Who Am I ( Linzy Story )

Who Am I ( Linzy Story )
28


__ADS_3

Ah... Aku sangat terkejut hari ini bagaimana tidak ? Karena tamu spesial tersebut adalah keluarga dokter Vernon lengkap dengan orangtuanya yang baru saja pulang dari Canada.


Awalnya kukira beliau adalah seseorang yang terlalu kaku dan tak bisa diajak bercanda namun ternyata aku salah besar. Beliau ternyata jauh dari semua ekspektasiku.


Belum lagi Uncle Darren. Walaupun sudah termasuk pria paruhbaya namun ternyata ia masih berjiwa muda. Bahkan pemikiran 21++ nya masih aktif.


Melihat papa Darren yang seperti ini tidak heran jika ada salah satu anaknya yang bertingkah demikian. Siapa lagi jika bukan kak Verren. Ternyata pepatah yang mengatakan jika buah jatuh tak jauh dari pohonnya itu benar adanya.


Namun tanpa diduga dan disangka - sangka tiba - tiba Papa Darren dan mama Helena memberikanku beberapa pertanyaan mengenai hubungan kami. Sejujurnya aku agak gugup ketika ditanya hal yang menurutku agak sedikit privasi tersebut. Tapi apa boleh buat , iya kan?


Dan kulihat sepertinya tanggapan mereka mengenai hubungan kami sangat positif tapi aku juga tak tahu. Ya semoga saja mereka menyetujui hubungan kami.


Pun sama halnya dengan kak Martin yang ditanya ini itu , terutama perihal kekasih. Aku tahu jika sebenarnya kakak merasa tak nyaman karena jika aku melihat antara kak Martin dan dokter Vernon sendiri mereka ada satu kesamaan yaitu tidak berpengalaman dalam urusan percintaan dan ini pertamakalinya mereka jatuh cinta hingga menjalin sebuah hubungan. Sehingga ini menjadi hal dan pengalaman baru untuk mereka termasuk untukku.


Sebelumnya aku melirik kak Martin dan kami mencoba berbicara lewat tatapan mata kami yang beradu pandang. Seolah tahu apa yang aku tanyakan ia menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaanku.


“ Ahh... Martin , Linzy papa sama mama kangen sekali sama kamu. Mama senang lihat kalian baik - baik saja , terutama kamu Linzy. Kamu itu anak kesayangan mama dan mama bahagia sekali jika kamu menjalin hubungan dengan dengan anak kulkas mama. Semoga kamu selalu sabar ya nak dengan sikapnya ya terlampau dingin " jelas mama Helen.


Oh mama Helen sengaja memotong ucapan papa Darren yang terlampau frontal dengan kak Martin. Aku jadi merasa kasihan pada papa.


“ Ahh... Iya nak papa hampir lupa , apakah kamu sudah minum obat ? Kata Vernon kau sakit " tanya papa Darren.


Ya akhirnya dokter Lucianno memberitahu momny dan daddy perihal penyakit yang bersarang ditubuhku dan aku tak tahu tanggapan mereka , mungkin saja mommy shock tapi kalau daddy entahlah aku tak paham.


“ Sudah ma " jawabku sambil tersenyum.


“ Yang sabar ya nak jika kamu merasa kesepian kamu bisa main ke rumah papa dan mama , ya di apartement Vernon pastinya" terang papa Darren. Aku hanya mengangguk menanggapi usul papa.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Author POV


Selepas makan malam dan berbincang Andrew , Darren , Vernon dan Verren serta Martin sedang di ruangan kerja Andrew. Mereka membahas masalah yang menimpa Linzy kemarin. Ah dan jangan lupakan ada Felix juga disana.


“ Lalu apakah rencana pengintaian kalian sudah membuahkan hasil ?" tanya Darren setelah diceritakan detail masalahnya dan itu sungguh membuat Darren merasa geram. Hey , baginya Linzy itu adalah puteri kecilnya yang sangat ia sayangi.


“ Sejauh ini dia belum menampakkan identitas aslinya dad karena ia masih mengenakan masker , topi dan hodie" terang Verren.


“ Verren anakku , yang katanya si ahli IT jika kau merasa kesulitan kenapa kau tidak memakai mata-mata ? Kau lupa siapa kami ?" jengah Darren.


“ Assaaa..  Kenapa baru terpikir sekarang... Daddy sangat pintar " ucap Verren seraya menjentikkan jari. Darren memutar bola mata malas.


“ Kau saja yang punya cara berpikir lambat. Dasar anak siapa sih dia , aku jadi ragu kalau kau itu hasil pembuahanku" heran Darren. Verren melotot tak percaya dengan ungkapan daddynya.

__ADS_1


“ Hey tentu saja aku anakmu mr. Stewart , kau pikir aku anak tetangga sebelah ?" protes Verren. Semua yang menyaksikan perdebatan ayah dan anak ini hanya menahan tawa , kecuali Vernon ia hanya bisa mengelus dada dengan sabar sambil berpikir kapan ia bisa memiliki keluarga yang waras jiwanya.


“ Sudahlah hentikan perdebatan tak penting kalian. Kalau begitu kita harus segera mencari mata - mata" ucap Vernon.


“ Soal itu kalian tak perlu khawatir son biar daddy yang mengurusnya. Kau cukup jaga princess daddy saja" ucap Darren.


“ Baiklah kalau begitu. Terimakasih dad " ucap Vernon.


“ No prob son " jawab Darren.


“ Oke aku harap besok daddy sudah mengirimkan orangnya ke sekolah kami " pinta Vernon.


“ Tentu saja daddy akan menyeleksinya malam ini juga. Sudahlah masalahnya sudah selesai bukan ? Bisakah kalian keluar aku ingin bicara dengan kawan lamaku sekarang " ucap Darren kepada para yang lebih muda.


Martin , Vernon dan Verren yang mendapat titah untuk keluar dari ruang kerja Andrew.


“ Baiklah karena hanya ada kita bertiga disini tentu aku tidak akan sungkan bertanya padamu Andrew" Darren memulai percakapan tersebut.


“ Apa yang ingin kau tanyakan Darren ?" jawab Andrew dengan poker face nya.


“ Bagaimana hubunganmu dengan puterimu Andrew ? Kudengar tidak cukup baik " Darren menghela nafas dan menjeda ucapannya.


Andrew hanya bungkam seribu bahasa , ia sendiri juga tidak tahu kenapa bisa menjadi seperti ini.


“ Hey ayolah , kau pikir aku tidak tahu bagaimana keadaan Linzy hingga saat ini ? Kau harus berdamai dengannya Andrew. Apa salah dia ? Hingga kau menjauhinya ? C'mon man dia tidak tahu apa - apa " Darren berujar panjang lebar.


Andrew hanya memijit kedua pelipisnya ia merasa pusing , jika ditanya seperti ini.


“ Kau tidak menyayangi puterimu ?" tebak Darren.


“ Apa? Tentu saja tidak , maksudku tidak begitu. Aku menyayangi Linzy bagaimanapun juga dia darah dagingku " jawab Andrew.


“ Nah lalu ? Apa yang kau rasakan jika berada di dekat Linzy saat ini ?" tanya Darren.


“ Why ?" akhirnya Felix membuka suaranya setelah sekian lama diam.


Andrew masih tetap bungkam seperti nampak memikirkan sesuatu , ia merasa gelisah seperti menimang ingin terus terang pada dua sahabarnya ini atau tidak.


“ Apa ada yang kau sembunyikan dari kami ? " desak Felix lagi.


Andrew nampak gelisah ia diam sebentar sebelum akhirnya ia memutuskan untuk memberitahu kedua sahabatnya.


“ Sebenarnya.............."


Author POV End


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


Aku sekarang sedang berada dalam kamarku bersama mommy dan mama Helen. Mama Helen berprofesi menjadi seorang psikolog di sebuah rumah sakit di Canada.


“ Linzy , mama kan sudah lama tidak bertemu denganmu , mama itu rindu sekali. Jadi mama sebelumnya meminta izin bolehkah kamu menceritakan apa yang selama ini kamu alami pada mama?" pinta mama Helen padaku. Aku bingung harus mengatakannya pada mama atau tidak. Sudah kukatakan bukan bahwa aku seorang introvert ? Lagipula disini ada mommy , aku tidak mungkin menceritakannya secara gamblang.


“ Ahh... Mama mengerti , kamu bisa menceritakannya pada mama saat kamu bermain ke apartement Vernon. Cobalah terbuka dengan mama tidak apa - apa anggap mama ini adalah mama kamu juga" ujar Mama Helen maklum.


Aku hanya tersenyum kaku. Selama ini memang aku tak pernah terbuka dengan semua orang termasuk keluargaku sendiri.


Sebenarnya aku ingin sekali bercerita tentang apa yang aku alami namun aku takut mereka tak mau mendengarkan aku.


Perlahan mataku mulai memerah dan terasa berat mommy dan mama yang melihat perubahanku sontak menyuruhku tidur untuk beristirahat.


“ Tidurlah sayang tidak apa- apa ini sudah malam. Kau harus beristirahat tapi sebelum itu minum dulu obatmu " ujar mommy.


Tak lama kemudian ada maid yang masuk membawakanku segelas air putih untuk minum obat. Mama menerima gelas tersebut dan memberikannya padaku.


Setelah selesai minum obat mama memberikan kembali segelas air pada maid yang sedari tadi menunggu kemudian maid tersebut pamit undur diri.


Mama dan mommy yang menemaniku menyuruhku berbaring dan memakaikanku selimut sebatas dagu. Aku mulai memejamkan mata dan berlabuh ke alam mimpi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Gladys POV


Aku keluar dari kamar puteriku bersama Helena setelah Linzy tertidur pulas.


“ Glad , bolehkah aku bertanya padamu ?" tanya Helena seolah menjadi awal percakapan kami. Aku mengangguk sebagai jawaban.


“ Jika aku memperhatikan Linzy , emm.... Dia seperti merasa tertekan dan banyak pikiran. Apa kau tahu apa yang dialaminya?" tanyanya lagi padaku.


“ Hmm... Sebenarnya ini tak lain dan tak bukan karena perilaku suamiku padanya. Kau pasti tahu dari Darren bukan ? Untuk yang lain aku tidak tahu karena aku tak mempunyai waktu untuknya karena aku sibuk. Hanya terkadang sesekali" jawabku jujur dengan menundukkan kepala.


“ APA??? BAGAIMANA BISA SEPERTI ITU KAU TAHU KAN KONDISI FISIK LINZY TIDAK SEKUAT ITU ?? BAGAIMANA BISA KAU TIDAK MEMPUNYAI WAKTU UNTUKNYA. KALIAN INI APAKAH PANTAS DISEBUT ORANGTUA???" ucap Helen seraya membentakku. Aku sadar selama ini aku juga salah tidak meluangkan waktu untuk puteriku sendiri.


“ Apa uang dari suami dan anakmu tidak cukup Glad?" tanyanya lagi. Oh kata - kata itu tepat menusuk hatiku. Itu terlihat seolah aku wanita yang materialistis padahal aku tidak seperti itu.


“ Kau tahu jika aku melihat dari sorot mata Linzy , bukan uang yang ia butuhkan namun adanya kasih sayang anggota keluarga. Kau tahu ? Dia adalah gadis yang kurang mendapatkan kasih sayang orang terdekatnya. Itulah sebabnya anakmu menjadi seorang Introvert. Karena ia beranggapan seseorang sudah tidak ada yang peduli lagi padanya" jelas Helen panjang lebar. Aku sangat merasa bersalah. Aku ini seorang ibu namun apa yang aku lakukan tidak mencerminkan bahwa aku seorang ibu.

__ADS_1


“ Linzy maafkan mommy mu ini nak"


Gladys POV End


__ADS_2