Ada yang ingin kubicarakan dengan dokter ini penting. Ini masalah Linzy. Apa ada waktu ?" tanya Glory hati - hati.
“ Apa yang ingin kau bicarakan mengenai kekasihku ? Sepertinya serius sekali "
“ Tentu dok "
“ Apa yang ingin kau sampaikan Glo?"
Dia menceritakan pada Vernon secara rinci apa yang terjadi pada Linzy tadi pagi dan Vernon menyimak dengan seksama.
“ Bagaimana tanggapanmu dokter?" tanya Glory.
“ Nanti akan kuajak dia ke apartement ku untuk bertemu mommy. Kebetulan mommyku adalah seorang psikolog" terangnya pada Glory.
“ Ahh... Begitukah jadi mommy dokter ada di apartement mu saat ini ? Bolehkah aku ikut ? Aku juga ingin bertemu beliau " pinta Glory pada Vernon.
“ Tentu saja. Sepulang sekolah nanti kita langsung menuju apartement " ucap Vernon.
“ Baiklah terimakasih aku keluar dulu dokter sampai ketemu nanti siang" pamit Glory kemudian.
Vernon hanya mengangguk. Selepas kepergian Glory dari UKS Vernon jadi terus kepikiran dengan cerita Glory. Tak lama ia memutuskan menghubungi seseorang.
“ Halo dad. Selepas ini aku akan ke apartement bersama Glory dan Linzy. Ada yang ingin ku bicarakan"
“..............."
“ Iya. Tapi aku akan menyuruh mommy untuk menemui Linzy. Sedangkan aku dan Glory nanti akan bertanya padamu"
“ .................................."
“ Ini mengenai kondisi psikologis Linzy dad"
“............................."
Vernon mematikan sambungan teleponnya.
__ADS_1
Author POV End