
"Maafkan aku karena baru mengabarimu, sayang. Tempat ini benar-benar terpencil dan sangat sulit menemukan sinyal. Aku akan pulang dalam beberapa hari. Love you."
"Sebenarnya mom kemana sih?" Gumam Reina sambil membaca kembali pesan yang dikirimkan Penny
Reina belum memberitahukan perihal pernikahannya pada Penny. Gadis itu lebih nyaman memberitahukan langsung dibandingkan berkirim pesan.
Sudah hampir lima hari Reina berada di rumah Alex. Reina juga sudah berkeliling di rumah besar milik Alex dan tempat favoritnya adalah taman dengan kolam replika air terjun mini. Reina sebetulnya senang tinggal di sana. Semuanya sangat baik padanya, kecuali satu orang. Trixie
Sejak awal saat peristiwa sarapan bersama, Reina sudah menyadari pandangan Trixie berbeda pada dirinya. Sebagai perempuan, Reina tahu kalau Trixie memiliki rasa pada Alex..Entah apa yang ada di pikiran Alex, buktinya pria itu masih biasa saja dengan Trixie. Reina juga heran, dimana Trixie tinggal karena setiap pagi wanita itu sudah berada di rumah Alex dan selalu pergi dan pulang bersama dari Wind-Corp
Zwiing!
Reina terkesiap saat sebuah anak panah melesat dan menancap di dekat kakinya
Trixie terlihat tersenyum lebar saat melihat Reina terkejut dan melotot ke arahnya
"Kau tidak boleh banyak melamun, Luna. Kau adalah pendamping Alpha, kau harus lebih waspada." Ucap Trixie sambil mendekati Reina dan mencabut anak panah miliknya. Wanita itu melirik ke arah Reina yang masih menatap Trixie
"Kau tahu, aku paling benci melihat tatapan seperti itu Luna. Di Vadre Land, jika ada yang menatapku seperti itu.." Trixie mendekatkan wajahnya ke wajah Reina
"Kupastikan dia tidak memiliki bola mata keesokan harinya.." Desis Trixie tajam
Reina memekik kecil lalu segera berdiri dan hendak beranjak pergi dari situ. Namun Trixie menghadang Reina dengan cross bow miliknya
"Dengar, seorang Luna juga harus menguasai setidaknya ilmu bela diri karena dia tidak boleh menjadi beban Alpha saat pertempuran berlangsung." Ucap Trixie
"Apa maumu?" Tanya Reina. Perasaan Reina mulai tidak nyaman
"Aku hanya ingin melihat apakah kau bisa mengatasi beberapa serangan kecil dariku?"
PLAAK
Tanpa di duga, Trixie melayangkan tamparan ke wajah Reina. Tenaga Trixie yang besar dan ketidaksiapan Reina membuat Reina langsung terhuyung
"Uugh.." Reina merasakan pusing dan juga panas akibat tamparan Trixie
Beberapa penjaga terkejut dan berusaha menolong Reina
"Ini adalah pelajaran bela diri privat untuk Luna. Tidak boleh ada yang boleh ikut campur kalau tidak ingin dihukum!" Ucap Trixie keras
Para penjaga itu terlihat kebingungan. Di satu sisi, Reina adalah Luna mereka yang berarti pasangan tuan mereka. Di sisi lain adalah Gamma Trixie yang memang bertugas memberikan pelatihan bela diri
"Sudah, aku tidak apa-apa.." Kata Reina sambil tersenyum dan mencoba untuk berdiri walau kepalanya terasa amat pusing. Reina tidak mau membebani para penjaga
"Bagus, kau harus segera berdiri dan lebih kuat." Kata Trixie yang dengan tiba-tiba menendang perut Reina
Tendangan Trixie membuat Reina terjatuh sambil memegangi perutnya.
"Uugh.." Reina merasakan sakit yang luar biasa di ulu hatinya, rasanya semua pasokan udara terhenti membuatnya sedikit sesak
__ADS_1
Kembali Trixie melompat ke arah Reina dan memaksa gadis itu untuk terlentang. Trixie mencengkram baju Reina dan menariknya
"Aah.." Reina hanya bisa memejamkan matanya dan mengikuti gerakan Trixie karena perut dan kepalanya masih terasa sakit
"Bisa-bisanya Moon Goddess menjodohkan Alex dengan gadis seperti dirimu, Luna yang lemah!" Desis Trixie di telinga Reina
Trixie kemudian memukuli dan menampar Reina berkali-kali. Reina bertahan mencoba menghalau serangan Trixie, namun sia-sia
"Nona Trixie, hentikan! Anda menyakiti Luna!" teriak seorang penjaga yang berusaha menghentikan Trixie dengan memegangi tangan wanita itu
"Grraaoo!!" Trixie meraung keras dan menghempaskan penjaga yang hendak menghentikannya sehingga penjaga itu terhempas beberapa meter ke belakang
Reina menangkap mata Trixie menyiratkan amarah pada dirinya saat kembali menyorot tajam ke arahnya. Kembali Trixie menampari Reina
"Hentikan...! Hentikan..!" Reina berusaha menghentikan tangan Trixie, namun wanita itu semakin marah dan menampar Reina lebih keras
"Tidak mungkin kau adalah jodoh Alex! Kau hanya wanita murahan yang datang menggoda Alex di kantor, kan!" Bisik Trixie di tengah-tengah serangannya
"Apa..!"
Reina merasakan amarah di dadanya. Tidak ada yang boleh merendahkan dirinya seperti itu. Dengan rasa marah, Reina mendorong Trixie kuat-kuat
"Kubilang hentikan!!" Teriak Reina
Dari telapak tangan Reina sedetik memancarkan sinar emas keperakan saat mendorong tubuh Trixie. Sesaat Trixie merasa terkejut, kemudian dirasakan rasa panas menyelimuti dadanya dan tubuhnya melayang ke udara sebelum jatuh terhempas ke tanah
Para penjaga terbelalak melihat hal itu, tetapi tidak ada yang berani bergerak saat melihat Reina perlahan bangun dengan nafas tersengal
"Ada apa ini?!"
Reina menoleh pelan dan mendapati Alex datang bersama Evan. Wajah Alex terlihat terkejut melihat Trixie tergeletak dan mengerang di rumput
"Trix, apa yang terjadi?" Tanya Alex sambil membantu Trixie bangun
Hati Reina sedikit tercubit melihat pemandangan di depannya. Gadis itu berusaha berdiri sendirian sambil terus memperhatikan ke arah Alex dan Trixie
"Alex..Reina memukulku.." Kata Trixie terbata-bata
"Apa? Aku.."
Reina terkejut dengan ucapan Trixie yang menyalahkan dirinya, namun hati Reina terasa lebih sakit saat melihat Alex memandang tajam ke arahnya sambil membopong Trixie ke dalam rumah
Reina mengepalkan tangannya kuat-kuat lalu terhuyung masuk menuju kamarnya. Hanya satu keinginan Reina saat itu, Reina ingin pulang
***
Alex ternyata menyusul Reina ke kamar setelah meletakkan Trixie di sofa dan meminta Evan untuk memanggil dokter Brian.
"Reina, kenapa kau memukul Trix..Kau mau kemana?" Tanya Alex yang cukup heran saat melihat Reina bersiap-siap
__ADS_1
"Aku mau pulang!"
Alex mengerutkan keningnya mendengar jawaban Reina yang terdengar ketus
"Pulang? Di sini rumahmu!"
Reina tidak mempedulikan Alex. Gadis itu tidak membawa barang-barang saat ke rumah Alex kecuali tas dan dress yang di pakainya
"Rein!" Alex mencengkram lembut lengan Reina saat gadis itu berjalan melewatinya
"Lepaskan! Ini bukan rumahku, tetapi rumahmu." Ucap Reina ketus sambil berusaha melepaskan diri dari cengkraman Alex
Alex menarik tubuh mungil Reina dan membuatnya berhadapan dengan dirinya. Alex sedikit terkejut melihat wajah Reina yang memerah dan sedikit lebam. Bekas tangan terlihat cukup jelas di pipi Reina
"Siapa yang memukulimu?!"
Reina menghempaskan tangan Alex kasar lalu mendorong pria itu kuat-kuat, namun Alex tidak bergeming sama sekali
"Jangan pedulikan aku! Pedulikan saja Trixie!" ucap Reina keras sambil menatap Alex.
"Rein, dia terluka!"
"Aku juga terluka!"
"Kau memukulnya!"
Reina menatap marah ke arah Alex
"Kau tanya siapa yang memukuliku? Ya, Trixie yang memukuliku dengan dalih ingin mengajari aku bela diri. Dia.. Wanita itu yang terlebih dahulu mencari gara-gara denganku!"
"Trixie? Tidak mungkin!"
Reina tertawa hambar. Walaupun bertekad tidak menangis, tetapi air mata Reina tetap luruh karena kesal. Gadis itu berusaha menghapus air mata yang mengalir turun di pipinya
"Kau mengkhawatirkan Trixie tanpa mengetahui akupun kesakitan dan terluka. Tetapi sakit ini tidak seberapa dibandingkan saat kau menatap tajam seolah menyalahkan aku karena melukai wanita kesayanganmu!" kata Reina mencoba datar
"Rein, Trixie temanku dari kecil!"
"Karena itu kau lebih khawatir dan percaya padanya dibandingkan istrimu sendiri?"
"Rein.."
"Harusnya kau menikah dengan Trixie, Alex. Bukan denganku.." kata Reina lirih
Alex berusaha merengkuh Reina, namun gadis itu mundur seolah tidak membiarkan tangan Alex menyentuhnya
"Please Alex, aku hanya ingin pulang ke rumahku.." Ucap Reina dengan nada bergetar.
Alex terhenyak melihat netra amber milik Reina yang menyiratkan kekecewaan. Ucapan bernada sedih dari bibir Reina lebih menyakitkan hatinya ketimbang ketika gadis itu marah-marah
__ADS_1