
Glory POV
Daritadi aku masih setia berdiri menunggu didepan tenda karena sahabatku belum kembali dari mencari rantingnya. Aku agak sedikit cemas pasalnya dia tak ingin ditemani saat mencari ranting untuk menjadi kayu bakar nanti.
Saat tengah sibuk dengan lamunan aku mendengar suara langkah kaki tengah mendekat , aku mendongakkan kepala ternyata Linzy sudah kembali.
“ Astaga kemana saja kau Linzy ? Kau hampir membuat jantungku kehilangan fungsi"
“ Maafkan aku , aku tadi tak sengaja ditabrak seseorang saat perjalanan kemari" jelasnya padaku.
“ Ditabrak ? Lalu bagaimana keadaanmu , kau baik - baik saja bukan ?"
“ Aku baik - baik saja sungguh "
“ Aku tak percaya. Buka jaketmu aku harus memastikan semua kondisi tubuhmu"
Linzy hanya mendesah lelah karena kelakuanku , mungkin terdengar menyebalkan baginya namun semua ini kulakukan demi kebaikannya.
Ia membuka jaketnya yang tebal dan terbuat dari bulu angsa itu kemudian aku mulai memeriksa kondisi fisiknya.
Mataku terbelalak ketika melihat jaketnya robek pada bagian lengannya dan menemukan sayatan yang lumayan panjang terdapat di lengannya serta darah yang masih mengucur. Yaampun itu sungguh membuatku gila dibuatnya dia ini tidak merasakan perih atau semacamnya atau bagaimana? Bahkan dia sendiri tidak menyadari jika dirinya tengah terluka.
“ MEDIS.... MEDIS.... TOLONG TANGAN LINZY TERLUKA ASTAGA KAU INI TIDAK MERASAKAN APAPUN ATAU BAGAIMANA LINZY TANGANMU TERLUKA DAN SAYATANNYA SUNGGUH DALAM" teriakku spontan pada Linzy.
Semua orang yang mendengar teriakkanku atensinya mulai teralihkan dan mereka mengerubungi kami.
“ Maafkan aku Glo aku sungguh tidak tahu" sesal Linzy melihatku murka.
“ BAGAIMANA KAU BISA TIDAK TAHU MEMANGNYA KAU TIDAK BISA MERASAKANNYA?" teriakku frustasi.
Linzy hanya diam menundukkan kepalanya sepertinya ia merasa sangat bersalah padaku. Heol tidak tahukah bahwa aku sangat khawatir padanya melebihi nyawaku sendiri?
Tak lama bantuan medis datang , ya dokter Vernon ikut dalam kegiatan ini dia segera mengobati Linzy. Sepertinya dia mulai mengoleskan alkohol dan menyuntikkan obat bius ya walaupun hanya bius biasa bukan bius total.
Selesai membius dia mulai menjahit luka Linzy aku tidak menghitung berapa jahitan yang ia dapatkan yang jelas lumayan panjang.
Aku meringis ngeri melihatnya terasa sangat menyakitkan sepertinya.
“ Nah sudah selesai , jika biusnya sudah hilang minumlah obat ini untuk meredakan rasa sakitnya" kata dokter Vernon.
Linzy mengucapkan terimakasih dan menerima obat itu. Syukurlah semuanya bisa teratasi dan anak itu baik - baik saja.
Setelah kejadian itu semua kegiatan dilanjutkan dan berjalan dengan baik yang jelas aku harus terus berada disamping Linzy.
Glory POV End
Vernon POV
Malam mulai menyapa bumi perkemahan dan ya banyak sekali murid yang merasa lelah karena padatnya aktivitas dari pagi hingga malam hari ini.
Aku jadi memikirkan kejadian tadi bagaimana bisa Linzy terluka dan dia tidak merasakan apapun ditangannya.
Sebenarnya agak aneh atau mungkin karena ia sibuk mencari ranting untuk kelompoknya sehingga dia tidak menyadari kalau ia terluka?
__ADS_1
Tapi jika kulihat bekas sayatan tadi sepertinya agak aneh tidak mungkinkan jika ia tersangkut ranting ? Tapi jika ada orang yang berniat buruk lalu siapa kira - kira?
Dari pengamatanku luka sayatan tadi itu seperti bekas luka sayatan pisau lumayan rapi. Tapi siapa yang melakukannya?
Secepat kilat aku mengambil ponselku yang ada di dalam saku celanaku dan mengirim pesan pada Glory. Karena Glory harus mengetahuinya.
^^^Kau berada dimana, apa kau sibuk?^^^
^^^Kita harus membicarakan sesuatu yang penting. Ini tentang Linzy.^^^
Baiklah dokter kita bertemu di dekat hutan.
Aku bergegas menuju dekat hutan untuk bertemu dengan Glory , sesampainya disana ternyata Glory sudah menungguku.
“ Apa yang ingin dokter bicarakan padaku tentang Linzy?" tanyanya to to the point.
“ Hanya menyampaikan rasa penasaranku tentang luka sayatan di lengan Linzy. Maksudku kau tahu jika itu bukan goresan luka karena ranting pohon , tapi seperti sayatan pisau yang rapi"
Glory termenung dan sedikit membelalakan matanya mendengar penjelasanku.
“ Jadi maksud dokter ada yang sengaja melukai Linzy begitu?" tanyanya padaku dan aku hanya menganggukan kepala.
“ Ini hanya tebakanku maka dari itu bantu aku menyelidiki nya Glory dan pastikan kak Martin mengetahui hal ini. Kau punya nomornya bukan ?"
“ Hmm.... " jawab Glory sedikit bergumam.
“ Aku akan menghubunginya nanti" ucap Glory.
“ Glory , dokter Vernon apa yang kalkan lakukan disini?" aku dan Glory terperanjat karena mendengar suara.
“ Linzy ? " ucapku dan Glory bersamaan.
Vernon POV End
Glory sepertinya masih kesal padaku karena sedari tadi ia diam padaku.
Aku tahu aku salah tapi aku baru pertamakali mengalami peristiwa ini. Ini adalah kali pertama Glory mendiamkanku. Dia sedari tadi berada diluar tenda , aku mengintipnya sepertinya dia sedang menerima sebuah pesan.
Tak lama kemudian ia bergegas pergi meninggalkan tenda kami mau kemana dia? Kenapa dia terlihat buru - buru sekali ? Karena aku penasaran jadi aku mengikutinya secara diam- diam.
Tunggu kenapa dia kearah hutan dan ada orang lain disana mereka terlihat sedang berbincang entah apa yang mereka bicarakan aku tak dapat mendengarnya.
Aku berjalan agak mendekat lagi seketika aku terkejut , dokter Vernon kenapa dia ada disini ? Malam hari dengan Glory di dekat hutan dan mereka terlihat sangat dekat.
Kenapa tiba - tiba aku merasa tak nyaman melihat mereka bersama ? Kenapa hatiku merasa sakit melihat kebersamaan mereka?
Ada apa denganku?
Apa aku cemburu melihat kedekatan mereka?
Apa aku mulai menyukai dokter Vernon?
Segera saja aku mendekat kearah mereka.
__ADS_1
“Glory , dokter Vernon apa yang kalian lakukan disini? " tanyaku spontan.
“ Linzy " Glory & Dokter Vernon. Apa ini sepertinya mereka terkejut melihat kedatanganku.
Author POV
“ Aku bisa jelaskan Linzy , ini tak seperti yang kamu pikirkan " ucap Glory cepat.
“ Memangnya kamu tahu apa yang aku pikirkan saat ini Glory?" tanya Linzy dengan nada terlampau datar.
“ Aku.... Aku ini tidak seperti yang kamu lihat Linzy tolong percaya padaku" Glory mulai memelas.
Vernon yang melihat itupun mulai mendekati mereka berdua dan menyuruh Glory untuk kembali ke tenda.
“ Glory , kau bisa kembali dan beristirahatlah" titah Vernon pada Glory. Glory yang mendengar itupun hanya mengangguk dan buru - buru meninggalkan mereka berdua untuk kembali ke tenda.
Vernon mendekati Linzy dan memangkas jarak diantara mereka berdua.
“ Kenapa kau kemari ?" tanya Vernon dingin pada Linzy.
“ Dokter sendiri kenapa ada disini dengan salah satu siswi apa itu hal yang patut ?" tanya balik Linzy.
“ Lalu sekarang kau sedang disini bersamaku berdua, apa hal itu wajar ?" ujar Vernon.
Linzy hanya diam tak berkutik saat jarak Vernon dan dirinya tak ada celah , entah mengapa ia merasa tubuhnya kaku dan tak bisa digerakkan.
Tangan Vernon langsung meraih pinggang Linzy untuk mendekat dan wajahnya mendekat pada wajah Linzy hingga bibir keduanya menempel. Linzy hanya mematung.
“ Apa kau cemburu Linzy? Huh?" tanya Vernon.
Linzy merasa pipinya memanas mendengar perkataan Vernon ia juga tidak yakin.
“ Aku tak tahu , tapi entah kenapa saat melihatmu bersama orang lain hatiku merasa sakit dokter" bisik Linzy.
Vernon hanya tersenyum mendengar pengakuan Linzy.
“ Itu artinya kau cemburu sayang " bisik Vernon dengan deep voice nya sehingga membuat Linzy meremang ketika mendengarnya.
“ Cemburu? " tanya Linzy mencoba meyakinkan apa yang dirasakannya.
“ Iya , kau cemburu padaku ?" tegas Vernon. Linzy hanya diam memperhatikan Vernon dengan sangat dekat. Vernon mencium Linzy dan sedikit ******* bibirnya , Linzy tersentak dan tanpa sadar tangannya sudah mengalung di leher Vernon dan meremas rambut bagian belakang Vernon.
“Eunghh..." lenguh Linzy tak sadar sepertinya ia mulai terbuai dengan semua perlakuan Vernon. Vernon menyeringai mendengar lenguhan Linzy dan ia menggendong Linzy pergi dari tempat itu.
“ Dokter kita akan kemana?" tanya Linzy.
“ Sabarlah sweety nanti kau juga akan tahu" jawab Vernon. Vernon membawa Linzy kesebuah Villa sesampainya disana ia memesan kamar.
“ Dokter kau mau apa?" tanya Linzy takut. Vernon hanya diam memandangi Linzy yang sudah nampak ketakutan , ia menghela nafas.
“ Tenanglah , aku tak sampai pada tahap itu , kita belum resmi dan aku sadar akan itu. Aku hanya ingin sedikit menyentuhmu sayang" ucap Vernon dengan tenang berusaha meyakinkan gadis tersebut.
“ Bolehkah?" izin Vernon pada Linzy dengan suara deep voicenya. Linzy hanya mengangguk. Sepertinya ini akan menjadi malam yang tak terlupakan bagi Linzy meskipun Vernon tak sampai tahap inti dalam bercinta. Karena Vernon masih cukup waras untuk hal tersebut.
__ADS_1
Author POV End