
Author POV
Glory keluar dari ruangan UGD dimana Linzy dirawat dengan berlinang airmata. Ia merasa sedih dan terpukul saat Linzy marah kepadanya terlebih lagi sampai Linzy memutuskan ikatan persahabatan mereka yang terjalin selama ini.
Glory berlari kearah taman berniat menenangkan diri , disana ada bangku taman dan Glory mendudukan dirinya di bangku tersebut sambil terisak.
“ Hiks... A - aku tak bermaksud seperti itu Linzy " racaunya.
( Dokter Vernon sudah keluar dari ruang UGD saat Linzy dan Glory sedang bersitegang )
Disisi lain dokter Vernon sedang berjalan disepanjang koridor rumah sakit tiba - tiba atensinya teralihkan pada gadis yang duduk sendirian di bangku taman sambil terisak. Segera saja ia beranjak mendekati gadis tersebut.
“ Glory " panggilnya hati - hati.
“ Dokter ? " jawabnya ketika Glory mendongakkan kepalanya saat ada suara yang memanggilnya.
Vernon duduk tepat disebelah Glory ia sempat terkejut karena Glory sedang menangis.
“ Glory , ada apa denganmu ? Kenapa kau menangis ? Dan dimana kak Martin ?" tanyanya bertubi - tubi.
Glory menangis sesenggukan dan berusaha menenangkan dirinya sendiri sambil menjelaskan ke dokter Vernon mengenai apa yang sudah terjadi.
“ Dokter apa selama ini yang aku lakukan itu salah ?" tanya Glory tiba - tiba. Membuat Vernon bingung.
“ Apa ? Apa maksudmu kenapa tiba - tiba kau bicara seperti itu Glo ?" tanya Vernon tak mengerti.
“ Apa aku salah jika selama ini aku bungkam pada Linzy tentang kondisi kesehatannya ?" tanya Glory lagi.
“ Jika kau melakukannya demi kebaikan Linzy , menurutku tidak" jawab Vernon.
Glory hanya terdiam dengan pandangan kosong. Seketika Vernon angkat bicara.
“ Apa Linzy sudah mengetahui sakit yang dideritanya ? Apa dia menyalahkanmu ? " tebak Vernon.
“ Bagaimana dokter bisa tahu ?" heran Glory.
“ Cukup mudah. Karena kalian telah lama saling mengenal. Terlebih lagi kalian bersahabat , jadi aku tahu apa dan bagaimana perasaan Linzy ketika dia tahu kau menyembunyikan ini darinya, tapi disatu sisi aku juga paham perasaanmu , kau sengaja bungkam karena kau tak ingin melihat Linzy bersedih dan terpuruk" jelasnya pada Glory.
Glory kembali menangis sesenggukan.
“ Dia marah padaku dokter... Bahkan lebih buruknya dia memutuskan persahabatan kami " adunya pada Vernon.
Vernon hanya mengusap surai Glory memberikan ketenangan.
__ADS_1
“ Dia tidak bisa berpikir jernih sekarang Glory. Pikirannya sedang kacau , dia hanya butuh waktu. Aku yakin persahabatan kalian tidak mungkin berakhir begitu saja " jelasnya.
Glory hanya termenung mendengarkan penjelasan Vernon.
“ Glo , terkadang dalam hidup ataupun dalam sebuah hubungan tidak hanya berisikan kisah bahagia saja namun juga ada kalanya ada kisah sedih juga. Hidup memang seperti itu bukan ? Ada suka dan duka"
Glory terdiam.
“ Sekarang tenanglah , hapus airmatamu biar aku yang bicara pada kekasihku dan memberinya pengertian agar kesalahpahaman ini berakhir " ucap Vernon sembari menepuk pundak Glory dan meninggalkannya.
“ Thank you dokter " ucap Glory sembari menatap punggung dokter Vernon yang semakin lama semakin menjauh.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
“ Hai sayang bangunlah aku tahu kamu tidak tidur saat ini " ucap Vernon sambil tersenyum.
Linzy hanya menatap Vernon dengan pandangan datar , dan Vernon dapat merasakan jika sebentar lagi gadis kecilnya tersebut akan marah juga padanya.
“ Hey tenanglah. Aku tahu kau hatimu sedang tidak baik saat ini , aku tahu pasti ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan " ucap Vernon.
Linzy hanya bungkam seribu bahasa ia menunggu Vernon melanjutkan perkataannya.
“ Jika yang kau tanyakan tentang apakah aku mengetahui kondisi kesehatanmu , maka aku dengan jujur akan menjawab iya. Dan jika kau tanya kenapa aku tak memberitahumu jawabannya adalah karena aku memiliki beberapa alasan " jelas Vernon.
Linzy masih terdiam tapi kemudian angkat suara “ Apa itu ?"
“ Pertama karena ini demi kebaikanmu sayang. Kedua aku dan yang lainnya tidak ingin membuat kau bersedih. Ketiga karena emosimu yang labil kami takut kau tidak bisa menerimanya , tidak bisa menerima kondisi kesehatanmu hingga pada akhirnya kau akan merasa depresi dan akhirnya akan drop. Sampai sini paham ?" jelas Vernon panjang lebar.
__ADS_1
Linzy yang mendengar penjelasan panjang kekasihnya hanya merenung.
“ Zy terkadang berbohong demi kebaikan tidak sepenuhnya salah. Mereka sengaja berbohong , mereka sengaja bungkam , mereka sengaja berpura - pura tidak tahu apapun karena mereka tidak ingin melihat kau bersedih dan merasa terpuruk. Jika boleh jujur bagaimana perasaan mereka kala mengetahui kondisi kesehatanmu , jawabannya tentu mereka bersedih sayang. Hanya saja mereka berusaha menutupi kesedihan mereka saat bersamamu , agar kau selalu tersenyum " jelas Vernon.
Linzy menangis bahunya bergetar dan airmatanya lolos begitu saja dari mata indahnya.
Vernon segera berada disamping Linzy dan memeluknya memberikan rasa tenang dan nyaman.
“Itu semua percuma toh daddy juga tidak akan peduli akan keadaanku " ucap Linzy dengan sendu. Ya dia masih memikirkan perilaku sang daddy terhadapnya yang terkesan tidak peduli dengan dirinya.
“ Aku percaya daddymu juga menyayangimu Linzy hanya saja mungkin sedikit berbeda bagaimana cara beliau menunjukkan kasih sayang padamu" terang Vernon supaya membuat Linzy merasa optimis.
2 minggu kemudian.......
Linzy telah kembali dari rumah sakit dan yah selama 2 minggu berada disana Linzy juga melakukan beberapa pemeriksaan terkait rasa sakit yang dikeluhkan belum lama ini dan hasilnya adalah Linzy didiagnosa memiliki lemah jantung. Awalnya Linzy merasa tidak percaya namun ia berusaha kuat beruntung ada Vernon disampingnya.
Saat ini ia sedang berkutat dengan laptop dan buku pelajarannya mengingat ia sudah tertinggal pelajaran selama 2 minggu lamanya , ia berusaha mengejar ketertinggalan tersebut dan tentu saja ia masih melanjutkan menulis novel pertamanya tinggal beberapa chapter lagi akan selesai , karena ia mengerjakannya dengan cepat.
Ketika ia sedang serius dengan tumpukkan bukunya tiba - tiba ia mendengar suara pintu diketuk.
“ Masuklah... " katanya dan tak lama tampaklah seseorang dibalik pintu tersebut.
“ Eoh.. Kak Martin , ada apa?" tanyanya. Martin hanya diam dan menggeleng.
“ Tidak ada aku hanya sedang ingin melihat apa yang sedang dikerjakan oleh adikku yang cantik ini " jawab Martin lembut.
“ Aku hanya sedang belajar dan mengerjakan tugas , kurasa sebentar lagi selesai kak" jawabnya.
Martin hanya mengangguk pelan dan tersenyum sambil mengawasi adiknya.
“ Ingatlah kau jangan sampai terlalu lelah , sebentar lagi kita akan makan malam bersama dengan tamu spesial " jelas sang kakak.
“ Eung...? Siapa yang akan bertamu ke rumah kita kak ? "
“ Kakak sendiri tidak tahu sayang " balas Martin.
“ Eum.. Kak soal Glory aku ingin minta maaf telah membentaknya dan memarahinya waktu itu. Aku menyesal " ujar Linzy dengan sendu.
“ Tak apa baby , aku yakin pasti Glory akan mengerti keadaanmu kau hanya sedang kalut saat itu. Aku yakin pasti Glory sudah memaafkan dirimu "
Linzy hanya terdiam , ia menyesal telah bicara kasar terhadap Glory hingga hubungsnnya menjadi renggang sekarang. Sungguh ia tak ada maksud apapun membuat Glory sakit hati , ia merasa ia sangat egois.
“ Segeralah minum obat jika sudah selesai , karena kakak tahu kau belum meminumnya setelah itu bersihkan dirimu. Jika sudah selesai turun kebawah sayang " titah Martin.
__ADS_1
“ Baiklah " jawab Linzy lalu segera membereskan tempat tidurnya dan bergegas membersihkan diri untuk bergabung dibawah.
Author POV End