Who Am I ( Linzy Story )

Who Am I ( Linzy Story )
41


__ADS_3

Vernon POV


Sinar mentari pagi telah menyapaku. Ya pagi ini terasa berbeda , jika biasanya aku bangun dengan kesendirian , kali ini tidak berlaku lagi karena begitu aku membuka kedua mataku sudah terpampang wajah malaikat disampingku.


Kulihat wajah istriku masih terlelap dan terlihat sangat damai. Mungkin ia sedikit kelelahan mengingat semalam kita melakukan kewajiban sebagai suami - istri.


“ Eungh... " kudengar lenguhan istriku , sepertinya ia akan terbangun dan benar saja kedua matanya mengerjap pelan.


“ Good Morning " sapaku.


“ Morning too hubby. Kau sudah bangun ?"


“ Tentu saja. Aku sudah bangun beberapa menit yang lalu dan sedang memandangi istri cantikku ini. Oh iya. Terimakasih untuk semalam sayangku" ucapku.


“ Sama - sama. Sudah seharusnya itu menjadi kewjibanku menjadi istri yang berbakti pada suaminya. Kau sudah mandi ?" tanyanya.


“ Belum. Mau mandi bersama?" tawarku.


Linzy hanya mengangguk. Aku tahu dia malu - malu terlihat ada semburat merah dipipinya. Itu sangat lucu dan menggemaskan.


“ Baiklah aku akan menggendongmu , karena aku tahu kau tak bisa berjalan " ucapku kemudian menggendong Linzy untuk mandi bersama.


Vernon POV End


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Author POV


Saat ini para keluarga besar sedang berkumpul di ruang makan hotel untuk sarapan.


“ Apa pengantin baru belum bangun ? " gumam Darren.


“ Mungkin sebentar lagi , kau seperti tidak pernah mengalami saja " sinis Felix.


Di tengah obrolan mereka tiba - tiba kedatangan salah satu pasangan pengantin. Vernon - Linzy.


“ Aduh senangnya pengantin baru.." sindir Verren pada sang kakak dan kakak iparnya. Vernon hanya menatap sinis adiknya.


“ Kak , kenapa jalanmu pelan sekali ?" cerocos Verren.


Linzy yang mendengar Verren bertanya sontak merasa malu dan menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.


“ Diam kau , makan sana ! " ketus Vernon.


“ Apa Vernon bermain dengan kasar , sayang ? " tanya Darren dengan jenaka.


“ Dad , sudahlah kasihan Linzy " jengah Vernon. Semua yang ada disana tertawa.


“ Oh iya , kemana Martin dan Glory kenapa belum turun juga ?" heran Gladys.


“ Aku yakin Glory tidak baik - baik saja. Maksudku kau tahu kan ? Like father like son , man " ucap Darren.


Secara tiba - tiba yang mereka bicarakan sudah datang. Dengan Glory yang digendong Martin ala bridal style.


Semua yang atensinya teralihkan memandang mereka dengan menggelengkan kepala tak percaya termasuk sang daddy Mr. Andrew Richardson.


“ Apa kalian berpikir sama dengan apa yang kupikirkan ?" bisik Darren pada semuanya.


“Ah... Mereka bermain berapa ronde dan sampai jam berapa ? " balas Helena.


“ Ternyata anakku tangguh juga " ucap Andrew bangga.


“ Ya Tuhan , kenapa ia mirip sekali dengan daddynya?" desah Gladys.


“ Apa benar itu kak Martin ? Glory pasti sangat kelelahan " Linzy angkat suara.


“ Kak Martin staminanya kuat juga ya " gumam Vernon.


“ Kau kalah telak dalam urusan ranjang kak. Kak Martin lebih pro " balas Verren.


“ Anakku masih hidup kan ? " gumam Felix.


“ Astaga putriku , malang sekali wajahnya " miris Tasya.


“ Ekhm... Kalian sedang membicarakan apa? Bolehkah kami bergabung " Martin bersuara.


Seketika para orangtua dan adik - adiknya serasa membeku mendengar suara Martin yang mengintimidasi.


“ A - ah tentu saja boleh , duduk dan makanlah nak " ucap Felix halus.


Linzy memandang Glory seperti men - scan tubuh sahabatnya , banyak tanda kepemilikan disana dan itu jelas sekali. Seperti dirinya walau mungkin punya kakak iparnya lebih parah.


“ Bagaimana ?" tanya Andrew.


“ Apanya dad ?" tanya Martin balik.


“ Ya kau tahulah proyekmu semalam " ucap Andrew santai.


“ Oh biasa saja. Seperti pasangan pada umumnya " jawab Martin santai seperti tanpa beban.


Glory benar - benar merasa lelah bahkan ia tak bersemangat untuk sarapan pagi ini karena ia merasa tubuhnya remuk.


“ Kak Glo , kau baik - baik saja. Jika kelelahan kau dikamar saja agar nanti makanannya diantarkan pelayan ke kamar "ucap Linzy perhatian.


” Heung...? Tidak perlu Zy , aku tidak apa - apa " jawab Glory lemah.


Linzy meringis mendengarnya. Kakaknya ini benar - benar.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


Selepas sarapan Glory kembali ke kamar kali ini ia meminta Linzy untuk menemani.


“ Apakah kau masih sakit kak ?" tanya Linzy.


“ Tentu saja bahkan sepertinya lubangku lecet dan terasa perih. Kakakmu benar - benar persis seperti banteng yang mengamuk" Glory menjelaskan.


“ Kalau dirimu bagaimana ?" lanjutnya.


“ Sama saja tapi mungkin tidak sebrutal kak Martin. Dia memperlakukanku dengan lembut namun sangat panas , bahkan ini masih terasa sakit juga " jawab Linzy.


“ Aku baru tahu jika suamiku adalah kantong hormon berjalan ternyata" keluhnya pada sang adik ipar.


“ Hehehe.... " Linzy menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Disaat mereka sedang berbincang tiba - tiba ponsel Linzy berdering dengan nomor tak dikenal. Linzy dan Glory saling melirik. Melihat tatapan Glory yang seolah menyiratkan “ Coba kau angkat saja" begitu kira - kira. Langsung saja Linzy mengangkatnya.


“ Halo ?"


“  ..... "


“ Ya betul saya sendiri. Maaf ada perlu apa ?"


“...... "


Linzy yang mendengar apa yang dikatakan si penelepon merasa terkejut hingga menutup mulutnya dengan tangan.


“ Benarkah ?" ucap Linzy dengan mata berbinar.


“........ "


“ A - ah baiklah - baiklah saya akan datang "


“ ........ "


“ Oh oke jam 8 pagi. Baiklah terimakasih atas informasinya " jawab Linzy lalu mematikan sambungan teleponnya.


“ Ada apa Zy ? Kelihatannya senang sekali " tanya Glory. Linzy dengan secara tiba - tiba memeluk Glory dan berteriak , memekik senang.


“ Aaaaaa..........  Glo kau tahu novelku sudah dibukukan dan besok adalah peluncuran novel terbaruku.  Di hotel ini juga jam 8 pagi " jelas Linzy.


“ Kau serius ? " Glory membulat terkejut. Linzy mengangguk antusias.


“ Ahhh.. Sayangku selamat ya. Aku turut senang " Glory memeluk Linzy.


Tanpa mereka sadari hal itu dilihat oleh Martin dan Vernon. Mereka hanya tersenyum melihat kelakuan istri mereka.


.


.


.


.


.


.


Andrew yang melihat putrinya tersenyum sumringah merasa heran. Ada apa dengan putrinya? Pikirnya.


“ Oh , dad ya aku merasa baik hari ini. Kita masih akan pulang lusa kan ?" tanya Linzy pada daddynya.


“ Mungkin. Tapi daddy harus pulang hari ini untuk mengurus perusahaan , menggantikan kakakmu yang cuti menikah " jawab Andrew.


“ Tidak bisakah bersama kami saja ? Kau sudah terlalu sering bekerja dad. Biarkan tangan kanan kak Martin yang mengurusnya " Linzy mencoba bernegosiasi dengan daddynya.


“ Maaf sayang. Tapi daddy benar - benar tidak bisa. Daddy dengar besok peluncuran novel perdanamu ya ?" tanyanya kemudian.


“ Iya dad , kebetulan di hotel ini juga" jawab Linzy.


“ Selamat ya princess , daddy bangga padamu " ucap Andrew sembari memeluk sang putri.


“ Terimakasih dad " jawab Linzy dengan senyuman.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hari yang dinanti Linzy pun tiba , saat ini ia berada di ballroom hotel untuk peluncuran novel perdananya. Ia masih tak menyangka jika banyak peminat untuk novel perdananya.


Vernon , Martin , Glory dan Verren juga mendampingi Linzy.


Martin yang melihatnya tersenyum lebar.


“ Kau bahagia kak ?" tanya istrinya.


“ Tentu , aku bangga dengan adikku yang bisa sukses dengan jalan dan caranya sendiri. Akhirnya ia bisa merasakan kebahagiaan yang diinginkannya. Melihat ia tersenyum adalah kebahagiaanku juga" ujar Martin memandang sang adik.


Setelah acaranya selesai Linzy kembali ke keluarganya.


“ Selamat ya istriku " ucap Vernon.


“ Terimakasih suamiku " ucap Linzy sembari memeluk sang suami.


Lalu Linzy beralih ke Martin dan Glory.


“ Selamat ya sayangku... Kau sudah berhasil meraih cita - citamu. Kami bangga padamu " ucap Martin.


“ Terimakasih. Ini semua juga berkat kalian yang selalu mendukungku " ucap Linzy.


Kemudian beralih ke Verren.


“ What's up kakak ipar. Selamat ya atas pencapaiannya" ucap Verren.

__ADS_1


“ Thank's ini semua juga berkatmu yang setia membantuku... " balas Linzy.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


2 bulan kemudian....


Linzy sudah kembali beraktivitas , ia bekerja sebagai editor di perusahaan koran ternama.


Glory ? Setelah menyelesaikan kuliahnya ia pun diangkat menjadi dokter spesialis anak di rumah sakit yang sama dengan tempat Vernon bekerja.


Martin dan Verren? Mereka semua sama melanjutkan perusahaan ayah mereka , menggantikan posisi ayah mereka sebagai seorang CEO.


Lalu bagaimana kisah kehidupan rumah tangga mereka?


Mari kita simak......


Malam hari mulai menyapa Vernon namun pada malam hari ini Vernon merasakan ada sebuah kejanggalan. Mengenai apa ? Tentu saja mengenai perilaku sang istri tercinta.


Bagaimana tidak ? Seperti yang terjadi pada saat ini sang istri merengek ingin dibelikan martabak daging biawak. Aneh ? Tentu saja. Dimana ia harus mendapatkan martabak yang seperti itu?


“ Hubby , aku sungguh sangat ingin" rengeknya.


“ Sayang , tapi dimana aku bisa mendapatkan martabak seperti itu?" Vernon mulai mendesah lelah.


“ Terserah , pokoknya kau harus dapat , jika tidak kau tidak boleh pulang " ancam Linzy.


“ Oh sayang , jangan begitu kau tahukan kalau itu sangat susah ? " Vernon masih mencoba bernegosiasi dengan istrinya.


“ Jadi kau sudah tidak sayang lagi padaku , begitu? " sinis Linzy pada sang suami.


“ No , bukan seperti itu , oke aku akan mencarinya tapi kalau tidak dapat , bagaimana jika diganti sate saja ?" tawar Vernon.


Linzy nampak berpikir ,Vernon sudah harap - harap cemas. Berharap sang istri menyetujui usulnya.


“ Hmm... Oke boleh juga " kata Linzy kemudian. “ Yasudah sana berangkat " suruh Linzy pada sang suami.


Vernon yang tak ingin berdebat pun segera pamit berangkat sebelum sang istri ngambek lagi.


Kita beralih ke keluarga Martin - Glory.


“ Honey " panggil Glory pada suaminya. Sang suami terkejut pasalnya ia tahu sang istri memanggil dirinya dengan sebutan kakak. Tidak pernah panggilan sayang seperti honey atau sejenisnya.


“ Yes sweetheart ? Kenapa kau memanggilku seperti itu ? Tumben sekali ?"


“ Tak apa aku hanya ingin saja. Memangnya tidak boleh ?" sungut Glory.


“ Tentu saja boleh. Tapi hanya saja aku merasa aneh karena biasanya kau memanggilku dengan sebutan kakak " jelas Martin.


“ Jadi maksudmu kau tak suka kupanggil honey begitu ?" Glory sudah siap menangis.


“ Eh ? Kenapa kau menangis ? Kau boleh memanggilku honey kalau begitu. Jangan menangis lagi ya ? Oke ?" Martin menenangkan.


Glory sudah mulai tenang setelah Martin menenangkannya.


“ Tidurlah. Sekarang sudah malam aku akan menemanimu "


Glory segera berbaring dan menyamankan posisi tidurnya dan masuk dalam dekapan Martin.


Setelah beberapa menit Martin melihat Glory telah tertidur pulas.


Drrrt.... Drrrt.....


Ponsel Martin berbunyi dan ia melihat siapa yang meneleponnya malam - malam begini.


Vernon is calling......


Martin yang penasaran pun mulai mengangkat teleponnya.


“ Halo "


“ Halo kak "


“ Vernon , kenapa kau menelepon malam - malam begini ?"


“ Eum... Aku hanya ingin mampir sebentar , boleh ?"


“ Baiklah "  Martin menutup sambungannya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Saat ini Vernon sedang berada di rumah Martin mereka sedang berbincang di sofa.


“ Tumben kau kemari saat sudah larut begini ?" tanya Martin.


“ Eum... Sebenarnya aku i - ingin menginap di rumah mu kak "


“ Hah... APAA? Apa kau gila? Kenapa kau ingin menginap di rumah ku ?"


“ S - sebenarnya aku diusir oleh istriku malam ini "


“ HAH ????"

__ADS_1


Author POV End


__ADS_2