
Author POV
“ Vernon bolehkah aku minta sesuatu padamu , jika aku berlaku kasar pada Linzy harap kau memaklumi. Aku ingin memberitahumu sebuah rahasia"
“ Apa itu? "
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
“ Sebenarnya Linzy mengidap penyakit autoimun dan belum ada obatnya , anemia dan radang selaput otak , aku merasa sangat hancur melihat kondisinya Vernon. Jika aku dekat dengannya aku tidak siap merasa kehilangan putriku" ujar Andrew dengan sendu pada Vernon.
Vernon merasa terkejut dan termenung seketika mengingat pembicaraannya dengan Linzy jika terjadi kesenjangan dan miss komunikasi dalam keluarga ini.
“ Sebelumnya saya minta maaf kalau sekiranya lancang menurut anda , saya ingin bertanya apa itu alasan anda dibalik sikap anda terhadap puteri anda sendiri yang selalu memarahi dan membeda - bedakan antara Martin dengan Linzy? "
Andrew hanya mengangguk lemah dan menundukkan kepalanya , Vernon bahkan tak habis pikir dengan perilaku dari sahabat orangtuanya itu , bagaimana itu bisa dijadikan alasan yang ada hanya menyakiti oranglain terlebih itu anaknya sendiri.
“ Maafkan aku tapi itu adalah salah satu caraku agar kami tak sedekat seperti anak dan ayah pada umumnya , namun satu hal yang harus kau tahu Vernon bahwa aku sangat menyayangi Linzy melebihi diriku sendiri " terang Andrew.
“ Tapi caramu itu membuatnya sakit hati om , bahkan tak jarang ia menangis dan tak ingin pulang. Kau pasti tahu itu kan om ?"
Andrew hanya mengangguk lemah selama ini ia mengerti jika Linzy sering menangis karena ulahnya , karena ia sering berlaku kasar pada anak gadisnya mungkin itu cara terbaik untuk mereka berdua meski sesungguhnya Andrew merasa tak tega atau merasa tersakiti juga.
“ Aku tahu aku selalu membuatnya sakit hati dan menangis , sesungguhnya aku juga merasa tersakiti Vernon. Bagaimanapun juga ia adalah anakku dan darah dagingku sendiri. Vernon aku tak melupakan peranku sebagai seorang ayah. Aku tetap melindungi puteriku meskipun dari jauh " jelas Andrew.
“ Maksud Anda ?" tanya Vernon heran dengan menaikkan satu alisnya.
“ Aku paham jika ada seseorang yang mengincar keselamatan puteriku bahkan mengincar nyawanya " Andrew berucap dengan mimik wajah serius.
“ Mengincar nyawa ? Kenapa ? Apa salah Linzy om ?" Vernon terkejut dan menuntut jawaban pada Andrew.
“ Linzy tidak salah. Ia hanya sebagai umpan. Sebenarnya ini adalah salah paham dan berujung dengan balas dendam , singkatnya adalah seseorang itu mempunyai dendam terhadapku dan Linzy dijadikan umpan supaya aku muncul dihadapannya" ujar Andrew dengan serius.
“ Tapi bukankah itu cara kotor dan terkesan tidak fair?" heran Vernon.
Andrew hanya terkekeh dan tersenyum kecil pada dokter muda didepannya ini.
“ Inilah dibalik layar dunia bisnis nak terkadang ada oknum yang menggunakan segala cara demi menjatuh atau menggulingkan lawannya "
“ Sangat rumit ternyata " Vernon memijit kepalanya ia merasa sangat pusing.
“ Maka om minta tolong padamu jagalah Linzy untukku tetaplah selalu disampingnya dalam keadaan apapun " pinta Andrew pada Vernon.
Vernon menggenggam tangan Andrew berusaha meyakinkan beliau.
“ Saya akan jaga amanat dari om untuk selalu menjaga Linzy dalam keadaan apapun. Saya akan terus dan selalu berusaha. Terimakasih sudah percaya pada saya om"
“ Om juga mohon jangan beritahu Linzy tentang ini Vernon "
“ Baik om. Kalau saya boleh tahu siapa saja yang mengetahui hal ini selain saya ? "
“ Tentu saja keluargaku. Keluarga Glory serta yang terpenting adalah kedua orangtuamu Vernon "
Vernon terkejut tidak menyangka jika kedua orangtuanya mengetahui hal ini.
“ Orangtua saya?"
“ Tentu saja. Karena tadinya kami adalah teman kuliah. Aku , ayahmu , ayah Glory dan orang ini. Kapan orangtuamu akan kembali nak ?"
__ADS_1
“ Aku tak tahu om. Nanti akan kutanyakan pada Verren " ujar Vernon.
“ Baiklah. Terimakasih telah mengantar Linzy pulang dengan selamat nak. Sebaiknya kau pulang sekarang kulihat wajahmu sudah mulai lelah "
“ Tentu Om. Kalau begitu saya akan pamit pulang terlebih dahulu. Terimakasih atas izinnya untuk menjaga Linzy " ucap Vernon sembari berpamitan kemudian ia masuk kedalam mobilnya dan menjalankan mobilnya untuk pulang.
Andrew bergegas masuk kedalam rumah dan menjenguk Linzy yang sudah tertidur di kamarnya.
“ Maafkan daddy sayang sudah membuatmu sedih dan merasa sakit hati , maaf. Daddy menyayangimu " ucap Andrew sembari mengelus surai Linzy dan mengecupnya dengan sayang.
Author POV End
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Vernon POV
Aku mengendarai mobilku untuk pulang ke rumah selama perjalanan senyumku tak pernah hilang dari wajahku. Aku tak menyangka jika Linzy adalah puteri dari om Andrew sahabat dari orangtuaku dan yang lebih membahagiakan lagi aku sudah mendapatkan restu dari beliau untuk menjalin hubungan dengan anak gadisnya.
Tak terasa aku sudah sampai di apartementku entah si Verren sudah beristirahat atau belum , biasanya bocah itu akan begadang hingga pagi karena menonton pertandingan sepakbola. Kebiasaan memang.
“ Iya. Memangnya kenapa? Apa kau lapar ? Lagipula ini belum terlalu malam kan ?"
“ Ya , untungnya kau sangat benar karena ini baru menunjukkan pukul 9 malam. Aku kira kau akan meninggalkanku dalam keadaan kelaparan seperti anak terlantar yang tak terurus" sungut Verren.
Aku menghela nafas lelah menghadapi tingkah manja adikku ini ya walaupun dia sudah besar dan dia seorang laki - laki namun ia tetap saja manja.
“ Apa di kulkas tak ada bahan yang bisa dimasak atau di lemarl dapur tak ada mie instan?" tanyaku.
“ Kakakku yang tampan , kakakku yang baik hati , tidak sombong serta rajin menabung. Kau kan tahu sendiri jika masakanku tak seenak dirimu" cengirnya.
“ Kau kan bisa memasak dasar pemalas , lagipula apa tujuanmu datang kemari jika tak berguna dan hanya merepotkanku?" dengusku. Sungguh aku tak habis pikir dengannya kenapa ia bertingkah menyebalkan dan hanya merepotkanku.
“ Masaklah Verren jika kau lapar aku juga kebetulan lapar tapi aku sangat lelah. Jadi hari ini kau yang memasak malam ini , tolong ya ?" pintaku selembut mungkin padanya.
“ Hhhh.... Baiklah... Baiklah... Anggap saja balas budi karena kau telah memberiku tumpangan " dengusnya kemudian beranjak ke dapur untuk memasak.
“ Good boy " teriakku terdengar sampai dapur , aku sedikit terkekeh ketika melihat wajahnya yang mulai kesal. Baiklah aku akan mengistirahatkan diriku sejenak dengan merebahkan tubuhku di sofa dan memejamkan mataku.
Vernon POV End
.
.
.
.
.
.
Verren POV
Setelah aku menghabiskan beberapa menit untuk berkutat dengan urusan dapur dan menyiapkan semuanya di meja makan aku hendak membangunkan kakakku , namun kulihat ia malah tertidur di sofa dan sepertinya sangat nyenyak sekali aku sampai tak tega untuk membangunkannya akhirnya aku makan sendiri saja.
__ADS_1
Tak lama kemudian aku sudah selesai makan malam dan membersihkan alat makanku. Selesai dengan urusan itu semua aku menuju kamar kakakku untuk mengambil bantal dan selimut untuknya , kebiasaan buruknya adalah dapat tidur dimana saja tidak tahu tempat memang. Aku mengangkat kepalanya dan dan meletakkan bantalnya kemudian menyelimutinya. Aku pula yang harus membereskan barangnya dan merapikan di kamarnya.
Setelah semuanya selesai aku meletakkan sticky note di meja makan dan kembali ke kamarku.
Verren POV End
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Vernon POV
Aku terbangun saat sinar matahari menyorot ke wajahku. Oh sudah pagi ternyata ah.. Aku tak jadi makan malam karena ketiduran.
Aku beranjak ke dalam bathroom tuk membersihkan diriku hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja untuk ritual ini , semuanya selesai aku bergegas sarapan disana aku menemukan sticky note “ jika kau ingin makan hangatkan dulu. Aku sudah memasakkanmu sup jagung dengan susu dan cream chesse. Tadinya aku ingin membangunkanmu tapi tak tega jika mengganggu tidurmu sepertinya kau lelah "
Your lovely brother
Verren
Aku tersenyum membacanya yaampun dia sangat perhatian sekali meski terkadang menyebalkan , aku segera mencicipinya sebenarnya masakan dia lebih enak daripadaku tapi ia hanya merendah tuk meroket. Dasar anak itu.
Vernon POV End
.
.
.
.
.
.
.
Hari ini adalah hari libur setelah acara perkemahan kemarin memang sepatutnya sih karena acaranya memang melelahkan. Hmm aku jadi mengingat tawaran dokter Vernon waktu itu apakah kak Verren mau membantuku?
Segera saja aku membuka laptopku dan mengirim beberapa puisiku kepada dokter Vernon melalui email.
Semoga kak Verren mau membantuku dan dokter Vernon. Mengingat dokter Vernon apakah dia sudah bangun dan sarapan pagi. Hmm... Dia benar - benar membuatku merasa istimewa terlihat bagaimana cara dia berusaha membuatku tersenyum dan boneka beruang itu jadi saksinya.
Puisiku sudah kukirimkan padanya tiba - tiba pintu kamarku diketuk dan tampaklah mommy ku.
“ Pagi anak mommy. Sudah bangun kenapa tak mandi nak , malah sudah buka laptop "
“ Eh mommy. Iya ini mau mandi mom , cuma ingin buka laptop saja tadi " alibiku.
“ Hmm... Yasudah sana mandi meskipun kamu libur kamu harus bangun pagi ya nak. Jangan malas. Eh itu bonekamu Linzy , dari siapa sayang mommy baru melihatnya?" tanya mommyku penuh selidik. Daddy dan mommyku termasuk orang yang teliti jika menyangkut barang barang kami.
“ Eung... Itu dari dokter Vernon mom , kemarin ia memberikannya padaku saat kami pergi ke taman bermain semalam.
“ Hmm... Benarkah kalian jalan berdua saja ? Apa anak mommy ini sudah menjadi sepasang kekasih dengan dokter Vernon sekarang ?" tanya mommy ku berniat menggodaku. Oh aku yakin pasti pipiku sudah merah sekarang.
Aku hanya menganggukkan kepalaku dan menunduk malu.
“ Ahh... Yaampun anak mommy sudah besar sekarang , tak apa mommy setuju kok kamu dengan dokter Vernon. Sekarang kamu mandi ya ? Sana ! " perintah mommyku.
Aku hanya mengangguk dan bersiap untuk ritualku sebelum mulai untuk sarapan bersama.
__ADS_1