
Gelap berangsur memudar saat sang malam menyerahkan tahta pada sang fajar. Tetesan embun pagi dan udara sejuk masih terasa menembus kulit Alex yang tidak tertutup kain. Suara gemericik air terjun dan cuitan burung di pagi hari menjadi satu simfoni tersendiri untuk memulai hari. Perlahan Alex mengerjap untuk memastikan dirinya telah bangun dari mimpi
Alex tersenyum menatap Reina yang masih bergelung di bawah mantel tebal sambil memeluk dadanya. Semalam bukanlah mimpi indah, melainkan kenyataan yang indah. Alex mengusap lembut bahu lembut Reina yang terbuka
Pembicaraan semalam dengan anggota keluarganya membuat Alex kembali memikirkan Reina. Alex tahu, kekuatan yang Reina punya muncul bersamaan dengan munculnya jiwa serigala milik Alex.
Alex kembali mengingat mimpinya tentang raja Arge dan seorang wanita yang menyembunyikan tongkat sakti.
Menurut buku yang Alex baca, raja Arge dan ratu Reign bermusuhan. Hal itu menjadi cikal bakal permusuhan antara klan Werewolf dan klan penyihir
Ratu Reign yang membunuh raja Arge dan menyegel jiwa raja Arge di tongkat sakti miliknya. Siapapun yang bisa menemukan tongkat ratu Reign maka dapat membebaskan jiwa raja Arge, Otomatis akan diangkat sebagai pemimpin tertinggi Vadre Land dan dapat membawa kedamaian di Vadre Land
Alex memicingkan matanya saat mengingat hal-hal rancu dalam mimpinya beberapa waktu yang lalu. Pikirannya pun sibuk mereka-reka
"Yang bisa membawa tongkat sakti dan memantrainya hanyalah ratu Reign. Berarti wanita itu adalah ratu Reign, tetapi kenapa mereka bersama? Kalau benar wanita itu ratu Reign, mengapa dia menyebut raja Arge sebagai mate nya..?"
Alex menarik nafas sambil memijat keningnya. Pembahasan yang sangat memusingkan! Semuanya seakan bertolak belakang.
Lengan Alex kembali memeluk Reina yang hanya menggeliat lalu kembali tertidur dalam dekapan Alex. Ketakutan sedikit menyusupi hati Alex kalau-kalau dirinya diminta melepaskan Reina. Pelukan Alex sedikit menguat
"Tidak ada yang bisa memisahkan kita. Kau milikku, selamanya milikku.." Bathin Alex sambil mengecup kepala Reina.
Sepertinya mood Alex pagi ini sedikit terkacaukan. Alex butuh menenangkan pikirannya. Pria itu perlahan melepaskan pelukan Reina dan berjalan menuju sungai. Air yang jernih dan bening membuat Alex ingin sekali berendam menyegarkan diri tanpa peduli suhu air yang menggigit
Sembari berendam sesekali Alex mengusap wajah dan kepalanya dan menikmati laju air yang mengalir di rambut dan wajahnya. Sesaat Alex ingin melupakan apa yang sedang membebani pikirannya
"Alex.." suara Reina membuat pria itu menoleh.
Alex tersenyum melihat Reina yang baru saja bangun tidur menatapnya dengan wajah yang masih mengantuk
"Kemarilah sayang. Segarkan badanmu di sini." Ajak Alex sambil mengulurkan tangannya
__ADS_1
Reina dengan cepat menggeleng "Tidak mau. Airnya pasti dingin sekali."
Alex berdecak kesal. Tidak ada yang berani menolaknya. Alex segera berdiri dari tempat berendamnya dan berjalan kecil menuju Reina yang melihatnya dengan wajah memerah. Sungguh menggemaskan!
"K-kau telanjang.. Bagaimana kalau ada yang lihat!" Reina menolah ke kanan dan kiri
"Sudah kubilang ini tempat pribadiku. Tidak ada siapapun yang datang kesini kalau tidak kupanggil." Alex terkekeh
Dengan sekali gerakan, Alex melepaskan mantel pembungkus tubuh Reina dan langsung meletakkan tubuh mungil Reina di pundaknya
"Aleex, turunkan aku!" jerit Reina sambil memberontak. Reina sudah bisa membaca kemana Alex akan membawanya, dan tebakannya benar
BYUUR!
Alex menjatuhkan tubuhnya yang menggendong Reina di sisi sungai yang dalam. Reina segera mendorong tubuhnya naik ke permukaan sambil menghirup udara sambil terbatuk-batuk karena sedikit air masuk kedalam tenggorokannya
"Kau jahat sekali!" Teriak Reina kesal sambil mengusap wajahnya.
Gadis itu kini berada dalam pelukan Alex sambil berpegangan pada bahu kokoh Alex. Alex hanya terkekeh sambil tetap menggendong Reina seperti menggendong Koala. Tempat sungai yang dipijaknya setinggi dada Alex, berarti setinggi Reina. Tidak mungkin Alex menurunkan Reina di sini.
Tatapan Alex yang intens, membuat gadis itu salah tingkah. Reina mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk menutupi rasa gugupnya. Suasana di sungai cermin terlihat lebih jelas dibandingkan saat malam kemarin. Reina bisa melihat air terjun yang berada tidak jauh dari tempatnya
Samar-samar dalam ingatan Reina, seolah dirinya pernah menembus air terjun itu. Tapi dimana? Reina segera menggeleng-gelengkan kepalanya
"Ada apa?" tanya Alex saat melihat reaksi Reina
"Eh, tidak apa-apa.." Ucap Reina pelan. Sesaat Reina sedikit malu karena tindakan spontannya terlihat oleh Alex
Wajah merona Reina serta tetesan air dari rambut dan dagu Reina menambah kesan seksi gadis itu, membuat bagian bawah tubuh Alex kembali mengeras sempurna. Dengan cepat Alex menjilat rahang Reina dan mengecupi leher hingga dada Reina, mengukir love bite baru di atas love bite semalam
Reina mengerang saat ciuman Alex berpindah ke bibirnya dan tangan Alex ikut meremas b*kongnya. Alex menyandarkan tubuh Reina di sebuah batu besar dan mulai memasuki gadis itu. Tidak ada yang sanggup berbicara, hanya terdengar geraman dan lenguhan selama bermenit-menit lamanya. Tak lama Reina merasakan dirinya akan meledak
__ADS_1
"A-Alex..."
"Lepaskan bersamaku, sayang.." kata Alex lirih
Tepat saat Alex merasakan tubuh Reina bergetar, gigi-gigi taring Alex muncul. Seiring dengan pelepasannya, Alex lalu menusuk leher Reina, membuat tanda kalau gadis itu adalah miliknya
"Aakh.." Reina mencengkram bahu Alex kuat-kuat seolah melampiaskan rasa sakit dan nikmat yang dirasakannya sekaligus
Alex menatap Reina sembari bergerak menuntaskan rasa yang ada. Gadis itu hanya memejamkan mata sambil mengatur nafas dengan wajah memerah
Setelah selesai, Alex kemudian membawa Reina naik dan mendudukkan tubuh Reina di rerumputan yang lembut. Alex melihat luka yang dibuatnya di leher Reina. Alex baru saja mendapatkan jiwa serigalanya, jadi baru saat ini Alex bisa menandai Reina dengan benar
"Sakit.." Rintih Reina sambil menyentuh tempat gigitan Alex di lehernya.
Mata Alex membulat saat melihat dari tangan Reina muncul cahaya perak keemasan. Luka bekas gigitannya pun mengering dengan cepat. Sepertinya Reina juga menyadarinya saat merasakan rasa sakitnya berkurang jauh
"Lukamu mengering dengan cepat Rein.." kata Alex
"Alex.." Reina kebingungan menatap Alex
Alex kembali meneliti leher Reina.. Matanya tidak salah, luka itu mengering dengan cepat saat sinar perak keemasan itu keluar dari tangan Reina dan menyapu luka di leher gadis itu. Seorang Werewolf tidak dapat mengobati lukanya secepat itu, terlebih bangsa manusia
Yang bisa melakukan hal seperti itu hanyalah orang-orang dari klan penyihir. Alex dengan cepat memeluk Reina yang kebingungan
"Apa yang terjadi denganku, Alex?" tanya Reina dalam dekapan Alex
"Sshh..Tidak apa-apa. Kau tenang ya."
Alex merenggangkan pelukannya dan menatap serius kearah Reina
"Ingat, jangan pernah ceritakan hal ini pada siapapun, ya?" Kata Alex
__ADS_1
"Meskipun pada ibu?"
Alex terdiam lalu mengangguk mantap "Iya, meskipun pada ibu.."