
Aletta POV
Hai aku Georgina Aletta Wijaya kalian bisa panggil aku Aletta atau Letta. Aku adalah anak tunggal dari keluarga Wijaya. Ayahku mempunyai perusahaan di bidang property bernama Wijaya corp. Ya bukannya aku sombong aku lahir di keluarga kaya , selain itu aku juga cantik dan smart. Sangat ideal bukan pasti kalian akan tertarik padaku.
Aku juga mempunyai seorang sahabat yang setia dan hidupnya bisa dibilang sekelas denganku. Yang pertama adalah Carla Simoncellia Kurniawan , dan Naysilla Adelina Putri.
Mereka adalah sahabatku. Maaf ya aku hanya ingin berteman dengan orang dari kalangan atas saja. Jika kalian termasuk orang biasa-biasa saja menyingkirlah. Sombong ? Biarkan memang itu faktanya.
Walaupun hidupku selalu mulus dan bergelimang harta namun itu tak serta merta membuatku tenang karena ada seseorang yang patut aku singkirkan.
Linzy. Ya orang itu adalah Linzy aku tidak suka padanya karena dia berhasil mencuri perhatian semua orang termasuk orang yang aku suka yaitu Dokter Vernon.
Memangnya apa sih istimewanya dia ? Ada yang bilang dia cantik? Ya memang tapi lebih cantik diriku. Ada yang bilang dia pintar? Kalau itu aku mengakuinya maka dari itu aku harus menyingkirkannya.
Kurasa dia adalah anak yang biasa-biasa saja tapi kenapa semua orang menyukainya? Sungguh menyebalkan.
Pokoknya tidak boleh ada yang menandingiku dalam segala hal. Hanya Wijaya lah yang paling kaya dan hanya akulah yang boleh jadi pusat perhatian.
“ ALETTA!!!!!"
“ Iya ayah kenapa?"
“ Apa yang selama ini kamu lakukan di sekolah. Cepat katakan!"
“ Aku tidak melakukan apapun ayah sungguh"
“ Bohong ! Kau pasti selama ini terlibat perundungan salah satu siswi di kelasmu bukan ? Cepat jawab !"
“ Aku hanya kesal terhadap Linzy salah satu temanku ayah , karena dia merebut semuanya dariku lagipula anak itu penyakitan jadi apa salahnya?"
Ayahku hanya menghela nafas paniang mendengar penjelasanku.
Ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto seseorang kepadaku.
“ Apakah kau merundung anak ini?" tanyanya meminta penjelasan.
“ Darimana ayah tahu?" tanyaku.
“ Kau merundung anak ini? Kau bodoh Aletta. Dia anak dari keluarga Richardson pengusaha terkaya dan dia salah satu perusahaan yang mau bekerja sama dengan perusahaan kecil seperti kita. Selama ini dia menjadi investor di perusahaan kita dan menyumbangkan dananya. Kau pikir uang siapa yang gunakan untuk hura-hura Aletta? Itu karena bantuan dari Richardson corp"
Ayahku terlihat nampak frustasi dengan ucapannya.
“ Lalu kenapa?"
“ Lalu kenapa katamu? Pihak keluarga Richardson mengetahui perilakumu dan mereka tidak terima anak mereka diperlakukan tidak baik untuk itu dia mencabut dan membatalkan kerjasamanya dengan perusahaan kita. Kita bangkrut Aletta" ujar ayahku.
“ Apa bangkrut? Bagaimana bisa?"
“ Tanyakan itu pada dirimu sendiri. Jika kau berperilaku baik maka tidak akan pernah terjadi , kejadian seperti ini. Apa ayah dan ibu pernah mengajarimu melakukan apa yang tidak pantas untuk dilakukan?"
Aku hanya diam jadi selama ini Linzy adalah anak Richardson dan aku baru mengetahui fakta tentang perusahaan ayah.
“ Jika bukan karena keluarga Richardson perusahaan ayah tidak akan berkembang sebesar ini dan kau tak mampu merasakan hidup berkecukupan Aletta "
Aku hanya terisak aku belum siap untuk hidup susah.
“ Maaf ayah. Aku minta maaf" isakku pada ayahku.
“ Maaf saja tak ada artinya Letta. Semuanya sudah terjadi , lain kali sebelum melakukan sesuatu gunakanlah otakmu. Ayah juga tidak yakin kau bisa melanjutkan sekolahmu atau tidak" ujar ayahku lalu pergi begitu saja. Ibuku? Dia seakan membenciku juga.
Aletta POV End
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Andrew POV
Aku menerima pesan singkat dari Martin dia memberitahuku untuk membatalkan kerjasama dengan perusahaan Wijaya Corp dan mencabut investasi serta dana bantuan untuk Wijaya Corp. Alasannya adalah ternyata selama ini anakku menjadi korban Perundungan dari seorang anak di sekolahnya kudengar ia adalah anak dari pemilik Wijaya Corp.
Dasar kalian berani - beraninya ia merundung anakku belum tahu dengan siapa mereka berurusan.
Tentu saja aku tidak terima jika anakku diperlakukan dengan tidak semestinya. Orangtua mana yang tidak sakit hati jika anaknya mendapat perlakuan seperti itu.
“ Ahh... Aku belum sekalipun membesuk Linzy. Apa dia makan dengan baik?" gumamku.
Saat aku sedang sibuk dengan pekerjaanku ada seseorang yang mengetuk pintu ruanganku.
“ Masuklah"
Ternyata itu Felix.
“ Ada apa ? "
Felix hanya berjalan kearahku dan tersenyum.
“ Andrew kau belum bertemu anakmu ?"
Ahh ternyata soal itu. Itu yang sedari tadi dipikiranku.
“ Mungkin nanti. Ada Gladys dan Martin disana juga anakmu"
“ Kapan ?"
“ Entahlah "
Felix hanya menghela nafasnya sepertinya ia lelah dengan sifat keras kepalaku.
“ Kau sungguh berubah membenci putrimu sendiri Andrew?"
“ Aku tidak membencinya Felix kau tahu aku tak bisa bicara dengannya bukan karena.. "
“ Karena kau takut kehilangannya right? Tapi cara yang kau lakukan itu salah Andrew. Itu akan membuat Linzy berasumsi bahwa kau sangat membencinya"
Aku hanya mengusap kasar wajahku tak tahu lagi harus bagaimana.
Felix pamit undur diri keluar dari ruanganku meninggalkanku dengan perasaan gelisah.
“ Aku tahu yang kulakukan ini sudah benar dan aku berharap aku tak menyesal"
Andrew POV End
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Masih berada di sebuah rumah sakit dan masih berbaring di tempat tidur sungguh membuatku muak. Aku merasa tak dapat bergerak dengan leluasa. Hanya bertemankan selang infus saja.
Aku masih bingung mommy bilang aku terkena virus tapi sepertinya ada yang tidakku ketahui tentang kondisiku sendiri.
“ Hah aku ingin jalan - jalan " gumamku.
Tak lama kemudian ada yang masuk dalam ruanganku.
__ADS_1
“ Dokter Vernon? "
“ Hai Linzy , kau terkejut ?"
“ Sangat. Aku tidak tahu kau ternyata ada disini"
“ Tentu saja aku ada disini karena aku bekerja di rumah sakit ini"
Aku hanya menggumamkan kata tak jelas.
“ Bagaimana dengan makanmu?"
“ Sungguh tidak enak "
“ Oh , ya dimana Glory?"
“ Tadi izin keluar sebentar. Sebenarnya aku juga ingin keluar. Aku bosan"
“ No. Kau harus bedrest sekarang karena kau terserang tifus"
Aku hanya cemberut dan menggembungkan pipiku kenapa juga aku bisa terserang tifus? "
“ Nah jangan cemberut seperti itu aku akan memeriksamu sekarang "
Aku hanya menurut dan memperhatikan Dokter Vernon yang sedang memeriksaku. Ia sangat teliti dan cepat dalam menangani pasien.
“ Dokter boleh aku tanya?"
“ Tentu. Tanyakanlah apa yang ingin kau tanyakan"
“ Apa Verren sudah memiliki kekasih?"
“ Verren ? Aku tak tahu terakhir kali 5 tahun lalu seingatku ia mengenalkan kekasihnya padaku. 3 bulan kemudian hubungannya dengan sang kekasih kandas. Menyedihkan "
“ Pffffft...." aku menahan tawa.
“ Kau tertawa?"
Aku hanya menggeleng pelan. Aku hanya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi kekasih Verren , mengingat ia sangat cerewet dan sarkas dalam bertutur kata.
“ Ya begitulah Verren "
Aku hanya tersenyum mendengarkan.
“ Kalau dokter sendiri bagaimana? Sudah memiliki kekasih?"
“ Aku.. Huh? Bagaimana kau bertanya apa?"
“ Kau. Sudah. Memiliki. Kekasih?" aku harus menekankan setiap kataku , astaga itukan hanya pertanyaan sederhana. Kenapa ia begitu terkejut mendengarnya?
“ Eum... Be - lum " tanyanya seperti tak yakin.
“ Kenapa seperti tak yakin dengan jawabanmu dokter"
“ Karena ia memang tidak memiliki pacar , bahkan berpacaran saja belum pernah" tiba - tiba ada seseorang yang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu , bersamaan dengan kembalinya Glory.
“ Verren / kak Verren? "
“ Omo siapa lelaki ini?"
“ Kalian terkejut , kenapa memangnya?"
“ Kenapa kesini?" bisa kulihat dokter Vernon memasang wajah kesalnya.
“ Kau tidak suka? Aku hanya membesuk anak manja ini saja"
Aku mengepalkan tangan. Ingin rasanya aku menghancurkan dirinya.
“ Gausah Ge-er. Sebenarnya aku tadi keruanganmu tapi kata perawat kau sedang menangani pasien. Karena aku ingin tahu maka aku bertanya lebih lanjut padanya dan sampailah kesini"
“ Bisakah kau sabar sebentar dan tunggu di ruanganku?"
“ Huh bagaimana ya sudah terlanjur basah ini"
“ Terserahmu saja dan jangan membuat keributan" kata dokter Vernon.
__ADS_1
Sungguh aku ingin tertawa melihat dokter Vernon yang tertekan saat ini karena tingkah adiknya itu semoga saja dokter Vernon selalu sabar menghadapinya.
Sungguh sangat kasihan.