Who Am I ( Linzy Story )

Who Am I ( Linzy Story )
9


__ADS_3

Author POV


Seisi kelas menjadi heboh tatkala melihat kemunculan Martin yang tampan bak dewa aprodhite. Dengan kulit yang putih dan hidungnya yang bangir bak perosotan anak TK dan rambut cepak nya yang ditata dengan rapi.


Sungguh menawan.


“ Omo siapa cowok itu , tampan sekali. Aku belum pernah melihatnya " pekik Cilla dengan girang.


“ Kamu benar kira - kira dia sudah punya kekasih atau belum ya?" Lala ikut menyahut.


“ Ahh... Soal kekasih itu cuma perkara kecil aku bisa mengatasinya" Aletta berujar dengan percaya diri.


Saat Glory dan Martin bergegas menuju Rumah Sakit Aletta dan murid lain berteriak menahan , Martin pun merasa bingung dengan mereka.


Sang guru yang melihat kejadian itu segera bertanya pada murid - muridnya “ Ada apa?" kata pak guru.


“ Sebelum pergi bisakah kakak memperkenalkan diri dihadapan kami?" usul Cilla.


Glory memutar bola mata malas “dasar manusia kurang belaian " batin Glory. Sedangkan Martin mengerutkan keningnya bingung.


“ Apa harus ? " tanya Martin.


“ HARUS !!!!... " jawab murid serempak.


Martin menghela nafas lelah pasalnya ia sedang terburu-buru ke rumah sakit tapi sekumpulan bocah ingusan malah menahannya.


“ Baiklah sebentar saja ya. Aku sedang buru - buru karena adikku sedang sakit dan dia sedang dirawat sekarang " jelas Martin singkat.


Semuanya mengangguk.


“ Namaku Martin Gerald Eclesia Richardson umur 25 tahun , aku adalah anak sulung dari 2 bersaudara"


“ Adikmu perempuan atau laki - laki?" tanya salah seorang siswi.


“ Perempuan dan bersekolah disini juga " jelas Martin.


“ Tunggu keluarga Richardson si pengusaha kaya raya itu ? Wah aku tidak menyangka bisa bertemu dengannya" pekik seorang siswa.


“ Siapa adikmu yang bersekolah disini ? Siapa tahu aku bisa akrab dengannya" tanya Cilla.


Glory hanya berdecih dan menatap Martin , seolah dapat membaca pikiran Glory , Martin berujar dengan tenang.


“ Eleonora Linzy Eclesia Richardson. Bukankah adikku ada di kelas ini? Kalian tentunya sudah mengenal bukan?"


Semua yang berada di kelas itu pun terkejut mereka tidak menyangka jika Linzy adalah bagian dari keluarga Richardson.


“ Gak mungkin , kakak pasti bercanda. Gak mungkin kakak itu saudara si anak penyakitan itu" ujar Aletta.


Martin yang mendegar ucapan Aletta tatapannya berubah datar tajam dan menusuk.


“ Gak ada yang gak mungkin bukan ? Ngomong - ngomong siapa namamu anak manis" tanya Martin.


“ Georgia Aletta Wijaya " ucap Aletta dengan pedenya.


“ Aletta Wijaya. Anak dari Wijaya Corp?" Martin memastikan.


Aletta mengangguk lagi.


“ Oke senang bertemu denganmu anak manis. Saya permisi dan untuk Aletta berdoalah semoga kau masih diberi kebahagiaan setelah bertemu denganku. Selamat siang" 


Martin melangkah keluar kelas seraya menggandeng tangan Glory dan dengan segera menghubungi Matthew tangan kanannya


“ Matthew segera periksa berkas kerjasama perusahaan kita dengan perusahaan wijaya corp. Batalkan kerjasama kita dengan perusahaan wijaya corp dan buat mereka bangkrut. Aku mau lakukan itu dimulai detik ini juga" titah Martin.


“ Baik Tuan muda. Saya laksanakan"


Glory menggeleng tak percaya dengan tindakan yang dilakukan oleh Martin “ gila secepat itu ? " batin Glory.


“ Kenapa bengong lihatin kakak ? Kakak tahu kakak ganteng tapi gak usah sampai bengong segitunya kamu lihatin kakak"


“ Dih , percaya diri sekali tuan muda Richardson ini. Aku cuma heran sama perilaku orang kaya , dapat memperoleh yang mereka inginkan hanya dalam waktu dekat" ujar Glory.


“ Memangnya kamu bukan orang kaya? Papamu itu wakil CEO Richardson Corp jika kamu lupa" dengus Martin.


“ Ya... Ya... Ya terserah kakak aja mau bilang apa dasar " jawab Glory malas.


Mobil Martin melaju menuju Rumah Sakit tempat Linzy dirawat butuh waktu beberapa menit untuk sampai tempat tujuan.


“ Ayo kita masuk , Linzy sudah di dalam" ajak Martin pada Glory.


“ Siapa yang tunggu Linzy sebelumnya? "


“ Ada mommy "


“ Oh seharusnya aku sudah tahu itu dan tidak perlu tanya"


Martin yang mendengarnya hanya menggelengkan kepalanya.


Mereka berjalan menuju kamar Linzy menggunakan lift karena kamar Linzy VIP.


greeekkk....


Pintu kamar Linzy digeser terlihatlah Linzy yang berbaring dengan tangan diinfus. Glory yang melihatnya ikut merasakan sakit.


“ Pagi tante " sapa Glory pada Gladys.


“ Pagi Glory , kok kamu ikut kesini bukannya sekolah dulu?" tanya Gladys.


Glory hanya tersenyum canggung menanggapi ucapan Gladys.


“ Eum.. Itu tante karena tadi dijemput sama kak Martin tadi sekalian diizinkan sama pihak sekolah " jelas Glory.


“ Kamu ajak Glory membolos dear?" tanya Gladys pada putranya.

__ADS_1


“ Gak. Kan aku sudah minta izin ke gurunya , jadi bukan bolos dong mom" Martin membela diri.


Gladys hanya menghela nafas panjang putranya itu benar - benar pandai dalam bersilat lidah jika merasa terpojokkan.


“ Gimana keadaan Linzy tante?" tanya Glory.


“ Linzy. Dia terkena tifus , selain itu kata dokter dia kelelahan" jelas Gladys.


“Pasti dia sedang banyak pikiran maka dari itu dia kelelahan. Dasar semua ini pasti gara - gara daddynya" batin Glory.


“ Tante kalau begitu biar Glory saja yang menjaga Linzy"


“ Heum sebenarnya tadi ada janji di butik tapi karena Linzy tidak ada yang jaga , jadi sepertinya diundur"


“ Kalau begitu biar Glo aja yang jaga "


“ Iya mom biar Glo sama Martin aja yang jaga mommy gak perlu khawatir mom"


“ Kamu memangnya gak kerja?" tanya Gladys pada Martin.


“ Hari ini Martin memutuskan untuk cuti karena Martin mau ada waktu untuk Linzy" ucap Martin sembari menatap teduh Linzy yang terlelap.


Glory yang melihat interaksi mereka hanya tersenyum tipis apalagi ketika ia melihat sorot mata dari seorang Martin Gerald saat menatap sang adik.


“ Baiklah kalau begitu mommy akan ke butik sebentar ya , tolong jaga Linzy. Nanti jika sudah selesai urusannya mommy akan kembali" ujar Gladys.


Gladys keluar dari ruang rawat inap Linzy namun sebelum itu dia berpesan pada Martin.


“ Sebentar lagi mungkin akan ada dokter yang datang untuk mengecek kondisi Linzy dan infusnya" jelas Gladys.


“ Hmm..."


Gladys keluar dan segera pergj menuju butiknya.


Author POV End


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Martin POV


“ Glo boleh kakak tanya sama kamu?" .


“ Soal apa?"


“ Kenapa tadi Aletta berkata seperti itu tentang Linzy, apa mereka tidak menyukai adikku?" tanya Martin.


“ That's right. Mereka sangat benci dengan Linzy karena tubuh Linzy yang ringkih selain itu mereka kalah dengan Linzy dalam bidang akademis"


Aku menganggukkan kepala aku tahu jika adikkku ini sangat jenius dalam bidang akademis tak heran jika Linzy menjadi bintang kelas bahkan bintang sekolah di sekolahnya.


“ Ada lagi ?" tanyaku pada Glory.


“ Eum... Ahh sepertinya kalau aku gak salah , Aletta juga melarang Linzy untuk dekat dengan dokter Vernon"


“ Vernon si dokter yang ke rumah itu?"


“ Memangnya pernah datang ke rumah ya kak ?"


“ Heum... Antar Linzy pulang. Jadi Aletta suka sama Vernon?"


“ Menurut Glo sih gitu makanya dia larang Linzy untuk dekati dokter Vernon "


Tiba - tiba saja ponselku berdering segera saja aku mengangkatnya ternyata itu dari Matthew.


“ Iya Matt , bagaimana?"


“ Semuanya sudah beres seperti keinginan tuan muda"


“ Kerja bagus Matt aku bangga padamu. Soal gaji tenang saja aku akan transfer sekarang plus bonusnya"


“ Terimakasih tuan muda atas pujiannya. Sudah sepatutnya saya membantu karena itu adalah bagian dari tugas saya"


Tuuut....


Aku mematikan sambungan telepon dan membuka rekening untuk mentransfer gaji Matthew. Aku takkan membiarkan orang lain mengusik keluargaku terutama adikku , maka aku akan lakukan apapun untuk melindunginya meskipun harus mengeluarkan biaya yang besar.


Martin POV End


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


Author POV


Pintu ruang inap Linzy tiba - tiba terbuka dan alangkah terkejutnya mereka jika dokter yang menangani Linzy adalah Vernon.


“ Dokter Vernon / Vernon " ujar Martin dan Glory bersamaan.


“ Kak Martin , Glory. Kapan kalian datang"


“ Baru saja. Kau yang menangani adikku?"


“ Sebenarnya dokter Lucianno tapi beliau ada rapat penting dengan para petinggi rumah sakit. Jadi aku yang menggantikannya sementara"


Martin dan Glory mengangguk setelah itu Vernon memeriksa kondisi Linzy dan mengecek infusnya.


“ Bagaimana kondisinya Vernon?"


“ Sudah lebih baik. Hanya saja masih perlu istirahat. Usahakan bedrest terlebih dahulu dan jangan makan dengan tekstur yang keras , ahh dan mungkin sebentar lagi ia akan bangun"


“ Terimakasih banyak "


“ Sama - sama kalau begitu aku permisi" pamit Vernon.


“ Oke. Apakah kau punya waktu untuk minum kopi bersama ? Kuharap iya" ucap Martin.


“ Tentu mungkin sekitar jam 12.00 nanti saat jam istirahat" balas Vernon.


Martin tersenyum dan mengangguk kemudian Vernon keluar dari ruang rawat Linzy.


“ Ya dia termasuk pria tampan tak heran banyak yang menyukainya Glo. Apakah kamu termasuk salah satu dari mereka?"


“ Maksud kakak?"


“ Ya menyukai seorang dokter Vernon"


“ Aku ? Tentu saja tidak aku sudah ada. Maksudnya aku sudah menyukai orang lain yang pasti bukan dokter Vernon "


“ Benarkah ? Siapa? Omo Glory kita sudah besar rupanya" kekeh Martin.


Glory hanya tersenyum tipis menanggapinya.


“Andai kamu tahu sebenarnya aku sangat menyukaimu sedari lama kak" batin Glory.


Author POV End


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Lionel POV


Aku mencari kesana kemari mataku berkeliling menjelajah setiap sudut kantin namun tak kutemukan juga apa yang kucari. Kemana perginya gadis itu ? Kenapa daritadi tak muncul juga biasanya ia dan sahabatnya sudah berada di kantin dan makan bakso pedas favoritnya.


“ Ahh aku harus mencari di kelasnya"


Aku melangkahkan kakiku menuju kelasnya sampai di depan kelasnya mataku melihat seluruh penjuru kelas sepertinya benar ia tak masuk hari ini.


“ Cari siapa kau ?" tanya seorang siswi dengan tinggi agak semampai.


“ Apa kau tahu dimana Linzy? seharian ini aku tak melihatnya" tanyaku sopan.


Mendengar pertanyaanku ia sontak berdecih.


“ Huh kenapa kau mencari anak penyakitan dan menyusahkan itu" balasnya.


“ Maaf ? " lanjutku.


“ Linzy si anak penyakitan dan sialan itu. Kenapa kau mencarinya? Kenapa semua orang tertarik padanya. Apa hebatnya dia?"


Hhh... Mulai lagi percaya dirinya dasar wanita.


“ Apa itu menjadi urusanmu jika aku mencari Linzy?"


“ Yakk... Kau berani bicara sinis padaku ?"


“ Lantas kenapa aku harus takut padamu memang kau siapa?"

__ADS_1


Aku merasa kesal dan mulai meninggalkan kelas Linzy daripada meladeni perempuan tak jelas macam dia.


Lionel POV End


__ADS_2