Who Am I ( Linzy Story )

Who Am I ( Linzy Story )
27


__ADS_3

Author POV


Saat ini waktu makan malam telah tiba dan semuanya berkumpul di ruang makan. Sebelumnya seperti yang dikatakan oleh Martin bahwa keluarga Andrew akan kedatangan tamu spesial , namun Martin sendiri tak mengetahui siapa tamu tersebut apalagi Linzy.


“ Kak , kakak gak bohongkan soal tamu spesial ?" tanya Linzy pada kakaknya.


“ Entahlah kakak juga gak tahu akan jadi atau tidak. Kakak kan hanya menuruti kata - kata daddy dan mommy bahwa nanti ada tamu saat kita makan malam bersama " jelas Martin pada adiknya disertai cengiran lebar , Linzy yang mendengarnya hanya mendengus kesal. Apa - apaan kakaknya itu , ia pikir kakaknya akan memberi kejutan mengenai tamu spesial namun justru ia sendiri tidak tahu siapa tamunya.


“ Eoh... Anak - anak mommy sudah bersiap rupanya , baguslah kita hanya tinggal menunggu saja. Mungkin sebentar lagi tamunya datang " jawab mommy nya.


“ Memangnya siapa tamu kita hari ini mom ? Kenapa mommy bersemangat sekali ? " heran Martin.


“ Jika mommy bersemangat dalam menyambut tamu , mungkin itu dokter Vernon. Kakak tahukan mommy sangat antusias jika dokter Vernon datang ke rumah " tebak Linzy.


“ Benar juga tidak mungkin jika itu Glory , karena hampir setiap hari mommy pasti bertemu dengannya" Martin berpikir.


Mommynya hanya tersenyum kala mendengar pendapat sang anak. “Sabarlah sedikit nanti kalian juga akan tahu " kata mommy nya.


Gladys menoleh kearah Linzy seketika tatapannya berbinar melihat penampilan Linzy.


“Ahh... Princess mommy benar - benar cantik malam ini sayang. Mommy senang sekali , mommy yakin pasti nanti mereka akan terpukau ketika melihatmu" ujar mommy nya senang.


“ Hmm... Ini sih sudah tertebak pasti yang akan jadi tamunya Vernon dan mungkin dengan adiknya" gumam Martin.


Saat mereka sedang berbincang datanglah Andrew ke ruang makan dan sedikit tersenyum kecil saat melihat penampilan Linzy dengan rambut yang digelung keatas menyisakan anak rambut yang menjutai kebawah disekitar wajahnya. Nampak terlihat sangat imut.


“ Semuanya sudah siap?" tanya Andrew pada sang istri.


Gladys yang menyadari kehadiran suaminya sontak menoleh dan mengangguk kecil sebagai jawaban.


Tak lama kemudian bel rumah berbunyi , Andrew dan Gladys segera saja membukakan pintu dan menyambut mereka.


“ Selamat malam " sapa tamu tersebut.


“ Darren , Helena kalian sudah datang ? Ahh... Ada Vernon dan Verren juga. Mari silahkan masuk " ucap Gladys ramah.


Merekapun segera masuk menuju ruang makan disana sudah ada Martin dan Linzy yang menunggu.


“ Wah... Apa mereka anak - anakmu? Sangat tampan dan cantik sekali , seperti daddy dan mommy nya" puji Helena pada Martin dan Linzy.


“ Terimakasih " ucap Martin dan Linzy bersamaan.


“ Silahkan makan malam sudah disiapkan. Mari " ajak Gladys dan Andrew.


Mereka mulai acara makan malam  suasananya penuh dengan obrolan hangat.


“ Kapan kalian kembali dari Canada?" tanya Andrew.


“ Seminggu yang lalu " jawab Darren tersenyum.


“ Wah dan kalian tak memberitahu kami ?" kaget Gladys dan Andrew.


“ Sengaja , untuk kejutan " cengir Helena.


Semua orang yang mendengar penuturan Helena hanya memutar bola mata malas kecuali Linzy dan Martin , mereka masih canggung dengan suasana ini tentu saja. Linzy baru pertama kalinya bertemu langsung. Sedangkan Martin ia sudah lupa.


“ Wah putrimu cantik sekali Andrew , apa dia sudah memiliki kekasih ? Aku tak menyangka Linzy sudah sebesar ini " kekeh Darren.

__ADS_1


“ Tentu saja sudah daddy. Linzy itukan cantik pastilah banyak yang lirik , dan lagipula kekasihnya juga ada disini " celetuk Verren tanpa merasa bersalah.


“ Oh benarkah , siapa kekasihnya ? Dia bergabung dengan kita juga ? Mana ? Mana ? " ucap Helena.


Verren hanya menepuk jidat dan sedikit mendengus malas. “ Ya tepat di sebelah kanan daddy , itulah kekasih Linzy " ucap Verren dengan ringan. Vernon yang mendengarnya mendengus tak suka. Ingin rasanya ia menenggelamkan sang adik ke rawa - rawa.


Helena dan Darren yang mendengar pernyataan anak bungsunya terkejut bukan main.


“ Astaga benarkah itu Vernon? Kenapa kau tak memberitahu mommymu ? Dasar anak nakal" gerutu Helena kesal.


“ Belum waktunya mommy " elak Vernon.


“ Sudahlah. Justru aku merasa senang akhirnya anakku laku juga. Tak bisa kubayangkan jika puteraku berakhir menjadi perjaka tua dan asetnya kadaluwarsa" kekeh Darren.


“ Dad " panggil Vernon tak terima dengan pernyataan daddynya. Apa- apaan daddynya ini menganggap anaknya perjaka tua.


Semua yang menyaksikan hal itu hanya terkekeh kecil. Tak habis pikir dengan tingkah Vernon , Verren serta kedua orangtuanya. Suasana canggung kian lama kian mencair karena adanya candaan tersebut.


Selepas makan malam mereka semua berkumpul di ruang tamu untuk sekedar berbincang.


“ Nah bagaimana kabarmu selama di Canada Darren? " Andrew memulai pembicaraan.


“ Ya seperti biasa kau tahulah , sangat sibuk dan hanya bertemankan berkas - berkas " Helena menyahut.


“ Kau pasti merasa bosan " ucap Gladys sembari terkekeh.


“ Kau benar , kau pasti merasakannya juga bukan ?" ujar Helena yang dibalas anggukan oleh Gladys.


“ Ahh... Jadi Linzy mama dengar kau adalah kekasih dari anak nakal ini. Apakah itu benar ?" tanya Helena pada Linzy.


“ A-ah... I - itu be-nar mama " jawab Linzy terbata-bata , ia merasa sangat gugup ketika ditanya oleh Mommy Vernon.


Flashback On


“ Gladys " teriak Helena memanggil Gladys sahabatnya. Gladys yang merasa dipanggil pun menoleh dan seraya merentangkan kedua tangannya untuk menyambut pelukan Helena.


“ Helena , Darren " ucap Gladys senang.


Darren dan Helena menuju ke pelaminan untuk mengucapkan selamat pada kedua sahabatnya yang pada akhirnya menikah tersebut.


“ Selamat menempuh hidup baru untukmu Andrew dan Gladys. Semoga segera diberi anak - anak yang lucu " ucap Helena.


“ Terimakasih Helen. Kau sendiri kapan menyusul kami dengan Darren? " balas Andrew.


“ Aish... Jangan tanya padaku Andrew tanya saja padanya" ujar Helena sembari menunjuk kekasihnya Darren.


Darren hanya tersenyum konyol sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Andrew dan Gladys hanya menggelengkan kepalanya.


“ Aku janji akan menjadikanmu istriku setelah pernikahan Andrew dan Gladys tenang saja tidak akan lama.


“ Terserahmu saja tuan Stewart" dengus Helena malas.


“ Ahh... Lupakan saja. Bagaimana jika kita mempunyai anak kita jodohkan saja " usul Helena tiba - tiba.


“ Apa? Tapi belum tentu anak kita lawan jenis Len. Bisa saja anak kita sama-sama laki-laki atau justru sebaliknya" ujar Andrew.


“ Oh , ayolah aku yakin jika anak akan berbeda jenis kelaminnya. Dengan begitu kita bisa menjodohkannya"

__ADS_1


“ Huffft... Baiklah doakan saja "


Flashback Off


Ya Helena tersenyum mengingat janji mereka dulu. Tak disangka doanya terkabulkan.


“ Linzy kau kelas berapa nak ?" tanya Darren lembut.


“ Saya kelas 11 om " jawab Linzy hati-hati.


“ Panggil aku daddy atau Papa tidak masalah. Tidak perlu canggung begitu" ujar Darren.


“ Jadi sudah berapa lama kalian mengenal ? Dan sejak kapan kalian berpacaran ?" tanya Darren lagi.


“ Untuk berkenalan mungkin sekitar 3 bulan dan untuk menjalin hubungan mungkin sudah 1 bulan " bukan Linzy yang menjawab tetapi Vernon.


“ Oh my " kaget Helena.


“ Kalau tidak salah kalian bertemu di sekolah ya dengan Vernon sebagai dokter di sekolahmu?" ucap Darren.


“ Darimana daddy tahu ? " tanya Vernon terkejut. Darren hanya menunjuk si putra bungsu , sedangkan yang ditunjuk hanya menunjukkan cengiran tidak berdosanya. Vernon hanya menatap tak suka.


“ Aku heran kenapa daddy dan mommy mengirimnya kembali ke Indonesia. Apa dia memang ada disini hanya untuk memata - mataiku?" tanya Vernon pada orangtuanya sembari menatap adiknya sinis.


“ Dia bilang dia merindukanmu sayang " jawab Darren enteng.


“ Bohong " kilah Vernon. Helena hanya memutar bola mata malas. Ayolah tidakkah kau mengerti bahwa Helena sangat malu melihat kelakuan suami dan puteranya? Mereka itu sama saja asal kalian tahu.


“ Ehm... Kalau Martin bagaimana kabarmu nak , mommy sudah lama tak melihatmu. Pasti ya kau sudah seperti daddymu yang super sibuk itu" tebak Helena.


Martin hanya tersenyum simpul , ya mau bagaimana lagi memang sudah kewajibannya sebagai putera seorang Richardson. Hampir semua orang yang dikenalnya mengatakan hal tersebut.


“ Bagaimana dengan pasangan ? Apa kau sudah memiliki kekasih ? Ataukah masih berkas - berkas itu yang menjadi kekasihmu?" lanjut Helena lagi.


“ Puji Tuhan aku sudah memiliki kekasih ma " jawab Martin seadanya.


“ Kyaaa.... Benarkah itu ? Siapa kekasihmu ? " tanya Helena penasaran.


“ Glory Christabelle anak dari Uncle Felix " ucap Martin.


“ HAH ?????!!!!! " kaget mereka semua kecuali Linzy Vernon dan orangtua Linzy dan Martin.


Darren dan Helena menggeleng tak percaya.


“ Glory anak Felix ? Bukankah dia masih SMA sama seperti Linzy ? Bagaimana kau bisa mengencaninya nak ? " ujar Helena tak percaya sambil mengelus dada. Bukannya ia tak setuju dan tak suka namun mengingat jarak umur Martin dan Glory yang terpaut cukup jauh. Tepatnya 9 tahun.


“ Ahh. Benar pasti masalah umur bukan ? Tenang saja itu bukan menjadi masalah yang serius pun lagipula tak terlalu jauh satu hal lagi kami saling mencintai" ujar Martin.


“ Tak apa justru semakin tua semakin jadi jika sedang olahraga malam , yang terpenting kan masih kuat dan perkasa. Benar tidak ? " kekeh Darren. Martin hanya menanggapi dengan kekehan kecil.


Helena , Vernon dan Verren memelototkan matanya tak percaya bisa - bisanya Darren berucap dan membahas hal vulgar sesantai itu. Sungguh mereka sangat malu. Ingin sekali rasanya Helena melakukan barter suami.


“ Astaga dad jangan membahas hal seperti itu , dasar otak 69" kesal Vernon dan Helena , sedangkan Verren? Anak itu sudah kembali biasa saja. Ya itu karena otaknya tak jauh berbeda 11/12 dengan sang daddy “mesum".


“ Tidakkah kau melihat anakku yang masih polos Darren? " ujar Andrew.


“ Maafkan aku calon besan. Hehehe...." kekeh Darren dengan wajah tak berdosanya.

__ADS_1


Sementara yang lain ? Pastinya merasa canggung dengan obrolan ini.


Author POV End


__ADS_2