
Author POV
Sudah 3 hari terhitung Linzy berbaring di ranjang rumah sakit semenjak ia siuman.
Saat ini ia sedang berkirim pesan pada Verren membicarakan perihal novelnya yang diminati oleh banyak orang dan dapat tawaran untuk menerbitkan novelnya. Tentu Linzy merasa sangat senang jika karyanya diminati oleh banyak khalayak.
Saat ia sedang sibuk dengan ponselnya tiba - tiba ada seseorang masuk , Linzy sempat menoleh ternyata itu daddynya.
“ Dad " panggil Linzy.
“ Dimana kakakmu ? "
“ Kakak sedang keluar dengan Glory. Apa ada perlu ? Jika ada kau bisa menunggunya kembali dad " ujar Linzy.
“ Tidak ada "
“ Lantas ?"
“ Daddy ada perlu denganmu , bukan dengan Martin "
“ Oh... Huh ada perlu denganku ? Memangnya ada apa tidak biasanya " heran Linzy.
“ Memangnya tidak boleh ada perlu dengan anak sendiri "
“ Eh ? " Linzy yang mendengar ucapan daddynya mendadak bingung. Andrew yang melihatnya hanya terkekeh. Lucu pikirnya.
“ Bo - boleh... Tentu saja boleh kok dad. Apa yang ingin daddy katakan ?"
Andrew tidak menjawab pertanyaan putrinya ia melangkah menuju putrinya dan menariknya ke dalam dekapan , Linzy yang dapat perlakuan itu nampak terkejut. Pasalnya ia belum pernah dipeluk oleh daddynya.
“ Dad , are you okay ?" tanya Linzy.
“ Maafkan sikap kasar daddy padamu selama ini nak. Daddy tahu dan daddy sadar bahwa daddy tidak pantas untuk dimaafkan oleh gadis berhati malaikat sepertimu , tapi mohon berikan daddy kesempatan untuk menjadi seorang ayah yang baik untukmu nak , izinkan daddy untuk melindungi dan menjagamu Linzy " ujar Andrew seraya berlinang airmata.
“ A - aku sudah memaafkanmu dad. Bahkan sebelum daddy memintanya. Jangan seperti itu aku tahu jika kau berusaha melindungiku dari orang jahat tanpa sepengetahuanku dad. Kau adalah daddy terbaik yang aku punya" ujar Linzy.
“ Terimakasih sayang.... Terimakasih.... " ucap Andrew terharu. Tanpa mereka sadari ternyata sang istri dan anak serta para sahabatnya mendengar pembicaraan mereka. Mereka merasa terharu.
“ Akhirnya... Andrew mau berubah untuk putri kesayangannya. Selama ini Andrew tak mengungkapkan rasa sayangnya pada Linzy " ucap Darren.
“ Kau benar. Aku cukup bersyukur hatinya yang beku akhirnya meleleh oleh putrinya sendiri " Felix menyetujui.
“ Semoga hubungan keduanya membaik seperti ini selamanya. Hingga Linzy tidak merasa kesepian lagi " ujar Helena seraya tersenyum.
“ Amin " ucap mereka semua.
Saat ini Linzy sedang berada di taman bersama daddynya , ia menggunakan kursi roda yang di dorong oleh daddynya. Sembari memakan roti yang disuapkan oleh daddynya ia melihat bunga di taman rumah sakit.
“ Kau seharusnya memakan bubur Zy " ujar daddynya.
“ Heum.. Tapi itu tidak enak rasanya hambar. Aku ingin makan roti dad. Seperti cheesecake ini " ucap Linzy.
“ Huh kau ini... Dasar anak nakal " ucap daddynya sembari mencubit hidung kecil Linzy.
“ Ungh... Daddy " protes Linzy.
“ Saat daddy menghampirimu kau sedang menerima chat dari siapa? Kelihatannya senang sekali "
“ Aku sedang menerima chat dari kak Verren. Dia memberitahuku jika ada penerbit yang tertarik dengan novel karyaku sendiri dad dan ingin diterbitkan. Aku langsung saja menyetujuinya " cerita Linzy antusias.
“ Oh benarkah ? Syukurlah kalau begitu ternyata anak daddy sangat multitalenta. Selain berbakat dalam bidang memasak dan seni baik itu melukis atau bermusik ternyata kau berbakat juga dalam bidang sastra. Daddy bangga padamu nak " ujar daddy mengapresiasi bakat putrinya.
“ Terimakasih dad " ucap Linzy seraya memeluk daddynya.
“ Apa yang kami lewatkan ?" kata Martin. Tidak hanya Martin saja ternyata juga ada Lucianno , Darren , Felix , Helena , Anastasia , Glory , Vernon , Verren serta Gladys.
“ Tidak ada " jawab Linzy.
“ Benarkah kenapa kalian seperti asyik sendiri seperti tak melihat kami " Martin protes.
“ Kau ini sudah besar tidak pantas jika seperti itu "
Mendengar ucapan daddy nya sontak membuat Martin menggerutu tak jelas. Linzy dan daddynya hanya tersenyum melihatnya.
Saat keduanya kembali ke kamar ada dokter yang memeriksa keadaan Linzy.
“ Bagaimana dok ? Apa aku sudah boleh pulang ?" tanya Linzy.
“ Tentu besok kau sudah boleh pulang bersama kakakmu " jawab dokter tersebut.
“ Oh iya Linzy , ini ada titipan surat untukmu " ujar dokter tersebut sambil menyerahkannya pada Linzy.
__ADS_1
“ Dari siapa ? " tanyanya.
“ Kau baca saja. Kalau begitu dokter permisi dulu ya. Selamat siang " ucap dokter itu.
Linzy dan Martin pun mengangguk.
Karena mereka berdua penasaran langsung saja Linzy membuka suratnya.
Dear Linzy
Hai Linzy bagaimana kabarmu ? Kuharap saat kau membacanya kau akan dalam keadaan baik - baik saja.
Zy , sebelumnya aku tahu jika kau tidak menyukaiku atau bahkan membenciku karena aku jahat padamu. Hahaha....
Maka dari itu aku menulis surat ini , untuk sedikit bercerita sesuatu padamu.
Aku bodoh telah membuatmu dan kakakmu terluka , padahal kalian tidak salah apapun. Selama kau dan kakakmu mengalami koma , daddymu melakukan tes DNA untuk membuktikan apakah aku anaknya atau bukan. Dan hasilnya..... Tentu saja negatif. Aku bukanlah anak dari daddymu. Aku seketika merasa malu dan bersalah pada dirimu dan keluargamu karena telah mengusik keluarga kalian.
Waktu itu aku tak sengaja mendengar bahwa kondisimu makin parah dan butuh donor jantung. Maka dari itu untuk menebus kesalahanku aku melakukan serangkaian pemeriksaan dan hasilnya jantung kita ada kecocokan Zy. Aku senang sekali rasanya. Maka aku putuskan untuk mendonorkan jantungku padamu. Anggap saja sebagai permintaan maafku. Walaupun memang kesalahanku tidak dapat dimaafkan. Hahaha...
Kau tahu saat kau membutuhkan donor jantung , daddymu sangat putus asa dan ia berniat mendonorkan jantung nya sendiri untukmu. Tapi itu tidak akan pernah terjadi. Aku tahu kau selalu ingin daddymu menyayangimu bukan ?
Aku tahu selama ini kau merasa sedih dan kesepian.
Ah... Sudahlah sampai disini saja ceritaku. Jika kau membaca ini itu artinya aku sudah tenang disana.
Oh iya. Semoga kau selalu bahagia dengan dokter Vernon. Kalian berdua sangat cocok ngomong - ngomong.
Sampaikan permintaan maafku pada kakakmu juga karena telah membuatnya mengalami kecelakaan.
Tolong ya Zy.....
Satu lagi jangan lupakan aku. Ingatlah aku disetiap detak jantung mu.
^^^Lionel Angelo S^^^
Linzy dan Martin serta semua orang yang ada disana hampir menangis membacanya. Mereka tidak menyangka Lionel akan melakukan itu untuk Linzy.
“ A - aku memaafkanmu Lionel. Terimakasih... Hiks... " batin Linzy terisak.
“ Kenapa ia nekat melakukannya ?" Andrew tak percaya. Padahal sepertinya anak itu sudah sembuh dan baik - baik saja. Namun takdir berkata lain.
4 tahun kemudian.....
Ya 4 tahun sudah peristiwa itu berlalu..... Kini Linzy dan Glory sudah berada di bangku kuliah. Linzy mengambil jurusan bisnis dan sastra. Ya ia mengambil dua jurusan di dua universitas yang bebeda.
Glory ?
Ia mengambil jurusan kedokteran... Sangat berbeda sekali. Pasalnya selama sekolah ia mengambil jurusan IPS.
Karena Linzy sangat pandai ia bisa menyelesaikan kuliahnya dalam jangka waktu 3 tahun saja.
Seperti saat ini , ia baru saja di wisuda di dua tempat yang berbeda.
“ Selamat ya anak daddy. Daddy bangga sekali padamu " ucap daddynya.
“ Terimakasih dad "
“ Selamat anak mommy. Akhirnya kau bisa selesai kuliah dengan nilai yang memuaskan " ucap mommy nya.
“ Selamat Zy. Setelah ini raihlah cita - citamu yang belum tercapai " ujar Martin.
“ Terimakasih Kak. Sayang kakak " ucap Linzy sembari memeluk sang kakak.
“ Mana kekasihmu ?" bisik Martin.
“ Aish... Benar juga ia belum datang sedari tadi. Apa ia lupa hari wisudaku ?" gerutu Linzy.
“ Sudah jangan cemberut. Kau jelek" ejek Martin.
“ Ish.... "
Tak lama kemudian Vernon datang membawa bucket bunga mawar putih besar dan berlutut sembari membawa cincin berhiaskan diamond.
“ Selamat atas wisudanya Linzy. And Will you marry me Eleonora Linzy Eclesia Richardson ?" ucap Vernon.
Linzy pun merasa terkejut sekaligus terharu.
“ Huaaaah..... Terima.... Terima.... Terima..... " sorak semua orang yang ada disana.
“ Yes , I will " jawab Linzy. Helena yang mendengar jawaban Linzy pun bersorak bahagia.
__ADS_1
“ Glad , akhirnya kita berbesan. Wah aku tak sabar akan menimang cucu" ujar Helena antusias.
“ Kau benar. Tapi kurasa aku yang akan mempunyai cucu lebih dulu. Benarkan Tasya ?" ujar Gladys pada Tasya sembari mengedipkan matanya.
“ Hehehe.... Iya " ujar Tasya cengengesan.
“ Mana bisa begitu mereka kan akan menikah ditanggal yang sama dan jam yang sama pula " Helena tidak terima.
“ Kau tak mengerti sifat seorang Martin Gerald ? Dia sama seperti daddynya. Dalam diamnya otaknya terkadang traveling hingga kemana - mana " jelas Gladys.
“ Oh astaga , tidak kusangka ia akan seperti itu , aku rasa Linzy juga akan mengalami hal demikian kau tahu bukan mereka lebih condong ke siapa?" ujar Helena menatap sinis suaminya. Dan ketiga wanita itupun tertawa bersamaan.
For your information.... Martin telah melamar Glory 3 minggu lalu sebelum Linzy wisuda.
Dan memang rencana para orangtua untuk menikahkan anak mereka secara bersamaan. Agar hemat waktu katanya.
“ Akhirnya... Mulai besok kalian berempat akan fitting baju , soal undangan , gedung dan lain - lain semuanya sudah kami yang atur " ucap Andrew.
“ A - APAA ?" ucap Martin , Glory , Linzy dan Vernon.
“ Benar kalian besok datang ke butik mommy ya ? Kami akan menunggu kalian datang. Tenang saja ada mommy , aunty Helena dan aunty Tasya disana " ucap Gladys.
“ Apa tidak terlalu cepat mom ?" tanya Vernon.
“ Halah , kau itu tak perlu seperti itu lihat nyatanya Martin biasa - biasa saja. Tak berlebihan sepertimu " sentak Helena.
Vernon memandang mommy nya dengan pandangan datar. Ia lalu berbisik pada Martin. “ Katakan padaku jika kau merasa tertekan" bisiknya.
“ Tidak. Karena aku sudah terbiasa" balas Martin.
Keesokan paginya mereka berempat menuju butik Gladys untuk fitting baju pengantin. Linzy dan Glory sedang mencoba gaun mereka. Model gaunnya hampir sama bagian punggungnya terbuka. Menurut para ibu , model gaun itu sangat sexy.
Itu gaun untuk resepsi , untuk pemberkatan dipilihlah gaun yang tertutup dan panjang namun nampak elegan.
Sontak kedua calon pengantin pria memprotes model gaun resepsi mereka.
“ Ganti saja aku tidak suka. Itu terlalu terbuka. Aku tidak mau asetku dilihat oleh orang lain " kata Martin datar.
“ Aku setuju , apa tidak ada model pakaian yang lain " usul Vernon.
“ Hey boy itu sudah bagus. Kalian saja yang tidak tahu dunia fashion" sungut Helena.
“ Kalau begitu , aunty saja yang menikah. Inikan pernikahanku dan Glory. Tentu saja aku juga berhak menentukan gaun untuk calon istriku" Martin berucap sarkas. Helena melotot tak percaya sementara Gladys dan Tasya menggaruk tengkuk mereka yang tak gatal.
“ Kau.... Kau.... Ahh... Sudahlah kalian para kaum pria sama saja " sungut Helena.
“ Mom , aku tak ingin Linzy ditatap dengan tatapan lapar oleh pria hidung belang yang akan menjadi tamu kita nanti. Harusnya kalian mengerti. Ayolah... Kalian seperti tidak pernah menikah saja " Vernon mengutarakan pendapatnya.
“ Ahh... Oke.. Oke bagaimana jika gaunnya bertema princess atau barbie saja , gaunnya tertutup namun mengembang. Kalian setuju? " usul Gladys.
“ Deal "
“ Untuk warna biar aku yang pilihkan aku yakin kalian pasti akan menyukainya" usul Tasya.
“ Baiklah itu akan lebih cepat " ujar Martin.
Mereka menghabiskan waktu hampir 3 jam hanya untuk fitting dan akhirnya urusan fitting mereka sudah selesai para calon pengantin pria juga sudah mendapatkan tuxedo mereka.
Saat ini para keluarga sedang berkumpul di rumah keluarga Richardson.
“ Tadi , bagaimana fitting bajunya?" Darren membuka percakapan.
“ Melelahkan. Andrew putramu selalu menentang usulku , dia sama menyebalkannya sepertimu" adu Helena pada Andrew. Andrew hanya terkekeh mendengar aduan Helena.
Felix dan Darren hanya menggelengkan kepalanya.
“ Tapi semuanya dapat kan ?" tanya Felix.
“ Tentu saja pa " jawab Martin.
“ Karena sebentar lagi kalian akan menikah jadi , mulai besok kalian dipingit ya ?" usul Tasya.
“ No " ucap Martin dan Vernon.
“ Ma... Ini sudah jaman modern ma tak perlu memakai acara dipingit. Lagipula tak perlu dipingit pun Linzy dan Glory memang sudah cantik " ucap Martin.
“ Benar aunty. Kita akan menerima calon istri kita apa adanya " jelas Vernon.
“ Sudahlah benar kata mereka tak perlu ada acara seperti itu. Kalian ini. Sudahlah kalian istirahat saja " ucap Felix.
Lalu mereka semua mulai beristirahat di kamar masing - masing.
__ADS_1
Author POV End