WIND WINDERS PACK

WIND WINDERS PACK
PART 35


__ADS_3

Penny dengan resah menatap keluar pagar, berharap kalau Reina sudah pulang dari tugas luar kotanya. Penny merasa sedikit janggal karena hampir dua bulan ini Reina sering sekali ditugaskan keluar kota semenjak Reina bercerita akan pergi ke kantor pusat Wind-Corp. Penny pun kesulitan mengontak Reina karena sejak pergi bertugas, telepon gadis itu tidak dapat dihubungi.


"Dia belum datang?"


Penny terlonjak mendengar suara pria di sebelahnya. Matanya melotot kesal. Pria itu selalu saja datang dan pergi sesuka hatinya.


"Kenapa kau disini?! Sudah kubilang kau harus menjaga kebun di rumah kaca. Akhir-akhir ini banyak yang mencuri tanamanku di sana." kata Penny sambil duduk di kursi teras


"Aku tidak bisa jauh darimu." Pria itu terkekeh.


Penny hanya memutar bola matanya. Pria itu pun ikut duduk di kursi teras dan melihat ke luar pagar


"Aku hanya bisa berjaga diluar. Kau tahu, aku alergi serbuk bunga..Bisa membuatku sesak nafas." kata pria itu


Penny mendecih "Alasan saja."


Keduanya kembali terdiam seolah menikmati mentari senja yang hampir tenggelam. Keduanya seperti tidak memiliki pertikaian apapun diantara mereka


"Penny, aku boleh bertanya sesuatu?"


"Tidak boleh!" jawab Penny cepat. Pria itu berdecak kesal


"Aku hanya ingin tahu maksud perkataanmu tentang kekuatan yang lepas saat di toko bunga satu minggu lalu."


Penny melirik ke arah pria di sebelahnya. "Aku hanya meracau. Sekarang pergilah."


Pria itu malah menyandarkan tubuhnya di kursi teras "Biarkan aku menemanimu menunggu Reina. Aku janji tidak akan bicara macam-macam dengannya."


Penny merasa geram. Wanita itu ingin sekali melemparkan pot bunga ke arah pria itu, tetapi Penny masih bisa menggunakan akal sehatnya, sungguh sayang pot bunga cantiknya bila harus pecah menghantam pria menyebalkan di sebelahnya


"Bibi Penny.."


Penny menoleh ke arah suara. Terlihat Kirk melambai dari pagar. Penny tersenyum melihat Kirk


"Hai, baru pulang Kirk?" Sapa Penny basa-basi


"Iya, kebetulan hari ini tidak ada lembur." jawab Kirk sambil memperhatikan pria yang duduk bersama Penny


Pria di sebelah Penny pun memicingkan mata melihat ke arah Kirk. Kedua tatapan mata itu beradu, hingga Penny berdehem. Kirk yang pertama menyudahi kontak matanya


"Baiklah bibi Penny, aku pulang dulu." kata Kirk sambil melambai ke arah Penny. Penny mengangguk membalas lambaian Kirk

__ADS_1


"Dia tinggal di sebelah?" tanya pria itu sambil melihat Kirk yang masuk ke dalam rumahnya


"Kirk? Yeah, kami bertetangga sejak Reina masih kecil. Pemuda yang baik." kata Penny


Pria itu mencibir "Putriku harus mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari dia."


"Lebih baik darimu?" sindir Penny


Pria itu menghela nafas "Lebih baik kau jauhkan dia dari Reina."


"Kenapa?"


Pria itu terdiam tidak membalas. Penny pun kembali melihat ke jalanan. Suasana terlihat sepi, matahari sebentar lagi terbenam dengan sempurna


"Alexander Ulrich.."


Pria di sebelah Penny sontak menoleh saat Penny menyebutkan nama Alex. Penny balas menatap pria itu


"Kau pernah bertanya, apa aku kenal dengan Alexander Ulrich. Dia adalah boss tempat Reina bekerja."


Pria itu tertawa mendengar ucapan Penny "Kau baru menyelidikinya? Padahal aku memberitahukanmu beberapa minggu yang lalu."


Penny menggeleng "Awalnya aku tidak ambil pusing dengan nama itu. Tetapi, kemarin-kemarin Reina sempat mengigau menyebut nama Alex. Lalu aku mengingat kau menyebutkan nama Alexander Ulrich. Apa mungkin mereka orang yang sama?"


"Kalau malam ini belum kembali, besok aku akan pergi ketempat Reina bekerja.." Desis Penny yang terdengar di teling pria itu


"Aku akan menemanimu.." kata pria itu


Keduanya kembali terdiam. Lampu-lampu jalanan mulai otomatis menyala menyoroti jalanan yang kian lengang


***


"Jadi Tuan muda Ulrich masih dalam perjalanan dinas bersama para stafnya?" tanya Penny pada seorang resepsionis yang bertugas menyambut tamu-tamu Wind-Corp


"Betul nyonya. Mungkin beberapa hari lagi beliau akan kembali." Jawab resepsionis itu dengan senyum yang selalu mengembang


"Mm apa kau mengenali semua staff yang ikut? Maksudku, aku menanyakan anakku yang bekerja di Wind-Corp cabang Kingston. Mereka mengatakan anakku juga ikut perjalanan dinas bersama orang-orang kantor pusat." kata Penny sedikit kaku. Penny memang tidak memiliki pengalaman apapun tentang perkantoran


"Tentu saja kami mengenali semua staff pusat yang ikut, tetapi kalau staff dari cabang, kami tidak hafal siapapun. Siapa namanya?" tanya resepsionis cantik itu


"Sterling. Reina Sterling."

__ADS_1


Senyum resepsionis cantik itu seketika hilang, berganti dengan wajah terkejut. Matanya tiba-tiba berkilat biru


Hanya sedetik, kemudian resepsionis itu bisa menguasai dirinya dan kembali tersenyum


"Nona Sterling juga ada dalam rombongan bisnis, nyonya. Beberapa hari lagi mereka akan kembali."


Wajah resepsionis itu hanya sedetik berubah, lalu sudah kembali biasa. Namun perubahan sedetik itu tetap tertangkap dalam netra Penny sehingga wanita ini menyadari sesuatu


"Ada lagi yang bisa kubantu, nyonya?" Tanya resepsionis itu membuyarkan lamunan Penny


"Oh, eh tidak ada. Baiklah, aku permisi dulu." Penny dengan cepat berbalik dan melangkah keluar. Resepsionis cantik itu memandang punggung Penny hingga hilang di pintu keluar


Penny menggenggam jemari tangannya. Wanita itu menoleh ke gedung Wind-Corp


"Avahale.." bisik Penny sambil perlahan menyapukan tangannya di hidungnya


Seketika wanita itu tersentak. Walau sudah lama sekali, tetapi Penny tidak pernah lupa bau ini. Bau dari Werewolf!


Mata Penny membulat. Seluruh kantor ini sebagian besar berisi para Werewolf yang membaur di dunia manusia


Tiba-tiba Penny menyadari sesuatu, saat Reina begitu antusias membaca tentang legenda Werewolf. Itu terjadi sehari setelah Reina pulang terlambat karena ada urusan di kantor pusat


"Sial, aku kecolongan!" Desis Penny sambil menepuk kepalanya


Penny teringat beberapa tahun lalu saat dirinya baru tiba di dunia manusia, Penny mengetahui bahwa beberapa Werewolf juga berada di dunia manusia untuk bersenang-senang, mencari pasangan untuk bermain-main dan menyalurkan hasrat saat musim kawin datang, sebelum mereka menemukan mate mereka


Sekian lama Penny menutup penciumannya dan memberikan 'pagar penghalang' untuk Reina karena mereka, para Werewolf, juga bisa mencium nafas makhluk dari klan berbeda


Wanita itu menyimpulkan, kemungkinan terburuk Reina jatuh hati pada Alexander Ulrich yang sepertinya adalah seorang Werewolf.


"Reina tidak boleh jatuh cinta, dia hanya milik 'orang itu'.." bathin Penny


Penny segera menutup hidungnya dengan sapu tangan dan terus berjalan dengan pikiran berkecamuk. Bagaimanapun caranya, dirinya harus menemukan Reina dan menyelamatkan Reina dari para Werewolf yang hanya sekedar bermain-main dengannya. Tanpa sadar, Penny sudah berada di lahan parkir dimana pria itu menunggunya


"Hey, Penny. Kau tidak apa-apa?" tanya pria itu


Penny terhenyak "Oh, t-tidak. Aku.."


Mata Penny membulat saat melihat pria di depannya dan menyadari sesuatu


"Penny, kau baik-baik saja?" pria itu memegang pipi Penny. Tanpa sadar Penny menurunkan sapu tangannya

__ADS_1


"Joey Falzkov.. Kau seorang Werewolf?" bisik Penny


__ADS_2