
Author POV
Di rumah Sakit...
Darren , Verren serta dokter Lucianno dan juga Glory masih memantau perkembangan kondisi Martin.
Saat ini Glory dan Verren sedang dalam ruangan Martin , ya Martin masih berada di ICU. Verren yang merasa bosan karena Martin tak kunjung membuka matanya itu mulai menyeletuk aneh.
“ Hi Bro... Apa kau tidak bosan tertidur terus ?" celetuk Verren.
Glory yang mendengar celetukkannya sontak memukul tangan Verren.
“ Kau ini bagaimana dia ini baru kecelakaan tadi siang hingga kondisinya seperti ini. Wajar saja jika kak Martin belum sadarkan diri , apa kau bodoh ?" omel Glory.
“ Lihatlah kekasihmu bung , ia macam singa betina saja sukanya marah - marah tak jelas. Kenapa kau betah sekali dengan manusia sepertinya?" gumam Verren.
Glory hanya diam tak menanggapi pikirannya terlalu lelah saat ini. Kekasihnya terbaring di rumah sakit dan sahabatnya pun tak tahu bagaimana kabarnya sedangkan Gladys yang ia anggap seperti mommy nya sendiri saat ini tengah merasa depresi.
“ Kenapa tragedi ini harus terjadi ya ? Apa salah kak Martin dan Linzy ?" lirih Glory.
“ Sepertinya titik permasalahannya bukan di kak Martin ataupun Glory " ucap Verren menanggapi.
“ Lalu dimana dan siapa?" tanya Glory penasaran.
“ Uncle Andrew " jawab Verren.
“ Apa mereka dendam terhadap uncle Andrew?" tanyanya ingin tahu.
“ Bisa dibilang begitu "
“ Memangnya uncle kenapa?"
“ Anak kecil tidak perlu tahu "
Glory hanya memberengut tak suka selama ini memang Andrew sangat tertutup perihal kehidupan pribadinya. Makannya Glory tak tahu.
Bahkan masalah Lionel mendekati Linzy pun ia tak tahu jelasnya kenapa. Karena Andrew hanya berpesan padanya bahwa Lionel mempunyai niat jahat pada Linzy , maka dari itu Glory ditugaskan menjaga Linzy.
“ Ahh... Terlalu rumit " keluh Glory.
“ Memang "
Glory hanya menghembuskan nafas kasar.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sementara itu Andrew dan beberapa anak buahnya yang mengawal telah tiba di rumah sakit.
Dengan tergesa - gesa Andrew keluar dari mobil dan menggendong Linzy ala bridal style.
“ Dokter.... Suster... Tolong cepat " teriaknya.
Para dokter dan suster segera berlari membawa brankar untuk Lionel dan Linzy.
Darren yang mendengar teriakkan Andrew pun segera berlari tergopoh - gopoh menemui sahabatnya. Bisa Darren lihat sahabatnya itu tengah dalam kondisi kacau dan nampak frustasi.
“ Apa yang terjadi Andrew ?" kata Darren khawatir.
“ Linzy... Linzy... " kata Andrew terisak kecil.
“ Ada apa dengan Linzy ? Linzy kenapa?" tanya Darren tidak sabaran.
“ Linzy tertusuk oleh Aina dia berusaha melindungiku dari tusukkan Aina Darren " terang Andrew.
“ A - Aina ? Kau bertemu dengan Aina ? Dia bersekongkol dengan Lionel maksudmu ?" ucap Darren tak percaya.
Andrew mengangguk dengan tatapan kosong.
“ Tapi , dia kan — "
“ Dia memalsukan kematiannya jika kau tidak tahu " potong Andrew cepat.
“ Bagaimana keadaan dia sekarang ? "
“ Sedang ditangani oleh Felix beserta anak buah kita. Mungkin aku harus memastikannya dia mati lebih dulu " ucap Andrew geram.
“ Lalu bagaimana dengan keadaan putrimu ?"
“ Dia tertusuk tepat didadanya "
Saat mereka sedang berbincang tak lama datanglah dokter yang menangani Linzy.
“ Maaf tuan keadaan nona Linzy sudah parah sehingga kami harus melakukan tindakan operasi. Untuk itu kami minta persetujuannya "
“ Lakukan yang terbaik untuk putriku aku akan bayar berapapun biayanya" jawab Andrew.
“ Baik Tuan kami akan berusaha sebaik kami " ucap dokter tersebut.
“ Aku akan menemui Lucianno terlebih dahulu meminta pertolongan "
“ Ada perlu apa ? "
“ Kau bisa ikut aku jika kau ingin tahu "
.
.
.
.
.
.
.
Disini mereka sekarang tepatnya di ruangan dokter Lucianno.
” Ada pekerjaan apa lagi untukku sobat ? Sungguh hidupmu sangatlah rumit hingga akupun terseret di dalamnya "
Andrew hanya menghela nafas menanggapi perkataan dokter Lucianno , kemudian ia mengeluarkan plastik berisi beberapa helai rambutnya dan rambut Lionel.
“ Kau ingin tes DNA ?" tebak dokter tersebut.
“ Ya , kau benar. Jadi aku minta tolong hubungi kerabat dokter mu untuk hal ini jika kau butuh bantuan"
“ Ah... Baiklah - baiklah aku akan mengerjakannya "
__ADS_1
“ Kira - kira butuh waktu berapa hari atau minggu ?"
“ Aku tidak bisa memastikan. Tapi jika sudah selesai aku akan menghubungimu "
“ Terimakasih "
“ Bagaimana operasi Linzy ? "
“ Jangan membahas itu untuk saat ini , itu membuat rasa bersalahku semakin besar "
“ Oke baiklah aku paham semoga lekas membaik "
“ Oh satu lagi aku ingin bertanya apa 16 atau 17 tahun yang lalu ada seseorang yang melahirkan disini ?"
“ Pasien atas nama ?"
“ Aina Dewantari "
“ Tanyakan itu pada bagian informasi rumah sakit atau jika tidak tanyakan pada bagian kandungan saja " saran Lucianno.
Andrew hanya mengangguk saja.
“ Baiklah , kalau begitu aku pamit terlebih dahulu "
Lucianno mengangguk.
Darren dan Andrew keluar dari ruangan dokter Lucianno.
“ Setelah ini kau akan kemana?"
“ Mengecek Lionel "
Ia segera menuju tempat Lionel dirawat.
“ Bagaimana keadaan Lionel ? "
“ Entahlah dokter belum keluar tuan"
“ Hhh... Baiklah aku akan ketempat putraku "
” Iya tuan silahkan "
Andrew dan Darren kembali ke tempat Martin.
“ Andrew kau nampak kelelahan dan terlihat sangat kacau. Sebaiknya kau istirahat sejenak "
Andrew hanya mengangguk lemah. tidak ia pungkiri ia juga merasa lelah.
.
.
.
.
.
.
.
.
Seminggu kemudian.....
Dokter Lucianno menghubungi Andrew mengatakan jika hasil tes DNA sudah keluar.
Selama seminggu itu Andrew benar - benar menggali informasi terkait dengan persalinan Aina. Ia juga menyelidiki kematian Sanders.
Untuk saat ini Aina juga tengah dirawat di rumah sakit yang sama pula.
Andrew saat ini sedang berada di ruangan dokter Lucianno kembali ditemani oleh Darren.
“ Ini hasil tes DNA nya , kau bisa melihatnya " ujar Lucianno sembari memberikan amplop berisi hasil tes DNA yang diminta oleh Andrew.
Andrew menerimanya dan melihat hasil tersebut dan ternyata hasilnya negatif. Itu berarti Lionel bukanlah anak dari Andrew.
“ Ahh... Mengenai tes DNA aku juga pernah bertanya apakah di rumah sakit ini pernah ada yang meminta tes DNA Lionel dengan Sanders" ucap Darren.
“ Lalu apa yang kau dapat ?"
“ Jawabannya ada. Sanders memang pernah tes DNA disini setelah seminggu Lionel lahir dan ini hasilnya" Darren menyerahkan hasil tes DNA atas nama Jonathan Henrico Sanders.
Andrew menerima dan melihat hasilnya.
Dan betapa terkejutnya Andrew pasalnya hasil tes DNA tersebut menunjukkan hasil yang negatif pula.
“ Lalu Lionel itu anak siapa ?" Andrew bergumam.
“ Kau tahu bukan tabiat dari istri sahabatmu itu ? Dia selalu bermain dengan banyak pria di luar sana.
Lucianno hanya menggelengkan kepalanya tak habis pikir kenapa masih ada perempuan seperti itu padahal sudah memiliki suami yang mapan dan sayang keluarga.
“ Baiklah sampai disini dulu terimakasih Lucianno sudah membantu " ucap Andrew pamit.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Andrew memasuki ruang rawat Lionel. Ya Lionel sudah sadar dan operasinya berhasil.
“ Kau ? Untuk apa kau mengunjungiku ?" tanya Lionel dengan angkuh.
“ Bagaimana kondisimu ? Apakah sudah membaik ? " Andrew tidak menjawab pertanyaan Lionel.
“ Untuk apa kau menanyakan kondisiku , jika kau tak mau mengakui keberadaanku?" ucap Lionel sengit.
“ Aku masih mencoba berbaik hati padamu. Ah... Sudahlah itu tak penting sekarang. Sebenarnya aku kesini tidak hanya ingin membesukmu saja , namun jika ingin memberikan ini " ujar Andrew sembari menyerahkan dua amplop berlogo rumah sakit tempat ia dirawat.
“ Apa ini ?" tanya Lionel bingung namun tetap menerimanya.
“ Buka saja kau akan tahu nanti " jawab Andrew. Lionel yang paham pun segera membuka amplop tersebut kemudian membacanya.
Saat ia membaca hasil tes DNA dan data informasi tentang dirinya matanya sempat membola dan ekspresi wajahnya tidak dapat dibaca.
“ Jadi saya hanya anak Aina dan bukan anak anda ataupun tuan Sanders?" tanya Lionel.
Andrew hanya mengangguk. “ Maaf Lionel tapi memang itu kenyataannya "
Andrew tahu bahwa Lionel sangat shock saat ini , ia berusaha untuk menguatkan Lionel.
Lionel menatap langit - langit kamar rawat inapnya dengan pandangan kosong dan mata yang berkaca - kaca.
__ADS_1
“ Lalu siapa ayah kandung saya ?" ujarnya terdengar memilukan di telinga Andrew.
“ Maaf nak aku juga tak tahu dan satu hal yang harus kau tahu ibumu masih hidup saat ini , dia yang telah menusukmu dan mencoba membunuh saya , apa kau tidak mengenalinya?" tanya Andrew.
“ Benarkah ?" jawab Lionel.
“ Iya benar , apa kau ingin bertemu dengannya?"
Lionel hanya menggeleng “ Tidak perlu , dia telah membuat saya kecewa " ucapnya sendu.
Drrrt..... Drrrrt......
“ Halo " sapa Andrew saat ia mengangkat teleponnya.
“............ "
“ APA ????? Baiklah aku akan segera kesana tunggu " ujar Andrew dengan gelisah dan segera menutup teleponnya.
“ Maaf aku harus segera pergi ada keperluan tiba - tiba " ucap Andrew pada Lionel.
“ T - tunggu "
“ Ada apa ?"
“ Tidak aku hanya ingin meminta maaf telah mengusik kehidupan keluargamu tuan "
“ Sudah aku maafkan "
Lionel tersenyum samar. “Terimakasih "
“ Baiklah aku pergi semoga lekas sembuh " ucap Andrew.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Andrew bergegas menuju ruangan Linzy. “ Bagaimana keadaan anakku Darren ?" tanya Andrew dengan tersengal - sengal.
“ Martin sudah sadar... Tapi kalau Linzy dokter mengatakan jantungnya bermasalah dan mengalami kebocoran sehingga ia butuh donor jantung "
Mendengar hal itu Andrew merasakan lemas kedua kakinya serasa tak bertulang.
“ Lalu bagaimana aku mendapatkan donor jantung ?" monolognya.
Tanpa ia sadari ternyata diam - diam Lionel mengikuti Andrew dan mendengar semuanya. Ia jadi merasa sangat bersalah menyebabkan Linzy menjadi seperti ini.
“ Aku harus melakukannya , ya aku harus melakukannya untuk menebus semua kesalahanku "
Ia menemui dokter yang menangani Linzy dan mencari tahu tentang kondisi Linzy , apakah ia dan Linzy ada kecocokan atau tidak.
“ Permisi dokter " sapa Lionel pada dokter tersebut.
“ Iya , ada perlu apa?" tanya sang dokter ramah.
“ Begini dok. Saya ingin bertanya apakah benar jika pasien atas nama Eleonora Linzy sedang membutuhkan donor jantung? "
“ Benar karena pasien mengalami kebocoran jantung. Ada yang bisa saya bantu ?"
Lionel terdiam sejenak lalu melanjutkan.
“ Begini dokter saya berniat mendonorkan jantung saya untuk pasien , apa bisa ?"
“ Bisa , tapi apakah kondisi anda baik - baik saja ? Maksud saya anda baru saja mengalami insiden dan baru saja pulih dari operasi seminggu lalu"
“ Tenang saja dokter kondisi saya baik - baik saja "
“ Baiklah mari saya periksa terlebih dahulu semoga saja cocok "
Lionel mengangguk dan mengikuti dokter tersebut untuk diperiksa.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Disisi lain....
“ Martin bagaimana kondisimu nak ? Apa ada yang sakit biar daddy panggilkan dokter " tawar daddynya pada Martin.
“ Berapa lama aku tak sadarkan diri ?" tanya Martin bak orang linglung.
“ Seminggu "
“ Apakah daddy sendirian disini ? Tidak ada mommy ? Dimana mommy dan Linzy? "
“ Mommy berada di rumah ia sedang mengalami depresi saat ini"
“ Lalu Linzy?"
Deg...
“ Dad mana adikku ? Apa adikku baik - baik saja ?"
Andrew hanya diam tak dapat menjawab tak terasa airmatanya lolos begitu saja.
“ Maaf.... Maafkan daddy Martin. Daddy menyebabkan mu dan adikmu terluka... Hiks... "
“ Dad ? Apa maksud daddy ? Linzy kenapa ? " desak Martin.
“ Linzy sedang dirawat saat ini kondisinya kritis karena terjadi kebocoran pada jantungnya akibat luka tusukkan pisau di dadanya. Hiks... Saat kami mendengar berita kecelakaanmu , pada malam harinya kami mendapat kabar bahwa Linzy hilang karena diculik" Andrew mencoba menerangkan.
Martin tak memberikan tanggapan apapun , ia masih menunggu daddy nya melanjutkan penjelasannya.
“ Kami sangat shock saat itu mommymu sempat pingsan dan kami tepatnya daddy , Felix , dan Vernon beserta beberapa anak buah menuju kedalam hutan tepat dimana lokasi penculikan Linzy berada. Ternyata dalang dibalik penculikan Linzy dan kecelakaan yang kau alami adalah Lionel Sanders dan Aletta Wijaya , serta...."
“ Serta...... ?" lanjut Martin.
“ A - Aina "
__ADS_1
“ APAA?" ucap Martin dengan mata membola.
Author POV End