
Tanpa di duga gadis itu berbalik dan menubruk Alex
Bruuuk!
Kertas-kertas di dalam file yang dibawa gadis itu berhamburan sementara gadis itu terjatuh ke belakang. Berbeda dengan Alex yang masih tetap berdiri sambil menatap gadis yang terjatuh di depannya
"Aduuuh! Pak, lihat-lihat dong kalau jalan! Masa' saya segede gini di tabrak aja sih?!" Bentak gadis itu sambil meringis dan mengusap-usap bagian belakang tubuhnya. Gadis itupun segera mengumpulkan kertas-kertas miliknya yang berserakan
Alex masih terdiam sambil terus menatap gadis itu. Tidak ada yang berani mendekat karena mereka melihat sorot mata Alex dan semua berfikir Alex akan memarahi gadis kurang ajar itu.
Gadis itu mendongak dan menatap ke arah Alex dengan tatapan judes. Sepertinya gadis ini tidak mengetahui siapa yang ditabraknya tadi. Bibir gadis itu manyun melihat Alex yang tetap terdiam tanpa berusaha membantunya. Dalam pandangan Alex, gadis itu terlihat menggemaskan. Alex menarik ujung bibirnya
"Ih, bukannya bantuin malah ngeliatin doang sambil senyum-senyum.." suara bisikan gadis itu terdengar jelas di telinga Alex.
Segera Alex berjongkok lalu membantu gadis itu mengumpulkan kertas-kertas yang berserakan. Mata Alex masih terus mengawasi gadis itu membuat gadis itu melotot ke arah Alex.
"Aduuh Reina, ngapain kamu kesini?!" Tegur seorang wanita
"Bu Anggi, saya dari tadi nyariin ibu. Ini ada beberapa berkas yang butuh tanda tangan ibu segera." Kata gadis yang ternyata bernama Reina. Gadis itu segera berdiri menyambut Anggi.
Alex ikut berdiri setelah selesai membantu Reina mengumpulkan kertas-kertas file yang terjatuh. Anggi terkejut saat melihat siapa yang membantu Reina mengumpulkan kertas-kertas di lantai. Wanita itu langsung menunduk-nunduk sungkan di hadapan Alex dan menatap tidak enak ke arah Alex
"Maafkan saya pak karena tidak mendidik anak buah saya dengan baik." Kata Anggi sambil menunduk-nunduk memberi hormat pada Alex.
Alex hanya melirik sekilas ke arah Anggi dan kembali memusatkan pandangannya ke arah Reina yang mengerutkan keningnya melihat sikap Anggi. Kepala divisinya ini cukup tegas dan disegani, tiba-tiba sikapnya berubah 180 derajat didepan pria yang menabraknya tadi.
Tiba-tiba gadis itu teringat kalau ia sedang berada di acara perayaan ulang tahun perusahaan yang di hadiri oleh para petinggi di kantornya. Orang di hadapannya mestilah salah satu petinggi kantornya. Terbukti dari sikap Anggi yang terlihat sangat menaruh hormat pada pria yang menabraknya tadi. Wajah Reina seketika pucat pasi
Reina pun segera ikut menunduk-nunduk mengikuti Anggi. Sikap Reina membuat Alex tersenyum kecil. Matanya tidak bisa lepas dari gerak-gerik Reina, dan wangi ini.. Sungguh wangi yang sangat berbeda dari segala macam bebauan yang pernah di hirupnya
"Alex, ada apa?" Tanya Trixie yang sudah berada di samping Alex. Gadis cantik itu memegang erat lengan Alex sambil sedikit menggoyangkan nya.
Alex terhenyak dan menoleh ke arah Trixie, namun hanya sedetik. Lalu kembali Alex memandang Reina yang masih terlihat menunduk
"Siapa namamu?" Tanya Alex
"Eh? Saya?" Reina mendongak menatap Alex dan bertanya untuk memastikan lalu menatap ke arah Anggi yang melirik Reina sekilas. Alex mengangkat satu alisnya seakan menunggu jawaban. Alex bukanlah type orang yang sabar
"Dia Reina Sterling, pegawai junior yang ada di bawah divisi saya pak." Kata bu Anggi mewakili Reina
Alex mengangguk lalu berbalik pergi. Trixie menatap sekilas ke arah Reina, lalu segera mengikuti langkah Alex meninggalkan Anggi dan Reina yang terlihat kebingungan. Alex segera berjalan menuju ke tempat duduknya, disebelah Nick
Dari jauh Reina mengamati Alex dan terkejut saat melihat Alex duduk bersama Nicholas Adams, pimpinan perusahaan di kantor tempatnya bekerja. Sekilas Alex menoleh ke arah Reina yang terlihat terkejut. Alex tertawa dan mengakui ekspresi Reina sangat lucu dan menggemaskan.
"Kalian darimana saja?" Tanya Nick saat melihat Alex datang bersama dengan Trixie. Terlihat wajah Alex lebih cerah dibandingkan sebelumnya
"Paman, aku mau minta tolong sesuatu.." kata Alex kemudian membisikkan sesuatu pada Nick
__ADS_1
***
Perjalanan dari Kingston menuju Toronto memerlukan waktu kurang lebih 2.5 jam. Cuaca tidak terlalu panas siang itu, hanya saja mataharinya sedikit terik karena tidak ada awan yang menutupinya
Reina menatap gedung Wind-Corp pusat yang terlihat kokoh menjulang di hadapannya. Matanya sedikit menyipit saat merasakan teriknya sinar mentari di siang hari itu
Reina sedikit menyesal atas kecerobohannya kemarin. Kalau saja dirinya tidak mencari Anggi, tentulah hal memalukan kemarin tidak terjadi. Ya, orang yang ditabraknya kemarin adalah CEO Wind-Corp yang datang untuk perayaan ulang tahun anak cabang perusahaannya.
Reina mengingat bagaimana dirinya mengomel dan melotot ke arah CEO Wind-Corp serta mengatakan kalau pria itu sudah menabraknya, padahal kejadian sebenarnya justru berbanding terbalik dengan yang Reina katakan.
Sepertinya CEO itu menaruh kesal pada dirinya. Terbukti hari ini Reina diminta untuk menghadap CEO Wind-Corp di kantor pusat seorang diri. Bayangan pemecatan dirinya pun sudah ada di pelupuk matanya. Reina menggigit bibirnya. Entah bagaimana dirinya akan membayar semua tagihan bulanan kalau dirinya benar dipecat
"Tenang.. Tidak mungkin langsung dipecat. Paling buruk diberikan surat peringatan.." Bisik Reina mensugesti dirinya
Reina mencoba menghilangkan kegugupannya dengan cara menarik hembuskan nafas beberapa kali. Setelah dirasa tenang, gadis itu kemudian berjalan masuk menuju ke arah resepsionis
"Permisi.." sapa Reina pada seorang resepsionis di situ
"Ya, ada yang bisa kami bantu?" Tanya resepsionis itu sopan.
"Ng, saya Reina Sterling. Pegawai Wind-Corp cabang Kingston, saya.."
"Ah anda sudah ditunggu oleh tuan Ulrich di lantai 35, nona." kata resepsionis itu segera memotong ucapan Reina saat mendengar nama Reina di sebutkan
"Ah iya, terima kasih.." kata Reina sedikit jengah.
"Permisi, nona. Anda bisa menggunakan lift khusus yang berada di sana. Lift itu akan langsung membawa anda ke lantai 35. Mari ikuti saya." Kata resepsionis tadi yang tiba-tiba sudah berada di dekat Reina.
Gadis itu terjengkit karena terkejut. Rasanya Reina tidak mendengar langkah orang, bagaimana resepsionis itu bisa ada di belakangnya? Namun Reina tidak ambil pusing. Gadis itu segera menguasai diri dan mengangguk ke arah resepsionis tadi
Resepsionis itu mengantarkan Reina tepat di depan lift direksi. Reina mengangguk sambil mengucapkan terima kasih. Gadis itu segera memasuki lift dan langsung menekan tombol lantai 35 tempat CEO Wind-Corp memanggilnya. Reina pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti
***
Alex menatap berkas Reina yang dikirimkan oleh Nick di emailnya. Reina Sterling, pegawai junior divisi produksi dan pengadaan barang. Baru diangkat sebagai pegawai tetap selama enam bulan setelah menjadi pegawai kontrak selama 1 tahun.
Alex kembali mengingat-ingat wajah Reina seolah wajah itu terasa familiar. Kemungkinan Alex pernah bertemu saat perayaan di Vadre Land hanya saja Alex tidak menyadari itulah mate nya
Alex menghembuskan nafas. Masih terlalu dini untuk mengklaim Reina sebagai mate nya. Hari ini Alex harus memastikan apakah benar yang ia rasakan kemarin adalah perasaan saat seorang manusia serigala menemukan mate nya atau bukan. Alex pun harus memastikan dari pack mana Reina berasal karena sepanjang ingatan Alex, tidak ada perempuan seperti Reina yang berada di pack nya
Tiba-tiba Alex mencium wangi itu lagi. Wangi yang sama yang ia hirup saat berada di pesta ulang tahun anak cabangnya di Kingston. Wangi itu semakin kuat dan memabukkan. Alex merasa udara di sekitarnya menjadi sedikit lebih panas. Alex mengecek AC yang berada di ruangannya. Semua menyala dalam kondisi baik namun Alex tetap sedikit kepanasan sehingga pria itu memutuskan membuka jas dan dasinya. Alex juga membuka dua kancing teratas dari kemejanya dan menggulung lengan kemejanya hingga ke siku
Suara panggilan interkom mengagetkan Alex. Segera Alex mengangkat panggilan tersebut
"Ya Evan?"
"Kakak, gadis bernama Reina Sterling sudah datang." Kata Evan
__ADS_1
"Baik, suruh ia masuk dan jangan ada seseorang yang menggangguku." Kata Alex singkat lalu segera memutuskan panggilan interkom tersebut
Tok..tok..
Pintu terbuka. Seorang wanita berambut panjang dan berkacamata yang dilihatnya kemarin memasuki ruangan. Alex sedikit menahan nafas karena wangi memabukkan itu cukup kuat sehingga mengurangi konsentrasinya.
"Selamat siang pak. Saya Reina Sterling, pegawai junior divisi.."
Alex tidak terlalu mendengarkan apa yang diucapkan Reina. Alex seperti tersihir, tidak bisa berfikir apapun. Perlahan kakinya melangkah mendekati Reina. Gadis itu sedikit terkejut saat melihat Alex sudah berdiri di hadapannya. Tangan Alex memegang bahu Reina dan menatap dalam mata gadis itu. Alex menyeringai seraya membelai dagu Reina dengan telunjuknya
"Kau milikku.." Desis Alex
***
"Pak?"
Alex tersadar.
Panggilan Reina membuyarkan lamunannya. Posisi mereka masih berjauhan dimana Alex duduk di kursi kebesarannya sedangkan Reina berdiri di dekat pintu. Bayangan tadi adalah imajinasi Alex semata
"Sial.." Gerutu Alex pelan sambil mengusap kasar wajahnya
Pria itu kembali memandangi Reina yang kembali menunduk sambil memegang erat tas selempangnya.
"Reina Sterling.. Dimana rumahmu?" tanya Alex sedikit berbasa-basi
Reina mengangkat kepalanya dan memandang Alex. Tatapan mata Reina dibalik kacamatanya seolah menggelitik syaraf genit Alex
"Saya tinggal di komplek perumahan sederhana di dekat kantor, pak." Jawab Reina.
Entah apa maksud Alex menanyakan tempat tinggalnya, Reina tidak ambil pusing. Reina hanya menunggu saat yang tepat untuk meminta maaf dan memohon agar dirinya tidak dipecat
"Dari Pack mana kau berasal?" Tanya Alex memecahkan keheningan.
"Hah?" Reina mengerutkan keningnya dan menunjukkan ekspresi kebingungan
"Maksudnya tempat tinggal saya pak?" Reina balik bertanya untuk memastikan pertanyaan Alex. Kini giliran Alex yang menatap Reina heran
"Kau tidak tahu Pack? Klan?"
Reina mengerutkan keningnya seolah berfikir. "Apa bapak bertanya tentang tempat kelahiran saya atau daerah tempat tinggal saya?"
Alex terkejut. Reina sepertinya bukanlah berasal dari Pack nya. Yang paling mengejutkan, Reina bukan berasal dari jenisnya. Beberapa kali memang Alex mendengar beberapa manusia serigala yang memiliki mate yang bukan seorang manusia serigala, tetapi Alex tidak pernah menyangka kalau dirinya akan mengalami hal serupa. Alex sedikit bimbang dan mempertanyakan kembali apakah gadis di depannya benar soulmate nya atau bukan
Alex berjalan mendekati Reina. Terlihat gadis itu sedikit gugup dan meremas tali tas selempangnya. Bau wangi itu makin kuat seiring jarak antara Alex dan Reina yang memendek sehingga membuat Alex seperti tidak sadar apa yang dilakukannya.
Alex hanya menuruti instingnya...
__ADS_1