
Author POV
Dini hari di sebuah Villa Linzy terbangun dari tidurnya ia merasa berat karena ada sesuatu melingkar diperutnya setelah kesadarannya sudah terkumpul sepenuhnya ia menoleh kesamping dan menemukan Vernon sedang tidur disampingnya dengan satu tangannya yang melingkar di perut Linzy.
“ Astaga apa aku tidur dengannya?" batin Linzy. Ia melihat kedalam selimut dengan perasaan khawatir ternyata pakaiannya masih utuh.
Vernon yang berada disampingnya merasakan sebuah pergerakan kecil ia pun terbangun.
“ Kau terbangun ?" tanya Linzy , Vernon pun mengangguk.
“ Maafkan aku " sesal Linzy.
“ Kau terlihat sangat cemas dan khawatir ? Ada apa kenapa kau terbangun , ini masih dini hari" ujar Vernon.
“ Hmm.. Aku hanya tidak menyangka kita akan tidur bersama dokter aku agak takut" jelas Linzy.
“ Tidak perlu takut kita hanya sebatas tidur bersama tidak lebih karena aku masih menghormatimu sebagai perempuan tak mungkin aku merusakmu. Masa depanmu masih panjang Linzy" Vernon berusaha menenangkan.
Linzy hanya tersenyum lembut pada Vernon.
“ Dokter boleh aku bertanya?"
“ Tentu , tanyakan apa saja"
“ Kenapa kau mencintaiku?"
Vernon hanya termenung mendengat pertanyaan Linzy yang sangat retoris itu.
“ Apakah mencintai seseorang membutuhkan alasan ? Menurutku tidak , jika kau masih bertanya apa alasannya maka akan kujawab karena itu dirimu "
Linzy hanya diam menatap dokter Vernon. Vernon melanjutkannya lagi.
“ Aku takkan jatuh cinta pada yang lain karena itu bukan dirimu Linzy" lanjutnya seraya tersenyum teduh pada Linzy.
Linzy merasa tersentuh dengan jawaban Vernon ia seperti merasa dicintai sepenuh hati. Ia belum pernah merasa sebahagia ini karena dicintai sepenuh hati.
“ Dokter janji kan tidak akan meninggalkanku dan selalu bersamaku ?"
“ I promise. Apa yang membuatmu khawatir Linzy? "
“ Aku takut kau mengingkari janjimu dokter" sendu Linzy.
“ Aku akan berusaha akan selalu disampingmu , kau hanya cukup melihat usahaku saja untuk berada disampingmu dan melindungimu"
“ Terimakasih dokter"
“ Tak perlu berterimakasih bukankah sudah seharusnya aku melindungi kekasihku sendiri sweetheart "
Rona merah di pipi Linzy muncul dengan tidak sopannya tanpa izin , ya setelah malam yang lumayan panas namun tidak sampai puncaknya itu Vernon menyatakan perasaannya pada Linzy bak gayung bersambut Linzy menerima pernyataan tersebut dan mereka telah resmi menjadi sepasang kekasih.
“ Tidurlah ini masih dini hari sayang" ucap Vernon lembut.
Linzy segera merebahkan dirinya dan dia masuk kedalam pelukan Vernon serta menyamankan posisinya dalam pelukan Vernon dan matanya mulai terpejam seiring dengan usapan ibu jari Vernon dengan lembut di pipinya.
“ Have a nice dream princess" ucap Vernon seraya berbisik dan dia menyusul Linzy ke alam mimpi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pagi hari telah tiba dua cucu adam dan hawa masih bergelung dalam selimut , sinar matahari telah menyapa namun mereka belum ada tanda - tanda akan bangun.
Drrrt..... Drrrrt......
Ponsel Vernon berdering dengan nyaring ia membuka mata dan meraba ponsel diatas nakas.
“ Halo "
__ADS_1
“ ................."
“ Aku masih berada di Villa "
“..............................."
Vernon pun langsung tersadar ketika mendengar sentakkan dari telepon yang diterimanya.
“ Nanti akan kujelaskan maaf Glory dan Linzy sekarang sedang tidur"
“...................................... "
“ Hmm... I - iya tapi kita hanya sekedar tidur tidak lebih. Serius "
“.........................................."
“ Iya... Iya maafkan aku "
”........"
Tuuut......
Sambungan pun sudah diputuskan Vernon menghela nafas panjang ia bergerak menyamping ke arah Linzy yang masih tidur sembari memeluk dirinya.
“ Linzy... Ayo bangun kita harus kembali ke perkemahan"
“ Eungh.... Ngantuk "
“ Sayang ayo bangun... Mandi dulu sana aku juga akan mandi di kamar mandi lain , setelah itu aku akan menyiapkan sarapan"
Linzy bergerak bangun dan mengerjapkan mata sebentar lalu bergegas ke kamar mandi meskipun masih dengan muka bantalnya.
.
.
.
.
.
.
.
“ Silahkan dimakan princess , aku tidak mau kau kelaparan karena tak sarapan saat kegiatan nanti" jelas Vernon dengan senyumnya.
“ Hmm.... Terimakasih sajiannya enak sekali hari ini walaupun sangat sederhana" puji Linzy.
“ Maaf karena bahannya sangat terbatas honey , jadi aku hanya membuat ini saja tak apa kan?"
“ Tentu , tak masalah " balas Linzy dengan senyumnya. Ya dia merasa beruntung mempunyai kekasih yang sangat perhatian padanya.
Mereka sarapan dengan hening dan tenang tidak mungkin kan jika berbicara , itu sangat tak sopan.
Sarapan telah selesai mereka hendak kembali dalam perkemahan dalam perjalanan Vernon bertanya pada Linzy.
“ Linzy bisakah kau ceritakan padaku saat kau mencari ranting?"
“ Ya saat itu aku sedang mencari ranting tapi tiba - tiba ada seseorang yang tak sengaja menabrakku hingga aku terjatuh. Tapi ia membantuku berdiri dan menawarkan diri untuk mengantarku pulang"
“ Dia laki - laki atau perempuan sayang?"
“ Laki - laki katanya dia juga sedang camping sendirian di sekitar sini kalau aku tak salah ingat"
Vernon hanya mengangguk dan terdiam sebentar mendengarkan penjelasan kekasihnya itu.
“ Kenapa kau bertanya dokter?"
“ Ahh... Bagaimana mengatakannya ya sebenarnya aku termasuk orang yang to the point , tapi aku tidak ingin kau shock dengan opini ku untuk saat ini. Ini hanya asumsiku sementara sebelum aku menyeledikinya"
“ Maksudmu?"
“ Jika kulihat luka dilenganmu aku merasa itu bukan karena terkena ranting namun sayatan sebuah pisau. Pendek kata adalah ada seseorang yang berusaha melukai atau menyelakaimu" l singkat. Linzy yang mendengarnya merasa terkejut bagaimana kekasihnya bisa menyimpulkan seperti itu.
“ Tapi bagaimana bisa kau memiliki pemikiran semacam itu dan siapa yang hendak mencelakaiku"
“ Aku bilang ini baru asumsiku saja maka dari itu aku akan menyeledikinya dengan bantuan Glory dan mungkin bantuan kakakmu. Kau jangan khawatir namun tetaplah waspada"
Linzy hanya diam tapi kegelisahan nampak jelas diwajahnya.
__ADS_1
“ Oke , bagaimana ciri- ciri laki - laki yang tak sengaja menabrakmu , apakah kau masih ingat?"
“ Tinggi , putih , wajahnya oriental badannya besar ya tubuhnya atletis gitu"
Vernon hanya menyimak penjelasan Linzy dia terus berpikir siapa kira - kira yang melakukan hal tersebut terlebih bukan dari lingkungannya.
“ Dokter bagaimana jika nanti ada yang curiga dengan kita , karena tidak terlihat di perkemahan?"
“ Aku sudah menyiapkan alibi untuk kita sayang "
Linzy hanya diam dan berharap jika tidak ada yang curiga diantara mereka pada keduanya. Terutama Glory.
“ Bolehkah aku bertanya sesuatu sayang ?"
“ Tentu "
“ Kenapa kau marah dengan kak Martin waktu itu. Apa yang membuatmu marah?"
“ Hmm.. Aku hanya merasa kecewa karena daddy selalu membedakan kami. Beliau selalu membanggakan kak Martin daripadaku. Seakan - akan aku adalah anak tak berguna"
“ Tapi itu bukan salah kak Martin sepenuhnya sayang "
“ Aku tahu tapi aku sudah terlanjur sakit hati dengan mereka. Aku juga ingin membanggakan mereka , tapi aku tidak tahu bagaimana caranya"
“ Dengan menjadi juara kelas kau sudah membanggakan mereka baby , atau kau bisa mengirim puisimu ke majalah - majalah atau koran. Kulihat puisimu sangat bagus. Aku yakin jika kau mengirimkannya pasti banyak yang menyukai karyamu”
“ Dokter pernah membacanya ?"
“ Tentu saja dan menurutku itu bagus Linzy"
“ Bagaimana caranya?"
“ Verren bisa membantumu. Akan kuberitahu ia nanti. Yang terpenting kumpulkan puisimu padaku. Kau bisa mengirimnya melalui e-mail"
“ Benarkah? Kalau begitu akan kukirimkan secepatnya. Terimakasih telah membantuku dokter. Love you "
“ You're welcome and Love you too"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mereka berdua telah kembali ke perkemahan. Benar saja seluruh atensi peserta tertuju pada mereka karena baru sekarang terlihat apalagi mengenai status mereka yang notabene seorang siswi dan seorang dokter.
Glory yang baru saja melihat mereka tiba hanya memandang tanpa ekspresi kemudian mendekat dan langsung saja mencubit kedua pipi Linzy dengan keras.
“ Bagus ya menghilang malam - malam dan pulang pada saat pagi tanpa pamit. Kau pikir aku tak khawatir dengan kondisimu nona?" sindir Glory secara halus , sungguh Linzy malu saat ini seluruh pasang mata tertuju padanya.
Vernon mengambil inisiatif menjawab.
“ Linzy bersamaku , semalam ia pingsan dekat hutan maka aku mengobatinya di rumah penduduk dekat sini. Maaf tak sempat memberitahu kalian" jelas Vernon dengan wajah semelas mungkin.
Para panitia , guru dan peserta disana hanya menganggukkan kepala dan memaklumi kondisi mereka.
“ Baiklah. Syukurlah tak terjadi apapun pada kalian berdua" ucap salah satu guru dan Vernon pun hanya menanggapi dengan senyuman.
Glory segera menggandeng tangan Linzy untuk pergi dari sana sesekali menggali informasi apa saja yang telah ia lewatkan.
“ Kau tahu , aku hampir gila karena tak dapat menghubungimu. Karena kak Martin menanyakan terus kondisimu dan aku tak tahu harus menjawab apa?"
“ Maafkan aku membuatmu khawatir , tenang saja nanti aku akan hubungi kak Martin"
“ Ngomong - ngomong apa terjadi suatu peristiwa yang aku lewatkan nona?"
“ Hmm... Maaf aku tak bisa memberitahumu saat ini besok saja saat kita sudah kembali dari perkemahan ini"
Glory tersenyum mengerti semoga dugaannya tak salah kali ini , ia sangat berharap akan terjadi sesuatu diantara mereka berdua.
__ADS_1
Kemudian mereka bergabung untuk mengikuti kegiatan perkemahan yang sedang berlangsung.
Author POV End