Who Am I ( Linzy Story )

Who Am I ( Linzy Story )
30


__ADS_3

Sekarang sudah waktunya jam sekolah usai. Tadi Glory merengek padaku katanya ia ingin bermain ke tempat dokter Vernon. Ya sudahlah aku menurutinya , saat ini kami sedang menunggu dokter Vernon sedari tadi belum terlihat orang itu.


“ Glo apa kau tak ada ekstrakulikuler hari ini ?" tanyaku.


“ Hmm... Tak ada hari ini taekwondo dan basket sedang libur" jawabnya sambil menunjukkan cengirannya padaku.


“ Kau juga tidak ada ekskul paduan suara ataupun melukis bukan ?" tanyanya lagi.


“ Aku hari ini ada ekskul melukis , besoknya musik , dan lusa baru paduan suara" terangku.


“ Apa tidak bisa jika membolos saja? Sesekali lah. Kau itu terlalu rajin sayang " cemberut Glory.


“ Hanya sampai jam 4 sore tenanglah " ucapku.


“ Hah yasudah kalau begitu aku menunggu di ruang UKS saja dengan dokter Vernon " sungutnya. Aku hanya tersenyum menanggapi. “ Ya sudah kalau begitu aku ke kelas melukis dulu ya. Kau hati - hati" peringatku padanya.


Ia mendengus “ Harusnya aku yang mengatakan itu padamu " ucapnya.


Aku segera menuju ruang lukis disana aku melihat Lionel. “ Hai " sapanya padaku.


“ Halo Lionel. Kau ikut kelas lukis juga ?" tanyaku padanya.


“ Tidak. Aku hanya penasaran saja dengan kelas melukis makanya aku ingin lihat dan kudengar lukisanmu paling bagus disini" ucap Lionel. Apa maksudnya , apa dia berniat memuji lukisanku?


“ Ahh... Kau ini bisa saja. Aku tidak sehebat itu. Jangan berlebihan " ucapku tersenyum simpul.


“ Aku hanya bicara fakta sayang "


Aku merasa terkejut. Apa dia memanggilku dengan panggilan itu lagi ? Rasanya berbeda ketika dokter Vernon yang memanggilku dengan panggilan itu.


“ Maaf Lionel bukankah sudah kukatakan jangan memanggilku dengan sebutan itu? Kau membuatku risih " ucapku ketus.


“ Tak masalah. Lagipula kekasihmu itu tidak tahu kan ?" jawabnya ringan.


“ Aku punya kekasih atau tidak itu bukan urusanmu. Sana pergi " usirku. Berhubungan dengan Lionel memang membuat moodku sedikit buruk.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Author POV


Glory sedang berada di UKS saat ini dengan wajah yang ditekuk. Vernon yang memandang Glory bingung seketika dengan tingkah gadis ini.


“ Kenapa ? Cemberut aja kak Martin tak mengirim pesan padamu?" tanyanya.


“ Justru aku sedang badmood dengan adiknya kali ini" jawab Glory.


“ Apa lagi alasannya kali ini ?" tanya Vernon.


“ Aku tak tahu jika ia ada kelas melukis sekarang kuajak bolos tidak mau" gerutu Glory.


Vernon hanya terkekeh kecil mendengar curhatan Glory.


“ Itu artinya dia anak teladan dan rajin Glory. Seharusnya kau mencotohnya" jawab Vernon sekenanya.


“ Tapikan aku tidak sabar untuk berkunjung ke apartementmu dokter. Malah aku disuruh olehnya kesini sembari menunggunya" jawabnya masih menggerutu.


“ Ya sudah jika begitu lagipula sampai jam 4 sore kan ? Aku sudah izin dengan om Andrew dan beliau mengizinkan. Mungkin nanti juga disampaikan ke papamu. Tenang saja" jelas Vernon.


“ Benarkah ?" tanya Glory memastikan. Vernon hanya mengangguk.


“ Ahhh.... Aku belum izin ke kak Martin " teriaknya tiba-tiba.


“ Ya sudah kalau itu izin sendiri " jawab Vernon enteng. Glory hanya merengut , dengan segera ia mengeluarkan ponsel dan menghubungi kekasihnya bermaksud meminta izin untuk mengunjungi apartement Vernon bersama Linzy.


Author POV End


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Kelas melukisku sudah berakhir. Aku bergegas menuju parkiran untuk menghampiri dokter Vernon dan Glory , mungkin mereka sudah menunggu disana , dan benar saja ketika aku sudah sampai di parkiran disana sudah ada Glory dengan tampang judesnya.


“ Kalian menunggu lama? Maafkan aku ya" ucapku tak enak hati.


“ Ya lama. Lama sekali Zy " balas Glory. Aku hanya tersenyum paksa.


“ Sudahlah ayo kita pulang ke rumahku " dokter Vernon melerai.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Author POV


Vernon , Linzy dan Glory sudah sampai di apartement Vernon , mereka sudah disambut oleh Darren dan Helena.


“Eh , anak mommy sudah pulang rupanya. Bawa calon menantu lagi. Eh ini Glory anak Felix dan Anastasya ya?"


Glory hanya tersenyum canggung mendengarkan ucapan Helena.


“ Hehe... Iya tante. Halo " jawab Glory salah tingkah.


“ Mom. Kita gak disuruh masuk dulu gitu ?" tanya Vernon bermaksud menyindir.


“ Eh iya. Mommy lupa ayo masuk dulu " ucap Helena sambil meringis.


Mereka bertiga masuk sontak saja Helena langsung menggandeng lengan Linzy sembari memberi kode pada Glory dan Vernon.


“ Ahh... Sayang kau suka memasak tidak ?


Linzy hanya mengangguk mengiyakan. Mereka berdua beranjak menuju dapur dan memasak bersama. Sementara Vernon dan Glory menemui Darren.


“ Dad ?" sapa Vernon daddynya hanya tersenyum mengangguk tak lupa ia menyapa Glory juga.


“ Jadi apa yang ingin kau tanyakan ?" tanya Darren.


“ Ahh... Aku hanya ingin bertanya tentang uncle Andrew. Sebenarnya beliau orang yang seperti apa? Apakah dia memiliki aura khusus mungkin seperti aura menusuk ketika kita menatap matanya " tanya Vernon sembari menjelaskan.


Darren hanya mengangguk sambil menimang lalu kemudian menjawab “ Iya memang dia seperti itu , auranya sangat dominan. Ketika kita melihat tatapan matanya yang tajam. Kita seakan tak mampu membantah bahkan untuk bergerak sekalipun rasanya sangat sulit" jelas Darren.


Glory membuka suaranya.


“ Beberapa hari ini saya merasakan itu semua ada pada diri Linzy"


“ Maksudmu merasakan aura Andrew pada Linzy ?" tanya Darren memastikan. Glory mengangguk.


Darren hanya terkekeh. Menurutnya pembahasan ini sangat menarik.


“ Aku tak menyangka. Kukira itu muncul pada diri Martin , namun ternyata Linzy yang lebih dominan"


Another Side :


“ Linzy boleh mama tanya padamu tapi kau jawab mama dengan jujur ya. Disini tak ada mommy , daddy , atau Martin. Jadi kau bisa bebas mencurahkannya pada mama" jelas Helena. Linzy hanya mengangguk.


“ Apa ada yang kau rasakan yang sedikit berbeda daripada biasanya?" tanya Helena.


“ Maksud mama yang berbeda dari diriku sendiri?" tanya balik Linzy. Helen hanya tersenyum lembut.


“ Akhir - akhir ini aku tidak tahu kenapa saat aku merasa setress aku merasa ada yang mengambil alih tubuhku , dan setelahnya aku tidak tahu apa yang terjadi. Setelah aku sadar aku tidak mengingat apapun yang terjadi sebelumnya" jelas Linzy.


“ Maksudmu , tubuhmu seperti dikendalikan oleh sosok lain begitu?" tanya Helen.


Linzy mengangguk meskipun merasa tak yakin.


“ Tapi kata mereka terutama Glory disaat aku setress aku berubah menjadi orang lain yang tidak mereka kenal" tambah Linzy lagi.


Helena mencoba memahami apa yang dialami Linzy sejauh ini hanya satu dugaan Helena yang paling kuat.


“ Ada hal lain selain itu ?" tanyanya lebih lanjut.


“ Hmm... Terkadang pada saat sepi atau tak ada seseorang. Aku merasakan ada seseorang yang mengajakku bicara. Orangnya tak begitu jelas namun suaranya begitu jelas ditelingaku dan itu terbawa hingga mimpi" cerita Linzy.


Helen masih dengan sabar mendengarkan cerita Linzy.


“ Mama rasa kamu ada Alter ego atau kepribadian ganda. Ini bisa saja muncul saat kamu sedang stress atau merasa tertekan karena kamu tidak kuat menghadapinya , atau dengan kata lain dirimu yang sebenarnya tengah mencari perlindungan dalam sosok alter ego mu nak " jelas Helena.


“ Apa itu berbahaya ma?"


“ Bahaya atau tidaknya tergantung dari kamu bisa mengendalikan diri atau tidak. Jika kamu tidak dapat mengendalikan dirimu , mungkin suatu saat alter ego mu bisa mengambil alih tubuhmu dan tidak akan menghilang justru dirimu yang bisa terancam akan menghilang nak" jelas Helena.


Linzy terdiam akankah semuanya akan terjadi ?


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam keluarga Stewart sedang  makan malam ditambah kehadiran Linzy dan Glory.


“ Mommy gak menyangka loh kalau calon menantu mommy itu pintar masak ternyata , gimana rasanya Vernon enakkan ? " tanya Helen penuh harap.


“ Iya mom , ini masakkan siapa ?" tanya Vernon ingin tahu.


“ Ini masakkan Linzy. Hari inikan yang buat menu Linzy , dia usul masak sup jagung " jelas mommy nya.


“ Wah benar sekali aunty memang Linzy itu sudah pro dalam urusan dapur. Pokoknya dia ini calon istri idaman banget " Glory menambahkan.


Linzy yang mendengar pujian tersebut pipinya merah seketika.


“ Sudah jangan terlalu banyak dipuji nanti yang ada malah besar kepala dia " celetuk Verren merusak suasana , hingga membuat raut wajah Linzy kembali datar , sedatar - datarnya.


“ Sirik aja sih " ucap Linzy sinis. Seperti biasa dimana ada Linzy dan Verren disitu ada perang dunia. Vernon yang melihat kekasihnya digoda oleh sang adik sontak melemparkan death glare nya , membuat Verren cengegesan.


“ Heh anak manja , sudah sejauh mana project mu ? Apa kau membawa flashdisk ? Aku ingin melihatnya" ucap Verren tiba - tiba.


“ Aku sudah selesai. Silahkan jika ingin di revisi " jawab Linzy balik.


“ Baiklah , mari kita lihat. Ayo ke ruanganku " ajak Verren pada Linzy. Linzy segera bangkit dan permisi dari tempat tersebut setelah menyelesaikan makan malamnya.


Kemudian ia masuk ke ruang kerja Verren dan memeriksa novel yang ditulisnya.


“ Hmmm.... Kau menulis cerita yang happy ending ?" tanya Verren.


“ Untuk percobaan pertama iya. Aku menulis happy ending , jika novelnya laris aku akan buat lagi yang sad ending " jelas Linzy.


“ Hmm... Tidak kusangka anak seusiamu mampu membuat konflik yang berat. Tapi problem solving juga baik. Bagus dan masuk akal" kritiknya.


“ Yang menarik dari novelmu adalah , novel ini menceritakan tentang kisah hidupmu , namun kau tambah beberapa kejadian yang belum pernah terjadi dalam hidupmu. Imajinasimu benar - benar keluar disini. Seolah - olah kau mengalaminya padahal tidak" ucap Verren lagi.


“ Aku hanya menuangkan apa yang ada di dalam pikiranku kak " jawab Linzy dengan senyum kecil dibibirnya.


“ Oke. Kakak akan coba memberitahu sahabat kakak ya semoga dia suka dengan karyamu. Oh kau sudah mendapatkan hasil dari puisimu yang dimuat di berbagai majalah dan surat kabar itu?" tanya Verren.


“ Sudah kak. Terimakasih atas bantuanmu " jawab Linzy.


“ Sama - sama. Tidak masalah bagiku. Justru aku senang membantumu" jelas Verren.


“ Baiklah ini flashdisk nya" Verren menyerahkan flashdisk Linzy setelah ia selesai meng - copy novel Linzy. Linzy pun menerimanya.


Setelah selesai dengan urusan mereka , Glory dan Linzy pamit pulang karena hari sudah semakin larut. Vernon dan Verren yang mengantarnya.


Tibalah mereka di rumah Linzy. Dua gadis tersebut keluar dari mobil Vernon. Tentu dengan Vernon dan Verren yang setia mengawal mereka.


Ting...  Tong...


Terbukalah pintu rumah dengan Martin yang bersidekap tangannya di dada.


“ Duh tatapannya dingin banget tuh mata " gerutu Verren pelan.


“ Eh... Ada tuan muda Martin. Selamat malam tuan muda maaf kami pulang terlambat. Kami juga butuh bersenang - senang" ucap Linzy disertai penekanan disetiap katanya.


“ Masuklah " ucapnya dingin. Ia melirik Glory sejenak. Linzy yang merasakan hanya memandang sinis.


“ Pandangin... Pandangin aja terus sampai Glory jadi makhluk astral" sindirnya. Martin yang tertangkap basah itupun mengalihkan pandangannya ke objek lain.


“ Kamu nginep disini Glo ?" tanya Martin.


“ I- iya kak. Aku bakal nemenin Linzy " jawab Glory malu - malu.


“ Oke kalau begitu kita pamit ya maaf tidak bisa lama - lama disini karena sudah mulai larut " jelas Vernon.


“ Ya terimakasih telah mengantarkan anak hilang ini dengan selamat sampai rumah " balas Martin dengan senyum samarnya walau suara yang ia keluarkan terlampau datar.


“Sampaikan salam kami pada om dan tante ya. Kami pamit dulu " ucap Vernon. Martin mengangguk.


Kemudian dua anak adam itu melajukan mobilnya kembali ke apartement.


Sedangkan dua kaum hawa tersebut telah menghilang dari balik pintu , mereka berdua sudah tidur di kamar Linzy.


Martin mengecek keadaan keduanya lantas ia tersenyum melihat 2 malaikatnya tertidur


“ Selamat tidur kalian berdua kakak sayang kalian "

__ADS_1


Author POV End


__ADS_2