
Author POV
Sekarang Linzy sudah pulang dari kantor Andrew. Sebenarnya semua ini sungguh melelahkan bagi Linzy namun ia tetap merasa senang.
Ia masih butuh bicara dengan sang kakak. Kini ia menunggu sang kakak dengan istrinya untuk berkunjung ke rumahnya.
Saat Linzy sedang bersantai di sofa ia dikejutkan dengan kedatangan Martin dan istrinya.
“ Hai Linzy , kau lelah ?" tanya Martin sang kakak.
“ Ya , begitu " jawab Linzy sekenanya.
“ Ada apa kau mengundangku kemari ?" tanya Martin.
“ Apa benar saat ini kau tengah membangun perusahaanmu ? " Linzy mulai dengan mode seriusnya.
“ Hmm... Ya betul. Apa kau merasa keberatan ?" tanya Martin.
“ Kak. Tidakkah kau berpikir jika kau keluar dari perusahaan daddy dan aku menjadi CEO , Lalu siapa yang akan mengurus usaha mommy saat mommy sudah tak mampu? Kau ingin mommy terus menerus bekerja? Lalu bagaimana denganku ? Aku tidak bisa menjadi novelis sebebas dulu" keluh Linzy.
Martin masih setia mendengarkan adiknya.
“ Zy , tapi perusahaan itu masih akan beroperasi beberapa tahun lagi sayang. Dan untuk butik mommy tenang saja kakak juga akan membantumu memantaunya. Aku juga bisa dalam bidang tersebut jika kau lupa , juga untuk menjadi novelis kamu tetap masih bisa , ya walaupun memang tak sebebas dulu" jelas Martin.
Saat mereka sedang bercengkrama datanglah robot membawakan camilan dan minuman untuk tamu.
“ Ahh... Kau tak perlu menyewa asisten rumah tangga karena memiliki asisten robot pribadi "
“ Itu dari Verren " Linzy menjawab.
Martin terkekeh. Ia menatap sang adik yang terlihat sangat kelelahan. Sebenarnya ia merasa bersalah pada sang adik , namun ia sangat ingin Linzy yang mengambil posisi tersebut.
“ Oh Zy , kau sudah minum susumu ?" pekik Glory tiba - tiba.
“ Ahh... Belum aku hampir lupa. Biasanya kak Vernon yang membuatkannya tapi ia sedang dinas sore" jelas Linzy.
“ Baiklah kalau begitu akan kakak buatkan. Kau tunggu disini " kata Martin dan beranjak menuju dapur.
“ Jangan anggap semua itu beban Zy " ucap Glory.
“ Aku tidak menganggapnya sebagai beban. Hanya saja aku merasa tanggung jawabku bertambah. Aku khawatir apakah jika aku berkarir aku akan menjadi seorang istri dan ibu yang baik " gelisah Linzy.
“ Kau pasti bisa Zy. Kau bisa melakukan kewajibanmu sebagai istri dan ibu dengan baik" Glory menenangkan.
“ Semoga saja " Linzy berharap.
Tak lama kemudian Martin telah kembali dengan segelas susu ditangannya.
“ Ini susu untukmu princess , semoga bayimu selalu kuat dan sehat seperti ibunya " ucap Martin dengan senyuman.
“ Amin. Terimakasih uncle " ucap Linzy dengan menirukan suara anak kecil.
“ Aku tidak sabar menyambut mereka lahir ke dunia. Rasanya aku seperti seorang ayah dengan anak yang banyak" ucap Martin.
Glory dan Linzy hanya tersenyum hangat mendengarnya. Mereka juga tidak sabar menunggu beberapa bulan lagi menyandang status sebagai seorang ibu.
“ Beberapa waktu lalu aku mengunjungi Lionel " Linzy membuka pembicaraan yang serius lagi.
“ Bersama suamimu ?" timpal Martin.
“ Tentu saja. Kakak pikir ia akan mengizinkanku mengendarai mobil sendiri?" gerutu Linzy.
“ Sudah jelas sekali jawabannya , pasti tidak " kekeh Martin.
“ Akupun pasti akan melakukan hal yang sama Zy. Kalian itukan masih hamil muda. Akan sangat rentan jika terjadi sesuatu pada kandungsn kalian" jelas Martin.
“ Oh. Bahkan rasanya aku seperti memiliki dua suami saat ini " ucap Linzy sembari tertawa. Ia bersantai sembari membuka laptop untuk memeriksa pekerjaannya.
“ Sepertinya menyenangkan bekerja dari rumah ?" seloroh Glory.
“ Tentu saja. Seperti itulah pekerjaan yang kucari. Jadi tidak melulu berada di kantor. Tak seperti dirimu" ejek Linzy.
Glory mendengus mendengarnya. Jelas saja mana mungkin seorang dokter bekerja dari rumah , kecuali jika ia membuka praktek di rumahnya.
“ Maka dari itu. Dunia bisnis sangat cocok untukmu bukan ? Apalagi jika kau yang menjadi pimpinannya" Martin mulai menimbrung lagi.
“ Uh kak , perusahaan daddy akan mengadakan pelelangan untuk acara amal. Kau ikut ?" tanya Linzy.
“ Aku mungkin hanya menyumbangkan sedikit barang - barangku yang lama untuk di lelang. Bukankah acara ini sangat cocok untukmu? " tanya Martin.
__ADS_1
“ Hmm... Entahlah mungkin aku akan melelangkan satu lukisan yang berada di galeri seniku" ucap Linzy.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tiba saatnya hari ini adalah acara amal perusahaan Richardson. Martin dan Linzy termasuk dalam jajaran panitia acara tersebut.
Untuk acara amal tahun ini , Linzy benar saja menyiapkan salah satu lukisan terbaiknya untuk dilelang.
Lukisan itu tidak main - main , laku keras hingga puluhan juta. Sebuah nilai yang bisa dibilang fantastis.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terhitung 5 bulan setelah event lelang untuk penggalangan dana diselenggarakan. Sekarang Linzy maupun Glory sedang hamil besar.
Ya , usia kandungan mereka sudah memasuki 8 bulan. Terasa sangat cepat memang baru saja dinyatakan hamil sekarang sudah hampir melakukan persalinan.
Selama 5 bulan itu tak jarang para suami menjadi samsak pelampiasan kala hormon ibu hamil menyerang istri mereka. Dan hal itu tentu saja membuat para suami seringkali mengalah tak jarang hingga kelimpungan untuk menuruti acara 'ngidam' para istri.
Seperti Vernon contohnya ia harus kelimpungan mencari penjual cilok pukul 2 pagi karena sang istri yang mengidam.
Pun sama halnya dengan Martin yang untuk pertama kalinya menyambangi area dapur dan menggunakan apron demi membuatkan donat untuk istri tercinta. Padahal memasak pun tak bisa. Hasilnya ? Tentu saja jika yang menilai adalah orang yang ahli dalam memasak akan mendapatkan nilai F. Mungkin saja , namun karena yang menilai ini sang istri dengan dalih dedek bayi yang minta , tetap saja akan terasa nikmat.
Sekarang Linzy sedang berjalan - jalan di taman mansion orangtuanya. Yah saat ini Vernon tinggal dikediaman Richardson supaya ada yang menjaga Linzy jika ia sedang bertugas.
“ Sayang , makan dulu nak. Kau belum makan siang tadi " ujar mommy nya lembut.
Linzy menoleh dan tersenyum pada mommynya. Ia sedang melihat bunga mawar putih kesukaannya.
“ Iya mom aku akan segera masuk nanti untuk makan siang " jawab Linzy.
Mommynya menghampirinya dan segera menggandeng tangan Linzy serta menuntunnya perlahan menuju ruang makan.
“ Kau harus makan teratur agar bayinya sehat sayang. Vernon akan marah jika kau tidak makan dengan teratur. Tahu sendirikan jika suamimu itu seorang dokter ?" ucap mommynya lembut.
“ Iya mommy. Kalau begitu aku akan makan " jawab Linzy.
“ Ayo mommy akan siapkan makananmu dulu ya?"
Mereka pun makan bersama dengan menu 4 sehat 5 sempurna. Ya karena keadaan Linzy sedang hamil besar maka mommynya memberikan asupan gizi yang cukup untuknya agar dia dan bayinya sehat.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
Malam hari.....
Vernon saat ini sudah pulang dari bekerja. Ya disaat - saat seperti ini Vernon lebih memilih tinggal di rumah sang mertua supaya aman dan ada yang menjaga Linzy.
“ Hai sayang bagaimana harimu ? Kau tidak melakukan aktivitas yang melelahkan bukan ?" tanya suaminya.
Linzy menggelengkan kepalanya tanda sebagai jawaban.
“ Ahh... Aku belum menyapa dia sebentar " Vernon kembali jongkok dan mensejajarkan wajahnya dengan perut besar Linzy.
“ Hi , boy or girl. Bagaimana kabarmu kau tidak merepotkan mommy bukan untuk hari ini?" katanya di depan perut Linzy sembari tangannya mengelus perut istrinya.
Dug.....
Terasa sebuah tendangan dari perut istrinya dan itu membuat perasaannya membuncah bahagia.
“ Lihat , dia meresponmu dad " ucap Linzy girang.
“ Anak pintar " ucap Vernon bangga.
“ Kau mau mandi ? Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu "
“ Terimakasih sayang. Kalau begitu aku akan mandi"
“ Oke cepatlah , aku akan menyiapkan teh hangat untukmu. Setelah itu kita makan malam bersama mom & dad "
“ Yes mrs. Wait a minute "
Vernon bergegas membersihkan dirinya. Sementara Linzy membantu mommynya menyiapkan makan malam.
“ Suamimu sedang mandi ?"
“ Iya mom. Mari biar aku bantu mommy menyiapkannya "
“ Kau tak boleh terlalu lelah sayang"
“ Tapi di kehamilanku yang besar ini aku harus banyak bergerak supaya persalinannya lancar. Lagipula ini tidak terlalu berat mom"
Setelah beberapa menit kemudian Vernon sudah bergabung di meja makan disana juga ada ayah mertuanya.
Semuanya khusuk berdoa sebelum makan dipimpin oleh sang kepala keluarga dan setelah selesai berdoa makan malam pun dimulai.
Yah mereka makan dalam suasana hening , karena aturan dalam keluarga tidak boleh bicara pada saat makan. Aturan itu sangat mutlak dalam keluarga Andrew , Darren maupun Felix.
Setelah beberapa menit menyelesaikan makan malam dan dilanjut dengan doa selesai makan. Mulailah mereka dengan obrolan ringan.
” Humm... Tinggal menunggu waktu lagi kalian sudah memulai persalinan ya. Apakah kali ini akan lahir secara bersamaan ?" gumam Andrew.
“ Benar dad aku juga tidak sabar "
“ Daddy rasa , daddy akan mempunyai 3 cucu atau bahkan lebih "
Vernon dan Linzy pun saling pandang mendengar perkataan daddy.
“ Bagaimana kau bisa seyakin itu dad ?" tanya Linzy penasaran.
“ Perutmu sangat besar daripada ibu hamil yang biasanya , kalau Glory daddy sangat yakin jika ia akan melahirkan seorang anak kembar. I mean you know your brother Linzy?" ucap Andrew.
Vernon dan Linzy hanya terkekeh. Ya sosok Martin , meski ia terlihat dingin dan angkuh serta tak peduli pada orang lain , namun jika dalam urusan ranjang mungkin ia juaranya.
Jika kalian menganggap Martin seorang yang mesum kalian salah. Ia cukup bisa menahan hasrat birahinya sebelum sah.
Jika sudah sah dia ahlinya. Jadi siapkan stamina yang lebih jika ingin menjadi seorang istri Martin Gerald Richardson atau ia akan meremukkan tubuhmu hingga pagi.
“ Kita tunggu saja ya dad " ucap Linzy.
Author POV End
__ADS_1