
Vernon POV
“ Apa separah itu kondisinya separah itu Vernon ?" kata - kata kak Martin masih terngiang dipikiranku. Jujur aku sudah melihat catatan rekam medis Linzy dan yah menurutku kondisinya makin hari makin memprihatinkan. Maka dari itu aku tak mampu menjawabnya , aku tak bisa melihat kesedihan di wajah Glory dan kak Martin.
Aku merasa kasihan pada Linzy yang ia butuhkan hanyalah dukungan disekitarnya. Namun selama ini orang terdekatnya hanya sibuk dengan urusan masing - masing. Hanya Glory yang setia disampingnya.
Sampai saat ini pun ia belum siuman dari pingsannya sesungguhnya aku juga merasa khawatir.
“ Sampai kapan kau akan tertidur Linzy. Aku merindukanmu "
Aku hanya mampu menatap langit dari balik jendela ruang UGD , entah mengapa aku merasa sangat hampa.
Disaat aku sedang melamun tiba - tiba pintu UGD terbuka menampakkan dokter Lucianno disana.
“ Vernon , kau masih berada disini ?" tanyanya padaku. Aku hanya menganggukkan kepala singkat.
“ Sabarlah , mungkin kekasihmu akan sadar sebentar lagi " sambungnya.
“ A - apa dokter tahu ?" tanyaku.
“ Dari awal saat pertama kulihat kau menatap matanya seperti ada sesuatu yang tersirat Vernon dan aku bisa melihat itu " jelasnya. Ya ampun aku malu sekali.
Dokter Lucianno hanya terkekeh melihatku “ well , tak perlu terkejut darimana aku bisa mengetahuinya Vernon. Aku juga pernah merasakan yang namanya jatuh cinta " kekehnya.
Ahh... Sepertinya dia benar semua orang pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Semua orang kecuali aku. Bahkan Linzy menjadi yang pertama untukku.
“ Apa ini pengalaman pertamamu Vernon? "
Aku mengangguk lagi.
“ Ahh... Ternyata tebakanku benar tak apa kau tak perlu sungkan , aku juga pernah mengalami yang namanya jatuh cinta. Aku juga pernah muda" senyumnya padaku.
“ Apa aku terlalu kelihatan ?" tanyaku.
“ Ya , kau sangat terlihat Vernon untuk seseorang yang pertama kali jatuh cinta aku begitu terkejut tapi aku merasa senang karena pada akhirnya kau mau mengenal dan merasakan cinta" ujarnya.
Ya kalau dipikir - pikir ada benarnya juga , ini pengalaman pertamaku , seringkali dokter Lucianno membujukku untuk mempunyai kekasih. Karena bagaimanapun secara usia aku sudah cukup matang tapi aku belum menemukan yang cocok dan aku tak terlalu tertarik soal itu.
Aku hanya fokus ke karier ku saja selama ini sampai - sampai aku tak menyadarinya bahwa aku juga harus mempunyai pasangan.
Saat aku sedang larut dalam pikiranku tiba - tiba saja aku dikejutkan dengan suara dokter Lucianno.
“ Hai nak , kau syukurlah kau sudah sadar rupanya. Aku ikut senang akhirnya kau sadar. Apa yang kau rasakan saat ini? " tanya dokter Lucianno.
“ Aku merasa pusing dok dan aku tadi sempat kesulitan bernafas dadaku terasa sakit" jelasnya pada kami.
“ Kau kesulitan bernafas?" tanya dokter Lucianno memastikan. Ia mengangguk.
“ Ya nanti coba kita periksa dengan dokter yang ahli dibidangnya , aku akan merujukmu ke bagian jantung ya " ucap dokter Lucianno lembut. Well memang Linzy tidak bisa dibentak hatinya rapuh.
“ Dokter , bolehkah aku bertanya?" Linzy tiba - tiba buka suara.
__ADS_1
“ Tentu. Apa yang ingin kau tanyakan ?" dokter Lucianno membalas.
“ Sebenarnya Linzy itu sakit apa , jika hanya ya anemia kenapa separah ini " ucap Linzy sendu.
Kulihat dokter Lucianno menghela nafas dan mengusap wajahnya kasar. Sepertinya ia merasa kesal.
“ Linzy sayang , aku akan memberitahumu tapi sebelumnya aku ajukan syarat untukmu " kata dokter Lucianno.
“ Apa itu dokter ?" tanyanya penasaran.
“ Berjanjilah pada dokter jika kau tak akan merasa terpuruk , berjanjilah kau akan tetap tersenyum apapun kondisimu , dan berjanjilah kau harus tetap semangat jalani hidupmu " ucapnya.
Aku salut dengan dokter Lucianno dalam menghadapi Linzy yang cenderung mudah down.
Linzy terdiam ia tampak menimang sebentar dengan syarat yang diajukan dokter Lucianno. Sampai akhirnya ia mengangguk.
“ Baiklah aku berjanji dokter "
Dokter Lucianno menghela nafasnya ia seperti mengambil ancang - ancang dalam memilih kosakata supaya tidak membuat Linzy merasa shock.
“ Hmm... Linzy... Sebelumnya saya minta maaf sekali yang sebesar - besarnya padamu. Tapi saya juga yakin dan percaya bahwa kamu itu adalah gadis yang kuat , yang ceria dan juga gadis yang mempunyai gadis yang lapang juga hebat " Linzy matanya sudah berkaca - kaca aku mendekatinya dan menepuk pundaknya berusaha menguatkannya.
Sementara itu Glory dan kak Martin hanya terdiam dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Terutama kak Martin ia menatap dengan pandangan kosong.
“ Apa kak Martin tahu tentang kondisi kesehatanku dok ?" tanya Linzy.
“ I don't know " jawab dokter Lucianno singkat.
“ Baiklah. Sebenarnya penyakitmu itu adalah meningitis dan autoimun serta anemia selain itu mungkin ada dugaan baru tapi tunggu kita belum melakukan pemeriksaan lebih lanjut " jelas dokter Lucianno. Bisa kurasakan bahwa tubuh Linzy menegang sekarang. Aku berusaha menenangkannya.
“ Baiklah untuk sementara kau dipindahkan ke ruang rawat inap terlebih dahulu ya " ujar dokter Lucianno seraya tersenyum , aku tahu beliau juga tidak tega melihat Linzy bersedih.
Sedangkan bisa kulihat Glory yang berada di pojok ruangan wajahnya sudah memerah menahan tangis sementara kak Martin ? Ya dia tak bisa bereaksi apa - apa hanya diam bak mayat hidup.
Selepasnya dokter Lucianno keluar terlebih dahulu diikuti oleh sang perawat lainnya.
Kak Martin buru - buru keluar menyusul dokter Lucianno , sepertinya ada sesuatu yang ingin dibicarakan.
Vernon POV End
Martin POV
Aku mengikuti dokter Lucianno yang keluar dari UGD.
“ Dokter Luc tunggu !! " teriakku padanya , dokter Lucianno yang mendengar segera menghentikan langkahnya dan menoleh kearahku.
“ Ada yang ingin aku tanyakan dokter " kataku.
“ Silahkan " jawabnya singkat.
“ Apa kondisi adikku memang separah itu dok ? Apa ia bisa sembuh? " tanyaku meminta penjelasan.
__ADS_1
Dokter Lucianno hanya tersenyum kearahku.
“ Tidak mungkin jika seorang dokter berbohong jika mengenai kondisi pasien bukan ? Dan untuk kesembuhannya kami sedang sama - sama berusaha. Aku juga sangat berharap sama supaya gadis manis itu dapat sembuh " jelasnya. Aku hanya menunduk pasrah.
“ Aku mohon dokter sembuhkanlah Linzy " pintaku padanya.
“ Tentu. Karena memang itulah kewajibanku sebagai seorang dokter , mohon dukungan doanya untuk kami dan adikmu " lanjutnya.
“ Tentu dokter " jawabku. Aku berharap semoga adikku tidak separah apa yang aku bayangkan. Aku ingin dia sembuh.
Martin POV End
Lagi - lagi aku terbaring di brankar ini setelah aku merasakan pusing dan sedikit kesulitan bernafas kemudian berakhir tak sadarkan diri dan akhirnya aku ada disini.
Aku tak menyangka bahwa ternyata penyakitku termasuk penyakit serius dan kemungkinan ada penyakit lainnya yang belum diketahui.
Oh Tuhan aku merasa lelah dengan ini semua. Kapan ini semua akan berakhir ?
Kalau boleh jujur aku merasa sangat shock setelah mendengarkan penjelasan dokter Lucianno. Jujur aku merasa kecewa dengam mereka , kenapa mereka tidak berkata jujur padaku. Ini artinya mommy , daddy serta kak Martin sudah mengetahuinya sejak lama. Tapi kenapa mereka tak mau jujur padaku.
Duniaku terasa runtuh seketika. Lalu apa artinya aku dalam keluarga selama ini? Aku kira hanya mommy yang peduli namun ternyata sama saja dengan yang lain.
“ Linzy " panggil Glory , sejenak aku menoleh kearahnya.
“ Kau ba— "
“ Apa kau juga mengetahuinya selama ini Glory? " tiba - tiba aku memotong ucapan Glory.
“ Uh... Itu aku " ucap Glory gugup seolah menutupi sesuatu.
“ JAWAB GLO !!!!!!!" Bentakku padanya , Glory nampak terkejut.
“ Linzy aku , pu— "
“ Jika kau mengetahuinya , lalu mengapa kau merahasiakannya padaku , Huh ? Lalu kau menganggap aku apa selama ini ?"
Glory menatapku dengan berkaca - kaca dan wajah yang memerah.
“ Bukankah seorang sahabat seharusnya berkata jujur pada sahabatnya , tak ada yang ditutup - tutupi , huh ?" lanjutku.
“ Zy "
“ Aku kecewa padamu Glo , jujur aku merasa terkhianati olehmu "
“ Hiks... Hiks... "
“ Mulai sekarang kita bukan sahabat lagi Glo. Aku sangat kecewa padamu " putusku.
“ Apa ??? Linzy tidak Linzy dengarkan aku , kita masih sahabat Zy. Hiks.... Hiks.... " isak Glory.
“ Pergilah Glo kumohon , aku tidak akan mengulang ucapanku. Kuharap kau mengerti" titahku telak.
__ADS_1
“ Zy " panggilnya lemah. Namun tak kuhiraukan.