
Tak terasa sekarang usia kandunganku sudah memasuki bulan kesembilan itu artinya beberapa hari lagi aku akan melahirkan buah cinta pertamaku dengan suami tersayang.
Rasanya sungguh tidak dapat diungkapkan dengan kata - kata , terlebih saat ku menoleh kebelakang pada saat kandunganku memasuki trimester pertama dan kedua. Aku merasa seperti bukan diriku yang selalu berusaha mencoba untuk mandiri , tetapi malahan aku merepotkan suamiku dengan hal yang tak masuk akal. Untung saja suamiku mengerti jika aku dalam masa kehamilan dan sering kali mengalami mood swing jadi ia selalu sabar untuk itu meski kadang ia merasa lelah dan ingin menumpahkan kekesalannya namun ia berhasil menahan itu semua , dan itu membuatku salut.
Tapi saat ini aku yang merasa kesulitan dalam posisi tidur ya kalian pasti tahu lah apalagi jika seorang ibu pasti sudah merasakan betapa tidak nyamannya tidur dengan perut yang mengganjal belum lagi jika sewaktu - waktu mengalami kontraksi. Itu sangat menyakitkan.
Namun begitu aku tetap merasa bahagia dan merasa bangga karena akhirnya aku dapat merasakan apa yang seorang ibu rasakan ketika mengandung.
Saat ini hanya ada aku , mommy dan beberapa maid di rumah suamiku pergi bekerja pastinya , daddy ? Daddy sedang berada di luar negeri untuk urusan bisnis saat ini.
Ahh.. Tapi tenang walaupun mereka semua sedang sibuk tapi ada Verren yang bersedia menjagaku selama 2 super hero ku tak ada di rumah.
Ya , ia mengawasiku karena kandunganku yang sudah amat besar dan hanya tinggal menunggu waktu saja. Bak suami siaga pada istrinya padahal belum menikah , punya kekasih atau tidak akupun juga tak tahu.
Seperti saat ini aku sedang di ruang keluarga bersama dengan ipar favoritku , siapa lagi jika bukan Verren kami sedang menonton kartun si kotak kuning kecil yang tinggal dibawah laut.
“ Astaga Zy , kau itu hampir menjadi ibu tapi kenapa masih menonton spongebob ?" Verren sepertinya sudah mulai jengah.
“ Apa masalahmu adik iparku ?" jawabku.
“ Ya tidak ada sih tapi ini terlalu kekanakkan bukan ?" jawabnya lagi.
“ Hey , ini kemauan baby kau tahu ?" jawabku sewot.
Memangnya kenapa sih ? Ada gitu larangan orang dewasa menonton kartun , tidak kan ?
“ Terserah bumil deh. Aku bisa apa?"
Suasana kembali hening. Kami menonton kartun dengan khidmat ah tidak , lebih tepatnya hanya aku saja karena Verren sepertinya tidak minat.
“ Kapan kau menyelesaikan buku keduamu ?" tanya Verren padaku. Ya walaupun aku sedang dalam kondisi mengandung tapi kegiatan menulis novel tetap berjalan.
“ Sudah selesai sih , rencananya aku hendak menghubungimu tapi berhubung aku sering lupa jadi ya seperti itu lah " jawabku padanya.
“ Semenjak hamil dirimu menjadi pelupa ya ?" sindirnya halus dan aku hanya menunjukkan cengiranku padanya.
“ Berikan laptopmu , biar aku melihatnya bu " lanjutnya kemudian.
“ Kau pikir aku ibumu ? Sana ambil di ruang kerjaku " perintahku padanya tak lupa dengan sebuah dengusan dariku. Seenaknya saja dia memanggilku ibu.
Ia segera beranjak dari sofa dan menuju ruang kerjaku guna mengambil laptop. Tak lama kemudian ia keluar kembali membawa laptop ku.
Setelah menyalakannya ia segera membuka dokumen novel ku untuk memeriksanya.
“ Tak kusangka kau berbakat juga dalam menulis , bahkan ini lebih bagus dari novel pertamamu. Kau membuat novel komedi ? " sepertinya dia antusias. Baguslah aku bersyukur untuk itu.
“ Ya sebernarnya itu dalam tahap masa percobaan , karena aku baru pertama kali membuatnya dan itu cukup sulit " jelasku.
“ Hmm.. Tapi unsur komedinya cukup ringan dan mudah dimengerti oleh pembaca " katanya.
“ Terimakasih atas penilaianmu , adik ipar " jawabku.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Saat sedang bersantai tiba - tiba saja perutku merasa mulas dan terasa sangat sakit. Jangan - jangan ini sudah waktunya. Aku yang tak kuat menahan sakit memanggil Verren dengan berteriak dan merintih.
“AKH... AKH... VERREN TOLONG PERUTKU SAKIT SEKALI !!!! " teriakku menggema di seluruh penjuru ruangan ( mungkin ).
Verren yang mendengar teriakkanku langsung berlari dengan tergopoh - gopoh begitupun dengan mommy.
“ Astaga Zy , apakah ini sudah waktunya ?" Verren bertanya dengan panik.
“ Nak. Kau sudah akan melahirkan ? Verren tolong gendong Linzy dan bawa ke mobilmu , aunty akan mengambilkan tas berisi perlengkapan melahirkan " suruh mommyku pada Verren.
“ A - ah... Baik Aunty " Verren segera menggendongku ala bridal ke dalam mobil aku diletakkan di jok penumpang dibelakang.
Mommy segera berlari menuju mobil Verren dan menemaniku dibelakang sementara Verren berada di kursi kemudi.
“ AKH... MOM SA - SAKIT MOMMY" teriakku.
“ Sabar sayang... Sebentar lagi akan sampai tarik nafas , hembuskan. Verren bisakah lebih cepat nak. Jika perlu serobot saja saat lampu merah. Nanti biar Aunty yang bicara apabila polisi menghentikan kita " ujar mommyku.
“ Ahh.. b - baiklah Aunty" jawab Verren dengan wajah yang terlihat panik. Aku merasa dia menambah kecepatan mobilnya sembari membunyikan klakson mobil , agar mobil lain memberi jalan untuk kami.
__ADS_1
Dengan begitu kami bisa ke rumah sakit lebih cepat. Tak butuh waktu lama kami sampai di rumah sakit. Verren keluar dari mobil dengan terburu-buru dan membukakan pintu belakang mobil dan segera menggendongku ala bridal ke dalam UGD.
“ Suster , dokter tolong ada yang mau melahirkan " teriaknya panik.
Sang dokter dan suster langsung menghampiri dengan membawa brankar.
“ Bapak tenang yah. Kami akan segera mempersiapkan persalinan untuk beliau. Jangan panik saya permisi " kata dokter tersebut.
Sesungguhya aku sudah tidak kuat aku ingin suamiku mendampingiku saat persalinan berlangsung. Tolong bantu mommy bertahan nak.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author POV
Saat ini pikiran mereka sedang kalut. Saat mereka sedang fokus dengan pikiran mereka masing - masing , tiba - tiba dokter Lucianno menghampiri mereka.
“ Glad , Verren mengapa kalian ada disini? Kalian sedang apa?" tanya Lucianno.
“ Ahh.. Dokter Luc , tolong hubungi Vernon , istrinya akan melahirkan sebentar lagi " jelas Gladys.
“ O - oh astaga baiklah aku akan menghubungi Vernon " dokter Luc segera mendial nomor Vernon.
Beberapa menit kemudian.....
Vernon sudah tiba di ruang tunggu persalinan.
“ Ma... Bagaimana keadaan Linzy ?" tanya Vernon pada ibu mertuanya.
Saat Vernon bertanya demikian dokter yang menangani Linzy keluar. “ Dengan suami Nona Linzy" tanya dokter tersebut.
“ Ahh... Louisa aku suami Linzy. Bagaimana dengannya ? Apa dia baik - baik saja?" tanya Vernon khawatir.
“ Ah.. Vernon. Linzy istrimu saat ini sudah pembukaan ke - 10 ayo cepat Linzy membutuhkan dukunganmu Vernon " jelas dokter.
Vernon segera berganti pakaian yang steril dan masuk kedalam ruang persalinan. Tampak disana Linzy yang merintih menahan sakitnya.
“ Sayang... Yang kuat yah.. Tahan sebentar aku disampungmu " Vernon membisikkan kata - kata yang menguatkan Linzy.
“ Sakit kak ugh...."
“ Oke Ibu Linzy persalinan akan dimulai ikuti aba-aba saya ya " dokter tersebut memberikan instruksi.
“ Tarik napas.... Keluarkan... Tarik napas.... Keluarkan.... Tarik napas... Dan sekarang mengejan bu" instruksi dokter lagi.
Linzy mengejan dengan kuat. Sekuat tenaga yang ia bisa.
“ Ya bu kepalanya sudah terlihat bu , ayo dorong terus bu lebih kuat lagi " ucap dokter tersebut.
“ Ayo sayang kau pasti bisa demi anak kita " Vernon menyemangati istrinya.
Linzy mengejan dengan sekuat tenaga dan tak lama tangisan pertama terdengar.
Oeeek... Oekkk....
“ Selamat bu bayinya telah lahir laki - laki puji Tuhan sehat dan tampan seperti ayahnya"
Namun tak lama Linzy perut Linzy terasa mulas seperti hendak mengeluarkan sesuatu.
“ AKHH....SAKIT KAK UGH...." teriak Linzy.
__ADS_1
“ Louisa ada apa ?" tanya Vernon panik.
“ Astaga , ternyata masih ada bayi lagi. Ayo mengejan sekali lagi.. Tarik napas.... Keluarkan... Tarik napas lagi dan mengejan " perintah Louisa.
Linzy mengejan sekali lagi hingga tak lama kemudian tangisan bayi kedua terdengar.
“ Puji Tuhan... Anakmu perempuan Vernon , lahir dengan sehat dan selamat. Cantik mirip ibunya" puji Louisa.
Linzy dan Vernon menangis haru. “Sayang , terimakasih atas perjuanganmu untuk buah hati kita" ucap Vernon seraya mencium kening Linzy.
“ Sementara bayinya akan dibersihkan lebih dahulu ya dan Linzy harus menjalani operasi penjahitan seusai melahirkan. Untukmu Vernon , sebagai seorang ayah yang baik kau harus siapkan nama untuk kedua malaikat kecilmu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Saat ini Linzy sudah dipindahkan ke ruang inap. Setelah melahirkan bayi kembarnya. Namun keadaan ruang rawat inap sedang lengang karena pada malam harinya ia mendapatkan kabar jika Glory tengah melahirkan.
“ Sayang , apa kondisi Glory baik - baik saja ? Bagaimana dengan bayinya ?"
“ Hufft... Syukurlah anak mereka sama seperti kita laki - laki dan perempuan. Mereka kembar juga sayang "
“ Ahh... Benarkah Puji Tuhan "
“ Ruang rawatnya dijadikan satu saja ya agar keluarga kita tidak perlu repot "
Linzy hanya mengangguk menyetujui ucapannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Saat ini kamar inap milik Linzy dan Glory sangat ramai banyak sanak keluarga yang membesuk dan menyambut kehadiran keluarga baru mereka.
“ Astaga lihatlah mereka lucu sekali " gemas Helena.
“ Kau lihat putra Martin , sangat mirip dengan papinya " ujar Anastasia.
Andrew sudah kembali dari perjalanan bisnisnya. Ia sangat bersukacita begitu mendapatkan kabar mempunyai 4 cucu sekaligus.
“ Siapa nama anak kalian ?" tanya Andrew.
“ Anak siapa?" tanya Martin.
“ Dimulai dari anakmu "
“ Brian Orlando Eclesia Richardson & Irene Raviolla Eclesia Richardson"
“ Irene & Brian ?" tanya Gladys. Pasangan suami - istri yang ditanya mengangguk.
“Bagaimana denganmu Linzy - Vernon ?"
“ Lionel Kaizel Giorgo Eclesia Stewart & Guinevere Carla Trixie Eclesia Stewart"
“ Ahh... Kaizel dan Carla right ?" tegas Darren.
“ Welcome to the world Kaizel - Carla - Irene - Brian " ucap mereka semua.
__ADS_1