
Martin POV
David Henrico Sanders. Ya Sanders. Nama itu seolah membawaku mengingat kenangan pahit. Kenangan dimana yang hampir membuat rumah tangga orangtuaku hancur.
Sanders sendiri tidak ada masalah yang berarti justru yang jadi poin utama disini adalah istrinya. Lucia Aina Dewantari.
Orang itu , orang itu sangat serakah suka mengambil milik orang lain yang bukan hak nya , dan juga orang itu telah membuat mommy ku merasakan luka yang teramat dalam.
Flashback On :
Gladys sedang menangis keras dihadapan Andrew dengan airmata yang berderai seakan - akan berlomba untuk keluar dari mata indahnya.
“ Andrew jujurlah padaku , apakah kau sekarang sudah mulai bosan padaku ?" tanya Gladys dengan lirih.
“ Glad dengarkan aku , aku tidak ada hubungan wanita itu sungguh Glad. Aku hanya mencintaimu , aku hanya memilikimu , Martin dan anak yang dalam kandunganmu sayang " ucap Andrew meyakinkan istrinya.
“ Jika memang begitu kenapa dia bisa berada di ruanganmu ? Berada di pangkuanmu dan lebih parahnya kalian tengah bercumbu dihadapanku!!!!"
“ Aku sedang mengandung Andrew dan dengan teganya kau bercumbu dengan wanita lain yang tak lain adalah istri dari sahabatmu. Dia istri Sanders Andrew sahabatmu , dan aku merasa hancur !!!!!!"
Martin kecil yang melihat kejadian itu dari balik pintu sontak meneteskan airmatanya. Ia tak suka melihat mommy nya menangis.
“ Jika kau memang bermain dengan Aina dibelakangku lebih baik kita pisah sekarang juga " ujar Gladys tak bisa dibantah. Andrew terkejut mendengarnya tak terkecuali Martin kecil.
“ Tidak sayang. Jangan lakukan itu aku mohon ini demi Martin dan demi dede bayi yang dalam kandunganmu. Mohon percayalah padaku. Aku tak bermain dibelakangmu sayang" Ucap Andrew dengan tangis sembari memeluk istrinya.
Flashback Off..
Semoga saja ucapan dan janji yang diucapkan daddy pada mommy saat itu benar dan daddy menepatinya.
Martin POV End
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author POV
Bel tanda *** berakhir telah berbunyi saat ini Linzy sedang menunggu sopir untuk menjemputnya Glory sedang ada ekskul basket hari ini dan dokter Vernon? Tentu saja ia ada urusan dengan Verren tadi.
Ia menunggu jemputan sopir sambil bermain ponsel tiba - tiba saja ia melihat ada seseorang yang jatuh pingsan sepertinya seseorang tersebut memiliki sakit jantung.
Dengan segera Linzy menghampiri orang tersebut berniat untuk menolongnya. Ia sudah mencoba menekan dadanya beberapa kali dan mencoba memberikan nafas buatan. Linzy sempat panik. Akhirnya ia memutuskan menghubungi rumah sakit terdekat.
Saat ia sedang mencoba mendial nomor telepon rumah sakit , ia tidak menyadari bahwa seseorang telah mengincarnya seseorang tersebut mengeluarkan saputangan yang sebelumnya telah diberi obat bius kemudian berjalan kearah belakang Linzy dan membekap mulut Linzy hingga Linzy tak sadarkan diri. Seseorang yang membekap mulut Linzy lantas menggendong bridal style , sebelumnya menyuruh seseorang yang berpura - pura pingsan untuk bangun dan mereka bergegas memasuki mobil jeep dan pergi dari sana.
Author POV End
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Saat aku sedang mencoba menghubungi pihak rumah sakit tiba - tiba ada yang membekap mulutku dengan kain dari belakang.
__ADS_1
“Mmffhh" aku berusaha memberontak namun tenaga ku tak sebanding dengan seseorang membekap mulutku. Tak lama aku merasakan pusing dan kegelapan mulai menyapaku.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aku terbangun pandanganku belum fokus sepenuhnya. Badanku sulit digerakkan saat ku sudah mulai fokus pandanganku gelap kurasa ada yang menutup kedua mataku. Kurasakan tanganku juga terikat dibelakang kursi , beserta badanku , mulutku tertutup dengan lakban.
Oh tidak. Apakah sekarang aku sedang diculik? Bagaimana ini ? Seseorang tolong aku.....
“ Mmffhh " aku berusaha berteriak meski suaraku tak terdengar jelas.
“ Oh sudah bangun ternyata , baguslah menunggu sadar itu sangat membuang waktuku "
Suara itu ??? Aku pernah mendengarnya. Suaranya seperti tidak asing.
“ Kenapa ? Oh kamu sudah lupa denganku ? Kalau begitu begini saja , bagaimana kabar hubunganmu dengan dokter Vernon ? Pasti sangat menyenangkan bukan mengingat aku tidak ada lagi di sekolah tersebut. Kau pasti merasa senang bukan ?"
Suara itu Aletta ???
“ Ya ini aku Linzy , kenapa kau merasa terkejut ? Kau tahu gara - gara dirimu hidupku sudah hancur sekarang. Gara - gara dirimu perusahaan ayahku bangkrut. Gara - gara dirimu , Aku tidak bisa sekolah dan gara - gara kamu , aku dibully oleh anak - anak terutama sahabatku sendiri dan yang terparah adalah gara - gara dirimu dokter Vernon pergi dari kehidupanku. Yang harusnya memiliki dokter Vernon itu aku Linzy bukan dirimu. Seharusnya aku yang menjadi kekasih dokter Vernon bukan dirimu. Kau pembawa sial , kau perebut semuanya Linzy aku benci padamu" teriak Aletta frustasi.
“ Mnffhh " aku berteriak sekuat tenaga untuk menunjukkan protes karena aku tidak seperti yang dituduhkan.
“ Well simpan jawabanmu untuk nanti sebelum saat tokoh utama datang , jadi bersabarlah sayang" kata Aletta lagi.
Tokoh utama , apa maksudnya ini? Tolong aku kakak , daddy , dokter
“ Kau terlalu lama , aku lelah memunggu dan mengawasi gadis pembawa petaka ini " gerutu Aletta.
Aku tidak tahu bagaimana reaksi lawan bicara Aletta dan aku juga tak mengetahui apakah dia laki - laki atau perempuan.
“ Baiklah waktu dan tempat saya persilahkan boss " ucap Aletta pada seseorang.
Aku merasakan ada langkah kaki yang mendekat kearahku , terdengar bunyi alas kaki yang beradu dengan dinginnya lantai.
Kurasakan ia membuka penutup mataku dan seketika mataku terbelalak merasa tak percaya karena terlalu terkejut.
“ Hai Linzy " sapanya padaku.
“ Li - Lionel ?" batinku.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Glory POV
Akhirnya latihan yang melelahkan sekaligus menjengkelkan ini berakhir juga. Aku jadi kasihan pada bayi besarku Linzy itu , dia pasti sudah dijemput oleh sopir pribadinya. Nah lebih baik aku pulang saja karena hari sudah semakin sore.
__ADS_1
Aku pulang dengan menggunakan bus , ya karena aku terlalu malas untuk menghubungi sopir pribadi. Selain itu aku mencoba untuk belajar mandiri.
Baru berapa menit menunggu di halte bus aku sudah mendapatkan bus yang searah dengan tujuanku. Memang sebuah keberuntungan.
Perjalanan yang kutempuh tidaklah lama hanya memakan waktu berapa menit. Aku pulang ke rumah Linzy namun pemandangan apa yang kudapatkan ? Aku melihat aunty Glad terduduk lemas ditemani oleh aunty Helena dan mama.
“ Mama , aunty ada apa ini?" tanyaku heran.
“ Glory , kau sudah pulang nak ? " mamaku menyambut.
“ Seperti yang kau lihat ma. Ada apa ini ? Kenapa aunty Glad menangis dan pandangannya terlihat kosong ? Apa yang terjadi?" tanyaku tidak sabaran.
Mamaku menghampiriku dan menepuk pundakku seraya mengusap pelan seolah memberikan ketenangan.
“ Sayang kamu yang sabar ya , kamu yang kuat , mama akan kasih tahu kamu , tapi kamu janji sama mama kamu harus kuat " ujar mamaku.
“ To the point ma jangan berbelit - belit. Kalian membuatku takut" jawabku dengan intonasi agak meninggi. Mama hanya menghela nafas pelan matanya sedikit menerah seperti habis menangis seharian.
“ Ini soal Martin. Dia mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan pulang dari kantor. Ada yang menyabotase mobilnya , remnya tidak berfungsi hingga mengakibatkan ia menabrak truk dengan kecepatan tinggi. Tadi ada pihak rumah sakit yang menghubungi Andrew dan Gladys. Beruntung ia ditemukan dalam keadaan masih bernafas , namun kondisinya tidak bisa dikatakan baik - baik saja " jelas mama.
Deg.
Apa aku tidak salah dengar ? Kak Martin kecelakaan ? Ini pasti bercanda kan ? Tidak mungkin itu semua terjadi kan ?
“ Glory , dimana Linzy nak ? Kenapa dia tidak bersamamu ? Dia juga belum pulang sedari tadi" mamaku berkata lagi.
“ Linzy belum pulang ? Aku tidak bersamanya , aku ada latihan basket tadi , jadi dia memutuskan untuk pulang duluan. Dia belum sampai rumah ?" tanyaku. Mamaku menggeleng lemah.
“ Ya Tuhan apalagi ini? Kak Martin kecelakaan dan sekarang Linzy menghilang ? Cobaan apalagi ini Tuhan" tak sadar bahwa airmataku keluar dengan sendirinya. Aku menangis tanpa suara.
“ Glory kau baik - baik saja nak ?" tanya mamaku yang menyadarkan lamunanku.
Aunty Gladys melihat kearahku. “Glory , kau sudah pulang nak ? Dimana Linzy ? Kenapa dia tak bersamamu? " tanyanya padaku dengan pandangan sendu.
“ Maaf aunty tadi dia pamit pulang lebih dulu karena tak mau menungguku latihan basket , Glory kira Linzy sudah sampai rumah aunty " jawabku sambil terisak.
Aunty Gladys yang mendengar jawabanku nampak shock tiba - tiba saja tubuhnya limbung , beliau pingsan dan itu membuat aku , mama dan aunty Helena berteriak histeris sembari menahan tubuh aunty Gladys.
Tak lama aku mendengar suara mobil yang datang dan masuk pekarangan rumah. Tampak lah Uncle Andrew , Uncle Darren dan juga papaku.
Uncle Andrew yang melihat istrinya jatuh pingsan buru - buru menggendongnya ke kamar ala bridal style , bisa kulihat raut wajah cemas yang terlukis dalam wajah tampan Uncle Andrew.
“ Apa istriku pingsan karena mendengar kabar Martin " tanya Uncle Andrew. Mamaku dan aunty Helen mengangguk kaku termasuk diriku.
“ Sebenarnya bukan hanya itu saja Andrew. Saat ini Linzy juga dikabarkan menghilang. Menurut Glory mereka tidak pulang bersama dikarenakan Linzy memilih pulang lebih dulu karena tak mau menunggu Glory latihan basket hingga sore hari" jelas aunty Helena hati - hati.
Uncle Andrew menghela nafas gusar dengan berhiaskan wajah frustasi.
“ Glory , sudah kau coba hubungi ponsel Linzy nak ?" tanya Uncle Andrew padaku.
“ Belum " jawabku. Segera saja aku mengeluarkan ponselku untuk menghubungi Linzy , kunyalakan loudspeaker ponselku agar semua bisa mendengarnya. Dan hasilnya tersambung namun ditolak. Itupun juga sudah kucoba beberapa kali dan hasilnya tetap sama.
“ Uncle , jika boleh tahu di rumah sakit mana kak Martin dirawat ?" tanyaku pada Uncle Andrew.
“ Di rumah sakit tempat Linzy dirawat beberapa minggu yang lalu saat ia pingsan" jelasnya.
“ Oke aku akan kesana , ruangan berapa?"
“Belum dipindahkan di bangsal. Masih ditangani di ICU "
Saat kami sedang hanyut dalam keseriusan obrolan kami tiba - tiba ponsel uncle berdering.
“ Ya , Halo... "
“..............."
“ Ya , ada apa?"
“............."
“ APAAA???!!!!"
“..............."
“ Baik saya akan segera kesana. Terimakasih "
“.........."
“ Ya selamat malam "
Uncle Andrew mematikan sambungannya.
“ Uncle ada apa ?" tanyaku hati - hati. Tolong jangan katakan sesuatu yang buruk. Uncle tampak menghela nafas gusar. Matanya memerah.
“ Martin , Kritis dia mengalami koma " ucapnya lirih.
__ADS_1
“ Bolehkah aku berhenti bernafas saat ini juga ?"
Glory POV End