
Author POV
Beberapa minggu kemudian......
Sesuai dengan janji dan kesepakatan mereka , Verren dan beberapa orang lainnya mulai menjalankan rencana mereka hari ini.
Ya hari ini Andrew dan Verren akan mendatangi sekolah Linzy dan Glory terkait pemasangan kamera tersembunyi.
Dan jangan khawatirkan soal denah ruangan sekolahnya. Verren sudah mendapatkan denahnya dari Glory dan Vernon.
Andrew saat ini sedang berada di ruang kepala sekolah sedang berbincang dengan kepala sekolah sekaligus meminta izin. Beruntunglah pihak sekolah memyetujuinya dan bersedia membantu penyelidikan tersebut.
“ Untuk barang bukti kami serahkan kepada pihak sekolah lagi ibu , supaya sekolah juga memiliki bukti kuat jika suatu saat sekolah ini akan menjadi saksi atas kasus ini" jelas Andrew.
“ Tentu pak. Terimakasih telah mempercayakan pada kami , kami akan membantu mengusut kasus ini semaksimal mungkin " jawab kepala sekolah tersebut.
“ Kalau begitu saya izin pamit bu , terimakasih atas kerjasamanya , saya permisi. Selamat siang " Andrew izin undur diri.
“ Sama - sama pak Andrew , terimakasih kembali , selamat siang " ucap kepala sekolah ramah.
Andrew sudah keluar dari ruangan kepala sekolah tersebut , segera saja ia menghubungi Verren.
“ Bersiaplah 2 jam kedepan mulai dari sekarang. Aku sudah selesai " ucapnya di telepon.
“ Siap 86 komandan ! " jawabnya dari seberang telepon. Andrew mulai meninggalkan pekarangan sekolah.
2 jam kemudian.............
Verren sudah sampai di sekolah Glory dan Linzy dengan seragam teknisi IT untuk menyempurnakan penyamarannya. Kini ia sedang berada di ruangan yang biasanya sering dikunjungi oleh Linzy setelah tadi meminta izin pada kepala sekolah dan beberapa guru lainnya yang ada disana. Tentu saja ia memperkenalkan dirinya sebagai teknisi IT yang dihubungi dan disewa bapak Andrew dengan alasan adanya perawatan cctv sekolah. Beruntungnya itu disambut baik oleh beberapa guru dan karyawan lainnya.
Setelah menghabiskan waktu hampir 2 jam lebih akhirnya pekerjaannya sudah selesai dan beres. Dengan segera ia memberitahu pihak sekolah dan pamit undur diri. Setelahnya ia menghubungi Vernon , Glory dan Martin melalui video call.
“ Hai guys. Aku sudah selesai " katanya.
“ Kerja bagus Verren " ujar Martin.
“ Oke , kalau begitu tinggal tunggu aktingmu saja Vernon " ujar Martin kembali.
“ Hmm... Baiklah kebetulan kalungnya sudah diserahkan oleh Verren padaku tadi " jawab Vernon.
“ Jangan lupa melakukannya harus dengan romantis dan penuh penghayatan kkkk....." kekeh Verren.
Semua yang mendengar celotehan Verren hanya terkekeh ada juga yang tersenyum.
“ Anggap saja ini simulasi latihan melamar Linzy dokter haha " ujar Glory dengan tertawa keras.
“ Aku setuju " sambung Verren.
“ Aish... Kalian ini selalu seperti itu" gerutu Vernon kemudian ia memutuskan sambungannya.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Linzy masih bekerja keras dalam menulis novelnya ia bersungguh - sungguh kali ini , untungnya ia sangat menyukai hal yang berbau sastra dan ia sangat menyukai membuat karangan.
“ Huh.... Aku harus berusaha aku harus mengubah takdir dan nasibku dengan jalan ini , supaya aku tidak diremehkan lagi " tekad Linzy.
Ya saat ini ia sedang berada di taman belakang sekolah sedang duduk di bangku sembari memangku laptopnya.
“ Sedang apa kau ?" tanya seseorang yang tiba - tiba datang.
“ Ahh... Lionel kau mengejutkanku. Selalu seperti itu" Linzy mempoutkan bibirnya kesal.
“ Ahh... Begitukah maafkan aku ya Zy " senyum kecil Lionel.
“ Jangan terlalu memaksakan dirimu Zy , aku tahu kau tak boleh kelelahan , manis" ucap Lionel lembut.
“ Kau selalu perhatian padaku Nel , apa kekasihmu tak marah ?" tanya Linzy penasaran.
“ Aku tak memiliki kekasih. Apa kau mau mendaftar ?" tanyanya dengan nada menggoda.
“ Tidak. Terimakasih" jawab Linzy singkat.
“ Kenapa kau tidak mau denganku ? Kau menolakku ? Jujur saja aku sakit hati" ujar Lionel dengan wajah memelasnya.
“ Itu sudah sangat jelas Lionel. Karena aku tak mencintaimu. Cinta tak dapat dipaksakan. Maaf " ujar Linzy dengan halus.
“ Apa kau belum pernah menjalin hubungan dengan seseorang sebelumnya Linzy ?" sambungnya lagi.
“ Kenapa kau sangat ingin tahu ? "
“ Aku hanya ingin tahu saja "
“ Maaf Lionel aku tak bisa memberitahumu. Itu privasi lagipula kita tidak dekat sebelumnya" tolak Linzy secara halus dan masih berusaha sabar.
Lionel hanya memandang Linzy dengan pandangan yang sulit diartikan , kemudian ia pergi. Linzy menghela nafas lega.
__ADS_1
“ Huh... Ada apa sih dengannya terlihat sangat ingin tahu kehidupanku ? Aku kan tidak pernah dekat dengannya " gerutu Linzy.
“ Siapa yang mendekatimu ?" tanya seseorang dengan suara deep voicenya dan Linzy sangat terkejut ketika suara itu sampai ke indera pendengarannya.
“ Astaga kau membuatku terkejut dokter. Kebiasaan deh " gerutu Linzy kesal.
“ Kau saja yang gampang terkejut , dasar payah " ledek Vernon dan Linzy hanya membelalakan tak percaya dengan kata - kata yang diucapkan oleh kekasihnya.
“ Wah... Aku tak menyangka jika aku mendengar kata - kata itu darimu dokter. Apa kau juga mulai berubah seperti orang lain ?" tanya Linzy penasaran.
“ Tidak - tidak aku hanya bercanda kau tidak perlu seserius itu" ucap Vernon seraya terkekeh dan mengusak surai Linzy.
Linzy hanya cemberut jika boleh jujur ia tidak suka dengan kata - kata yang dokter Vernon lontarkan untuknya.
“ Istirahatlah jangan terlalu memaksakan diri. Aku tahu kau sudah berusaha keras nona. Tapi tubuh manusia itu memiliki batas sayang. Aku tak ingin kau sakit" ucap Vernon penuh pengertian dan lembut pada Linzy.
“ Hmm... Baiklah aku akan beristirahat " ucap Linzy sembari membereskan laptopnya. Saat ia hendak berdiri tiba - tiba saja kepala Linzy terasa sakit dan berputar.
“ A - aduh sakit " keluhnya. Vernon yang menyadari kondisi Linzy tersebut panik dan segera menangkap Linzy yang hampir terjatuh dan tiba - tiba hilang kesadaran.
“ Astaga Linzy bangun sayang... Linzy..... " ucap Vernon seraya menepuk pipi Linzy. Glory yang tak sengaja lewat depan taman membelalakan matanya dan buru - buru ia mendekati Vernon.
“ Dokter Linzy pingsan lagi ?" tanyanya panik.
“ Iya , Glory bisa minta tolong ? Tolong ya kamu bawa laptop Linzy biar saya yang menggendongnya ke UKS " titah Vernon.
“ Oke - oke siap dokter " jawab Glory segera. Ia langsung menyambar laptop Linzy dan membawanya.
“ Bagaimana ini dokter ?" tanya Glory khawatir.
“ Kamu tenang , kita tunggu dia sadar terlebih dahulu. Jika kondisinya tak kunjung membaik kita bawa dia ke rumah sakit " ujar Vernon.
Vernon mengambil stetoskop dan alat tensi untuk mengecek kondisi Linzy. Ia juga sudah memasangkan oksigen , untuk membantu pernafasan Linzy.
“ Berdoa saja supaya ia cepat sadar" ujar Vernon dan Glory hanya mengangguk lemah. Ia teramat sedih melihat kondisi Linzy yang mulai menurun lagi akibat kelelahan.
“ Glory apakah Linzy selalu membawa obat ke sekolah ?" tanya Vernon.
“ Eum... Tidak " jawab Glory lemah sembari menggeleng. Memang benar Linzy merasa terbebani dengan semua obat - obat itu , maka dari itu ia enggan meminum obatnya.
Vernon menghela nafas dan mengusap wajahnya kasar. “Oh kenapa bisa ia tak meminum obatnya ? Padahal itu harus rutin diminum " keluh Vernon.
“ Mungkin dia merasa muak dan eneg dengan aroma obat dan rumah sakit " Glory mengira.
“ Tak apa. Aku sudah menghubungi dokter Lucianno dan memberitahukan kondisi kesehatan Linzy , aku akan memberinya obat yang biasa diresepkan oleh dokter Lucianno" kata Vernon singkat.
“ Iya dokter. Terimakasih jika selama ini kau selalu ada untuk Linzy " ujar Glory dengan suara bergetar.
“ Sudah seharusnya aku melakukan itu , karena aku memang menyayangi dan mencintai Linzy " ujar Vernon berusaha menenangkan Glory yang menangis.
Glory merasa lebih tenang sekarang. Ia menatap Linzy yang sedang tak sadarkan diri.
__ADS_1
“ Semoga dokter Vernon bisa menjadi alasan kebahagiaanmu untuk selamanya Linzy. Kau berhak bahagia" batin Glory tersenyum.
Author POV End