WIND WINDERS PACK

WIND WINDERS PACK
PART 36


__ADS_3

"Joey Falzkov.. Kau seorang Werewolf?"


Joey melebarkan bola matanya "Darimana kau.."


Pertanyaan Joey menggantung saat hidungnya menghidu wangi yang berbeda. Pria itu menatap Penny dengan tatapan terkejut.


"Kau dari klan penyihir.." desis Joey


"Stoppehale.." Penny kembali mengusap hidungnya sehingga wangi yang tercium oleh Joey menghilang. Pandangan keduanya beradu. Sebuah fakta baru membuat keduanya sedikit terkejut


"Kita harus bicara.." kata Penny. Joey menatap netra Penny kemudian mengangguk pelan


***


Dokter Brian memicingkan mata melihat perut Reina. Luka bekas tusukan itu hilang tak berbekas


"Aku tidak tahu bagaimana seorang manusia melakukan hal ini, tetapi mungkin karena nona Sterling memiliki hubungan dengan anda sehingga diapun bisa meregenerasi sel-sel tubuhnya dengan cepat." ujar dokter Brian


"Nyonya Sterling Ulrich.." Ralat Alex cepat. Pria itu segera menutup perut Reina yang terbuka


Dokter Brian berdehem "Ya, nyonya Sterling Ulrich. Salahku.."


Reina tertawa kecil mendengar ucapan dokter Brian "Jadi aku sudah sembuh kan dokter?"


"Kalau dilihat dari luar, anda sudah baik-baik saja. Tetapi anda tetap harus memeriksakan diri untuk melihat luka dalam anda." Jawab dokter Brian sambil memberikan beberapa obat dan vitamin untuk Reina


Alex segera mengantarkan dokter Brian hingga ke depan pintu kamarnya. Seorang penjaga telah menunggu di depan pintu untuk mengantarkan dokter Brian kembali ke dunia manusia


"Apa yang kau pikirkan, Rein?" tanya Alex lembut saat melihat Reina sedikit melamun. Pria itu duduk di depan Reina yang bersandar pada kepala ranjang


"Aku sedang berfikir tentang kejadian di bukit Holly kemarin. Aku masih belum mengerti kenapa aku seperti punya tenaga dalam seperti kemarin." kata Reina sambil melihat ke kedua telapak tangannya


"Apa itu juga yang membuatku cepat pulih seperti ini?" kembali gadis itu bertanya sambil menatap Alex


Alex meraih tangan Reina kemudian mengecupnya lembut. Pandangan keduanya bertemu. Alex tersenyum melihat netra amber milik Reina


"Mungkin benar kata dokter Brian. Karena kau mate ku, jadi kau punya kemampuan khusus."


Alex menipiskan jarak mereka. Matanya tertuju pada bibir pink alami milik Reina. Bibir yang selalu terasa manis menurut Alex itu terlihat sedikit membuka saat jarak mereka semakin dekat, sungguh menggoda di mata Alex


Alex mencium bibir Reina dengan lembut. Reina mulai mahir membalas ciuman Alex membuat pria itu tersenyum dalam ciumannya. Alex melepaskan ciumannya sambil mengelap bibir Reina yang basah akibat ulahnya


"Jangan terlalu dipikirkan, sayang. Yang penting kau pulih dulu. Ok?"


Reina tersenyum sambil mengangguk. Kembali Alex mencium lembut bibir Reina. Lu**tan demi lu**tan Alex lakukan sambil sesekali menghi**p dan menggigit pelan bibir Reina sehingga gadis itu melenguh

__ADS_1


"Ungh.."


Suara Reina membuat Alex terpaksa menghentikan ciumannya. Alex berusaha sekuat tenaga menahan dirinya untuk tidak menyentuh Reina saat ini. Diusapnya bibir dan pipi Reina yang terlihat merah merona


"Kau cantik sekali, Rein.." Suara Alex terdengar berat dan serak


Reina tertunduk malu. Alex lalu mengecup kening Reina, cukup lama sembari mencoba menurunkan hasrat dirinya


"Aku harus berhenti..Nanti kau tidak sembuh-sembuh." bisik Alex, membuat Reina tertawa geli. Alex pun ikut tertawa


Alex beranjak mengambil minum dan obat yang telah diberikan dokter Brian. Reina mengenyitkan keningnya karena melihat sekitar tiga butir obat yang harus diminumnya, namun tak urung gadis itu tetap meminumnya


Alex tersenyum melihat Reina meneguk airnya hingga habis tak bersisa.


"Sekarang kau istirahat. Nanti aku akan membangunkanmu saat jam makan malam." Kata Alex sambil menyelimuti tubuh Reina. Tangan Alex mulai membelai lembut kepala Reina


Reina hanya mengangguk. Obat yang diminumnya sepertinya mengandung obat tidur. Ditambah belaian tangan Alex yang terasa menenangkan. Mata Reina semakin memberat dan akhirnya gadis itu terlelap


Alex membenarkan selimut Reina dan menatap Reina yang sudah pergi ke dunia mimpi. Alex membelai lembut kepala Reina dan mengecup kening gadis itu


"Aku akan menjagamu, Rein. Jangan khawatir.." bisik Alex sambil kembali mengecup kening Reina


Setelah memastikan semuanya nyaman untuk Reina, Alex beranjak keluar dari kamarnya. Perlahan dibukanya kenop pintu agar tidak membangunkan Reina


Langkah Alex terus menuju ke sebuah ruangan dimana didalamnya terdapat banyak sekali buku, ruang perpustakaan pribadi miliknya.


Alex duduk di depan meja kayu kokoh dengan ukiran kaki yang indah. Di atas meja terlihat buku bersampul tebal, terlihat buku itu sudah tua namun terawat cukup baik.


Alex membuka halaman terakhir yang dibacanya dan mulai meneruskan membaca. Tanpa disadari waktu sudah hampir menunjukkan jam makan malam


"Tuan.."


Alex menoleh, melihat Willy berdiri di depan pintu ruangan


"Maafkan aku, tetapi para Elder ingin bertemu dengan anda."


Alex mengangguk "Suruh mereka masuk kemari."


Willy mengangguk, dengan cepat pria itu berbalik untuk memanggil para Elder


Alex merenggangkan kedua tangannya untuk mengusir pegal lalu memperbaiki batas tanda halaman yang dibacanya. Matanya menerawang melihat keluar jendela


"Alpha.." Sapa Elder Eqwin.


Alex mengangguk dan mempersilahkan Elder Eqwin masuk. Dibelakang Elder Eqwin terlihat beberapa pria berjubah hijau yang juga ikut masuk

__ADS_1


"Ada keperluan apa?" tanya Alex tanpa basa-basi


"Maafkan kami, tetapi kami mendengar pembicaraan dari beberapa warior tentang Luna yang tiba-tiba memiliki kekuatan supranatural." Elder Eqwin bertindak sebagai juru bicara dari para Elder


Alex sudah menyangka, cepat atau lambat pembicaraan ini pasti berlangsung


"Reina seorang manusia biasa. Mungkin dia memiliki kekuatan setelah menjadi mate ku." kata Alex cepat


"Maafkan kami, tetapi sepertinya tidak pernah ada seorang manusia biasa tiba-tiba memiliki sebuah kekuatan seperti itu karena bersanding dengan Werewolf." kata Elder Eqwin


Alex menaikkan bahunya "Entahlah, tetapi sepertinya kalian harus menonton film buatan manusia tentang bangsa kita. Beberapa manusia langsung memiliki kekuatan saat digigit oleh Werewolf."


"Hah?" Para Elder mengerutkan kening dan saling berpandangan. Para Elder tidak pernah berkeliaran di dunia manusia kecuali saat dipanggil. Mereka selalu berada di Vadre Land dan berada di kuil pemujaan untuk Moon Goddess


Willy menutup mulut menahan tawanya melihat wajah bingung dari para Elder. Mungkin akan mengasyikkan kalau suatu saat nanti para Elder diperintahkan untuk menonton televisi. Willy tak sabar melihat ekspresi wajah semuanya


Elder Eqwin berdehem sebelum melanjutkan ucapannya


"Tentu saja Luna adalah sosok yang luar biasa. Hanya dirinya yang bisa menarik jiwa serigalamu keluar kemarin."


Alex tersenyum senang


"Tetapi.."


Senyum Alex seketika pudar


"Sepertinya kami juga harus menyelidiki latar belakang Luna, Alpha."


Alex menggeram keras menatap para Elder di depannya. Tangannya mengepal. Elder Eqwin dan para Elder langsung menunduk dan kompak mundur selangkah


"Kalian mencurigai Luna ku?" Kata Alex tajam


"Kami tidak berani, Alpha. Ini semua demi kebaikan Pack." Elder Eqwin masih terus menunduk


Perlahan geraman Alex mengecil. Alex menghembuskan nafasnya keras


"Akan kuselidiki sendiri. Kalian tidak perlu repot-repot." kata Alex


Elder Eqwin melirik Alex sekilas kemudian mengangguk "Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu."


Para Elder menunduk dan keluar secara teratur dari perpustakaan Alex. Alex kembali duduk di kursinya dan menatap buku yang terbuka di depannya. Pria itu memicingkan mata seolah berfikir


"Tuan, makan malam sebentar lagi tersedia." kata Willy yang sudah kembali dari mengantarkan para Elder keluar dari kastil


Alex mengangguk. Pria itu menutup buku yang dibacanya. Terlihat di atas meja, buku yang barusan di baca Alex. Buku dengan tulisan 'Klan Penyihir di Vadre Land.'

__ADS_1


__ADS_2