WIND WINDERS PACK

WIND WINDERS PACK
PART 34


__ADS_3

"Alex, ini dimana?" tanya Reina sambil mengedarkan pandangannya


Alex yang sedang menuangkan air hanya menoleh sekilas ke arah Reina. Pria itu lalu memberikan segelas air untuk Reina. Gadis itu meneguk air pemberian Alex perlahan-lahan


"Ini kamarku."


Kening Reina berkenyit. Apa selama dirinya pergi, Alex melakukan perombakan di kamarnya?


"Kamarku.. di Vadre Land." lanjut Alex lagi


Mata Reina membulat "Eh? Berarti aku ada di dunia para Werewolf?"


Alex tergelak melihat ekspresi Reina. Segera diambilnya gelas ditangan Reina dan diletakkan di meja dekat ranjang. Alex menangkupkan tangan di wajah Reina dan menatap gadis itu lekat


"Kau takut?"


Reina balas menatap netra coklat gelap Alex. Gadis itu tersenyum sambil menggeleng "Ada kau, apa yang harus kutakutkan?"


Alex tersenyum. Hampir saja keduanya saling berciuman kalau tidak ada suara ketukan di pintu yang menginterupsi


"Sialan.." Alex sedikit gusar karena momen romantisnya terganggu, namun tak urung pria itu membuka pintu


Reina tersenyum lebar menyambut Alicia, Robert dan Evan. Mereka langsung datang begitu mendapat kabar kalau Reina telah siuman. Sepertinya Alex memberitahu lewat mind-link pada keluarganya tadi


Alicia duduk di tepi ranjang sembari menggenggam lembut jemari Reina. Wanita itu tersenyum


"Ibu senang kau sudah bangun, sayang. Kau membuat kami khawatir."


"Aku sudah baik-baik saja, ibu." Reina tersenyum. Sambutan hangat dari keluarga Alex selalu membuat gadis itu nyaman.


"Bagaimana lukamu?" tanya Robert sambil duduk di samping Alicia


"Aku belum melihatnya, ayah. Tetapi sepertinya sudah baik-baik saja." jawab Reina sambil meraba perutnya.


Reina sedikit meringis, membuat Alex dengan cepat duduk di sebelah Reina dan merengkuh bahu gadis itu


"Jangan disentuh-sentuh dan banyak bergerak. Kemungkinan lukanya masih basah." kata Alex


Evan tertawa kecil melihat interaksi Alex dan Reina. Baru kali ini Evan mendengar nada bicara Alex selembut itu


"Apa?" tanya Alex dengan kening berkerut saat melihat Evan tertawa. Nada suaranya kembali galak

__ADS_1


"Ah tidak. Jangan lupa sore ini kita ada pertemuan untuk mengatur para anggota baru, kak. Kau akan butuh banyak bantuan untuk mengatur 3000 orang baru."


Reina memandang heran ke arah Evan lalu menoleh memandang Alex


"Anggota baru? Banyak sekali.."


Alex terdiam sesaat sambil mengangguk kecil "Bukan mauku sebenarnya.."


Reina makin mengerutkan keningnya "Aku tidak mengerti.."


"Yeah..Kau tahu kan sayang, ketika seseorang membunuh Alpha, maka secara otomatis semua pengikutnya akan mengikuti orang yang membunuh itu." Jelas Alex sambil menatap ke arah Reina


"Dan aku menghabisi mereka yang telah menyakitimu.."


"Bu Anggi?" Tanya Reina lagi karena seingat Reina, Anggi lah yang telah menusuknya tetapi Anggi bukan seorang Alpha


Alex terdiam sambil menatap Reina "Anggi dan para Alpha, sayang.."


Mata Reina membola. Reina ingat di bukit Holly kemarin ada belasan Werewolf bermata merah yang menandakan mereka adalah para Alpha. Reina pun mengingat kondisi Alex, walau Alex bisa menyembuhkan dirinya tetapi luka-luka di tubuh Alex terlalu banyak. Rasanya mustahil Alex menghabisi semua Alpha yang berwujud serigala di bukit Holly kemarin


"Bagaimana bisa.."


Reina terlihat terkejut mendengar penjelasan Evan, gadis itu menatap ke arah Alex


"Kau berhasil melakukan shift?"


Alex mengangguk pelan. Reina memekik senang


"Selamat sayang..aaw aaw.." Gerakan spontan Reina yang akan memeluk Alex terpaksa terhenti karena rasa nyeri di perut gadis itu


"Sudah kubilang, jangan banyak bergerak." kata Alex dengan pandangan khawatir. Reina meringis sembari tertawa kecil


"Itu karena aku sangat senang." Gadis itu bersandar di dada Alex dan menatap Alex lembut


"Selamat ya, pasti kau keren sekali.." kata Reina sambil membelai rahang Alex, membuat pria itu ikut tersenyum dan mengecup kepala Reina


"Bukan cuma kakakku, tetapi kau juga kakak ipar.."


"Evander!" Tegur Alex seolah menyuruh Evan diam. Robert dan Alicia saling berpandangan


"Baiklah Reina, tampaknya kau butuh banyak istirahat. Nanti ibu akan kesini lagi ya." Kata Alicia berpamitan sambil mengecup puncak kepala Reina

__ADS_1


"Cepatlah pulih." kats Robert sambil membelai kepala Reina


"Dadaah kaka ipar." Ujar Evan sambil melambaikan tangan ke arah Reina. Pria itu tertawa mendengar geraman dari Alex


Reina berbalik menatap Alex saat semua orang sudah keluar dari kamar


"Ng, peristiwa di bukit kemarin.."


"Ssshh.." Alex cepat menutup mulut Reina dengan mulutnya. Reina pun menghentikan pertanyaannya


"Nanti kita bicarakan, sekarang kau harus banyak istirahat. Ya?" kata Alex sambil memindai mata, hidung dan berakhir di bibir Reina yang sudah terlihat lembab. Bibir berwarna pink alami yang sangat Alex rindukan


Alex dengan cepat menunduk dan mencium Reina lembut. Reina memejamkan mata dan membalas ciuman Alex. Tanpa sadar Reina membuka mulutnya dan menarik tengkuk Alex untuk memperdalam ciumannya.


Tangan Alex menarik tubuh Reina untuk mendekat dan mendorongnya perlahan hingga terlentang di atas kasur tanpa melepaskan bibirnya dari bibir Reina. Keduanya saling berperang lidah dan bertukar saliva beberapa saat sampai Alex menghentikan ciumannya


Reina menatap Alex dengan pandangan bertanya "Ada apa?"


Alex tersenyum sambil menyatukan hidungnya dengan hidung Reina


"Maafkan aku, kau baru saja sembuh. Kau harus banyak istirahat agar tenagamu pulih."


Reina terkekeh mendengar ucapan Alex. Ternyata Alex masih memikirkan kesehatannya. Alex ikut tertawa lalu mengecup ringan bibir Reina tanda Alex mengakhiri ciumannya. Pria itu kemudian bangkit dari tubuh Reina dan membantu menyusun bantal Reina


Reina menatap sebuah selang infus terpasang di tangan kirinya. Reina mencoba menggerakkan tangannya untuk mengusir pegal


"Alex, bisa kau lepaskan infus ini? Tanganku pegal sekali.." Reina merajuk


"Nanti kalau sudah habis aku akan minta dokter Brian melepaskannya." kata Alex sambil membelai kepala Reina


"Dokter Brian sering ke sini?" Tanya Reina. Alex menggeleng, masih membelai kepala Reina


"Tidak, baru kali ini. Itupun karena kau terluka. Biasanya dia selalu datang di rumahku di Toronto."


Reina mengangguk-angguk. Gadis itu menatap tangannya yang dipasangi infus, lalu menatap kedua telapak tangannya. Alex menatap gerak-gerik Reina. Alex tahu gadis itu ingin bertanya tentang apa yang terjadi di bukit Holly, tetapi Alex tidak membiarkan gadis itu memiliki banyak pikiran disaat kondisinya masih belum pulih benar


Sejujurnya Reina masih ingin bertanya, namun belaian tangan Alex terasa begitu menenangkan dan membuatnya kembali mengantuk tetapi Reina bertahan untuk tidak memejamkan mata. Alex kembali naik ke tempat tidur dan memeluk Reina dari belakang


"Tidur, Reina." Ucapan Alex seperti sebuah perintah.


Reina pun memilih mematuhi perintah Alex, perintah Alpha nya..

__ADS_1


__ADS_2