
Di satu tempat, 100 tahun lalu
Jemari kurus Reign bergerak mengusap peluh di kepala Arge. Sepertinya racun wolfsbane sudah menyerang pernafasan Arge
Mata Arge terbuka saat merasakan usapan Reign. Mereka berdua saling menatap dengan penuh cinta. Susah payah Arge mengukir senyuman kecil di bibirnya. Arge pun perlahan membelai kepala Reign yang berada di sisinya
"Maafkan aku tidak bisa melindungimu.." Suara Arge terdengar lemah
Reign mengerjap perlahan sambil tersenyum tipis "Kau sudah sangat melindungiku, Arge. Kau melakukan semuanya untukku dan Vadre Land.."
Reign menarik nafas panjang seolah ingin mengisi paru-parunya dengan udara. Nafas Arge pun terdengar berat. Keduanya masih memaksakan diri untuk saling menatap satu sama lain
Hati Arge terenyuh melihat Reign yang lemas karena kehilangan seluruh tenaganya. Arge tahu, Reign mengalami luka dalam yang serius akibat menahan Rangoon dan Rebelon Ape tadi
"Harusnya kau pergi ke hutan penyihir bersama ayahmu, Reign.." Arge masih membelai rambut panjang Reign yang terlihat mulai memutih menandakan energi kehidupannya hampir habis
Reign menggeleng pelan mendengar ucapan Arge "Dan meninggalkanmu berperang sendirian dengan Mystiques Beast? Hal itu tidak akan pernah terjadi.."
Nafas-nafas mereka sudah semakin berat terdengar. Bibir Arge sepenuhnya membiru sedangkan rambut Reign hampir semuanya memutih
"Aku memohon pada Moon Goddess agar kembali menjodohkanku dengan dirimu di kehidupan berikutnya.." Nafas Arge terdengar tersengal.
Pria itu mencoba menarik nafas dalam-dalam untuk melanjutkan ucapannya
"Maafkan aku yang banyak membuatmu susah di kehidupan ini.."
"Kalau kau masih berkata begitu sebaiknya kau diam dan hemat tenagamu, Arge." kata Reign pelan
Arge tertawa kecil. Reign masih galak saja di saat-saat seperti ini. Reign ikut terrtawa kecil. Biarlah saat terakhir mereka diisi dengan saling membahagiakan satu sama lain. Jemari Reign menyisir rambut tebal Arge
"Bagaimana aku bisa menemukanmu kelak, Arge? Sementara dunia ini begitu luas.." Netra amber milik Reign menatap Arge seolah khawatir dirinya tidak akan menjumpai Arge di kehidupan selanjutnya
Arge meraih tangan Reign yang berada di kepalanya dan menggenggam tangan Reign. Walau jemari keduanya mendingin, namun rasa hangat tetap mengalir di hati keduanya
"Aku akan menanti mu dalam persembunyianku. Hanya cintamu yang bisa menarikku kembali.." Suara Arge mulai terdengar seperti bisikan
Reign meneteskan airmata lalu mengangguk kecil. Kening keduanya menyatu sementara genggaman tangan keduanya makin erat
"Putri Reignilrets Gyrezyn, Putri dari klan penyihir.. Aku mencintaimu.." Bisik Arge
"Alpha Argeronz, Pemimpin Vadre Land.. Aku mencintaimu.." bisik Reign
Dalam pengelihatan Arge yang mulai mengabur, terlihat Reign perlahan menutup matanya. Bathin Arge menjerit. Serigala dalam dirinya melolong pilu, lalu diam dan menghilang. Sebelum kegelapan menyergap, samar Arge melihat cahaya terang dan wajah ayah Reign tengah tersenyum ke arahnya
"Tuan Gyrezyn.." bisik Arge
Lalu semuanya gelap...
__ADS_1
***
Bukit Holly, 100 tahun kemudian
"Tubuhnya terus memperbaiki diri. Kita harus terus melukainya agar dia terus lemah tidak berdaya seperti ini." Kata Drey sambil melihat ke arah Alex.
Tubuh Reina terasa memanas. Sesuatu energi seakan mendorong untuk keluar. Tangannya terus bergerak mencoba melonggarkan ikatan yang membelitnya
"Kumohon Tuhan, biarkan aku lepas. Jangan biarkan aku menjadi sebab kematian Alex.." Bathin Reina pilu
Tangannya sudah perih memerah karena bergesekan dengan tali yang mengikatnya. Reina tidak peduli, yang ada dipikirannya adalah ia harus segera lepas dari ikatan ini sebelum seseorang melukai atau membunuh Alex
"Bulan purnama sudah terlihat menerangi bukit Holly. Sebentar lagi posisi bulan akan tepat berada di atas kepala. Kita harus terus menyiksanya." Ujar Gofie sambil melihat ke arah bulan
Bulan purnama menggantung hampir tegak lurus dengan bumi, terlihat besar dengan warnanya yang biru. Fenomena blue moon yang jarang terjadi
"Serahkan padaku."
Terlihat Vhla dengan cepat mengayunkan belati ke arah Alex. Seketika Reina menjerit keras
"Tidaaak!!"
Tiba-tiba secercah cahaya menyilaukan berwarna perak keemasan muncul dari tubuh Reina dan melesat ke udara
BLAAAR!!
***
Penny mendengkus melihat pria yang paling dihindarinya di muka bumi datang mendekat
"Kenapa kau kemari? Bukankah aku menyuruhmu menjaga rumah kaca?!" Tanya Penny judes
Pria itu terlihat menghela nafas "Kau tahu aku tidak bisa dekat-dekat dengan tanamanmu itu.."
Penny memutar bola matanya lalu kembali mengacuhkan pria itu, kembali menekuni pekerjaannya merangkai bunga pesanan
Pria itu duduk di depan Penny dan terus menatap ke arah Penny. Konsentrasi Penny pun buyar. Ditatapnya pria dihadapannya dengan jengkel
"Pergilah, aku harus menyelesaikan pesanan ini. Pagi-pagi pelanggan akan datang mengambil pesanannya." Usir Penny
"Aku harus bertemu anakku. Biar bagaimanapun dia darah dagingku dan dia harus mengetahui kalau ayahnya adalah.."
"Cukup!" teriak Penny sembari memandang tajam ke arah pria itu
"Kau sudah meninggalkannya sejak bayi. Kau tidak punya hak mengakuinya!"
Pria itu menghela nafas. Dirinya tahu kalau kesalahannya di masa lalu amat fatal
__ADS_1
"Aku punya alasan untuk pergi. Keluargaku membutuhkanku.."
Penny tersenyum miring sambil meletakkan gunting tanaman yang dipegangnya
"Dan keluargamu pula yang sudah membuangmu kan, karena itu kau kembali muncul di hadapanku setelah sekian lama!"
"Itu juga ada alasannya..." Jawab pria itu cepat, membuat Penny terlihat marah
"Kau benar-benar..."
Penny menghentikan ucapannya saat merasakan perut dan dadanya serasa ditekan oleh sesuatu. Mata Penny menyipit merasakan sakit. Pria di hadapan Penny sontak melompat dan menahan tubuh Penny yang terhuyung. Mau tidak mau, Penny terpaksa berpegangan pada jaket pria itu
"Penny, kau kenapa?" Tanya pria itu cemas
"Aaakh.." Penny memekik saat merasakan ada yang tercabut dalam dirinya.
Tubuh Penny ambruk, untung saja pria itu sigap menahannya dan menggendongnya ke arah kursi panjang yang biasa digunakan Penny untuk bersantai di toko
Nafas Penny terlihat tersengal-sengal. Pria itu segera mengeluarkan sapu tangan dan mengelap peluh yang membasahi kening Penny
Sesaat Penny mulai bisa mengatur nafasnya. Matanya melihat ke arah langit-langit. Matanya membola, Penny segera duduk dan langsung menatap mata pria di sebelahnya
"Kekuatannya sudah terlepas.. Aku harus mencarinya, sangat berbahaya bila ia tidak tahu cara mengendalikannya.." Penny berusaha berdiri namun tubuhnya masih terasa lemah
"Penny, apa yang kau katakan?" Pria itu kebingungan
Penny menatap pria itu dengan tatapan yang sulit diartikan
"Aku harus pulang, aku harus menemui Reina.."
***
BLAAR!!
Cahaya perak keemasan itu menyebar dan membuat silau semua orang yang berada di bukit Holly.
Perlahan cahaya itu memudar. Terlihat Reina berdiri dengan nafas ngos-ngosan. Tali pengikatnya terlepas, tiang kayu yang dipakai untuk menopang tubuhnya pun patah
Semua orang terkejut melihat ke arah Reina. Tidak ada yang bersuara satupun. Termasuk Alex yang terkejut melihat apa yang terjadi pada diri mate nya
Reina merasakan rasa lelah yang luar biasa sehingga gadis itu jatuh terduduk tidak kuat menopang berat tubuhnya. Tatapan mata Alex dan Reina bertemu. Reina tersenyum kecil dengan tatapan sayu, seolah mengabarkan dirinya sudah baik-baik saja, membuat hati Alex menjadi lebih lega
"Vhla, luka-luka Alex mulai pulih. Cepat tusuk dia lagi!" Teriak Drey yang mengembalikan kesadaran semua orang
Mata Alex seketika berubah merah. Dengan sekali sentakan, tali pengikatnya terlepas. Alex berdiri dan meraung keras.
"SERANG MEREKA!"
__ADS_1