Who Am I ( Linzy Story )

Who Am I ( Linzy Story )
17


__ADS_3

Author POV


Siang ini seluruh peserta sudah bersiap untuk pulang usai acara game tadi. Linzy dan Glory mendesah lega akhirnya acara ini selesai juga karena ia sungguh sangat lelah.


Saat ini mereka tengah berada didalam bus. Linzy tengah bermain dengan ponselnya. Ya ia tengah bertukar pesan dengan kekasihnya.


Saat sedang tenggelam dalam ponselnya Glory menepuk pundaknya.


“ Glo , nanti kita dijemput oleh kak Martin ?"


“ Hmm... Iya aku sudah mengabarinya sebelum bus kita berangkat "


“ Hmm... " jawab Glory singkat. Linzy hanya menyeringai melihat Glory memejamkan matanya.


Bus mulai berjalan dan selama diperjalanan mereka berdua tertidur  dikarenakan kelelahan.


Beberapa jam kemudian........


Bus yang mereka tumpangi telah sampai di sekolah , seluruh anak sudah turun dari bus dan pulang ke rumah masing - masing. Linzy dan Glory sudah turun dari bus lalu Linzy berkata pada Glory.


“ Glo , kak Martin sudah disana kau masuklah dahulu ke mobilnya "


“ Kau mau kemana Zy ?"


“ Aku mau ke toilet sebentar. Jangan khawatirkan aku "


“ Tapi Zy ?"


“ Daaaahh....." Linzy sudah lari terlebih dahulu menghilang dari hadapan Glory.


“ Eh... Linzy aduh bagaimana sih kok dia langsung lari begitu saja ?" heran Glory. Segera saja ia menuju mobil Martin.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sementara itu sebenarnya Linzy tidak berlari ke toilet namun ia berlari menuju mobil Vernon sedari tadi Vernon sudah menunggu ia memang tak bergabung dengan rombongan bus , ia memakai mobil sendiri.


“ Masuklah sayang , aku sudah menunggumu daritadi " ucap Vernon.


“ Huh... Hampir saja aku ketahuan tadi. Dia sudah sempat curiga"


“ Memang kau tadi mengatakan apa padanya?"


“ Aku tadi beralasan ke toilet dan dia tadinya ingin mengantarkanku. Tapi aku berusaha meyakinkannya dan dengan jurus puppy eyes ku dan itu berhasil"


Vernon mengangguk sepertinya rencana ia dan Linzy akan berhasil kali ini.


“ Bagaimana denganmu dokter kau sudah meminta izin dengan kakakku?"


“ Tentu dan kakakmu sudah memberiku izin. Apa kau lelah baby?" tanya Vernon memastikan.


“ Tidak terlalu. Aku sudah istirahat selama perjalanan tadi"


“ Oh. Baiklah bagaimana kalau kita jalan - jalan sebentar , apa kau mau ?"


“ Tentu " jawab Linzy dengan sumringah , oh ayolah dia jarang sekali keluar rumah hanya sekedar untuk berjalan - jalan.


“ Baiklah ayo kita bersenang - senang hari ini "


Vernon mengajak Linzy berjalan - jalan mereka mengujungi taman disana banyak sekali pedagang yang menjajakan dagangannya mulai dari makanan sampai dari aksesoris semuanya ada.


“ Wah ada es krim , aku mau itu bisa kau membelikannya ?" pinta Linzy.


“ As you wish princess " Vernon mencubit pelan pipi Linzy dan berjalan menuju stan es krim.

__ADS_1


Linzy menunggu dibangku taman yang tersedia disana ia merasa sangat senang sekali bisa menikmati waktunya.


Tak lama Vernon datang membawa dua es krim. Semuanya es krim tiga rasa sekaligus cokelat , vanilla , dan strawberry.


“ Ini untukmu sayang " Vernon menyodorkan satu cup es krimnya pada Linzy.


“ Wah , terimakasih " ucap Linzy sambil menatap es krimnya dengan mata berbinar.


“ Eumhh.... Enaknya " ucap Linzy saat ia menyuapkan sesendok es krim ke dalam mulutnya.


“ Kau menyukainya ?"


“ Sangat. Rasanya ini sangat enak padahal ini hanya dipinggir jalan tapi sungguh aku tak menyangka akan seenak ini "


Vernon memandang Linzy dengan tersenyum ia merasa bahagia jika melihat Linzy bahagia dan dapat tersenyum lepas seperti saat ini.


“ Terimakasih dokter aku sangat senang "


“ You're welcome. Honey "


Dua sejoli ini telah menghabiskan es krimnya dan mereka lanjut berjalan lagi kebetulan ada taman hiburan disana , Vernon mengajak Linzy memasuki rumah hantu.


“ Kau berani masuk kesini sayang ?" tanya Vernon pada sang kekasih mungilnya.


Linzy menatap rumah hantu itu terlihat menyeramkan memang namun ia gengsi untuk mengatakannya , ia tidak ingin terlihat kalah didepan kekasihnya.


“ Heum... Aku.... Berani. Tentu saja aku berani " katanya penuh percaya diri.


“ Kau yakin ? " tanya Vernon dengan seringaiannya.


“ Aku yakin dokter. Justru aku takut kau yang akan lari nanti " ujarnya meremehkan sang dokter.


“ Aku.... Takut ? Tentu saja tidak. Film horror itu sudah seperti makananku sehari - hari sayang. Jadi mana mungkin aku takut " ucapnya dengan tegas. Hey menonton film horror dan hal yang berbau horror itu adalah hobi Vernon.


Linzy menatap mata dokter Vernon berusaha mencari kebohongan disana tapi tak ia temukan.


“ Sial sepertinya ia bersungguh - sungguh dengan ucapannya jika begini aku bisa malu " batin Linzy.


“ Baiklah mari kita masuk " ajak Vernon dengan semangat 45 , ia membeli tiket untuk 2 orang setelah itu mereka berdua mulai masuk ke wahana rumah hantu tersebut.


Suasana didalam rumah hantu sangat mencekam tempatnya gelap dan terasa sepi , Bulu kuduk Linzy pun berdiri dibuatnya. Ia merapalkan doa dalam hati agar tak bertemu dengan hantu atau makhluk sejenisnya.


Ia mencengkeram ujung baju Vernon dan berjalan perlahan. Vernon yang merasakan ujung bajunya dicengkeram oleh tangan mungil Linzy hanya mendengus geli. Sungguh ia ingin tertawa keras saat ini melihat kekasihnya yang mulai ketakutan namun dia tidak mau mengakuinya dengan bertingkah sok berani.


“ AAAAAAA.......... TIDAK - TIDAK MENJAUH DARIKU SANA " Teriaknya lalu berlari secepat yang ia bisa menjauh dari sana.


Vernon yang kaget karena tiba - tiba ditinggalkan oleh Linzy juga ikut berteriak.


“ Hey sayang , mau kemana hati - hati sayang jangan lari tunggu aku aduh... Aku tak tahu jika dia larinya secepat itu saat ketakutan "  Vernon berlari mengejar Linzy yang sudah jauh dari jangkauannya sesekali ia diganggu oleh hantu - hantu yang ada disana namun ia tetap menerobos mereka semua dengan mudah.


“ Oh astaga rasanya seperti mengikuti maraton saja. Aku harus segera mencarinya sebelum dia hilang " keluhnya.


Ia segera keluar dari rumah hantu itu. Setelah ia keluar dari rumah hantu ia menemukan Linzy tengah menyantap permen kapas ukuran besar di bangku dekat stan rumah hantu tersebut.


“ Demi Tuhan Linzy aku mencarimu. Larimu cepat sekali dan kau membuatku cemas sayang" ujar Vernon dengan nafas tersengal - sengal. Linzy yang melihatnya hanya bisa nyengir kuda.


“ Maaf dokter aku sangat terkejut dan dandanannya sangat menyeramkan dan juga menjijikan. Oh iya aku membeli permen kapas ini dan belum membayarnya. Tolong dibayar ya" ucap Linzy sembari mengunyah permen kapas.


Vernon hanya bisa bersabar menghadapi kelakuan Linzy yang layaknya seperti anak kecil. Ia segera membayar permen kapas itu dan juga membeli minuman thai tea serta thai tea matcha untuk mereka berdua. Selepas membeli itu Vernon kembali ketempat Linzy dan membawa minumannya lalu menyodorkannya pada Linzy.


“ Ini minumlah yang mana kau pasti merasa haus kan?"


Linzy menerima thai tea original itu dengan riang.


“ Terimakasih dokter aku memang sangat haus. Oh iya setelah ini kita naik bianglala ya" pintanya pada Vernon.


“ Tentu. Ayo " ajak Vernon.


“ Tunggu sebelum itu ayo kita main lempar kaleng aku ingin boneka teddy bear nya" Linzy menunjukkan puppy eyes.


Vernon akhirnya luluh dia menghela nafas panjang dan berjalan menuju tempat permainan lempar kaleng. Ia membayar pada petugas yang menjaga tempat tersebut lalu mengambil satu bola dan ia membidik kemudian melemparkannya. Dalam sekali lemparan kaleng yang tersusun jatuh semua. Tentu Linzy yang melihatnya bersorak dengan riang akhirnya ia bisa mendapatkan boneka teddy bear besar dengan bulu yang amat lembut itu.


“ Ini boneka untukmu princess " Vernon menyerahkan boneka itu pada Linzy.


“ Danke " ucap Linzy.


“ Ayo dokter sekarang kita naik bianglala " ucap Linzy sembari menarik tangan Vernon sungguh anak ini jika sudah mengenai kesukaannya ia akan bergerak sangat lincah. Melebihi seekor kelinci lincahnya dan Vernon baru mengetahui hal itu.


Mereka berdua sudah sampai di wahana bianglala Vernon sudah membeli tiket dan mereka sedang antri.


Saat mereka sudah masuk dalam bilik bianglala Vernon dan Linzy duduk berhadap - hadapan. Linzy merasa bahagia sekali bisa melihat pemandangan dari atas melihat gemerlap lampu sungguh indah.

__ADS_1


Vernon hanya memandangi bidadari didepannya sungguh Vernon akui ini adalah hari bersejarah dalam hidup Vernon , selama ini ia tidak pernah berkencan dengan seorang wanita manapun  and this is first time for Vernon. Seandainya Verren mengetahuinya pasti ia akan sujud syukur.


“ Linzy "


“ Iya , ada apa ?"


Vernon mendekat dan menangkup kedua pipi Linzy kemudian mendekatkan wajah dan memiringkan kepalanya sedikit untuk mencium dan ******* bibir Linzy.


Linzy hanya diam dan tak lama ia membalas ******* Vernon dengan intens. Ciuman ini tanpa nafsu dan hanya saling menyalurkan rasa sayang hingga Linzy meremas bahu Vernon pelan tanda ia membutuhkan pasukan oksigen.


“ Love you Linzy , aku tak pernah jatuh cinta sedalam ini sebelumnya. Hanya padamu sungguh aku merasakan ini hanya padamu"


“ Love you too Vernon. Aku juga tak pernah merasakan jatuh cinta sedalam Ini. You my first love now and forever "


Vernon tersenyum hangat mendengarnya. Ia berjanji akan terus menjaga Linzy meski nyawa menjadi taruhannya.


Malam ini menjadi malam yang indah bagi mereka berdua menghabiskan waktu hingga matahari terbenam hingga malam tiba Vernon mengantarkan Linzy pulang ke rumah dengan selamat.


Tok..... Tok...... Tok.......


Andrew datang membukakan pintu menunggu kedatangan Linzy sembari bersidekap di dada.


“ Selamat malam om "


“ Iya malam , kalian habis darimana?"


“ Maaf om kami habis dari taman hiburan saya mengajak Linzy untuk jalan - jalan sebentar "


Andrew diam menyimak dan memperhatikan Vernon dari atas hingga bawah.


“ Kamu sepertinya tidak asing bagi saya "


Vernon hanya diam menatap Andrew kebingungan.


“ Maaf ?" tanya Vernon.


“ Kamu Vernon Devianno Stewart. Anaknya Darren dan Helena bukan ?"


“ I - iya om "


“ Apa kamu tidak ingat dengan saya?"


Vernon terdiam mencoba mengingat seseorang di depannya tersebut sesaat kemudian ia membulatkan matanya tak percaya.


“ Om Andrew. Astaga apa kabar om wah sudah lama tak bertemu. Jadi Linzy anak om ?"


“ Iya dia putriku. Kau bisa bersamanya ?"


“ Ahh... Om aku jadi dokter di sekolah Linzy dan kebetulan iya sudah dua atau tiga kali masuk UKS  jadi aku mengenalnya"


“ Dad biarkan kami masuk aku ingin meletakkan barangku " izin Linzy. Andrew hanya mengangguk ia kemudian permisi untuk berbenah sejenak. Vernon dan Andrew mengobrol di ruang tamu.


“ Bagaimana kabar orangtuamu ?"


“ Puji Tuhan sehat - sehat saja "


“ Syukurlah , kau menjadi dokter sekarang sangat berbeda dengan orangtuamu yang memilih bisnis"


“ Karena ini cita - citaku sejak lama om "


“ Sudah punya kekasih ? "


“ Hmm... Sudah om "


“ Oh ya syukurlah om senang mendengarnya"


“ Om bolehkah saya jujur pada om ?"


“ Kau ingin bicara apa ? "


“ Sebenarnya kekasih saya saat ini.... Adalah Linzy"


“ Uhuk... "


Andrew tersedak mendengar ucapan Vernon.


“ Linzy anakku ?"


“ Iya "


“ Dengar om aku ingin meminta restu untuk hubungan kami berdua aku sangat mencintai Linzy om izinkan aku menjaga dan melindunginya "

__ADS_1


“ Vernon bolehkah aku minta sesuatu padamu , jika aku berlaku kasar pada Linzy harap kau memaklumi. Aku ingin memberitahumu sebuah rahasia"


“ Apa itu? "


__ADS_2