
Martin POV
Aku sedang berada di ruang keluarga saat ini bersama adik iparku. Sebenarya aku sempat tidak percaya. Bagaimana tidak? Ia berkata jika ia diusir dari rumah oleh Linzy. Oh ayolah , Linzy itu berhati lembut dan tidak tega dengan orang lain. Masa iya , ia mengusir suaminya? Tidak mungkin bukan ?
“ Kau tak bercanda dengan ucapanmu kan ?" tanyaku. Ia menggeleng pertanda ia tidak main - main dengan ucapannya.
“ Lalu bagaimana bisa seperti itu ? Apa masalahnya?" tanyaku lagi.
“ Aku diusir karena tidak berhasil membawa apa yang dia minta" jawabnya dengan lirih dan memelas.
“ Memang apa yang dia minta ? " tanyaku.
“ Martabak daging biawak. Dimana mencarinya ? Tidak ada kan ? Aku sempat bernegosiasl untuk menggantinya dengan sate daging biawak. Dia setuju , tapi aku tidak mendapatkan keduanya. Akhirnya ia marah dan berakhirlah seperti ini" jelasnya panjang.
Aku jadi kasihan padanya.
“ Mana ada yang jual martabak daging biawak seperti itu " kataku.
“ Kau saja tidak percaya apalagi aku. Tapi dia tadi sempat merengek minta dibelikan " jelasnya. Aku hanya terdiam.
“ Biarkan aku menginap disini ya kak ?" pintanya.
“ Tunggu. Jika kau disini dengan siapa adikku di rumah?" tanyaku.
“ Dengan asisten rumah tangga " jawabnya. Aku melotot mendengarnya.
“ KAU MENINGGALKANNYA SENDIRIAN DI RUMAH ? " tanpa sadar aku menaikkan suaraku.
“ M - maaf tapi saat aku pulang tadi aku tidak dibukakan pintu oleh Linzy " melasnya. Kasihan sekali Vernon.
“ Huh... Baiklah kau tidur di kamar tamu malam ini " kataku pada akhirnya.
“ Terimakasih " jawabnya. Saat ingin beranjak tiba - tiba ponsel Vernon berdering kulihat Linzy menelepon aku dan Vernon saling pandang dan akhirnya Vernon mengangkat teleponnya dengan me-loudspeaker teleponnya.
“ Halo sayang ?" sapanya.
“ Cepat pulang... Aku tak ingin makan martabak daging biawak lagi"
“ Oke. Yakin kau tak ingin itu lagi?" Vernon memastikan.
“ Iya. Tapi aku ingin tidur dengan daddy. Apa boleh ?"
“ Daddy.. Daddy siapa yang kau maksud ?"
“ Tentu saja jika aku memanggil daddy itu jelas daddyku. Daddy Andrew bukan papi Darren " kudengar suara Linzy sedikit ketus.
Sebenarnya kenapa ya adikku?
“ Ahh... I - iya , baiklah aku akan menghubungi daddy Andrew"
“ Oke " sambungan terputus. Sekarang aku juga merasa bahwa adikku tidak baik - baik saja.
Vernon hanya diam dan segera ia menghubungi daddy.
“ Halo pi ?" sapanya.
“ Vernon , ada apa kau malam - malam menelepon ? "
“ Ehm.. Apa boleh jika aku dan Linzy menginap di rumah daddy malam ini ? Karena tiba - tiba saja Linzy mengatakan ia ingin tidur dengan papi"
“ B - boleh tapi kenapa mendadak sekali ? Apakah Linzy baik - baik saja?"
“ Hmm... I - iya baik hanya saja aku merasa dia agak sedikit sensitif malam ini. Untuk lebih jelasnya kuceritakan nanti jika bertemu saja pi. Aku akan menjemput Linzy terlebih dahulu. Aku tutup dulu ya pi. Selamat malam "
“ Ahh.. Baiklah hati - hati di jalan nak "
Sambungan terputus.
“ Sepertinya aku harus pulang malam ini. Terimakasih kak. Sampaikan salamku pada istrimu. Apa istrimu baik - baik saja ?"
“ Sebenarnya ia juga agak sedikit aneh , sensitif juga manja. Tadi ia habis menangis karena masalah panggilan sayang " jelasku.
“ Benarkah ?" tanyanya. Aku mengangguk.
“ Kak kenapa istri kita aneh ya ? Apa jangan - jangan....?" mataku dan Vernon membulat seketika.
“ MEREKA BERDUA HAMIL???" ucapku dan Vernon bersamaan.
Martin POV End
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
Vernon POV
Saat ini aku pulang ke rumah mertuaku karena istriku yang meminta. Ternyata disana papi dan mami masih terjaga. Mungkin karena aku sudah mengabari daddy sebelumnya.
Saat ini aku berada di ruang keluarga bersama dengan mami karena papi sedang sibuk membacakan dongeng untuk putri kesayangannya. Itupun karena atas dasar permintaan Linzy. Hufft.
Aku menceritakan apa yang yang terjadi pada istriku dan istri kak Martin malam ini pada mami. Karena aku berpikr mereka sama - sama wanita pasti akan mengerti.
“ Menurut mommy dari ceritamu yang mommy dengar mungkin saja Linzy dan Glory tengah hamil saat ini. Apa kalian sudah periksa? Atau cek ?"
Aku menggeleng. Karena jujur saja aku dan Linzy tengah sama - sama sibuk karena pekerjaan kami. Apa lagi Linzy yang terkadang juga ikut mengurus butik mommy saat libur menjadi editor.
“ Mommy ada tespack. Coba besok kamu suruh Linzy untuk cek. Besok mommy juga akan menyarankan hal yang sama untuk Martin. Sekarang tidurlah. Mommy tahu kau lelah " ucap mommy padaku.
Aku segera undur diri. Setelah melihat papi keluar dari kamar Linzy.
“ Masuklah. Dia sudah tertidur pulas setelah aku membacakan dongeng " ucap papi.
“ Terimakasih pi " ucapku dan segera undur diri menuju kamar Linzy.
Vernon POV End
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author POV
“ Jadi seperti yang mommy ceritakan tadi , apa kalian sudah mengerti ?"
“ Sudah mom "
“ Untuk Glory dan Linzy. Apa kalian merasakan mual , muntah , perubahan emosi , atau menginginkan sesuatu ?"
“ Sepertinya aku ada mom. Rasanya aku ingin marah pada kak Vernon entah kenapa" jelas Linzy.
“ Aku ingin menempel dengan kak Martin selalu " jawab Glory sedih.
“ Berapa kali kalian sudah melakukannya?"
“ Sekitar 3 atau 4 kali dalam seminggu " jawab Martin.
“ Kalau aku 2 atau 3 kali dalam seminggu mi " Vernon menambahkan.
“ Sudah cek ?"
“ Belum mom / mi " jawab mereka semua.
Gladys mengeluarkan beberapa tespack untuk anak dan menantunya.
“ Jika hasilnya positif segera periksakan ke dokter " titah Gladys.
Linzy dan Glory pun ke kamar mandi untuk mengecek dengan berbagai macam tespack. Setelah selesai mereka segera berhambur ke dalam pelukan suami mereka.
“ Bagaimana ?" tanya Martin dan Vernon. Glory dan Linzy lantas tersenyum dan menunjukkan tespack mereka yang rata - rata menunjukkan 2 garis biru tegas. Itu artinya mereka tengah mengandung.
“ Sayang , ini serius ?" tanya Vernon dengan nada bergetar seakan tak percaya. Linzy mengangguk. Seketika Vernon mencium dan memeluk sang istri. Begitu pula dengan Martin yang hanya terdiam membeku tak tahu ingin berekspresi seperti apa saking bahagianya.
Gladys dan Andrew yang mendengarnya turut bersuka cita.
“ Akhirnya kita akan mempunyai 2 cucu itu baru kemungkinan. Mungkin juga bisa lebih " ucap Andrew pada sang istri.
“ Aku juga tidak sabar untuk menunggu " ucap Gladys dengan senyum.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
Martin - Glory serta Vernon - Linzy saat ini tengah berada di rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya.
Selepas melakukan pemeriksaan USG mereka berkonsultasi dengan dokter.
“ Dari hasil pemeriksaan usia kandungannya sudah memasuki 8 minggu. Ini sudah mau masuk trimester pertama ya. Jadi kandungannya masih rentan. Untuk sementara saya akan resepkan vitamin dan obat untuk meredakan mual dan muntah. Untuk nyonya Stewart dan nyonya Richardson perbanyak istirahat dan jangan terlalu lelah. Asupan makanan juga harus diperhatikan ya bu " jelas sang dokter.
“ Terimakasih ya dok " ucap mereka semua.
“ Sama - sama. Saya juga turut bahagia mendengar kabar tersebut. Tidak menyangka kalian akan mengandung dan melahirkan bersamaan " jawab dokter dengan ramah.
“ Kalau begitu kami permisi dokter " ucap Martin mewakili mereka semua.
“ Iya pak. Jangan lupa untuk pemeriksaan bulan depan. Semoga ibu dan bayinya sehat - sehat ya pak " ucap dokter tersebut.
“ Ahh... Aku tidak menyangka kita akan menjadi orang tua beberapa bulan lagi " ucap Glory yang diangguki oleh Martin , Linzy dan Vernon.
“ Baiklah kita pulang untuk menyampaikan kabar ini pada keluarga kita , namun sebelum itu kita harus ke supermarket terlebih dahulu untuk belanja bulanan dan membeli susu " ucap Linzy.
“ Setuju. Sekalian saja membeli perlengkapan untuk baby " usul Glory.
“ Ide bagus kak " Linzy tersenyum ceria. Para suami yang melihat hanya meratapi nasib dompetnya.
Saat berada di mall....
Benar saja... Mereka sedang belanja bulanan dan membeli susu serta perlengkapan bayi dan tak lupa camilan mereka.
Saat memilih perlengkapan bayi hampir terjadi perdebatan antara pasangan suami istri terutama Martin dan Glory.
“ Pink saja ya kak ?" mohon Glory pada suaminya.
“ Abu - abu atau hitam saja lah " jawab Martin.
“ Ihh.. Mana ada warna yang seperti itu untuk bayi. Kau pikir ini suasana berkabung ? " Glory mempoutkan bibirnya.
Linzy yang sudah mulai jengah mulai meninggikan nada suaranya.
“ DIAM KALIAN TERLALU BERISIK ! BIAR AKU YANG PILIHKAN. KITA PILIH WARNA PUTIH SAJA" ucap Linzy final.
Martin yang mendengar teriakkan sang adik metasa terkejut. Kenapa adiknya berubah menjadi macan betina.
“ Itu istrimu ? Kenapa sangat galak sekali seperti singa saja " bisik Martin pada Vernon. Vernon hanya menggaruk tengkuknya tak gatal.
“ Itu juga adikmu jika kau lupa kak " jawab Vernon.
“ Kau benar " jawab Martin memelas.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Malam ini mereka berkumpul di tempat Martin. Termasuk para orangtua mereka.
“ Jadi apa yang ingin kau kabarkan pada kami ?" Darren membuka suara.
Para pasangan itu hanya saling lirik dan tersenyum.
“ Sebentar lagi kalian akan menjadi kakek dan nenek. Kalian akan segera menimang cucu " jawab Martin.
Semua orangtua disana terkejut kecuali Gladys dan Andrew.
“ Kau serius ? " Felix bertanya.
“ Aku serius pa. Bahkan kami telah membeli perlengkapan bayi. Usia kandungannya 8 minggu. Itu artinya 2 bulan kan ?" jelas Martin.
“ Omo. 2 bulan ? Berarti sejak kalian melakukan itu " Helena menimpali.
“ Wah tak kusangka ternyata benih kalian jenis unggul yah " ucap Tasya girang.
“ AKHIRNYA KITA AKAN MENGGENDONG CUCU " pekik Helena.
Yah berita kehamilan mereka tentunya adalah berita yang sangat mengejutkan dan sangat dinantikan keluarga.
Author POV End
__ADS_1