
Author POV
Sekarang sudah memasuki jam istirahat. Seluruh siswa SMA CAHAYA PELITA berhamburan menuju kantin , mereka sedang makan siang mengisi perut mereka yang sedari tadi terasa gaduh bak sedang demo.
“Zy" panggil Glory.
“Iya ada apa?"
“ Bisa nggak jelasin yang tadi?"
“ Tadi apa? "
“ Kenapa kamu bisa ada di apart dokter Vernon?"
“ Itu karena aku sedang ada masalah dan sedang berada di taman , aku sedang ingin menenangkan pikiranku karena you know lah. Tapi tiba-tiba aku diajak oleh seseorang , ternyata itu adik dokter Vernon. Karena kondisiku tak memungkinkan jadilah aku menginap disana" jelas Linzy.
“ Kamu masih merasa tidak nyaman dengan daddymu Zy?"
Linzy hanya mengangguk mengiyakan.
Glory hanya menghela nafas panjang ia sangat mengetahui apa yang dirasakan oleh sahabatnya, sebenarnya Glory bertanya - tanya dalam hatinya mengapa sikap om Andrew seperti itu pada Linzy , ia sangat menyayangkan sekali sikap om Andrew pada anak sendiri.
Saat sedang bercerita ada seseorang yang menghampiri meja mereka Glory yang melihat itupun hanya mendengus dan memutar bola matanya.
“ Hai , kalian lagi makan siang ya?" tanya seseorang tersebut.
“ Hai Lionel , iya kita baru makan siang , yang bilang kita sedang berada di toilet siapa, tidak ada kan?" Ya orang itu adalah Lionel dan Glory menjawab pertanyaan Lionel dengan nada sarkasme dan senyum yang dipaksakan tentu saja. Sedangkan Linzy ? Ia tidak terlalu fokus dengan Lionel karena sibuk dengan makanannya.
“ Hai Linzy , kemarin kamu kemana kok gak kelihatan?" tanya Lionel.
“ Harus banget ya tahu tentang Linzy. Memang urusannya buatmu apa?" sinis Glory.
Lionel hanya menatap tajam Glory yang tentunya dibalas dengan tatapan sinis oleh sang empunya.
“ Aku sedang sakit Lionel maka dari itu aku tidak masuk kemarin , ada perlu?" tanya balik Linzy.
“ Oh nggak cuma rasanya sepi aja kalau gak ada kamu" ucap Lionel.
Linzy yang mendengarnya hanya menaikkan satu alisnya serta memiringkan kepalanya bingung , sedangkan Glory berakting ingin muntah mendengar gombalan receh Lionel.
“ Apasih gombalan gak bermutu dasar buaya" Glory meremehkan.
“Aku gak lagi gombalin kamu ya , kamu berharap banget aku gombalin?"
“ Hah apa kamu bilang aku berharap digombalin kamu ? Sorry ya aku udah ada satu nama yang aku simpan dihatiku dan pastinya itu bukan kamu"
Linzy yang melihat perdebatan itupun hanya tersenyum , ia sangat tahu jika Glory menaruh hati pada kakaknya namun salahkan Martin yang tak pernah peka pada hati Glory karena sibuk bekerja.
“ Kalian sudah hentikan ga malu apa sama yang lain. Kalian dilihatin loh daritadi" ujar Linzy.
Lionel dan Glory hanya mengedarkan pandangan mereka dan benar saja mata seluruh pengunjung kantin tertuju pada mereka akhirnya mereka diam dan duduk dengan tenang.
Sementara itu di tempat yang sama ada Aletta dan kawan - kawannya sedang makan di kantin diselingi bergosip. Saat sedang asyik dengan kegiatannya tiba - tiba ada seorang siswa datang ke meja Aletta.
“ Mau ngapain ?" tanyanya ketus.
“ Aletta a - aku kesini m - mau ungkapin perasaan a - aku k - ke kamu , se - sebenarnya a - aku su - suka sama kamu Letta" jelas salah seorang siswa gugup.
“ Hah ? Gimana - gimana , kamu suka sama aku ? Ga salah ?"
Siswa itupun mengangguk. Aletta menghela nafas jengah nasib menjadi salah satu gadis yang populer memanglah rumit. Banyak pasang mata yang tertuju padanya entah itu pengagum atau seorang haters.
“ Hmm... Gimana ya maaf ya aku tolak karena aku gasuka sama kamu dan selain itu kamu bukan tipeku" jawab Aletta santai.
Deg...
“ Me - memangnya tipe kamu yang seperti apa?" tanya siswa tersebut.
“ Tentu saja yang high class lah contohnya dokter Vernon itu loh"
Deg....
Sontak seluruh siswa yang berada di kantin tersebut membelalakkan matanya.
“ Aletta keterlaluan masa dia membandingkanya dengan dokter Vernon "
“ Jelas aja tuh cowok kalah saingannya saja seperti dokter Vernon sedangkan dia masih bersekolah"
Bisik - bisik diseluruh penjuru kantin mulai terdengar , banyak diantara mereka sebenarnya tak menyukai sosok Aletta yang terkenal sombong dan sok kaya.
Terkadang juga semena - mena terhadap murid lain , tak jarang juga ia melakukan pembullyan terhadap siswa - siswi lain yang kurang mampu.
Sementara Linzy yang mendengar bisik - bisik tersebut hanya diam namun kemudian ia memanggil siswa yang cintanya ditolak oleh Aletta tersebut.
“ Ansel , bergabunglah disini sama kami , mari kita makan bersama. Kau belum makan bukan?" ajak Linzy.
“ Memangnya aku boleh bergabung ?" tanya Ansel.
“ Hhh... Tentu saja boleh Ansel ini masih tempat umum kalau kamu lupa, lagipula siapa yang melarangmu untuk makan dikantin? Tidak ada kan?" jengah Glory sedangkan Lionel hanya diam saja sambil mengamati pemandangan di kantin tersebut.
Ansel beranjak menuju meja Linzy dan kawan - kawannya.
“ Hum pesanlah apa saja aku yang traktir , tidak ada protes dan tidak ada penolakan karena aku tidak suka. Ngomong - ngomong mawar putihnya bagus. Buat aku saja ya? Sayang kalau dibuang " jelas Linzy panjang lebar Lionel terkejut begitu juga dengan Ansel ia merasa bingung dengan perilaku Linzy hari ini.
Sedangkan Glory hanya tersenyum tipis atau bisa dibilang lebih tepatnya menunjukkan seringaian karena ia tahu Linzy punya maksud lain melakukan itu semua.
__ADS_1
“ Kamu mau pesan apa Ansel ?"
“......."
“ Baiklah jika tidak ada jawaban bagaimana jika kupesankan chiken katsu dan lemon tea ?"
Ansel hanya mengangguk kaku .
“ Oke. Tolong chiken katsu dan Lemontea satu ya. Terimakasih"
Sembari menunggu pesanan Linzy masih mengobrol dengan Ansel, Glory dan Lionel masih mendengarkan.
“ Jangan berkecil hati jika perasaanmu tidak dihargai , cewek masih banyak carilah cewek yang mau menghargai perasaanmu. Kalaupun kamu ditolak setidaknya dia menolakmu dengan baik - baik secara halus dan tidak menyakiti hati dan perasaanmu"
Ansel pun mengangguk dan tersenyum tipis , ia tak menyangka selama ini Linzy yang ia dengar sebagai anak pendiam dan tak berperasaan ternyata peduli dengan orang lain.
“ Thank's a lot Linzy. Ternyata kamu orang baik dan peduli terhadap orang lain" ujar Ansel.
Linzy hanya tersenyum mendengar ujaran Ansel.
Sesaat kemudian pesanan mereka telah datang dan mereka mulai menyantap makanan mereka.
Disaat bersamaan dokter Vernon mendatangi kantin untuk makan siang juga , Aletta yang kebetulan melihat sudah berlari menuju kearah dokter Vernon.
“ Dokter Vernon , ayo makan bersama denganku dan teman - temanku" ajak Aletta.
Dokter Vernon yang kedatangan Aletta secara tiba - tiba kemudian ia menarik nafas panjang.
“ Uhm... Bagaimana ya? " Dokter Vernon melihat tempatnya sudah penuh hanya tersisa tempat Aletta saja.
“ Boleh deh " lanjutnya lagi.
“ Yesss akhirnya... " batin Aletta.
Dokter Vernon pun akhirnya duduk dibangku Aletta dan kawan - kawan.
Glory yang melihat pemandangan itupun langsung menepuk bahu Linzy dengan heboh bak orang kesetanan sehingga membuat Linzy yang sedang minum pun tersedak.
“ Zy.... Zy.... Aku gak salah lihat kan mataku masih normal kan Zy " ujar Glory.
“ Bursssstt.... Uhuk - uhuk" Linzy tersedak.
Lionel yang melihat itupun sontak memelototkan matanya pada Glory.
“ Biasa aja bisa nggak heboh banget. Lihat tuh Linzy jadi tersedak kan ?" ujar Lionel sembari menepuk punggung Linzy.
Ansel yang juga terkejut pun hanya menggelengkan kepala.
“ Lagipula apasih yang kamu lihat Glo kok heboh banget " ujar Ansel kesal.
“ Aku.... Aku habis lihat Alien yang turun dari UFO" jawab Glory sewot serta dengan suara keras sehingga ia menjadi perhatian seluruh penghuni kantin termasuk dokter Vernon.
Dokter Vernon sedari tadi melirik ke bangku Linzy dan kawan - kawan. Apalagi melihat perlakuan Lionel kepada Linzy seketika tatapannya menjadi tatapan yang sulit diartikan.
Author POV End
Vernon POV
Aku berada di kantin sekarang untuk apa ? Jelas untuk makan siang pastinya namun sepertinya kantin sedang penuh saat ini dan aku tidak terlalu suka dengan keramaian tapi mau bagaimana lagi aku merasa lapar saat ini kalau beli makan diluar belum tentu higenis bukan belum lagi kalau mahal.
Saat aku berjalan memasuki kantin ada seseorang yang berlari kearahku setelah aku melihat dengan seksama ternyata itu Aletta.
“ Dokter Vernon , ayo makan bersamaku dan teman - temanku" katanya.
Hhh... Lagi - lagi dia berusaha mendekatiku dengan mengajak makan bersama. Aku menimang - nimang sebentar ajakan tersebut.
“ Uhm... Bagaimana ya ?" kataku sambil melihat sekeliling memang tidak ada meja yang kosong , semuanya penuh hanya tempat Aletta yang tersisa ada tempat kosong.
“ Boleh deh " kataku pada akhirnya. Sebenarnya ini adalah sebuah keterpaksaan.
Aku duduk dan menyantap makananku namun atensiku beralih ke meja Linzy dan Glory , disana tidak hanya mereka berdua saja namun juga ada dua orang siswa laki - laki sedang bercerita satu sama lain. Aku melihat tangan Linzy sedang membawa bunga mawar di tangannya.
“ Dari siapa bunga itu ?" batinku bertanya - tanya.
Mereka berempat larut dalam obrolan mereka sepertinya sesekali Glory yang adu mulut dengan siswa yang kuketahui bernama Lionel. Terbukti beberapa kali Glory berteriak sembari menyebut namanya.
Tiba - tiba aku mendengar celetukan Glory.
“ Zy.... Zy.... Aku gak salah lihat kan mataku masih normal kan Zy " ujar Glory.
“ Bursssstt.... Uhuk - uhuk" Linzy tersedak. Kulihat Lionel memelototkan matanya pada Glory.
“ Biasa aja bisa nggak heboh banget. Lihat tuh Linzy jadi tersedak kan ?" ujar Lionel sembari menepuk punggung Linzy. Aku yang melihat perlakuannya pada Linzy merasa entahlah seperti tidak rela jika melihat Linzy disentuh orang lain kecuali keluarga dan sahabatnya.
Sepertinya siswa yang satunya lagi juga terlihat kesal dengan tingkah Glory.
“ Lagipula apasih yang kamu lihat Glo kok heboh banget " ujar siswa laki - laki yang belum kuketahui namanya itu.
“ Aku.... Aku habis lihat Alien yang turun dari UFO" jawab Glory sewot serta dengan suara keras sehingga ia menjadi perhatian seluruh penghuni kantin.
Wait.... Ini hanya perasaanku saja atau bagaimana , mengapa Glory berkata seperti itu sembari menatap tajam kearahku? Dan apa maksudnya dia melihat alien yang turun dari UFO?
“ Dasar bocah aneh mana ada alien yang tersesat di sekolah kita?" ujar Lionel.
“ Ada aja " jawab Glory.
__ADS_1
“ Mana buktinya ?" tanya siswa yang satunya.
“ Itu dimeja sebelah sana tadi aku melihat ada alien yang berlari kearah seorang ahjussi" jawab Glory dengan lugas sembari menunjuk meja kami. Aku melihat sekeliling beberapa anak sedang menahan tawa akibat celetukkan Glory.
Aletta yang mendengar itupun sontak wajahnya memerah seperti menahan amarah.
Tunggu.... Jadi aku dipanggil ahjussi ? Apakah wajahku setua itu ? Yang benar saja.
“ Heh , Ory bilang saja kalau kamu dan temanmu itu iri tidak bisa makan bersama dokter Vernon secara dokter Vernon lebih memilihku dibandingkan kalian berdua" ucap Aletta dengan remeh.
Glory hanya menatap Aletta dengan datar kemudian berdecih.
“ Aku ??? Cemburu ??? Huh percaya diri sekali kau nenek sihir , untuk apa aku cemburu padamu menyimpan perasaan untuk dokter Vernon pun tidak. Maaf saja ya aku sudah menaruh hati pada orang lain yang pasti lebih unggul dari dokter Vernon " ucap Glory.
Aletta menatap Glory dengan kesal lalu beralih menatap Linzy.
“ Kalau kamu tidak menaruh hati dengan dokter Vernon lalu bagaimana dengan temanmu?" ucap Aletta dengan seringaian.
Aku langsung melihat kearah Linzy sedikit penasaran dengan jawaban apa yang ia berikan untuk Aletta. Dia sedang meminum jus mangga sepertinya setelahnya dia terdiam sejenak.
“ Aku....? " tanyanya pada Aletta sembari menunjuk dirinya sendiri.
Aletta mengangguk.
“ Aku tidak tahu karena aku tidak pernah merasakan jatuh cinta sebelumnya dan aku nggak tahu apa itu cinta. Aku bahkan nggak tahu perasaanku sendiri pun gimana dan perasaan dokter Vernon sendiri gimana , bisa saja saat ini dokter Vernon menyimpan perasaan untukmu. Tapi hati siapa yang tahu seiring berjalannya waktu bisa saja namamu dihati dokter Vernon tergantikan oleh nama perempuan lain. Berdoa saja semoga bukan namaku yang menggantikan namamu dihatinya " jelas Linzy panjang lebar dan menohok.
Aku tidak menyangka Linzy bisa berkata sepedas itu pada Aletta meski terlihat halus tutur katanya namun itu sangat menohok hati seseorang.
Aletta seperti kehabisan kata - kata mendengar ucapan menohok Linzy.
Aku juga berpikir tentang perasaanku pada Linzy apakah ini cinta sejati ataukah hanya cinta sesaat. Aku takut jika menyakiti hatinya , aku takut membuat ia terluka jika hanya sesaat.
Tapi aku juga tidak tahu apa yang dirasakan Linzy saat ini.
Vernon POV End
Aku tak tahu apa maksud dari Aletta tadi , aku menyukai dokter Vernon , benarkah ? Aku sendiri juga bingung akan perasaanku dan aku juga tak mengerti bagaimana perasaan dokter Vernon padaku.
Eh aku memikirkan apa sih seperti berharap saja...
Aku hanya memandang kearah luar dari jendela pikiranku mendadak kosong dengan pertanyaan yang diajukan oleh Aletta tadi.
“ Hai Zy tumben kamu melamun apa karena kejadian di kantin tadi" tanya Glory padaku.
“ Tidak juga " jawabku singkat.
“ Hooo.... Sungguh ? Apa itu benar ? Eh tapi aku masih shock dengan jawabanmu yang tadi lho. Apalagi kata - katamu " sambung Glory lagi.
“ Kata - kata yang mana memangnya?"
“ Yang seperti ini Berdoa saja semoga bukan namaku yang menggantikan namamu dihatinya " lanjut Glory.
Ahh dia masih mengingat ucapanku ternyata. Menyebalkan.
“By the way Zy yang sekarang menjadi pertanyaan dibenakku adalah apakah kamu sudah mulai menyukai dokter Vernon? " Glory melontarkan pertanyaannya padaku
“ Tidak tahu aku hanya reflek"
“ Ahhh.... Masa?"
“ Iya... "
“ Tidak biasanya kau seperti ini Linzy sekalipun kau dipancing saat dekat dengan seorang pria"
Benar juga biasanya kan aku terlalu masa bodoh.
“ Wah apa benar ini menjadi sebuah pertanda bahwa Linzy mulai mengenal cinta? Wow menggegerkan dunia kalau itu memang benar"
“ Ahhh sudah diamlah Glory. Semua itu membuatku pusing , sudah aku bilang tadi cuma reflek" aku berusaha membela diri.
“ Reflekmu bukan seperti orang yang kukenal selama ini Linzy , tapi jika kamu memang jatuh hati padanya cepatlah ungkapkan"
Aku hanya diam mendengarkan nasehat Glory. Aku akui pikiranku sedang kacau saat ini.
“ Kamu tahu nggak kalau perasaan kita itu ibarat gas dalam perut ? Semakin lama dipendam akan semakin sakit. Oleh karena itu harus dikeluarkan agar terasa lega"
Aku hanya menatap Glory dengan pandangan lurus. Kalau dipikir - pikir benar juga kata - katanya.
“ Apa nggak ada perumpamaan yang lebih bagus lagi Glo " tanyaku dingin.
Glory hanya terkekeh namun kemudian tertawa lebar.
“ Hahahaha.... Nggak ada itu sudah perumpamaan paling simple dan mudah dipahami"
“ Hum terserah " aku mulai merotasikan bola mataku.
“ Ayolah Zy , masa seperti itu saja kamu marah?" rengek Glory.
“ Bisa diam nggak atau aku akan berdoa supaya jodoh kak Martin bukan kamu" ancamku.
“ Uhh... Gak asyik mainnya ancaman" gerutunya.
Aku hanya tersenyum sekali - kali menjahilinya tak masalahkan ?
Bisa kulihat wajahnya mulai kusut dan dia tidak suka dengan pernyataanku hahaha rasakan itu Glory salah siapa menganggu.
__ADS_1