
Setelah membersihkan diri, Alex kembali menemui Reina yang berada di kamarnya. Alex sedikit merasa bersalah karena meninggalkan Reina begitu saja selama berjam-jam dalam keadaan terluka.
"Alex.."
Alex menghentikan langkahnya dan menoleh. Alicia terlihat mendekatinya sambil tersenyum. Sesaat senyumnya menghilang saat melihat buku-buku tangan Alex yang terluka. Namun wanita itu kembali tersenyum saat menatap putra sulungnya
"Ibu sudah dengar dari Elder Eqwin." kata Alicia lembut sambil mengusap tangan Alex perlahan
Alex menghela nafas panjang. Pria itu tahu, ibunya juga sudah mendengar perihal jiwa serigalanya yang belum muncul meski sudah menemukan mate nya
"Maaf, saat ini aku belum bisa mengenalkannya ke ibu.." kata Alex sambil menunduk
Alicia tertawa pelan "Tidak apa-apa. Ibu sudah melihatnya tadi."
Alex mengangkat kepalanya sambil mengerutkan keningnya menatap Alicia
"Dia sedang tidur saat ibu masuk. Kata pelayanan, gadis itu kelelahan setelah berteriak-teriak sambil menggedor-gedor pintu kamarmu. Ibu juga sudah mengobatinya dan menyuruh pelayanan menyiapkan makanan untuknya." Jelas Alicia
Alex mengangguk pelan. Dalam hatinya, Alex bersyukur dengan apa yang dilakukan Alicia
"Sebaiknya kau segera menemuinya. Tidak usah terburu-buru." kata Alicia lagi seolah ingin menenangkan Alex
Alex tersenyum kecil sambil mengangguk. Pria itu melangkah menuju tangga
"Alex.." panggil Alicia
Alex menoleh. Alicia tersenyum lebar "Dia sangat cantik. Kalian sangat serasi. Kau harus membuat menantuku jatuh cinta padamu, ya."
Alex terkekeh mendengar ucapan Alicia. Pria itu hanya mengangguk sebagai jawabannya. Padahal dalam hati, Alex juga tidak tahu seperti apa cinta itu dan bagaimana cara agar cinta itu hadir diantara mereka
Cklek
Pintu terbuka. Alex tersenyum melihat Reina yang sedang menikmati makanannya. Terlihat leher gadis itu sudah diobati dan diperban.
Berbeda dengan Alex yang terlihat tenang, Reina tampak terkejut melihat kedatangan Alex sehingga dirinya tersedak
"Uhuuk uhuuk.."
Alex dengan cepat menuangkan minum untuk Reina dan mengusap lembut punggung Reina
"Kau tidak apa-apa?"
Suara Alex sebetulnya sangat lembut dan menenangkan. Hanya saja Reina masih terbayang Alex menggigitnya. Reina kembali beringsut menjauhi Alex sambil memeluk bantal
Alex menghela nafasnya "Kau takut padaku?"
Reina hanya terdiam sambil mengeratkan pelukannya pada bantal. Alex teringat kata-kata Elder Eqwin kalau Alex harus bersabar dengan Reina.
Alex pernah melihat Robert membujuk Alicia yang sedang merajuk dengan memegang tangan dan bertutur lembut. Tidak ada salahnya untuk dicoba
__ADS_1
Perlahan Alex mencoba meraih tangan Reina. Gadis itu masih menolak
"Kau jangan takut. Tidak akan ada yang menyakitimu di sini." Kata Alex lembut.
Alex kembali mencoba meraih jemari Reina. Kali ini gadis itu tidak menolaknya. Alex tersenyum lalu mencium lembut punggung tangan Reina.
Reina akui Alex memang tampan, tetapi hal itu tidak serta merta membuatnya terlupa akan kejadian tadi
"Kau pasti bingung dengan apa yang terjadi, kan?"
Reina hanya memberikan anggukan untuk pertanyaan Alex
"Ada yang ingin kau tanyakan?" Tanya Alex lembut sambil kembali mencium tangan Reina. Kali ini Reina merasa sedikit tenang dan sedikit percaya kalau Alex tidak akan menyakitinya
"Siapa anda?" Reina memberanikan diri untuk bertanya.
"Aku Alexander Ulrich, CEO Wind-Corp."
Reina menarik tangannya mendengar jawaban Alex. Bibirnya mengerucut sebal. Bukan itu jawaban yang diinginkannya.
Alex tertawa melihat reaksi Reina. Sepertinya gadis itu sudah cukup nyaman berada di dekatnya. Kali ini Alex memberanikan diri membelai kepala Reina. Gadis itu tidak menolaknya
"Aku, Alexander Ulrich, dari Wind Winders Pack. Satu dari empat Pack terbesar di Vadre Land, tempat tinggal manusia serigala atau yang biasa kalian sebut Werewolf."
Alex menghentikan belaiannya karena merasakan Reina sedikit menghindari belaian tangannya saat Alex menyebutkan kata Werewolf.
"Bapak.. manusia serigala?" Tanya Reina sambil menatap wajah Alex untuk memastikan.
"Apa..apa bapak makan daging manusia?" Tanya Reina pelan
Alex mengenyitkan kening mendengar pertanyaan Reina. Sebegitu buruknya kah penggambaran werewolf di dunia manusia?
"Kau pikir kami sejenis binatang buas yang bisa memakan daging mentah dengan santai? Kami memang memakan daging. Tetapi daging binatang, dan itu dimasak. Kami sama seperti kalian yang memakan daging, roti, jagung dan meminum air."
Reina meringis mendengar nada bicara Alex yang terdengar tersinggung, sepertinya dirinya salah bertanya. Tetapi sepertinya tidak salah, mengingat apa yang tadi dilakukan Alex padanya
"Aku menggigitmu bukan untuk memakanmu, melainkan untuk menandaimu. Itu cara kami untuk memberitahu Werewolf lain kalau kau sudah ada yang memiliki." Kata Alex
Mata Reina membesar. Sepertinya pria ini mengetahui apa yang ada di pikirannya. Alex menarik ujung bibirnya
"Bapak sedang membaca pikiranku?" tanya Reina sambil memicingkan mata melihat senyuman Alex
"Berhentilah memanggilku dengan sebutan bapak. Kau adalah mate ku, pasangan ku." Serobot Alex memotong ucapan Reina
Wajah Reina terlihat berfikir. Ada banyak sekali pertanyaan dalam benak Reina. Mungkin dirinya akan mencari tahu lewat buku yang pernah di bacanya di perpustakaan nasional.
"Kau memikirkan apa?" tanya Alex sambil menjentikkan jemarinya di depan wajah Reina, membuat gadis itu terkejut
"Eh? Berapa usia ba... maksudku, anda?"
__ADS_1
"30 tahun."
Mata Reina menelisik ke arah Alex, membuat pria itu mengerutkan keningnya
"Kau tidak percaya?" tanya Alex
"Kupikir werewolf hidup dengan umur panjang dan wajah yang tidak menua. Kalau usia anda 30 berarti anda belum dikatakan dewasa?" tanya Reina
Alex mendecih
"Aku bukan anak kecil. Aku sudah cukup umur untuk melakukan penyatuan denganmu dan aku bisa melakukannya sekarang juga." Kata Alex gamblang dengan raut wajah datar
Reina menganga mendengar ucapan Alex yang terkesan vulgar. Reina tahu apa yang dimaksudkan Alex dengan kata-kata penyatuan. Bisa-bisanya seorang CEO perusahaan besar berkata semesum itu! Harusnya Reina segera menampar mulut kurang ajar Alex. Tetapi gadis itu hanya terperangah seolah kehilangan kata-kata.
Alex tertawa melihat wajah terkejut Reina. Dengan lembut Alex membelai kepala Reina
"Tenang saja, aku tidak akan memaksamu melakukannya sekarang."
Wajah tampan Alex seolah menghipnotis Reina. Mata pria itu lembut menatap dirinya. Tiba-tiba pipi Reina terasa memanas.
"Ehem.." Reina berdehem untuk menetralkan degub jantungnya. Gadis itu mengalihkan pandangannya ke luar jendela, lalu menyadari sesuatu
"Ya Tuhan! Jam berapa ini?" Tanya Reina sambil melompat dari ranjang
"Baru jam tujuh malam." Kata Alex ringan
Reina menghela nafas. Rumahnya berada di kota yang berbeda, akan cukup larut saat dirinya sampai di rumah.
Reina segera melepaskan ikatan rambutnya dan mulai menyisiri rambutnya dengan jemarinya. Saat hendak mengikat asal rambutnya, tangannya di tahan lembut oleh Alex
Reina menoleh dan mendapati pria itu tersenyum. Sepertinya otak Reina sedikit konslet saat pingsan tadi, terbukti Reina terpana dengan Alex dan membiarkan pria itu menuntunnya duduk di depan cermin rias yang dilengkapi dengan meja berukiran indah.
Alex mulai menyisiri rambut Reina. Bagi Alex, menyisir rambut seorang gadis bukan hal yang tabu karena ia sering melihat ayahnya menyisiri rambut ibunya dan menurutnya hal itu sangat romantis. Reina hanya terdiam dengan perlakuan manis Alex
"Rambutmu indah. Sebaiknya di gerai saja, lagipula dapat menutupi lehermu.." kata Alex sambil meletakkan sisir dan memandang Reina dari cermin.
Sejenak Reina terpana, namun gadis itu berhasil menguasai dirinya. Reina pun kembali merogoh tasnya yang ternyata berada di atas meja rias, mencari kacamatanya lalu memakainya. Gadis itu berdiri dan hendak berpamitan
"Emm.. maaf pak, tapi.."
Ucapan Reina terpotong saat Alex melepaskan kacamatanya
"Mata mu baik-baik saja. Mengapa harus menggunakan kacamata?" Tanya Alex sambil menatap netra Reina yang memiliki lensa berwarna Amber. Warna mata yang indah
Di tatap sedemikian rupa membuat pipi Reina merona. Gadis itu merebut kacamatanya dan kembali memakainya
"Maaf pak, tapi ini sudah malam. Saya harus pulang.." pamit Reina
Raut wajah Alex berubah dingin mendengar ucapan Reina "Pulang? Mengapa kau ingin pulang. Kau sudah di rumah. Disini rumahmu, bersamaku!"
__ADS_1
Eh…?