
"Reina.. Kau sedang jatuh cinta?" Pertanyaan spontan Penny membuat Reina tertegun. Mata gadis itu berkejap perlahan
"Kenapa mom mengatakan hal itu?"
Penny kembali menyisir rambut Reina dengan jemarinya. Beberapa helai sengaja diputar menggunakan telunjuk Penny, lalu dilepaskan. Helaian rambut itu terlepas dengan mudah. Penny memicingkan sebelah matanya
"Dengan siapa kau jatuh cinta?" Penny kembali bertanya tanpa menjawab pertanyaan Reina
Dahi Reina berkenyit. Gadis itu memperbaiki posisi duduknya berhadapan dengan Penny
"Kau belum menjawabku, mom. Kenapa mom bisa menyimpulkan kalau aku sedang jatuh cinta?" Tanya Reina sambil melepaskan jemari Penny pada rambutnya
Penny memandangi Reina lama "Kecantikanmu sudah terbuka. Kekuatanmu berangsur tumbuh. 'Pagar' itu menghilang.."
"Hah?"
Sepertinya Penny sedikit meracau karena Reina tidak faham apa yang Penny katakan. Penny mendesah pelan lalu bangkit berdiri meninggalkan Reina yang terlihat kebingungan. Sebelum melangkah, Penny kembali menoleh menatap Reina
"Siapapun dia, segera kau singkirkan perasaan itu karena kau tidak boleh sembarangan jatuh cinta, Reina. Kau adalah 'miliknya'.."
"Miliknya? Milik siapa mom?"
Penny mengacuhkan Reina dan langsung masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Reina yang kebingungan
FLASHBACK END
"Nah kan ngelamun lagi." Suara Anggi membuyarkan lamunan Reina. Reina hanya tersenyum kecil ke arah Anggi
"Aku akan ke bagian gudang sekarang, bu." Pamit Reina.
Bergegas gadis itu meninggalkan kubikelnya dan menuju lift. Bagian gudang berada di gedung sebelah yang juga merupakan milik Wind-Corp. Selama perjalanan, Reina terus terngiang kata-kata Penny
"Kecantikanmu sudah terbuka. Kekuatanmu berangsur tumbuh. 'Pagar' itu menghilang.."
Reina akui semenjak pertemuannya dengan Alex, dirinya jadi sedikit aneh. Reina bukanlah gadis yang cepat akrab dengan lawan jenis, tetapi saat bersama Alex, Reina merasa nyaman dan tenang walau saat pertama rasa takutnya lebih mendominasi karena berhadapan dengan seorang Werewolf
"Apa aku jatuh cinta padanya..?" bisik Reina
Segera Reina menggelengkan kepalanya sambil membathin "Jangan banyak berharap! Dia membutuhkanmu untuk memperbaiki kelemahannya."
"Siapapun dia, segera kau singkirkan perasaan itu karena kau tidak boleh sembarangan jatuh cinta, Reina. Kau adalah 'miliknya'.."
Kata-kata Penny yang lain ikut terngiang. Reina memicingkan mata mencoba mencari tahu apa maksud dari perkataan Penny.
Gadis itu menghela nafas karena tidak menemukan jawabannya. Reina berhenti sejenak untuk memeriksa handphonenya. Beberapa pesan masuk, kebanyakan dari grup divisinya, tidak ada satupun dari Alex. Reina sedikit kecewa sambil memasukkan handphonenya ke saku blazernya
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Reina sadar kalau beberapa orang yang berpapasan dengannya menunduk hormat, ada juga yang terang-terangan memandanginya. Reina mengecek penampilannya. Tidak ada yang salah. Lalu kenapa orang-orang itu memandanginya?
***
Nicholas tersenyum lebar menyambut Alex di kantornya "Kau tidak memberitahuku akan datang, Alpha."
Alex juga tersenyum sambil bersalaman dan memeluk Nick sekilas
"Jangan terlalu formal, paman Nick." Kata Alex sambil duduk di sofa empuk milik Nick.
Seorang OB datang membawakan minuman dan makanan ringan untuk Alex. Nick dan Alex menunggu hingga OB itu benar-benar sudah pergi
"Aku membawa berita tentang Joey dan keponakannya." Kata Nick membuka percakapan
"Berita apa itu?"
"Joey terlihat di daerah pinggiran Kingston. Sepertinya Joey memiliki sebuah kebun yang di jaga oleh seorang wanita." Ujar Nick
Kening Alex berkenyit "Wanita? Paman Joey dekat dengan seorang wanita?"
"Entah apa hubungan mereka. Yang jelas, beberapa bahan obat racikan milik Joey sepertinya juga diambil dari kebun itu." Kata Nick sambil memperlihatkan sebuah foto yang diambil dari kejauhan
Foto itu tidak terlalu jelas, hanya memperlihatkan siluet dua orang di depan sebuah kebun. Alex belum bisa menebak dimana tempatnya
"Sejauh ini aman."
Alex mengangguk sambil kembali melihat foto yang diberikan Nick. Alex berusaha mencari sesuatu yang mencurigakan di dalam foto itu, tetapi Alex tidak menemukannya. Belum..
"Kau datang menjemput istrimu?" tanya Nick memecahkan keheningan
Alex menggeleng "Aku hanya mampir sejenak untuk melihatnya, paman."
Nick tersenyum sambil menepuk pelan pundak Alex "Kau harus sabar menghadapinya. Lagipula sepertinya kau juga kurang peka, Alpha."
Kening Alex berkerut memandang Nick "Maksudnya?"
"Alicia sudah menceritakan padaku kenapa Reina pergi dari rumah. Bukan hanya rindu rumahnya, tetapi juga marah padamu karena persoalan Trixie, bukan?"
Alex menghela nafas kasar "Gosip cepat sekali menyebar."
Sampai saat ini, Alex tidak mengerti kenapa Reina begitu marah saat dirinya terlebih dahulu menolong Trixie.
"Pelajaran pertama, kau harus selalu mendahulukan istrimu di bandingkan teman wanitamu yang lain." Ucap Nick sambil menuangkan teh untuk Alex
"Teh? Tidak ada Trivium?" tanya Alex
__ADS_1
"Masih terlalu pagi untuk mabuk, Alpha." kata Nick sambil menyodorkan secangkir teh untuk Alex
Alex menerima minuman dari Nick. Tiba-tiba Alex teringat, sudah tiga hari ini dirinya tidak merasakan kopi buatan Reina. Alex merasa rindu, tanpa sadar Alex melamun
"Ada apa Alpha? Kau tidak suka tehnya?" Tanya Nick saat melihat Alex menghentikan cangkir teh tepat di depan bibirnya. Pertanyaan Nick membuyarkan lamunan Alex
"Bukan begitu, paman." Alex dengan cepat menyesap tehnya
"Yang aku tidak faham, Reina begitu marah saat aku menolong Trixie. Reina juga bilang kalau Trixie yang memukulinya, tetapi aku tidak mempercayainya."
Nick menggelengkan kepalanya
"Itu pelajaran kedua, Alpha. Percaya pada istrimu. Pasangan yang sudah di jodohkan oleh Moon Goddess tidak akan saling membohongi dan berkhianat satu sama lain."
"Dia bukan dari bangsa kita, apa peraturan itu tetap berlaku?" tanya Alex
"Reina memang bukan dari bangsa kita, tetapi dia mate mu. Apa kau sudah mencari tahu kebenarannya?" Nick balik bertanya
Alex menggeleng. Setelah pertengkarannya dengan Reina dan mengantarkan Reina pulang, Alex lebih memilih menghabiskan waktunya di kantor. Hal ini dilakukan agar Alex tidak terus teringat dengan Reina
"Itu salah, Alpha. Jangan membiarkan masalah berlarut-larut. Kau adalah orang yang paling cekatan dalam menyelesaikan masalah klan. Seharusnya kau juga lebih cepat menyelesaikan masalahmu dengan Luna." Nasehat Nick
Alex terdiam seolah sedang mencerna semua perkataan Nick
"Apa pelajaran ketiga?"
"Yang ketiga, kau harus menghormati keinginan istrimu."
"Aku selalu menghormatinya." Potong Alex cepat
"Tidak, kau seorang Alpha. Kau seringnya memaksakan kehendakmu." Ujar Nick sambil terkekeh-kekeh geli
Alex mencibir "Kalau aku tidak menghormatinya, aku tidak akan membiarkannya pergi dari rumah."
"Ah iya, itu suatu kemajuan yang bagus." Kata Nick mengalah. Lebih baik mengalah daripada membuat mood Alex semakin buruk
"Aku akan melihat Reina dulu." kata Alex sambil berdiri
"Kau tahu dia dimana?" tanya Nick
"Aku bisa menemukan Reina dari wangi tubuhnya, paman. Dia mate ku, kau ingat?" Ujar Alex tersenyum sambil membalikkan kata-kata Nick
Nick terkekeh-kekeh melihat Alex menghilang di balik pintu
"Semoga masalahmu segera teratasi, Alpha."
__ADS_1