
“ Sebenarnya jika kau tidak kesinipun tak apa" ucapku santai. Verren membelalakan matanya tak percaya.
“ Wah , aku tidak menyangka ternyata kau tidak tahu terimakasih juga ya anak manja. Aku ini tulus membesukmu tahu" sungut Verren.
“ Yang benar yang mana tadi kau bilang karena hanya tak sabar menunggu dokter Vernon" sungutku tak suka.
Verren hanya mendengus kesal , mungkin ia lelah , tapi terserah bukan urusanku.
Dokter Vernon yang melihat kami bertengkar pun memijat kepalanya. Sepertinya ia nampak frustasi mendengar pertengkaran unfaedah ini.
“ Oh sudahlah , kalian diam. suara kalian membuatku pening" keluh dokter.
“ Jadi menurut dokter , suaraku buruk begitu? " protesku pada dokter Vernon.
“ Bukan begitu maksudku Linzy" elak dokter Vernon dengan segera.
Aku seketika kehilangan moodku setelah mendengar ucapan dokter Vernon.
“ Ciahh.. Dia ambekan ternyata. Childish banget" ejek Verren.
Glory yang mendengarnya hanya memandang malas Verren , siapa dia pikirnya.
Merasa ditatap oleh seseorang Verren lantas menolehkan kepalanya dan menyapa Glory.
“ Hai manis , siapa namamu?" sapa Verren pada Glory.
“ Berhentilah untuk menjadi pedofil Verren" ucap Vernon.
“ Hahahaha..... Pedofil aku sangat tersinggung dengan ucapanmu kau tahu?" ucap Verren sarkas.
Glory dan Linzy hanya memandangi pertengkaran 2 orang beda usia tersebut , seperti tidak ada habisnya pikir mereka.
“ Kuulang sekali lagi , siapa namamu dan jangan pedulikan pak tua ini" tanya Verren sekali lagi.
“ Aku Glory dan siapa namamu serta apa hubunganmu dengan dokter Vernon. Kalian nampak dekat?" Glory ingin tahu.
“ Aku adalah adik dari pak tua ini manis" ucap Verren dengan wajah polos bak bayi tanpa dosa.
“ Jika kau bukan adikku sudah kutenggelamkan dirimu ke palung mariana sialan" maki dokter Vernon.
Aku hanya menahan tawaku , lucu sekali melihat mereka bertengkar karena hal sepele , andai aku seperti mereka.
“ Aigoo... Kau adik dokter Vernon , aku tak tahu dokter Vernon mempunyai adik" Glory terkejut.
“ Tentu karena aku tidak tinggal disini jadi mana mungkin kau tahu?"
Dokter Vernon tak sengaja melihat kearahku dengan pandangan yang sulit diartikan. Kenapa dengannya ya?
“ Zy , dimana kakakmu?" celetuk dokter Vernon tiba - tiba.
“ Aku gak tahu" jawabku ketus.
Glory yang mendengar percakapan itu menghela nafas panjang , ia cukup prihatin padaku sepertinya tapi entahlah mungkin dia juga mengkhawatirkan kak Martin.
“ Zy ? Aku tahu kamu marah sama kakak kamu , tapi coba kamu ngobrol sama kakak kamu dulu" Glory memohon.
“ Aku gak mau ngobrol sama dia Glo"
“ Tapi dia nggak salah Linzy. Kakak kamu nggak salah dan kakak kamu nggak tahu apa-apa"
“ Kalau dia gak tahu apa - apa harusnya dia selalu ada buat aku Glo , harusnya dia belain aku disaat sudah jelas gak salah apa-apa. Tapi nyatanya apa? Dia gak pernah lakukan itu. DIA TERLALU SIBUK DENGAN URUSANNYA SENDIRI !!!! DIA GAK PERNAH PEDULI SAMA AKU GLO !!!!! KAMU TAHU GAK ????" Nafasku memburu ketika berkata itu pada Glory.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
Vernon POV
Untuk pertamakalinya aku melihat dua sahabat ini bertengkar hebat. Ini semua karena kak Martin entah apa yang terjadi sebenarnya. Martin juga belum mau terbuka sepenuhnya denganku. Lagipula dimana ia sekarang tidak kembali lagi setelah ngopi bersama tadi.
Verren mendekatiku dan menatapku seolah berkata “ Ada apa? Apa terjadi sesuatu?"
“ Nanti kujelaskan. Disini sebentar aku akan keluar " pintaku pada Verren.
Aku keluar mencari di seluruh penjuru kantin dan taman rumah sakit ck dia sebenarnya kemana sih ? Aku lupa meminta nomornya , sepertinya nanti aku harus meminta bantuan Glory untuk mendapatkan info tentang Martin.
Aku menyerah dan kembali keruanganku untuk melanjutkan praktekku. Agak tersendat memang tapi mau bagaimana lagi. Aku juga tak mempunyai nomor Glory. Ahh kenapa aku tak membujuk Verren saja untuk meminta nomor ponsel Glory. Segera saja kutelepon adikku itu.
“ Halo Verren , bisa tidak kau meminta nomor ponsel Glory dan kirimkan padaku?"
“ ........."
“ Please jika dia tidak mau bilang saja jika aku yang menyuruhmu"
“..............."
“ Baiklah terimakasih. Kutunggu kabar darimu"
Bip
Aku memutuskan sambungan teleponku pada Verren. Semoga saja ia bisa diajak kerja sama kali ini.
Ini nomor ponsel Glory
+62**********
^^^Thank you bro.^^^
Aku tersenyum dan menambahkan nomor ponsel Glory ke kontak ponselku setelah itu aku menghubunginya.
“ Halo Glory "
“................"
“ Maaf apa kau ada waktu?"
“................…"
“ Bisa bertemu sebentar ? Ada yang ingin kutanyakan padamu?"
“.............."
“ Ini tentang Linzy dan kak Martin"
“..............."
“ Ehm... Sebenarnya aku tadi sedang istirahat dengan kak Martin dan tadi ada sedikit obrolan. Maka dari itu aku butuh bantuanmu"
“..............."
“ Oke aku akan menungu disana"
Bip
Karena pasien sudah mulai berkurang dan sepi aku bergegas keluar ketempat dimana aku akan bertemu dengan Glory.
__ADS_1
“ Suster , aku izin keluar sebentar adikku menunggu dibawah"
“ Baik dokter"
Setelah itu aku bergegas menuju restoran cepat saji , tempat pertemuanku dengan Glory.
“ Maaf. Apa kau lama menunggu?"
“ Tidak juga dokter. Aku baru saja sampai "
“ Kalau begitu pesanlah aku akan mentraktirmu"
“ Eiyyy... Apa ini termasuk sogokan?"
Aku hanya mendengus malas mendengar ucapan Glory.
“ Bercanda dokter tak perlu serius begitu" senyum Glory padaku.
Saat pesanan kami sudah sampai aku meminum thai tea ku terlebih dulu.
“ Jadi apa yang ingin kau tanyakan tentang kak Martin dan Linzy"
“ Sederhana. Apa mereka ada masalah keluarga ? Karena sepertinya tadi raut wajah kak Martin menyiratkan penyesalan dan kekecewaan pada diri sendiri terhadap Linzy "
Glory hanya mengangguk sekilas ia masih terdiam sepertinya ia masih memberikanku waktu untuk bicara.
“ Jadi bisa kau ceritakan? Karena Linzy juga nampak sedih ketika mendengarkanku bercerita tentang keluargaku sendiri"
“ Orangtua dan kakak Linzy sangatlah sibuk. Ayah dan kakaknya bekerja di perusahaan mereka hampir tidak memiliki waktu untuk Linzy dan kak Martin sebenarnya dia orang yang penyayang tapi terlalu cuek"
Aku hanya menyimak setiap cerita Glory dapat kusimpulkan jika gadis itu sangat kesepian.
“ Jadi kesimpulannya Linzy itu kesepian dan tidak pernah mendapat perhatian dari keluarganya?"
“ Masih ada lagi sih namun aku belum bisa cerita saat ini. Ini terlalu privasi , jika kau ingin mendengarnya lebih jelas tanyakan pada Linzy "
“ Seandainya mengajaknya bicara itu mudah Glory "
“ Aku percaya padamu dokter. Kau pasti bisa bicara dengannya. Dia pasti akan terbuka padamu" Glory meyakinkan aku.
Hei memang aku siapanya? Kenapa dia seyakin itu?
“ Aku tidak yakin Glory "
“ Tapi aku percaya padamu. Jika suatu saat Linzy akan bercerita apa yang dialaminya selama ini"
Aku hanya diam tak tahu harus menunjukkan respon yang bagaimana.
“ Kak Martin percaya padamu kan dokter?"
“ Sepertinya " jawabku sekenanya.
“ Itu berarti aku juga harus percaya padamu"
“ Kenapa begitu?"
“ Entahlah sepertinya kau memang ditakdirkan untuk Linzy. Aku yakin kau mencintainya bukan?"
Pikiranku berkecamuk saat ini benarkah aku mencintai Linzy atau hanya sekedar kasihan padanya aku juga tak tahu. Aku tidak bisa menyimpulkan perasaanku secepat itu.
“ Aku belum yakin. Perasaanku ini benar - benar cinta atau hanya belas kasihan"
Glory tersenyum memandangku.
“ Tak apa perlahan tapi pasti dokter mungkin akan menemukan jawabannya. Tak perlu buru-buru"
Semoga saja ini perasaan cinta sungguhan bukan hanya sesaat
Vernon POV End
__ADS_1