WIND WINDERS PACK

WIND WINDERS PACK
PART 9


__ADS_3

"Maaf pak, tapi ini sudah malam. Saya harus pulang.." pamit Reina


Raut wajah Alex berubah dingin mendengar ucapan Reina. Pria itu menarik lengan Reina sehingga gadis itu tertarik dan menabrak dadanya


"Mengapa kau ingin pulang? Kau sudah di rumah. Ini rumahmu, bersamaku!"


Reina terlihat sedikit memberontak "Pak, saya harus pulang!"


"Ini rumahmu! Kau tinggal bersamaku, kau adalah mate ku!"


"Ini bukan rumah saya, pak! Lagipula atas dasar apa bapak mengklaim diri saya? Saya belum menyetujuinya."


Alex tertegun. Ucapan Reina seakan menolaknya. Mata Alex menatap tajam ke arah Reina sambil menggeram


"Kau menolak ku?"


Nyali Reina sedikit ciut melihat tatapan Alex. Mata pria itu sekelam malam yang mampu menelan siapapun dalam kegelapannya. Apalagi saat genggaman Alex pada lengannya menguat. Reina tahu, semakin dirinya memberontak maka Alex akan semakin marah


Mungkin kalau dihadapannya sekarang adalah seorang manusia biasa, Reina tidak setakut ini. Namun yang dihadapannya adalah seorang manusia serigala. Reina harus lebih berhati-hati karena bisa saja Alex khilaf dan memakannya hidup-hidup.


Perlahan Reina menyentuh dada Alex


"Pak.."


"Jangan panggil bapak!"


Reina tersentak dan memejamkan mata sambil menggigit bibirnya saat mendengar Alex membentaknya. Ingin sekali berkata kasar, namun Reina harus menahannya. Demi keselamatan dirinya. Reina mengatur nafasnya dan mencoba melihat ke arah pria di hadapannya


"Alex.." panggil Reina lembut


Syaraf-syaraf yang tegang di kepala Alex seakan mengendur saat mendengar suara lembut Reina. Terasa tangan gadis itu mengusap lembut dadanya, membuat amarahnya seketika luntur


"Maafkan aku, tetapi bagiku ini terlalu cepat. Aku masih bingung harus berbuat apa. Aku perlu memikirkan semuanya.. ya?" bujuk Reina sambil menatap ke mata Alex.


Pandangan Alex menjadi lebih lembut, tidak setajam tadi. Pria itu melepaskan lengan Reina dan ganti memeluk pinggang ramping Reina


"Kau bisa memikirkannya di sini."


"Tidak, aku tidak bisa berfikir kalau disini. Lagipula aku memiliki seorang ibu. Dia akan khawatir kalau aku tidak pulang." Reina masih berusaha membujuk Alex.


Alex menghela nafas. Benar kata Elder Eqwin kalau Alex harus banyak bersabar menghadapi mate nya ini


"Kau meminta sesuatu yang sulit, sayang.." bisik Alex sambil mendekap Reina.


Tindakan Alex ini sukses membuat Reina berdebar-debar. Sepertinya Alex juga merasakan hal yang sama. Reina bisa mendengar degub kehidupan pria itu berdetak kencang. Tinggi gadis itu memang hanya se dada Alex.

__ADS_1


"Apa yang sulit? Kita masih bisa bertemu lagi besok, kan?" Tanpa sadar Reina merapatkan kepalanya di dada Alex.


"Itu yang sulit. Aku ingin kau tidak berada jauh dariku. Aku ingin setiap saat melihatmu. Saat bangun pagi, saat pulang, saat makan bersama.."


"Mengerikan, aku akan merasa memiliki CCTV hidup." Reina mencoba bergurau.


Alex tidak menjawab. Pria itu mencium kepala Reina dalam-dalam seolah ingin mengingat wangi rambut Reina. Rasanya sangat aneh, namun Reina akui perbuatan Alex sangat manis. Tak urung gadis itu tersenyum


"Kau bisa menemuiku kapanpun kau mau. Kau bisa ke rumahku, berkenalan dengan ibuku, kita bisa mengobrol, makan dan berkencan."


Alex merenggangkan pelukannya dan memandang lembut ke arah Reina


"Berkencan?"


Terlihat pipi Reina memerah. Alex menyukainya, mungkin mulai sekarang Alex akan lebih sering membuat pipi Reina memerah seperti saat ini. Menggemaskan.


"Baiklah, aku akan mengantarmu pulang. Tapi sebelum itu berikan aku bayarannya."


"Hah?"


Sebelum Reina bereaksi, Alex lebih dulu menundukkan kepalanya dan menyatukan bibirnya dengan bibir Reina. Reina terkejut, tapi dekapan Alex membuat gadis itu tidak dapat bergerak selain telapak tangannya yang meremas kemeja Alex


Ini ciuman pertama Reina. Bukan, ciuman kedua. Karena ciuman pertamanya juga sudah diambil Alex saat membangunkannya dari pingsan yang pertama. Kali ini Reina sadar sesadar-sadarnya


Alex pun merasakan hal yang sama. Dulu Trixie sering menyuruh Alex untuk berlatih berciuman dengan dirinya sehingga membuat Alex mahir untuk memainkan bibir dan lidahnya. Hanya ciuman biasa menurut Alex karena Alex tidak merasakan apapun. Tetapi ciuman dengan Reina berbeda saat Alex melakukannya dengan Trixie.


Bibir Reina terasa lebih lembut, hangat dan manis, membuat Alex betah berlama-lama memainkan bibir dan lidahnya di mulut Reina. Apakah karena Reina adalah mate yang ditakdirkan untuknya, entahlah. Yang jelas saat ini Alex hanya ingin menikmati ciumannya dengan Reina


***


Alex menepati janjinya untuk mengantarkan Reina pulang. Willy, supir pribadi Alex mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Jalanan sedikit lebih lengang karena jam-jam sibuk sudah hampir berakhir


Di mobil, Alex tidak melepaskan pelukannya pada Reina seakan takut kehilangan gadis itu. Reina sedikit risih, beberapa kali gadis itu mencoba melepaskan pelukan Alex, namun Alex tetap memeluk Reina. Akhirnya Reina hanya bisa pasrah


Tidak ada yang bersuara. Tanpa Reina tahu, Alex dan Willy melakukan beberapa komunikasi melalui mind-link


"Tuan, nona ternyata tinggal di kawasan Klan Schy Land." Willy melakukan mind-link sambil memelankan laju kendaraannya saat memasuki kawasan perumahan sederhana


"Tidak apa-apa. Teruskan perjalanan. Aaron sudah bersekutu denganku." Balas Alex dengan mind-link sambil mengeratkan pelukannya pada Reina


"Berhenti di depan. Yang cat putih itu rumah saya, pak." Kata Reina saat melihat rumahnya dari kejauhan


"Pak?"


Terasa pelukan Alex sedikit menguat. Reina mendongak dan melihat kening Alex sedikit berkerut. Seketika Reina tersadar

__ADS_1


"Maaf, maksudku Alex. Aku masih belum terbiasa memanggil nama anda.." Reina mencoba memperbaiki keadaan. Bisa kacau kalau Alex tiba-tiba berubah pikiran dan membawa Reina kembali ke rumahnya


Willy menghentikan mobilnya di depan rumah ber cat putih itu. Pria itu segera turun dari mobil. Reina pikir Willy akan membukakan pintu mobilnya, ternyata Willy berjalan sedikit menjauh dari mobil, meninggalkan Reina berdua dengan Alex.


"Aku memang sengaja menyuruhnya untuk meninggalkan kita berdua." Ucap Alex


Reina mengerucutkan bibirnya sambil menatap Alex dengan sebal "Berhenti membaca pikiranku!"


Alex tertawa. Pria itu menarik dagu Reina agar bisa menciumnya. Reina yang belum terbiasa sedikit terkejut dengan ulah Alex. Gadis itupun tanpa sadar meremas kemeja Alex


"Bibirmu manis sekali, sepertinya akan jadi favoritku mulai sekarang." Bisik Alex di tengah-tengah ciumannya. Membuat pipi Reina semakin memerah. Alex gemas melihatnya. Kembali Alex mencium Reina


Lama kelamaan ciuman Alex makin panas membuat Reina seperti kehilangan akal sehatnya. Tanpa sadar, Reina memeluk leher Alex. Terasa bibir Alex menyunggingkan senyum lebar sebelum kembali menciumi Reina dengan rakus


Tiba-tiba mata Alex terbuka. Tanpa menghentikan ciumannya, mata Alex seakan mengawasi sekeliling. Alex merasakan ada yang sedang mengawasi mereka


"Nggh.." Reina mendesah pelan saat Alex mengakhiri ciuman mereka dan memberikan kecupan-kecupan ringan di bibir Reina


"Sepertinya kau masih betah berada di sini, sayang?" Goda Alex saat melihat mata Reina masih terpejam


Mendengar ucapan Alex, Reina langsung membuka matanya lebar-lebar dengan pipi memerah. Bisa-bisanya Reina terhanyut dengan cumbuan Alex. Reina segera mendorong Alex untuk melepaskan pelukan pria itu, sementara Alex hanya terkekeh geli melihat sikap salah tingkah Reina


"A-aku turun dulu." Pamit Reina.


Alex menarik tangan Reina yang hendak membuka pintu sebagai tanda agar Reina jangan turun dulu. Segera Alex turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Reina. Reina tersipu, selama 21 tahun hidupnya belum pernah diperlakukan semanis ini oleh seseorang


Alex melingkarkan lengannya di bahu Reina dan mengantar gadis itu sampai di depan pintu. Mata Alex melirik Willy yang sudah berada di dekat mobil


"Ada yang mengawasi kita, tuan. Perlu kuselidiki?" Tanya Willy melalui telepati


"Tidak perlu. Tenang saja, tidak ada hawa pembunuh kurasakan. Sepertinya mereka hanya penasaran." Jawab Alex.


Mereka sampai di depan pintu. Reina membalikkan tubuhnya ke arah Alex


"Terima kasih, maaf tidak menawarkan untuk mampir karena sudah larut malam." Kata Reina


Alex mengangguk sambil membelai kepala Reina "Masuklah, jangan lupa langsung kunci pintu dan jendela. Besok kita bertemu lagi."


Kalimat Alex bukanlah suatu pertanyaan, melainkan perintah. Anehnya, Reina tidak dapat membantahnya. Otaknya seakan kosong


"Hmm.." angguk Reina. Gadis itu bergegas masuk ke dalam rumahnya.


Setelah memastikan Reina masuk ke dalam rumah. Alex berbalik dan langsung masuk ke dalam mobilnya dan menelepon seseorang


"Halo, Aaron. Ini aku, Alex. Aku butuh sedikit bantuanmu.."

__ADS_1


__ADS_2