WIND WINDERS PACK

WIND WINDERS PACK
PART 25


__ADS_3

Pria bersurai putih panjang itu perlahan melangkah mendekati tiga mayat yang berada di depannya. Wajahnya yang keras tampak datar walau sebenarnya hatinya berduka. Dia adalah Ozen, pemimpin Rogue


"Siapa yang melakukannya?" tanya Ozen dengan suara beratnya


"Kami menemukan mereka di kaki bukit perbatasan Wind Winders, tuan." Jawab seorang Rogue


Ozen mendekati ketiga mayat anggotanya. Sepertinya mereka terlebih dahulu di siksa sebelum seseorang dengan tega memotong urat leher para anggotanya. Mata Ozen memicing melihat luka cakaran di tubuh salah seorang anggotanya.


"Ini bukan cakaran serigala.." desisnya


Ozen sudah lama mengembara dari hutan satu ke hutan lainnya. Berbagai pertempuran sudah dilaluinya. Dirinya sudah menghancurkan puluhan pack-pack kecil, membunuh Alpha mereka dan mengambil anggota packnya untuk menjadi pengikut kawanan liarnya. Tujuan Ozen adalah membangun kekuatan untuk menjadi Kelompok Rogue terbesar yang berada di Vadre Land, kelompok pemberontak yang di takuti dan disegani


Karena itu Ozen begitu familiar dengan luka pertempuran. Pria itu sangat hafal bentuk luka dan koyakan dari senjata, kuku ataupun taring serigala, dan apa yang dilihatnya saat ini bukanlah luka dari kuku ataupun koyakan dari taring serigala melainkan karena sebuah senjata tajam


Setiap orang yang melihatnya akan mengatakan itu adalah cakaran serigala, tetapi tidak untuk Ozen. Pria itu kembali melihat bekas luka cakaran itu. Cakaran yang mirip dengan kuku serigala. Kedalamannya pun sempurna untuk merobek kulit Werewolf yang tergolong tebal


"Beberapa anggota kita pun ditemukan tewas beberapa hari yang lalu di dunia manusia." Lapor seorang Rogue


"Apa? Ada urusan apa mereka pergi ke dunia manusia?" Bathin Ozen sambil mengerutkan keningnya


Ozen menoleh ke arah rogue yang menemukan mayat tadi


"Kau bilang mereka ditemukan di perbatasan Wind Winders?" Tanya Ozen memastikan


"Benar tuan."


"Apakah Wind Winders yang membunuh para anggotaku?" Desis Ozen marah. Mata pria itu berkilat marah


"Persiapkan beberapa orang anggota! Kita akan mengunjungi Alexander Ulrich!"


***


Alex tercengang sambil meraba perutnya. Luka cakaran itu mengering..Bukan, hampir menghilang tepatnya. Biasanya saat Werewolf terluka, mereka memang bisa mengobati diri mereka sendiri namun tidak akan secepat ini. Bahkan ditunjang dengan pengobatan modern dari dunia manusia pun hasilnya tidak akan secepat itu


Alex mengingat-ingat sejak kapan tubuhnya bisa melakukan penyembuhan yang luar biasa ini.


"Reina.." Gumam Alex


Benar, tubuhnya melakukan penyembuhan dengan cepat saat dirinya sudah bertemu dengan Reina. Apa mungkin karena dirinya sudah bertemu dengan mate nya?


Alex tidak terlalu ambil pusing. Pria itu segera membersihkan dirinya dan menghemat waktu karena tidak perlu mengganti perban di perutnya. Setelah selesai, Alex segera keluar dengan hanya menggunakan bath robe.

__ADS_1


Cahaya bulan terlihat memantul di balkon. Alex membuka pintu balkon dan melihat bulan menggantung indah di langit malam. Pria itu memejamkan mata dan merentangkan tangannya seolah sedang menyerap energi dari cahaya bulan


"Terima kasih, Moon Goddess. Sebentar lagi, aku akan menjadi Werewolf seutuhnya.. Werewolf yang sempurna.." Bisik Alex


Angin malam lembut membelai wajah Alex seolah merupakan jawaban dari Moon Goddess. Alex tersenyum, rasanya beban yang menggelayutinya terangkat sudah. Alex tidak pernah merasa sebahagia ini


Drrt..drrt..


Handphone Alex bergetar di atas nakas. Seseorang mengirimkan pesan. Pesan dari Aaron Swang, Alpha Schy Land


"Kudengar kau akan mengunjungi Reddo di Novexa. Aku juga akan kesana. Kita bisa sekalian ke perpustakaan dan mengintip sedikit dimana tongkat Ratu Reign di sembunyikan."


Alex tertawa pelan sambil membalas pesan Aaron


"Sepertinya Reddo bisa menunjukkannya tanpa kita harus mengendap-endap di perpustakaan Novexa. Kita lihat nanti."


Alex lalu mematikan telepon selularnya. Pikirannya kembali teringat akan mimpinya kemarin malam


"Kalau mimpi itu benar, maka kemarin itu adalah Raja Arge dan Ratu Reign.. Tempat dimimpiku mungkin tempat dimana Ratu Reign meletakkan tongkat saktinya." Gumam Alex sambil mengingat-ingat lokasi mimpinya.


Tempatnya memang seperti berada di tepi pantai yang langsung berbatasan dengan hutan, dan sepertinya tidak ada tempat seperti itu di Vadre Land.


Mungkin sebaiknya Alex bertanya pada ahli sejarah di Vadre Land dan menghubungkan mimpinya tentang kebersamaan Raja Arge dan Ratu Reign yang terlihat di mimpinya.


"Kakak, kau masih terjaga? Ada berita penting yang harus kusampaikan. Aku berada di bawah." Mind-link dari Evan


Evan, walaupun usil dan jahil tetapi adiknya itu tidak akan pernah mengganggunya selarut ini kecuali untuk hal yang benar-benar penting


"Aku segera turun." Balas Alex


Alex segera mengganti bath robe dengan baju santainya. Sebelum turun, terlebih dahulu Alex menutup pintu balkon dan membenarkan selimut Reina. Senyum Alex mengembang melihat gadis itu tertidur begitu damainya


"Aku akan menjagamu selalu, Rein.." bathin Alex sambil membelai kepala Reina


***


Reina menapaki sebuah jalan berbukit. Tempat yang belum pernah dilihatnya, namun terasa tidak asing. Bukit yang indah dengan pohon-pohon pinus yang wangi


"Argeronz.."


Reina menoleh kebawah, melihat seorang wanita bertudung merah nampak berlari dan melompat memeluk seorang pria. Tudung wanita itu tersibak, wajahnya terlihat bahagia dan tertawa.

__ADS_1


Wajah yang sangat familiar..


"Kau sangat merindukanku, eh?" Tanya pria yang di panggil Argeronz oleh wanita itu. Wanita itu cemberut, pura-pura marah sambil memukul dada Argeronz


"Tentu saja! Lama sekali kita berpisah, akhirnya aku menemukanmu lagi.."


Reina tersenyum melihat keduanya saling berpelukan erat. Hati Reina merasa hangat, entah kenapa


"Kau tahu, saking lamanya, sampai Wolfwitz tersesat tidak bisa muncul.." Kata Argeronz masih memeluk wanita itu.


Nada suara pria itu terdengar sedih, persis suara... Rasanya Reina mengenal suara pria itu. Tetapi dimana? Reina berusaha mengingat-ingat nya


"Tidak apa-apa.. Cinta kita yang akan menuntun jalan Wolfwitz." kata wanita itu sambil merenggangkan pelukannya menatap pria bersurai coklat itu.


Tiba-tiba wanita itu memandang lembut ke arah Reina. Reina terhenyak saat wanita itu tersenyum ke arahnya. Netra hazel yang hangat membuat perasaan Reina pun ikut menghangat


Sungguh, wajah wanita itu terasa amat familiar. Dimana Reina pernah melihatnya?


"Perasaan cintamu yang akan menarik Wolfwitz keluar.."


"Eh?" Reina sedikit terkejut sambil menunjuk dorinya karena seolah-olah wanita itu berbicara dengan dirinya


"Cintamu yang besar akan menarik Wolfwitz keluar.." ulang wanita itu


Reina sama sekali tidak faham perkataan wanita itu..


***


Reina menggeliat saat merasakan hawa dingin menerpa kulitnya sehingga mendesaknya bangun untuk melakukan panggilan alam. Perlahan gadis itu mengerjapkan mata dan melihat ke samping. Tidak ada Alex di sampingnya. Belum lagi selimutnya terbuka sebatas perut sedangkan dirinya sama sekali tidak berpakaian


"Pantesan dingin.." Gumam Reina


Bergegas Reina pergi ke kamar mandi untuk menuntaskan hajatnya. Setelah selesai, Reina bergegas membersihkan diri dengan shower air hangat karena badannya terasa penat dan lengket


Uap air hangat mengembun menutupi kaca wastafel.


Setelah selesai, Reina mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer yang berada di kamar mandi. Reina mengusap kaca wastafel yang mengembun


Sesaat gadis itu terhenyak melihat pantulan dirinya di cermin


"Ini..."

__ADS_1


__ADS_2