
Alex menatap layar laptop di depannya dengan seksama. Pria itu sedang mengamati Reina yang terlihat serius menekuni pekerjaannya. Alex tersenyum samar. Tampaknya Reina tidak terganggu dengan pertengkaran mereka. Gadis itu masih bisa bekerja dengan baik
"Terima kasih, paman Nick. Setidaknya aku tahu dia baik-baik saja."
Nick memutuskan sambungan CCTV dari kantor cabang ke kantor pusat. Saat ini Alex dan Nick sedang melakukan sambungan via udara
"Apa ada lagi yang kau butuhkan, Alpha?" tanya Nick
Alex menggeleng "Tidak. Terima kasih, paman."
Nick sebetulnya masih akan berbicara, namun Alex sudah terlebih dahulu memutuskan sambungannya. Alex tahu apa yang akan dibicarakan Nick mengenai hubungannya dengan Reina. Sebuah nasehat, dan Alex tidak mau mendengarkannya saat ini. Alex lebih memilih kembali tenggelam dalam pekerjaannya
Sinar jingga tampak menyinari ruangan Alex saat mentari mulai bersiap kembali ke peraduan. Alex berdiri memandangi jalanan padat kota Toronto lewat jendela kacanya. Hal yang biasa ia lakukan saat sesuatu mengganggu pikirannya yang beberapa minggu belakangan ini jarang Alex lakukan karena wangi tubuh Reina dapat langsung menenangkannya
Alex menyadari, sejak kemunculan Reina beberapa waktu lalu telah mengubah pola hidup Alex. Alex selalu bersemangat menyongsong waktu pulang, hal yang sangat jarang Alex lakukan dulu. Kata Evan, Alex lebih sering tersenyum dan sedikit lebih ramah.
Namun pola itu hilang semenjak Alex dan Reina bertengkar. Alex lebih sering berada di Wind-Corp untuk mengurus bisnisnya atau memonitor Pack nya, karena saat pulang Alex akan terus teringat Reina
Sejujurnya, Alex sangat merindukan Reina. Alex merindukan wangi Reina. Alex merindukan mendekap tubuh mungil Reina. Alex rindu saat-saat penyatuannya dengan Reina
"Reina.." desis Alex sambil memejamkan matanya
Sudah tiga belas hari lamanya Alex hanya memantau gadis itu dari sambungan CCTV Wind-Corp cabang Kingston. Alex bisa saja datang dan membawa paksa Reina untuk ikut bersamanya, tetapi Alex takut kalau-kalau gadis itu makin membencinya.
Alex tersenyum kecut. Seorang Alexander Ulrich yang tidak gentar dengan apapun, ketakutan dengan sorot mata dan ucapan kebencian dari seorang gadis. Alex takut Reina benar-benar meninggalkannya.
"Lebih baik seperti ini.." Gumam Alex sambil memperlihatkan jalanan di bawah yang semakin memadat
CKREK
Evan dan Robert terlihat bergegas masuk ke dalam ruangan Alex, membuat pria itu mengerutkan keningnya
"Ada apa?" tanya Alex melihat Evan dan Robert panik
"Kakak ipar di culik!"
***
"Nggh.." Reina mengerjapkan mata perlahan. Rasa nyeri di kepalanya membuat gadis itu meringis saat mencoba untuk bangun.
__ADS_1
Reina melihat ke sekeliling. Gadis itu mengenyitkan keningnya karena tidak mengenali ruangan tempatnya berada. Ruangan yang gelap. Satu-satunya penerangan hanyalah cahaya yang masuk dari jendela yang tertutup tirai.
Reina mencoba turun dari ranjang, namun pergerakannya membuat gadis itu merasa pusing dan kembali terduduk. Reina meraba kepalanya yang ternyata di balut oleh perban
Perlahan Reina mencoba mengingat kejadian sebelum dirinya pingsan
FLASHBACK
Reina berjalan menuju gudang stok yang berada di samping gedung Wind-Corp. Sebelum pulang, Anggi menyuruhnya untuk mengecek stok yang akan datang. Sebetulnya Reina sedikit ragu karena hari sudah sore. Namun gadis itu tetap mematuhi perintah Anggi
Reina merapatkan jaketnya. Walau bulan Agustus matahari bersinar cukup cerah, namun hembusan angin dingin tetap saja terasa. Reina masuk ke dalam gudang stok, terlihat beberapa orang masih berada di sana
"Kira-kira jam berapa truk stok akan tiba?" tanya Reina pada salah seorang pegawai yang paling dekat dengan tempatnya berdiri
Pegawai itu menatap Reina tanpa menjawab pertanyaan Reina.
"Kamu tidak dengar? Aku tanya..." Reina tercekat melihat orang-orang di gudang stok memandangnya dengan warna mata merah, biru dan olive. Bukan satu dua, namun belasan orang. Wajah-wajah mereka tampak tidak bersahabat. Ketakutan mulai merayapi hati Reina. Teringat penyerangan Rogue beberapa waktu yang lalu
Reina segera berbalik hendak berbalik keluar dari gudang stok, namun sesuatu menghantam kepala Reina. Bau anyir tercium sebelum akhirnya pandangan Reina menjadi gelap
FLASHBACK END
"Alex.." Gumam Reina
Penculiknya adalah bangsa Werewolf. Kemungkinan besar erat kaitannya dengan posisinya sebagai mate Alex. Airmata Reina mulai menggenang. Ketakutan mulai menjalari hatinya. Ingin rasanya berteriak agar Alex menyelamatkannya
"Gadis itu akan menjadi beban Alex.." Ucapan Trixie kembali terngiang di telinga Reina
"Luna yang lemah.."
"Ya, aku tidak boleh menjadi beban Alex. Lagipula belum tentu dia mau repot-repot menyelamatkan aku." Reina membathin sambil mengusap air matanya.
Reina pelan-pelan berjalan menuju pintu dan menggerakkan grendel nya
"Sial, terkunci.."Rutuk Reina.
Gadis itu menatap jendela. Tirai tipis yang menutupinya menunjukkan tidak adanya jeruji besi di jendela. Kemungkinan besar Reina bisa melarikan diri dari sana
Reina berjalan ke arah jendela dan membukanya. Gadis itu terperanjat karena menyadari dirinya ternyata berada jauh di atas tanah
__ADS_1
"Pantas tidak ada jeruji. Nggak bisa keluar juga.." Reina bersungut-sungut
Gadis itu kembali merebahkan diri di ranjang karena merasa kepalanya berdenyut. Reina mengusap-usap bagian yang sakit sambil terus berfikir bagaimana caranya agar dirinya bisa kabur dari tempat ini
Tanpa Reina sadari, tangannya memancarkan sinar berwarna emas keperakan
***
Gigi Alex gemeretak membaca pesan yang ditinggalkan oleh penculik Reina
"Datanglah malam ini ke bukit Holly untuk menukarkan kepempimpinan Pack mu dengan nyawa mate mu!"
"Sial! Mereka menggunakan Reina untuk menekanku. Aku tidak akan memaafkan mereka kalau Reina sampai lecet sedikit saja." Geram Alex.
Pria itu segera menggunakan mantel tebal yang mirip jaket anti peluru untuk menahan serangan dari Werewolf dan menyambar cakar logamnya
"Kau mau pergi, Alex?" tanya Robert saat melihat Alex dengan cepat melintasi ruangan. Semuanya sedang berkumpul di ruang keluarga
Langkah Alex terhenti dan menatap Robert "Aku harus menyelamatkan istriku, ayah."
"Kau mulai tidak waras, Alex. Ke sana dan membebaskan Reina sama saja dengan menukarkan nyawamu!" kata Trixie keras
Alex menatap ke arah Trixie sambil tersenyum "Kalau itu untuk kebebasan Reina, aku rela menukarnya."
"Kau gila! Kau harus memikirkan keberlangsungan Pack, Alex! Kau bisa mencari Luna pengganti!" Trixie masih berusaha membujuk Alex
"Aku tidak akan bisa mengurus Pack kalau bukan Reina yang ada di sisiku." Alex menoleh ke arah Evan dengan tatapan serius
"Kalau aku mati, kau harus segera membunuh Werewolf yang membunuhku untuk menjaga Pack kita."
"Kakak! Jangan bicara sembarangan! Kau Werewolf terkuat di Wind Winders Pack. Kau tidak akan mati!" suara Evan terdengar bergetar
Alex menarik ujung bibirnya. Dibandingkan dirinya, Evan memang lebih perasa dan lebih cengeng
"Alex, kau belum bisa bertransformasi. Mungkin Reina memang bukan mate mu, jangan mengorbankan dirimu demi dia.." Kata Trixie
"Aku sudah tidak peduli aku bisa melakukan shift atau tidak, Trix! Yang penting Reina, hanya Reina!" Bentak Alex membuat Trixie sedikit mundur sambil menatap Alex tidak percaya
Alex memejamkan mata sambil mengangguk "Aku mencintai Reina.."
__ADS_1