Who Am I ( Linzy Story )

Who Am I ( Linzy Story )
Spesial Glory & Martin Moment's


__ADS_3

Author POV


“Glo , kak Martin sudah disana kau masuklah dahulu ke mobilnya "


“ Kau mau kemana Zy ?"


“ Aku mau ke toilet sebentar. Jangan khawatirkan aku "


“ Tapi Zy ?"


“ Daaaahh....." Linzy sudah lari terlebih dahulu menghilang dari hadapan Glory.


“ Eh... Linzy aduh bagaimana sih kok dia langsung lari begitu saja ?" heran Glory. Segera saja ia menuju mobil Martin.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sesampainya di depan mobil Martin Glory pun membuka pintu mobil bagian belakang.


“ Kenapa duduk di jok belakang ? Pindahlah aku bukan sopir pribadimu ! " ucap Martin dengan datar.


“ E - eh kak tapi kan biasanya aku juga dibelakang , jok disamping kakak kan untuk Linzy. Dia sedang ke toilet dan menyuruhku untuk kesini lebih dulu "


“ Pindah " katanya dengan penuh penekanan.


Glory hanya terbengong saat Martin menyuruhnya pindah , karena kesal ia membuka pintu belakang mobil dan menyeret Glory keluar untuk pindah di jok depan samping dirinya.


“ Eh kak tapi " kata Glory terpotong. Martin menulikan telinganya dan masuk lalu menjalankan mobil meninggalkan area sekolah.


“ Kak Linzy masih di toilet kak. Kita harus putar balik , Linzy tertinggal disana. Gimana jika nanti om Andrew marah ? Kak Martin ! " panik Glory.


“ DIAMLAH !!!!!.... " Bentak Martin , jujur telinga Martin sangat berdengung karena teriakkan panik Glory saat ini. Sedangkan Glory yang mendengar bentakkan Martin nyalinya mendadak ciut dibuatnya pada akhirnya ia memilih bungkam.


Martin yang melihat Glory terdiam hanya tersenyum tipis dan mengusak rambut Glory , sebenarnya ia merasa bersalah pada anak itu akan tetapi Martin juga tak menyukai kebisingan.


Glory sudah harap - harap cemas ia menatap luar jendela mobil ini bukan jalan menuju rumahnya lantas ia akan dibawa kemana begitu pikirnya. Ia sangat takut untuk bertanya kemana tujuan mereka saat ini. Akhirnya ia memutuskan untuk memberanikan diri bertanya pada manusia es disampingnya.


“ Kak sebenarnya kita ini mau kemana , ini bukan jalan menuju rumahku "


“ Memang bukan " jawabnya santai.


“ Lalu kau akan membawaku kemana kak , aku harus pulang " rengek Glory.


“ Diamlah. Nanti kau juga tahu " ucap Martin acuh. Glory mendengus tak suka.


“ Jika saja kau tidak lebih tua dariku dan bukan anak dari om Andrew dan tante Gladys , aku sudah mencekikmu sedari dulu. Huh sabar Glory kau berhadapan dengan manusia es " batin Glory.


“ Kenapa menatapku begitu?" tanya Martin.


“ Tidak " jawab Glory ketus.


Martin tersenyum tipis melihat ekspresi Glory yang sedang cemberut itu.


“ Menggemaskan "  batin Martin.


Mobil yang dikendarai Martin sudah sampai di suatu tempat yang sejuk. Ia menghentikan laju mobilnya.


“ Turun ! " titahnya pada Glory.


Glory pun turun dari mobil meski dalam hati ia bertanya - tanya ada dimana dia sekarang. Ia seperti berada di dataran tinggi dengan jalan yang menanjak.


“ Ayo ! " ajak Martin padanya , Glory pun mengikuti Martin berjalan disampingnya. Setapak - dua tapak hingga menghabiskan waktu kurang dari 10 menit berjalan ada sebuah gapura bertuliskan “SELAMAT DATANG DI KEBUN BUNGA MATAHARI "


“ Kebun bunga matahari? Wow....." Ia langsung segera masuk ke dalam kebun itu dengan sedikit berlari.


“ Wah , indahnya " ucap Glory takjub akan pemandangan yang ada di depannya.


“ Kak Martin ayo kesini , cepat ! " ujar Glory. Martin tersenyum lembut dan sedikit menggelengkan kepalanya ketika melihat kelakuan Glory.

__ADS_1


“ Hmmm.... " jawab Martin dengan deheman dan berjalan menuju ditempat Glory berada.


“ You like it ?" tanya Martin pada gadis itu.


“ Hmmm.... I really... Really like it thank you so much " jawab Glory dengan senyuman.


“ Kau tidak pernah kesini sebelumnya?" tanya Martin penasaran.


“ Tidak pernah " jawab Glory.


“ Jika begitu ini pengalaman pertamamu jalan - jalan ke alam ?" tanya Martin balik.


“ Bisa dibilang " jawab Glory sambil memandang hamparan bunga matahari didepannya.


“ Kak fotoin disitu " Glory menarik tangan Martin dan menujukkan spot foto tempat ia ingin mengambil foto dan menyerahkan ponsel pintarnya namun nahas sewaktu akan diserahkan pada Martin , ponsel Glory tiba - tiba mati.


“ Yah... Ponselku mati " ucap Glory dengan nada sedih dan kecewa seketika raut wajahnya berubah murung.


“ Pakai ponsel kakak aja , kamu pose disana nanti kakak kirim fotonya ke kamu" ujarnya.


“ Sungguh.... " tanya Glory dengan mata berbinar.


“ Iya " jawab Martin lembut. Glory segera berpose sedangkan Martin memotretnya. 


Satu jepretan sudah , Martin memandang foto Glory.


“ Cantik " batin Martin. Kemudian ia melanjutkan kegiatan memotretnya setelah mendapatkan lumayan banyak foto ia mengirimnya untuk Glory sendiri melalui aplikasi chatting.


“ Sudah selesai ya , apa kau merasa bosan ? Kalau sudah aku ingin mengajakmu ke suatu tempat Glo "


“ Kemana lagi ?" tanya Glory penasaran.


“ Itu rahasia Glo. Kau akan tahu nanti dan yang pasti kau tidak akan menyesal "


“ Ugh... Nggak asik main rahasia - rahasiaan. Tapi semoga kejutannya tidak membuatku kecewa " ujar Glory.


“ Baiklah bagaimana jika sekarang saja ? Keburu gelap " ajak Martin.


“ Oke , Ayo " ucap Glory semangat. Merekapun kembali ke mobil dan menuju ke tempat selanjutnya , Martin mengajak Glory menuju pusat kuliner dan jajan pasar dipinggir jalan.


“ Wow... Ramai sekali kak , apa kita akan makan - makan ?" tanya Glory dengan mata berbinar.


“ Yup. Kita akan wisata kuliner hari ini dan aku yakin kamu pasti belum makan. Benarkan ?" tebak Martin.


“ Hehe.... Kakak tahu saja , tapi kakak tak malu makan ditempat seperti ini ?"


“ Serius ????" ucap Glory tak percaya dan Martin hanya menganggukkan kepalanya.


“ Wah , aku kira kakak hanya makan di restoran bintang lima saja dan tak pernah makan makanan seperti ini. Mengingat gaya kakak yang sangat high class" jelas Glory hampir dengan nada sinis.


Martin yang mendengarnya pun sontak tertawa terbahak - bahak dan dengan suara keras.


“ Kamu terlalu sering menilai orang dari penampilan luarnya saja Glory. Aku sering makan ditempat seperti ini tak jarang jika Linzy sering meminta dibawakan martabak manis atau seafood aku sering membelinya dipinggir jalan" jelas Martin panjang lebar. Glory pun mengangguk.


“ Yasudah ayo aku ingin makan bebek goreng yang enak disini. Apa kakak tahu?" tanya Glory sembari berjalan mendahului Martin.


Martin menyusul dan menggegam erat tangan Glory sontak saja rona merah muncul dengan tanpa izin dipipi Glory.


“ Aku tahu kok. Ayo " Martin menggegam tangan Glory dan berjalan mencari penjual bebek goreng.


“ Astaga Ya Tuhan. Jantungku kenapa ribut sekali " batin Glory memekik.


Sesampainya di tempat penjual bebek goreng merekapun memesan pesanan mereka sambil menunggu pesanan siap merekapun mengobrol.


“ Kak aku bertanya serius Linzy bagaimana , siapa yang akan menjemputnya?"


Martin menghela nafas panjang ternyata Glory sangat cerewet dibandingkan adiknya. Untung dia sayang.... Eh....?


“ Linzy sudah pulang dengan Vernon jika kau ingin tahu , jadi tak perlu khawatir biarkan mereka pergi berdua. Aku yakin Vernon bisa menjaganya , lagipula Vernon sudah meminta izin denganku tadi" jelas Martin , Glory yang mendengar penjelasan Martin memelototkan matanya tak percaya. Merasa dikerjai oleh sahabat sendiri... Benar - benar...


“ Sialan. Jadi Linzy sudah menipuku dengan mengatakan ingin ketoilet? Ternyata ia malah berkencan dengan dokter Vernon dan meninggalkanku. Hampir saja aku jantungan karena mengkhawatirkannya benar - benar lihat saja nanti " batin Glory bersungut - sungut. Martin yang melihat ekspresi kesal Glory pun langsung mengusap kepala Glory dengan tangannya.


“ Sudah tak perlu cemberut begitu. Kamu tahukan Linzy itu memang sedikit nakal dan usil?" kata Martin dengan lembut.


“ Ihh... Tetap saja aku marah padanya karena dia membuatku khawatir tadi. Bagaimana jika ada yang berniat jahat padanya?" sungut Glory.


“ Itu tidak akan terjadi Glo. Ada Vernon yang menjaganya dari apapun dan dia sudah menyerahkan nyawanya padaku jika terjadi sesuatu pada Linzy karena kelalaiannya atau kesalahan lain yang ia perbuat pada Linzy " tegas Martin.


Glory membulatkan matanya terkejut dengan mulut menganga dengan penjelasan Martin.


“ Apa dokter Vernon seserius itu padamu kak ?"  tanya Glory.


“ Iya. Dia yang mengatakannya sendiri dihadapanku , Linzy , dan juga mommy " jawab Martin singkat.


“ Saikou..... ( Hebat ) aku berharap dokter Vernon dapat menepati janjinya untuk menjaga Linzy " harap Glory.

__ADS_1


“ Tentu saja. Jika tidak ajalnya tentu sudah dekat " ucap Martin santai.


“ Kau terlihat seperti psikopat kak. Mengerikan sekali " Glory bergidik ngeri.


“ Jika denganmu dan keluarga aku akan bersikap lembut. Tidak ada Martin si psikopat. Kecuali jika ada yang mengusik orang yang aku sayangi " ucap Martin.


Pesanan mereka sudah datang dan mereka menikmati makanan dengan khitmad.


“ Ini benar - benar nikmat kak. Gak bohong " ucap Glory dengan mulut hampir penuh hingga ada nasi di sudut bibirnya.


“ Telan dahulu baru bicara aku tahu jika ini nikmat " ucap Martin sembari membersihkan bulir nasi yang ada di sudut bibir Glory dengan ibu jarinya.


Glory hanya mematung dengan perlakuan Martin seakan jantungnya berhenti berdetak dan aliran darahnya terhenti.


“ Apa yang kak Martin lakukan ya Tuhan Mama - Papa tolong Glory " batin Glory menjerit.


“ Glo , ayo habiskan makananmu setelah itu kita berkeliling mencoba jajanan yang lainnya. Jangan bengong " ujar Martin. Glory pun mulai tersadar dan melanjutkan makannya.


Glory pun menyelesaikan makanannya begitu juga dengan Martin lalu Martin membayar makanan mereka dan pergi melanjutkan membeli jajanan lain.


Sepanjang jalan Martin menggenggam erat tangan Glory seakan takut kehilangan gadis itu. Banyak yang mereka jajal seperti bakso bakar , sate , corndog , martabak manis , cotton candy , sosis , kebab dan masih banyak lagi hingga hari sudah mulai gelap dan mereka memutuskan untuk menyudahi acara wisata kuliner mereka.


Martin menjalankan mobilnya menuju kesebuah taman yang dikelilingi pohon tinggi keadaannya memang sepi sehingga membuat Glory bertanya - tanya dalam hati hingga Martin memberhentikan mobilnya di taman itu.


“ Ayo turun ! " ajaknya pada Glory. Glory pun mengikuti Martin yang berjalan masuk ke dalam area taman itu.


“ Lebih mirip dengan hutan kota " pikirnya. Sampailah mereka berdua disebuah pohon besar , Martin menaiki tangga yang ada di pohon besar tersebut Glory pun mengikutinya , untunglah Glory ini gadis yang sedikit tomboy , jadi untuk urusan manjat - memanjat tak masalah.


Sampailah mereka disebuah rumah pohon yang ada diatas mereka tadi segera saja mereka masuk kedalam rumah pohon tersebut dengan Glory yang dibantu oleh Martin.


Glory merasa takjub dengan gemerlap pemandangan lampu kota yang terlihat dari rumah pohon itu.


“ Menakjubkan " ujar Glory.


“ Kau menyukainya? " tanya Martin.


Glory menganggukkan kepalanya dengan semangat sungguh ia belum pernah pergi ketempat ini sebelumnya.


“ Dari mana kakak tahu tempat ini ?" tanya Glory penasaran.


“ Aku menemukan tempat ini saat aku duduk dibangku sekolah menengah atas. Saat pikiranku sedang kacau aku membutuhkan suasana yang tenang seperti ini hanya melihat pemandangan taman dan lampu - lampu kota yang menyala. Itu dapat membuatku sedikit tenang" jelas Martin.


“ Hmmm.... " Glory hanya menanggapi dengan deheman kecil.


“ Kadang aku merasa sangat bersalah pada Linzy karena secara tidak langsung aku menjadi bayang - bayangnya dan membuat ia tertekan " ucap Martin menatap lurus gemerlap cahaya lampu.


Glory hanya setia mendengarkan keluh kesah kakak beradik ini tidak menyangka kak Martin yang ia kenal memiliki sifat dingin bisa merasa sebersalah ini.


“ Aku merasa gagal menjadi kakak yang baik untuk Linzy Glo " sesal Martin.


“ Hey , jangan begitu kak. Aku tahu kakak juga sudah berusaha menjadi yang terbaik untuk Linzy " Glory berusaha menenangkan.


“ Bagiku kau kakak yang terhebat dan terbaik yang pernah Linzy punya , terutama untukku. Kau kakak terbaik dan terhebat yang pernah kutemui" ucap Glory dengan senyum kecilnya , ia merasa hatinya sedikit tersayat ketika mengucapkan itu.


Martin terpengarah dengan ucapan Glory dan sedikit menengok kearah gadis itu. Perlahan ia mendekatkan wajahnya pada Glory.


“ Glo ? " panggilnya dengan deep voice.


“ Ap------ hmphh " Glory menoleh hendak menjawab namun perkataanya terbungkam oleh bibir Martin , ya Martin membungkam bibir Glory dengan bibirnya.


Mata Glory membola berusaha mencerna apa yang terjadi namun sayangnya otaknya tak bisa berpikir jernih.


Perlahan tangan Glory melingkar dileher Martin secara tak sadar ciuman mereka berubah menjadi panas namun tak ada nafsu. Bunyi kecipak lidah yang saling membelit satu sama lain mengalun menjadi saksi bisu perasaan cinta mereka.


Hingga Glory memukul pundak Martin tanda ia membutuhkan pasokan oksigen sehingga Martin menyudahi ciuman panas mereka hingga tercipta benang saliva entah milik siapa , dengan segera Martin menghapusnya.


Martin mendekatkan dahinya pada dahi Glory sampai bersentuhan.


“ Aku tidak suka kata - katamu Glory. Aku bukan kakakmu dan kau juga bukan adikku " ucapnya dengan suara rendah.


“ Lalu aku ini apa ? Apa kau tak pernah menganggapku ?" balas Glory.


“ Kau bukan adikku Glory tapi kau kekasihku " ucap Martin penuh penekanan di kata kekasihku.


Glory berusaha merespon apa yang dikatakan Martin namun ia hanya bisa bungkam.


“ Jadilah kekasihku mulai malam ini hingga kita dipersatukan sampai altar nanti oleh Tuhan aku mencintaimu Stevanny Glory Christabelle "


Glory terkejut sangat terkejut ia tidak menyangka jika Martin mengutarakan perasaanya kepadanya sungguh ia bahagia dan ia pun mengangguk menyetujui ucapan Martin.


Martin yang diterima cintanya sontak memeluk Glory dengan perasaan bahagia “ Thank you. Thank you very much honey"


“ You're welcome babe " balas Glory.


Malam ini adalah malam yang indah dan spesial bagi mereka berdua dimana perasaan cinta mereka terbalaskan satu sama lain.

__ADS_1


Author POV End


__ADS_2