Who Am I ( Linzy Story )

Who Am I ( Linzy Story )
24


__ADS_3

Glory POV


Sudah beberapa menit terlewati aku dan dokter Vernon masih setia menunggu Linzy yang belum sadarkan diri.


“ Dokter " aku memulai percakapan setelah sekian menit terjebak dalam keheningan.


“ Iya kenapa Glo?" balas dokter Vernon.


“ Kau yakin bukan Linzy akan baik - baik saja kenapa sampai sekarang ia belum bangun juga?" tanyaku mulai khawatir merasa takut jika terjadi sesuatu yang tak kuinginkan.


Dokter Vernon mulai mengecek lagi kondisi Linzy. Ia memeriksa denyut nadi Linzy. Tak lama tubuh dokter terlihat menegang. Aku mulai takut.


“ Dokter apa yang terjadi kenapa kau mendadak tegang ? Katakan padaku ?" pintaku hingga tak sadar aku sudah maju mendekati dokter Vernon dan meremas jas dokter nya.


“ Glory bantu aku. Bawa semua peralatanku ke mobil cepatlah. Denyut nadinya melemah " ucap dokter Vernon dengan panik dan khawatir serta berderai airmata. .


Tanpa menjawab aku sudah membawa peralatan dokter Vernon untuk dibawa kedalam mobil.


“ Glory cepat ambil dan bawa tas Linzy. Kamu ikut saya Glory " titah dokter padaku. Aku langsung bergerak cepat mengambil tas Linzy dan sekaligus meminta izin pada guru yang sedang mengajar kelas kami.


Setelah semuanya sudah beres aku langsung masuk kedalam mobil dokter Vernon dan dokter Vernon langsung tancap gas menuju rumah sakit dengan kecepatan tinggi. Kami tidak peduli jika ada pengguna jalan yang sedang memaki kami.


“ Glory coba kamu hubungi kak Martin mengenai kondisi Linzy saat ini dan beritahu dia jika kita on the way ke rumah sakit " titah dokter padaku.


“ Oh oke ... " jawabku singkat segera saja aku menghubungi kekasihku itu dengan ponsel. Semoga saja ia mau mengangkatnya tidak perlu memakan waktu lama.


Dan baru dering pertama puji Tuhan tersambung dan ia langsung mengangkatnya.


“ Halo hon , ada apa ?" jawabnya diseberang telepon..


“ Kak kau bisa di rumah sakit tempat Linzy dirawat biasanya? Kami sedang on the way kesana?" balasku di telepon. Sesekali aku melihat wajah Linzy yang memucat.


“ Kenapa memangnya ? Wait...wait...wait.... What apa yang terjadi pada adikku Glory " tanyanya dengan intonasi yang sedikit meninggi. Bisa kurasakan pasti diseberang sana ia sedang gelisah dan khawatir.


“ Linzy pingsan dan belum sadarkan diri hingga saat ini. Denyut nadinya juga melemah , wajahnya juga pucat. Maka dari itu aku dan dokter Vernon bergegas membawanya ke rumah sakit " jelasku di telepon.


“ Oke hon aku akan menyusul kesana " balas kak Martin.

__ADS_1


Setelah beberapa menit akhirnya kami sampai di rumah sakit yang dituju , segera saja dokter Vernon turun dari kursi kemudinya dan membuka pintu mobil penumpang bagian belakang kemudian menggendong Linzy ala bridal style untuk diletakkan di brankar rumah sakit.


“ Suster tolong siapkan brankar  ada pasien darurat " teriakknya pada seorang perawat untuk mendapatkan pertolongongan. Perawat dan beberapa petugas medis pun membawakan brankar untuk Linzy dan segera dibawa kedalam UGD. Aku sempat merasa cemas jantungku berdegup ribut tak bisa tenang.


“ Glo , kamu bisa kan tunggu disini. Saya akan masuk kedalam untuk ikut memeriksa kondisi Linzy sekaligus menemui dokter Lucianno " ujarnya padaku. Aku mengangguk mengiyakan.


“ Aku mohon lakukan yang terbaik untuk Linzy dokter " pintaku dengan berlinang air mata secara tiba-tiba.


Dokter Vernon mengangguk dan segera masuk kedalam ruangan UGD mungkin disana sudah ada dokter Lucianno juga. Aku menunggu kak Martin di ruang tunggu.


“ Glory...?" seseorang memanggil namaku ternyata kak Martin sudah sampai. Aku dengan cepat berhambur ke pelukkannya sembari menangis sesenggukkan.


“ Bagaimana kondisinya ?" tanya kak Martin padaku.


“ Ma - masih ditangani oleh dokter " jawabku dengan sesenggukkan.


“ Aku takut kak " aduku pada kak Martin.


“ Tenang sayang. Kakak tahu Linzy itu kuat. Semua akan baik - baik saja " ucap kak Martin menenangkanku.


“ Kakak sudah memberi tahu aunty?" tanyaku padanya.


“ Bukankah aunty juga berhak tahu ? " tanyaku heran.


“ Nanti saja tunggu penjelasan dari dokter " ucapnya.


Tak lama kemudian dokter Vernon keluar bersamaan dengan seorang dokter lain. Mungkin itu dokter Lucianno.


“ Dokter Luc , bagaimana keadaan adikku ? " tanya kak Martin dengan raut wajah gelisah.


“ Syukurlah denyut nadinya membaik namun kondisinya masih lemah. Sepertinya rasa sakit dikepalanya semakin menjadi. Aku akan menghubungi daddy mu nanti" jelas dokter Lucianno.


“ Apa itu buruk dok? " mulutku terasa gatal dan tak tahan untuk bertanya.


Dokter Lucianno menghela nafas sambil menatapku dan mengusak rambutku pelan.


“ Kemungkinan kondisinya saat ini baik - baik saja berdoalah. Oh ya Martin apa adikmu masih meminum obat ? Aku tak yakin bahwa ia rajin meminumnya" ujar dokter Lucianno.

__ADS_1


“ Aku kurang tahu dokter selama ini ia rutin minum obat atau tidak " jawabnya sambil menunduk. Dokter Lucianno yang mendengarnya hanya menghela nafasnya.


“ Bagaimana bisa kalian tidak tahu Martin? Huh kalian tak pernah sedikitpun menaruh perhatian kalian pada Linzy? Ck... Kalian itu terlalu sibuk dengan urusan kalian masing - masing " keluh dokter Lucianno merasa kesal. Aku dan dokter Vernon hanya terdiam melihatnya.


“ Maafkan aku dokter , aku akui aku lalai menjaga adikku sendiri " sesal kak Martin.


“ Aku bicara seperti ini supaya kalian tidak menyesal apa yang terjadi di kemudian hari. Jika terjadi hal - hal yang diluar kemauan kita dan kendali kita. Kau paham maksudku kan ?" ucap dokter Lucianno dengan tajam pada kak Martin.


Kak Martin hanya mengangguk pelan dan menundukkan kepala tak berani menatap dokter Lucianno.


“ Oh , jika kau ingin melihat kondisi adikmu silahkan , adikmu sudah bisa dibesuk meski belum sadar dan masih ada alat medis yang menempel ditubuhnya. Permisi" dokter Lucianno sudah pamit meninggalkan kita bertiga.


Aku melihat kak Martin menatap Linzy dengan tatapan kosong matanya menyiratkan kesedihan.


Aku menepuk pundaknya. Seketika ia menoleh padaku.


“ Jangan sedih. Aku yakin kau masih ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Memperbaiki hubunganmu dengan Linzy. Kau sudah berjanji padaku kan kak ?" ujarku padanya. Ia tersenyum menatapku. .


“ Berjanjilah padaku , kau menjadi pasangan yang baik untukku dan menjadi kakak yang baik untuk Linzy " ujarku padanya.


Ia kembali tersenyum manis.


“ Tentu aku berjanji padamu" jawabnya.


Semoga ia dapat memperbaiki semuanya. Mulai dari apa yang telah ia lewatkan terutama moment bersama Linzy.


“ Dokter , apakah Linzy akan rawat inap ?" tanyaku pada dokter Vernon.


“ Kita tunggu keputusan dokter Lucianno saja" balasnya.


“ Apakah separah itu Vernon. Apalah kondisi adikku separah itu?" tanya kak Martin.


Vernon tak dapat menjawab , ya aku rasa dokter Vernon memilih bungkam.


“ Aku tidak berhak untuk menjawabnya lebih baik biar dokter Luc saja " katanya melemah.


“ Apa kondisi sahabatku bermasalah ?" batinku menerka - nerka.

__ADS_1


Glory POV End


__ADS_2