
Verren POV
“ Homina " aku terkejut dengan apa yang baru saja kulihat saat berada di ruang makan. Sungguh mata suciku ternodai ya Tuhan. Apa yang mereka lakukan ? Apa mereka sudah gila berciuman di tempat yang tidak semestinya dan aku melihat penampilan Linzy ya bagaimana ya tidak dapat ku definisikan dengan kata - kata.
“ Mohon maaf mengganggu kegiatan anda saudara sekalian. Saya ingatkan jika kalian ingin berbuat adegan orang dewasa dimohon untuk di kamar saja" ucapku datar.
“ Verren , ini tidak seperti yang kau pikirkan" ucap kakakku. Huh dia berusaha mengelak sepertinya.
“ Memangnya kau tahu apa yang kupikirkan?" tanyaku balik.
Skakmat. Kakakku mendadak bungkam bisa kurasakan mereka berdua terjebak dalam atmosfir kecanggungan.
“ Sudahlah lupakan saja aku sudah lapar" kataku cepat.
Kamipun mulai makan malam dalam keheningan , sebelum makan berdoa dulu tentunya.
Seperti biasa masakan kakakku adalah yang terbaik setelah mommy tentunya , entah kapan ia belajar memasak aku juga kurang paham. Menurutku ia pantas mendapatkan predikat sebagai bapak rumah tangga.
Tak lama kemudian kami telah selesai dengan acara makan malam kami ya meski hanya dengan sebuah sup dan lauk ikan goreng yang sangat sederhana sekali tapi tak mengapa.
“ Terimakasih atas makan malam hari ini brother " ucapku.
“ Sama - sama , tapi sebelum itu kau harus membantuku membereskan meja makan ini" katanya.
“ Huh.. Bukankah sudah ada Linzy?"
“ Linzy sudah membantu tadi sebelum kau turun Verren dan jangan banyak bertanya atau tidak ada sarapan untukmu besok" ancamnya.
“ Kau seperti ibu tiri yang menganiaya anaknya" protesku tak terima.
“ Oh benarkah ? Kalau begitu besok tolong bersihkan rumah ini selagi aku pergi bekerja dan mengantar Linzy pulang ke rumah nya" ucapnya dengan raut wajah tanpa dosa.
“ Apa , kenapa begitu? " protesku.
“ Kaukan anak tiriku dan aku ibu tirimu yang kejam" katanya.
“ Tapi akukan adikmu"
“ Kau yang bilang sendiri tadi bahwa aku seperti ibu tiri yang menganiaya anaknya"
“ Arggghhh..... Terserah"
Setelahnya ia meninggalkan ruang makan.
“ Sabar Verren sabar... Dia itu kakakmu" Ingatkan Verren untuk tidak mengutuk kakaknya sendiri menjadi batu.
Verren POV End
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Malam ini untuk pertama kalinya aku menginap di rumah orang asing. Ya dokter Vernon masih terasa asing di hidupku. Aku menatap langit - langit kamar tamu yang kutempati saat ini dan termenung memikirkan kejadian saat di ruang makan. Ya lagi - lagi untuk kedua kalinya dokter Vernon mengambil ciuman dariku. Jika boleh jujur ciumannya sangat memabukkan dan membuatku tergelitik seperti ada ribuan kupu-kupu dalam perutku.
Ketika aku sedang termenung aku dikejutkan dengan suara dering ponselku. Kulihat ternyata Glory menelepon segera kuangkat telepon darinya.
“ Halo Glo. Ada apa?"
“ Linzy , kenapa tadi kau tak masuk sekolah huh ? Dan ini juga aku mencari ke rumah mu ternyata kau tak ada. Kemana kau pergi kenapa tak memberitahuku?"
“ Eh.... Uhm. Aku sedang berada di... Uhm dimana ya?"
“ Haish... Sudahlah gak usah kasih tahu. Mommy mu sudah memberitahuku tadi tapi ada yang ingin aku tanyakan sebenarnya "
“ Apa ?".
“ Sebenarnya kamu ada hubungan apa dengan dokter Vernon? "
“ A - apa yang kamu bicarakan Glo?"
“ Oh ayolah mommy mu bilang kau sedang berada di apartement dokter Vernon , karena dokter Vernon sudah meminta izin tadi"
“ Aku tak punya hubungan apapun. Asal kamu tahu"
“ Lalu kenapa kamu bisa berada di apartementnya? Pokoknya kamu berhutang cerita padaku Linzy. Kutunggu besok"
Tiba - tiba dia mematikan teleponnya. Hubungan seperti apa yang dia maksud ? Aku saja tak tahu , sudahlah ini sudah malam lebih baik aku tidur sekarang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Vernon POV
Kejadian itu terulang lagi kali ini aku mengambil second kiss nya. Rasanya seperti saat aku pertama kali mencobanya manis melebihi manisnya madu.
Ini sudah menunjukkan pukul 22.00 aku hendak pergi ke kamar untuk beristirahat namun sebelum pergi ke kamar atensiku teralihkan pada kamar tamu yang sedang dipakai oleh Linzy.
Aku memasuki kamar tersebut kulihat ia sudah tertidur dalam posisi tengkurap dan tak memakai bantal dan selimut , aku hanya menghela nafas panjang.
Segera saja aku memperbaiki posisi tidurnya dan memakaikannya selimut hingga sebatas dagu , kemudian mencium keningnya. “ Have a nice dream princess" aku keluar dari kamar Linzy dan menuju kamarku untuk beristirahat.
Vernon POV End
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
Author POV
Sinar mentari telah menyapa tiga penghuni apartement ini. Vernon dan Linzy sudah bangun dari pulau bantalnya sementara Verren masih berlabuh di alam mimpi indahnya.
“ Kau sudah membawa tasmu dan menyiapkan semuanya?" tanya Vernon.
“ Sudah dokter " jawab Linzy singkat.
“ Kalau begitu habiskan sarapanmu. Kita akan berangkat sebentar lagi" kata Vernon.
Mereka sarapan dalam keheningan setelah beberapa lama mereka menyelesaikan sarapannya dan menuju rumah Linzy.
Author POV End
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sebelum berangkat sekolah aku diantar pulang oleh dokter Vernon untuk berganti seragam dan buku mata pelajaran yang dibawa hari ini.
“ Oh jadi ini yang namaya dokter Vernon ya" mommyku membuka percakapan dengan dokter Vernon.
“ Benar tante " balas dokter.
“ Kamu sejak kapan kenal sama anak saya?"
“ Sejak saya diperbantukan di SMA CAHAYA PELITA tante"
“ Diperbantukan ? Memangnya kamu bekerja di rumah sakit mana?"
“ Saya hanya bekerja di rumah sakit kecil saja kok"
Tiba - tiba kak Martin datang ke ruang tamu dan bergabung dengan mommy.
“ Eh Martin sayang. Kenalkan dia dokter Vernon dia dokter di sekolah Linzy , kemarin Linzy sakit dan harus dibawa pulang di apartementnya"
“ Maksudnya di apartementnya itu apa mom? Linzy menginap di apartementnya dokter ini begitu?"
“ Iya Martin"
“Kenapa mommy mengizinkannya? Kita bahkan tidak mengenalnya , bagaimana jika nanti ada hal yang tidak diharapkan terjadi pada Linzy?" geram Kak Martin.
“ Tenang sayang dokter Vernon bukan orang yang seperti itu"
“ Bagaimana mommy seyakin itu padahal mommy belum mengenalnya"
“ Kau lupa jika aku adalah seorang ibu Martin? Dan naluri seorang ibu itu kuat jika itu menyangkut tentang anaknya"
Kak Martin memandang dokter Vernon dengan tatapan sinis.
“ Harusnya mommy memberitahuku jika Linzy tidak ada di rumah. Aku akan mencari dan menjemputnya supaya aman"
“ Martin , kamu juga tidak ada di rumah kemarin. Kamu menginap di kantor "
“ Tapi jika itu menyangkut Linzy aku akan lakukan apapun "
Aku sudah bersiap dan menuju ke ruang tamu untuk bergabung kak Martin yang melihatku langsung memelukku dengan erat.
“ Linzy , kamu baik - baik aja kan sayang?"
“ Aku baik - baik aja kak tenanglah"
“ Seharusnya kamu hubungi kakak waktu itu. Kamu lupa janji kakak sama kamu? Kakak akan sempatin waktu jika itu menyangkut tentang kamu. Apa kamu tidak percaya dengan kakak?"
“ Aku percaya kak. Maaf aku lupa hubungi kakak kemarin"
“ Jangan pernah diulangi lagi. Kamu itu perempuan sayang dan kakak belum mau lepas kamu"
“ Maksud kamu apa Martin?" mommy yang mendengar perkataan kak Martin pun terkejut.
“ Ya , aku belum rela melepaskan adikku untuk bersama pria lain mom karena bagaimanapun juga dia tetap gadis kecilku"
“ Yaaaak.... Adikmu itu sudah remaja Martin " protes mommy.
“ Memang benar tapi dia belum boleh pacaran saat ini. Tetapi jika memang ada yang berusaha mendekati Linzy sebaiknya hadapi aku terlebih dahulu"
Aku hanya melongo mendengar perkataan kakakku apa - apaan dia ? Umurku sudah remaja 16 tahun tetapi belum boleh pacaran?
Aku tahu dan aku paham jika kakakku menyayangiku bahkan cenderung overprotective , tapi aku tidak menyangka jika ia mempunyai pemikiran seperti ini.
“ Tapi kak ?"
“ Tidak ada tapi , baby"
Ya Tuhan apakah aku selalu dipandang sebagai anak kecil yang baru berumur 16 bulan ? Sulit dipercaya.
“ Oh Tuhan Martin anak mommy yang tampan Linzy itu punya kehidupan sendiri dan tidak seperti mu yang terlalu kaku , bahkan pacaran pun tak pernah "
Kak Martin hanya mendengus sedangkan dokter Vernon hanya menahan tawa namun tak lama kemudian raut wajahnya berubah menjadi canggung saat kak Martin melayangkan tatapan death glare nya.
“ Mom sudahlah aku akan berangkat sekolah , aku pamit ya" pamitku pada mommy.
“ Kamu berangkat dengan siapa Zy?" tanya kak Martin.
" Dengan dokter Vernon. Karena kami punya tujuan yang sama"
__ADS_1
Kak Martin hanya diam dan mendekati Vernon lalu membisikkan sesuatu.
“ Dengar. Jika adikku terluka dan itu karenamu , maka aku tidak akan segan - segan untuk membunuhmu"
Dokter Vernon hanya mengangguk lalu membisikkan sesuatu pada kak Martin.
“ Kau bisa pegang kata - kataku. Aku akan menjaga Linzy dengan sebaik mungkin. Jika aku lalai kau boleh mengambil nyawaku"
Kak Martin hanya menyeringai mendengar bisikkan dokter Vernon.
” Deal "
Setelah kami berpamitan aku dan dokter Vernon menuju ke sekolah selama perjalanan kami hanya diselimuti keheningan.
Beberapa menit perjalanan akhirnya kami sampai di sekolah dan aku berangkat siang lagi.
Aku tau bahwa banyak orang yang sedang memperhatikan kami , lebih tepatnya memperhatikanku.
Saat sedang berjalan menuju kelas aku dikejutkan oleh seseorang yang menepuk pundakku. Ternyata dia Glory.
“ Saya mencium aroma - aroma pdkt " goda Glory padaku.
“ Apasih pdkt. PDKT apa tidak ada Glory "
“ Kalaupun ada gak masalah buat aku "
“ Heol. Sinting kamu " balasku sambil mempercepat langkahku menuju kelas.
Glory hanya tertawa terbahak - bahak melihat wajah kesal ku. Menyebalkan sekali dia itu sebenarnya sahabat atau apa?
Saat sedang duduk aku merasakan tersandung oleh sebuah kaki. Oh shit sepertinya akan ada drama pagi ini , aku sudah merasa bosan dan tak tahan melihat perilaku mereka bertiga. Kadang aku berpikir dosakah aku menjadi orang jahat sekali saja pada mereka supaya mereka merasakan apa yang aku rasakan.
“ Wow guys , sepertinya hari ini ada seorang murid yang mulai kerja part time sebagai kupu-kupu malam. Buktinya berangkat sekolah saja diantar" seperti biasa mulut nyinyir Aletta yang menjadi pembukaan untuk sesi pembullyan hari ini.
“Apa katanya aku kerja part time sebagai kupu-kupu malam? Teori darimana itu , aku masih punya otak. Jadi tak mungkin aku melakukannya"
Seluruh pasang mata yang berada di kelas sekarang menatap kearahku dengan tatapan yang sulit diartikan.
Aletta tersenyum sinis sembari menatapku.
“ Kau pikir aku tidak tahu jika kau sedang mendekati dokter Vernon?" Aletta berkata seraya berbisik di telingaku.
Kali ini steatment apalagi yang ia buat? Semua steatment yang ia buat berujung membuatku terpojok.
“ Memang apa yang telah kau ketahui sudah kau selami hingga ke dalamnya? Aku rasa tidak. Kau hanya baru menyelam di daerah dasar , belum sampai yang terdalam" ucapku dengan sebuah seringaian yang terukir di bibirku.
“ Jika kamu belum punya keberanian untuk menyelam sampai ke yang paling dalam berhentilah membuat berita hoax dengan otakmu yang dangkal itu" lanjutku.
Ia hanya menggeram kesal sembari mengepalkan kedua tangannya. Rasakan itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Martin POV
Aku tidak tahu dengan siapa mommy berbicara sepertinya ada seorang pria lain tapi siapa dia? Bisa kudengar bahwa mommyku merasa sangat antusias saat berbicara dengan pria itu. Aku jadi sangat penasaran , segera saja aku melangkahkan kaki menuju ruang tamu dan ternyata benar ada seorang pria yang duduk di sofa ruang tamu , dengan jas dokter yang melekat di tubuhnya.
“Mom , dia siapa mom ?"
“ Eh Martin sayang. Kenalkan dia dokter Vernon dia dokter di sekolah Linzy , kemarin Linzy sakit dan harus dibawa pulang di apartementnya"
“Maksudnya di apartementnya itu apa mom? Linzy menginap di apartementnya dokter ini begitu?"
“ Iya Martin"
“Kenapa mommy mengizinkannya? Kita bahkan tidak mengenalnya , bagaimana jika nanti ada hal yang tidak diharapkan terjadi pada Linzy?"
“Tenang sayang dokter Vernon bukan orang yang seperti itu"
“ Bagaimana mommy seyakin itu padahal mommy belum mengenalnya"
“ Kau lupa jika aku adalah seorang ibu Martin? Dan naluri seorang ibu itu kuat jika itu menyangkut tentang anaknya"
“Harusnya mommy memberitahuku jika Linzy tidak ada di rumah. Aku akan mencari dan menjemputnya supaya aman" protesku pada mommy.
“ Martin , kamu juga tidak ada di rumah kemarin. Kamu menginap di kantor " mommy mulai berujar.
“ Tapi jika itu menyangkut Linzy aku akan lakukan apapun " aku tetap kekeuh dengan pendapatku.
Lalu aku melihat Linzy bergabung di ruang tamu bersama dengan kami aku langsung memeluknya dengan erat jujur aku merasa khawatir.
“Linzy , kamu baik - baik aja kan sayang?"
“ Aku baik - baik aja kak tenanglah"
“ Seharusnya kamu hubungi kakak waktu itu. Kamu lupa janji kakak sama kamu? Kakak akan sempatin waktu jika itu menyangkut tentang kamu. Apa kamu tidak percaya dengan kakak?"
“ Aku percaya kak. Maaf aku lupa hubungi kakak kemarin"
“ Jangan pernah diulangi lagi. Kamu itu perempuan sayang dan kakak belum mau lepas kamu"
“ Maksud kamu apa Martin?" mommy ku terkejut dengan ucapanku.
“Yaaaak.... Adikmu itu sudah remaja Martin " protes mommy.
“ Memang benar tapi dia belum boleh pacaran saat ini. Tetapi jika memang ada yang berusaha mendekati Linzy sebaiknya hadapi aku terlebih dahulu" kataku pada mommy. Dapat kulihat matanya melongo tidak percaya terhadap ucapanku.
“Tapi kak ?" Linzy menyela entah mengapa tapi aku merasakan dia sepertinya merasa keberatan dengan pendapatku.
“ Tidak ada tapi , baby" jawabku lembut.
“Oh Tuhan Martin anak mommy yang tampan Linzy itu punya kehidupan sendiri dan tidak seperti mu yang terlalu kaku , bahkan pacaran pun tak pernah " Lagi - lagi mommy membahas itu dan apa katanya tadi aku kaku? Heol. Bukannya kaku hanya saja belum menemukan yang pas.
Namun yang aku ingat dari Vernon adalah kata- katanya yang sedikit meyakinkan saat aku membisikkan sesuatu.
“ Dengar. Jika adikku terluka dan itu karenamu , maka aku tidak akan segan - segan untuk membunuhmu"
Kataku padanya. Ia hanya terdiam sebentar lalu menjawab ucapanku.
“ Kau bisa pegang kata - kataku. Aku akan menjaga Linzy dengan sebaik mungkin. Jika aku lalai kau boleh mengambil nyawaku" ucapnya dengan penuh keyakinan. Wow aku tidak menyangka dia seberani dan seyakin itu dalam menjawab.
“ Deal " kataku.
Yah akhirnya aku mencoba memberinya kesempatan kuharap ia tak membuatku kecewa , karena jika itu terjadi aku akan benar - benar melakukannya. Apapun untuk Linzy adikku satu - satunya my lovely princess and my treasure.
__ADS_1
Katakanlah aku terlalu egois dan berlebihan namun semua itu kulakukan hanya untuk melindungi adikku dari orang - orang yang berusaha melukainya.
Martin POV End