Who Am I ( Linzy Story )

Who Am I ( Linzy Story )
32


__ADS_3

Author POV


Hari senin , dimana para anak sekolah mengawali kegiatan mereka setelah seharian di rumah selama weekend dan biasanya hanya segelintir siswa yang dengan sukacita menyambut hari senin , lainnya ? Tanyakan saja pada diri masing - masing.


Glory termasuk pada golongan kedua entah mengapa setiap hari senin ia selalu menggerutu. Kalau Linzy lain lagi ia merasa tak terpengaruh. Itu dikarenakan ia tak boleh mengikuti upacara dengan alasan kondisi jantungnya.


Saat ini ia sendirian di kelasnya , karena ia merasa bosan ia bermain dengan laptopnya. Menunggu hingga upacara selesai.


Ia jadi teringat saat weekend kemarin , ia memandang hadiah dari Vernon dokter kesayangannya.


“ Lucu sekali kenapa harus bentuk gajah ya?" heran Linzy. Ia jadi senyum - senyum sendiri membayangkannya.


Saat sedang sibuk dengan dunianya tiba - tiba ada seseorang yang masuk ke dalam kelasnya. Ternyata itu satpam keamanan sekolah.


“ Nona Linzy , ini ada sebuah paket untukmu " kata satpam tersebut.


“ Paket apa , pak ? " tanya Linzy heran.


“ Katanya nona Linzy pesan makanan " jelas satpam.


Linzy mengerutkan keningnya bingung.


“ Makanan ? Pesan ? Tapi aku tidak memesan apapun , apalagi sepagi ini apa ada yang buka?"


“ Ahh... Soal itu saya tidak tahu nona. Baiklah kalau begitu saya permisi dulu. Ini paketnya" pamit satpam itu. Linzy mengangguk dan menerimanya. Meskipun ia masih merasa bingung.


Beberapa saat kemudian......


Upacara bendera telah usai semua murid masuk ke kelasnya masing - masing. Glory yang melihat ada bingkisan di meja ia dan Linzy pun bertanya - tanya.


“ Zy , itu apa ?" tanyanya.


“ Hmm... Oh ini tadi yang mengantarkan pak satpam katanya ia menerima ini sebab dipikirnya aku memesan. Padahal aku tak memesan apapun. Lagipula apa ada kedai yang buka sepagi ini?" jelas Linzy.


“ Sangat mencurigakan. Hati - hati jangan dimakan Zy. Aku takut bila terjadi sesuatu yang tidak - tidak" peringat Glory. Linzy mengangguk menyetujui ucapan sahabatnya.


Di kantor Andrew dan Martin...


Terdengar suara pintu diketuk oleh seseorang.


Tok.... Tok.... Tok..


“ Masuklah " jawab Martin dengan deep voice nya.


Tak lama kemudian masuklah sang OB mengantarkan kopi untuk Martin.


“ Maaf tuan ini kopinya " kata sang OB tersebut sambil menunduk.


Martin hanya menolehkan kepalanya , ia merasa asing sebelumnya ia tidak pernah melihat pekerja tersebut di kantornya.


“ Kau siapa ? Aku belum pernah melihatmu di kantor ini. Apa kau OB baru disini ?" tanya Martin.


“ Y - ya tuan saya OB baru disini , baru bekerja kemarin " jawab sang OB gugup. Bagaimana tidak tatapan mata seorang Martin Gerald itu sangat mengintimidasi tak heran jika para pegawai sangat takut padanya.


“Siapa namamu ?" tanya Martin kembali.


“ Ra - raya tuan " jawabnya dengan keringat dingin.


Saat ketegangan sedang berlangsung pintu ruangan Martin terbuka tiba - tiba nampaklah Verren dengan setelan jasnya.


“ Hai kak , oh apa aku mengganggu?" sapa Verren.


“ Hmmm... Duduklah Verren " titah Martin. Verren mendaratkan bokongnya di sofa , sembari menonton drama yang terjadi pagi ini.


Verren sedang mengamati setiap pergerakan sang OB baru dan raut wajahnya di depan Martin dengan seksama , kemudian ia menganggukkan kecil kepalanya.


“ Baiklah kau boleh keluar sekarang ?" titah Martin pada sang OB.


“ Baiklah tu - tuan saya permisi " pegawai itu pamit dan segera pergi dari sana.


“ Kau tidak meminumnya ?" tanya Verren. Martin menggeleng.


“ Kau tahu ? Aku sulit jika dengan orang baru. Seperti kakakmu " jelas Martin. Verren hanya mengangguk mengerti. Martin sangat mirip dengan sang kakak namun jika disuruh memilih antara keduanya ia akan dengan lantang berkata “ Kakakku jauh lebih baik"

__ADS_1


“ Apa yang membawamu kemari ?" tanya Martin.


“ Adikmu mendapatkan kiriman makanan yang mengatasnamakan dirinya sendiri" jelas Verren.


“ Maksudmu seseorang mengira Linzy memesan makanan untuk dia sendiri ?" tanya Martin memastikan.


“ Lebih tepatnya seseorang itu adalah petugas keamanan sekolahnya" jelas Verren lagi.


“ Aku jadi curiga. Maksudku tidak mungkin Linzy melakukan itu. Ia sudah percaya dengan makan - makanan kantin. Lalu tidak mungkin dia pesan bukan ?" Martin mulai menduga.


“ Apa dia memakannya?" tanya Martin lagi.


“ Dilarang oleh kekasihmu. Makanya dia tidak memakannya" jawab Verren.


“ Huh.. Syukurlah kalau begitu " ucap Martin lega.


“ Aku tiba - tiba penasaran dengan pegawaimu tadi. Gerak - geriknya terlihat sedang menyembunyikan sesuatu" Verren memulai.


“ Kau berpikir apa yang aku pikirkan?" Martin menyeringai.


“ Of course bro " Verren membalas dengan seringaian juga.


Segera saja Martin menghubungi Felix.


“ Halo. Carikan data tentang Raya pekerja OB baru disini dan berikan padaku segera. Kutunggu 10 menit" perintah Martin pada Felix. Segera saja ia memutuskan sambungannya.


“ Jahat sekali kau dengan ayah mertuamu" ejek Verren.


“ Saat sedang dalam lingkungan kerja kami memang seperti itu" Martin menjelaskan. Verren hanya terkekeh.


Di ruangan Andrew.....


“ Ada apa ?" tanya Andrew pada Felix. Felix menoleh dan tersenyum tipis. “ Anakmu meminta padaku data tentang Raya yang bekerja sebagai OB baru disini " jelasnya.


“ OB baru ? Apa ada OB baru dlsini ? Kenapa aku baru tahu? Apakah kau tahu?" tanya Andrew.


“ Mana kutahu , aku saja tak paham. Baiklah sebentar aku akan membuatkan pesanan Martin terlebih dahulu" jawab Felix.


“ Apa ada yang terjadi padanya ?" tanya Andrew pada Felix.


“ Aku sudah mendapatkannya akan kukirimkan pada calon menantuku" ucap Felix dengan sedikit bercanda.


Di ruangan Martin....


“ Sudah dikirimkan datanya " ucap Verren.


“ Apa yang kau temukan? "


“ Raya Santoso. Anak dari Denny Santoso dan Hera Lusiani dulu pernah mengabdi pada keluarga Sanders. Denny yang bekerja sebagai sopir keluarga Sanders dan Hera sebagai asisten rumah tangga. Diketahui bahwa hingga saat ini Raya masih mengabdi di keluarga tersebut"


“ Lalu kedua orang tuanya?"


“ Ayahnya sudah tiada karena kecelakaan bersama Tuan Sanders dan ibunya diketahui tengah mengidap gangguan kejiwaan akibat kematian suaminya"


Martin berpikir sejenak. Sanders sepertinya ia pernah mendengar nama itu.


“ Verren , apa daddymu mengenal Sanders ?" tanya Martin tiba - tiba.


“ Sanders ? Entahlah aku juga merasa tak asing. Sepertinya daddyku kenal. Kukira daddymu serta om Felix juga demikian " kata Verren.


“ Aku curiga apa ini ada hubungannya dengan terror itu?"


“ Bisa ku minta kopi itu kak. Bungkus dengan plastik akan kuberitahu Vernon nanti. Aku juga akan meminta bantuannya"


Martin mengambil plastik bening untuk membungkus kopi buatan Raya agar dibawa pulang oleh Verren. Setelah selesai membungkusnya Verren pamit untuk pulang dan menemui Vernon.


Author POV End


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


Verren POV


Aku sedang berada dalam mobilku saat ini ingin pergi ke suatu tempat dan aku akan menghubungi Vernon segera.


“ Halo , ada apa ?"


“ Kau masih di sekolah ? Aku ingin mengajakmu bertemu di cafe sekitar rumah sakit tempatmu bekerja. Jangan lupa bawalah paket makanan yang diterima Linzy"


“ Sepertinya genting sekali tapi baiklah. Sampai ketemu nanti "


Sambungan teleponku sudah diputuskan oleh Vernon. Tinggal aku menghubungi kak Martin untuk minta data oknum yang bernama Raya tadi.


Verren POV End


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Vernon POV


Saat ini aku dalam perjalanan menuju cafe rumah sakit untuk bertemu dengan Verren setelah tadi meminta bantuan Glory untuk mencuri paket makanan Linzy secara diam - diam.


Flashback On :


Aku bergegas menemui Glory setelah mendapat telepon dari Verren. Ku minta tolong Glory untuk mengambilkan paket makanan yang diterima Linzy secara diam - diam. Namun sebelum itu aku menjelaskan semuanya pada Glory dan Glory mengerti kemudian mau membantuku untuk mengambilkannya. Setelah berhasil aku bergegas pergi.


Flashback Off


Dan disinilah aku sekarang kulihat Verren sudah menungguku.


“ Maaf jika lama menungguku " ucapku. Ia hanya mengangguk raut wajahnya nampak serius.


“ Apa yang ingin kau bicarakan ?"


Verren mulai menceritakan apa yang telah terjadi dan apa yang telah ia temukan di kantor kak Martin dan juga menceritakan tentang siapa itu Raya.


Aku agak sedikit terkejut mendengarnya apa orang yang bernama Sanders ini termasuk 4 sekawan dengan om Andrew , daddy , dan juga om Felix?.


Jujur ini lebih rumit dari yang kubayangkan.


“ Jadi aku mohon kak bisakah aku minta tolong untuk meneliti kopi ini dan juga makanan ini ke laboratorium terdekat ? Aku takut jika ada zat berbahaya di dalamnya" pinta Verren padaku.


“ Sebenarnya apa hubungan ini semua dengan keluarga Sanders?"


“ Aku juga tak tahu kak tapi kak Martin punya firasat yang kuat untuk itu" jawab Verren.

__ADS_1


“ Kak Martin? "


Vernon POV End


__ADS_2