WIND WINDERS PACK

WIND WINDERS PACK
PART 12


__ADS_3

Tiba-tiba sesuatu melompat ke arah Alex dan Reina. Dengan cepat Alex memeluk tubuh Reina dan membawanya berguling ke samping


"Aaah!" Teriak Reina dan refleks memeluk Alex dengan erat


Alex dengan cepat bangkit dengan posisi masih memeluk Reina. Mata Alex menyorot tajam pada sesosok serigala besar berbulu abu-abu. Di kening serigala itu terdapat tanda sebuah lambang


"Rogue.." desis Alex.


"A-Alex.. Mereka ada dimana-mana.." bisik Reina bergetar. Tangan Reina mencengkram kuat lengan Alex


Alex menoleh, ternyata bukan hanya satu melainkan tiga serigala dengan bulu berbeda namun memiliki tanda yang sama. Dengan cepat Alex menarik Reina ke belakang tubuhnya dan mengeluarkan cakar logam miliknya sambil memasang kuda-kuda.


Tiga serigala itu menatap tajam ke arah Alex dan Reina sambil mendengus. Uap nafasnya terlihat seiring tarikan nafas para serigala itu


"GRAAAW!"


Satu serigala melompat ke arah Alex. Alex dengan cepat memberikan tendangan putarnya pada perut serigala itu sehingga serigala itu terhempas ke samping. Suara kaingannya terdengar nyaring


Serigala di sebelah kanan kembali melompat sambil meraung keras. Alex segera mendekap Reina dan melompat tinggi menghindari serangan.


"Aaaah!" Reina menjerit saat merasakan tubuhnya ikut melayang bersama gerakan lompatan Alex. Alex mendarat dengan sempurna, namun kembali bergerak karena dua serigala itu kembali menyerbu bersamaan


Alex hanya bisa melakukan tindakan pertahanan karena dirinya juga harus menjaga Reina agar tidak dilukai oleh para Rouge itu


Craat!


"Uugh!" Alex meringis saat rasa perih menyengat dari punggungnya. Satu serigala berhasil mencakar punggung Alex membuat pria itu sedikit oleng


"Alex!" Pekik Reina saat melihat Alex meringis dengan tubuh jatuh bersimpuh pada kedua lututnya


Dua serigala itu berjalan perlahan sambil menggeram. Alex berbalik dan menghadapi dua serigala yang mengepungnya dari dua arah. Akex dengan cepat menyembunyikan Reina di belakang tubuhnya.


Dari tempatnya, Reina bisa melihat koyakan pada kemeja Alex dan sedikit darah yang merembes. Alex ternyata mengenakan rompi tebal yang menahan kuku serigala tadi agar tidak melukainya terlalu dalam. Tetap saja Reina ngilu melihatnya.


"Tetap di tempatmu, sayang." Kata Alex. Suaranya terdengar tenang


Serigala berbulu abu-abu bercampur hitam itu menggeram keras sebelum dengan cepat melompat ke arah Alex dan Reina. Alex segera menghalau serigala itu dengan melayangkan tendangannya sehingga serigala itu terhempas ke belakang.


Serigala lainnya dengan cepat menerkam Alex. Alex melompat lincah ke atas serigala itu dan memberikan tinjunya ke kepala serigala berbulu abu-abu putih itu.


"GRAAOO!!"


Serigala itu meraung dan mencoba menghempaskan Alex. Alex melompat salto ke belakang. Serigala abu-abu hitam yang ditendang Alex dengan cepat menghadang Alex. Kini di depan Alex terlihat dua serigala yang menggeram marah


Alex menarik ujung bibirnya "Dua Rogue tidak akan mudah membunuhku!"


Namun ekor mata Alex menangkap sebuah gerakan. Serigala abu-abu yang pertama di tumbangkan Alex bangkit dan mengendap-endap di belakang Reina. Gadis itu tidak menyadari akan bahaya yang menghampirinya karena fokus melihat ke arah Alex. Konsentrasi Alex pun pecah, pria itu lengah.


"Reina, awas!" Teriak Alex hendak menghampiri Reina. Namun serigala berbulu abu-abu putih itu melompat dan menjatuhkan Alex. Kaki besarnya menginjak punggung Alex yang terluka. Kukunya menancap di kaki Alex


"Aargh!" Teriak Alex saat merasakan sengatan pada punggung dan kakinya


"Alex!" Teriak Reina


Namun gadis itu membeku saat mendengar geraman keras di belakangnya. Perlahan gadis itu berbalik dan melotot horor ke arah serigala abu-abu yang seolah menyeringai pada nya

__ADS_1


"Tidak! Lepaskan dia!" Teriak Alex.


Pria itu meringis saat injakan serigala abu-abu putih itu makin menguat di punggungnya seolah menahan Alex untuk tidak bergerak


Serigala abu-abu itu menggeram keras lalu melompat ke arah Reina. Reina menjerit sambil menutup wajah dengan lengannya


"Aaaa!!"


Tepat saat itu, serigala berbulu putih dengan tanda biru di kepalanya melompat dan mengoyak leher serigala abu-abu tadi. Kedua serigala yang menyerang Alex sepertinya ikut terkejut. Alex merasakan pijakan kaki serigala abu-abu putih di punggungnya sedikit mengendur. Serigala putih bertanda biru di kepalanya itupun berdiri dan menerkam ke arah serigala yang menginjak Alex


Alex menggeram. Dengan cepat Alex menghentak bangkit dan menyerang serigala abu-abu hitam. Dengan sekali tebasan, cakar logam Alex berhasil melukai leher serigala itu. Serigala itupun terkapar di tanah dan kembali ke wujud manusia


Serigala putih dengan tanda biru yang ternyata adalah Willy pun sudah kembali ke wujud manusia. Alex terduduk sambil ngos-ngosan menahan nyeri di punggung dan bahunya. Willy segera mendekati Alex, memastikan Alpha nya baik-baik saja


"Tuan, mereka adalah Rouge yang menyerang perbatasan kemarin." Lapor Willy saat melihat bentuk manusia dari para Rouge tadi. Mata Alex memicing sambil melihat tiga jasad yang sudah tergeletak itu


"Mereka sepertinya mengincarku. Selidiki siapa yang menyuruh mereka!" Kata Alex. Willy mengangguk patuh


Alex berbalik dan melihat Reina yang terduduk sambil menutup mulutnya. Gadis itu sepertinya syok melihat perkelahian yang terjadi tadi. Perlahan Alex mendekati Reina dengan tertatih-tatih


Alex berjongkok di sebelah Reina dan memegang lembut bahu Reina "Rein, kau tidak apa-apa?"


Gadis itu mengerjap lalu memandang ke arah Alex. Sejujurnya Reina ketakutan dan ingin segera berlari menjauh, tetapi saat melihat pandangan dan kondisi Alex, Reina tiba-tiba menjadi panik


"Ya Tuhan, lukamu banyak sekali! Kau harus ke rumah sakit! Kau..."


"Aku akan pulang saja. Kau ikut denganku ya." Kata Alex sambil membelai pipi Reina untuk menenangkan gadis itu


Reina sebetulnya ingin pulang. Tetapi melihat kondisi Alex, Reina tidak tega meninggalkannya. Lagipula Alex banyak terluka karena melindunginya. Reina mengangguk lalu melihat jasad para Rouge yang menyerang mereka tadi


"Tenang saja, akan ada yang membereskannya." Kata Alex seolah membaca pikiran Reina


***


BRAAK!


Trixie menggebrak meja saat melihat kondisi Alex. Saat ini Alex tengah berada di kamarnya setelah dikunjungi oleh dokter Brian, seorang Watcher dan juga seorang dokter.


"Apa saja kerjaanmu sampai Alex terluka parah?!" Bentak Trixie pada Willy


Willy hanya menunduk tidak berani menatap ke arah Trixie. Gadis itu adalah Gamma ke tiga di Wind Winders yang melatih pasukan. Satu-satunya gadis yang melatih pasukan. Akan sangat salah bila mencari gara-gara dengan Trixie, apalagi gadis itu memiliki tempramen yang meledak-ledak


"Trix, sudahlah. Alex juga sudah baik-baik saja. Kau lupa, kemampuan Alex untuk menyembuhkan dirinya jauh lebih cepat dibandingkan yahg lain? Lagipula dokter Brian sudah memberikan obat-obatan untuk membantu proses penyembuhannya." Kata Evan tenang. Pria itu mengkode Willy untuk segera pergi.


Werewolf memang memiliki kemampuan untuk menyembuhkan diri mereka dari luka-luka ringan dengan syarat mereka harus beristirahat. Sementara untuk luka sedang dan berat, butuh bantuan dari tabib atau dokter dunia manusia dengan obat-obatan modern.


Trixie mendengkus sebal sambil melipat tangannya di depan dada. "Ini semua karena gadis itu kan?"


"Bukan, itu karena para Rogue yang menyerang Alex. Sedang di selidiki siapa yang menyuruh mereka menyerang Alpha kita." Kata Evan.


Pria itu tahu kemana arah pembicaraan Trixie. Evan mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Namun sepertinya Trixie masih ingin membahas apa yang ada di pikirannya


"Siapa gadis itu? Kenapa dia bisa ada bersama Alex?" Tanya Trixie


Evan menatap Trixie. Tidak ada gunanya menyembunyikan siapa Reina sebenarnya. Toh semua pun akan tahu

__ADS_1


"Dia mate Alex." Kata Evan


Mata Trixie membulat seakan ingin meloncat keluar. Wanita itu menggeram keras


"Kau berbohong, E!"


"Hey..calm down, Trix! Alex sedang beristirahat." Evan cepat-cepat menenangkan Trixie sambil menatap lantai dua tempat kamar Alex


"Itu pasti salah! Gadis itu bukan mate Alex!" Kata Trixie keras seolah tidak terima dengan berita yang disampaikan Evan


"Hentikan Trix! Kau bisa dianggap pengkhianat karena ucapan itu!" Kata Evan sambil menekankan suaranya


"Sialan!" Umpat Trixie sambil menyusupkan jemarinya ke dalam rambutnya. Gadis itu berjalan cepat menuju pintu keluar. Sebelum sampai di pintu, gadis itu berbalik menatap Evan dengan marah


"Gadis itu akan menjadi beban Alex. Sebaiknya minta Alex untuk me-reject nya!"


Trixie berbalik lalu keluar sambil membanting pintu. Evan mendesah pelan sambil menggelengkan kepalanya. Tanpa Evan sadari, seseorang juga mendengar apa yang Trixie ucapkan.


***


Reina menatap Alex yang tertidur. Nafas pria itu teratur. Luka akibat serangan di taman tadi sudah di tangani oleh dokter Brian, dokter manusia dan juga seorang Watcher. Reina baru tahu istilah untuk seorang manusia yang sangat dekat dengan dunia Werewolf. Gadis itu cukup lega mengetahui dirinya bukan satu-satunya manusia yang terlibat dengan Werewolf


Wajah Alex tampak pulas, mungkin karena pengaruh obat tidur yang diberikan dokter Brian. Perlahan Reina menyentuh pipi dan rahang Alex. Terlihat jejak luka di pelipis Alex. Reina mengamati perban yang dibebatkan di badan kekar Alex dan kaki kirinya. Pria itu hanya mengenakan celana pendek tanpa baju atasan.


Perlahan Reina menyelimuti tubuh Alex. Hati Reina tiba-tiba terasa perih. Karena melindungi dirinya lah Alex menjadi seperti ini.


"Maafkan aku.." bisik Reina sambil menggenggam tangan Alex. Reina merutuki dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa saat penyerangan di taman


Tadi, saat Reina hendak turun untuk mengambil air minum, ia mendengar ucapan yang di lontarkan Trixie


"Gadis itu akan menjadi beban Alex. Sebaiknya minta Alex untuk me-reject nya!"


Reina tidak ingin menjadi beban untuk Alex. Pria itu berhak mendapatkan mate yang sepadan untuk dirinya, yang bisa berjuang di sampingnya dan bukannya mate yang merepotkan seperti Reina.


Reina tahu arti dari me-reject, dari buku yang dibacanya. Jika seorang Werewolf mendapatkan mate, lalu mate nya menolak dengan mengucapkan sepatah dua patah kata sakral, maka itu akan membuat seorang Werewolf kehilangan hubungan dengan mate nya.


Kemungkinan pertama, ia memiliki pilihan sendiri dan ingin hidup dengan pilihannya. Tetapi pasangan seperti ini jarang berakhir bahagia karena menentang jodoh dari Moon Goddess.


Kemungkinan kedua, Werewolf itu akan hidup dengan perasaan hampa tanpa adanya perasaan cinta dan itu akan membuat kekuatannya menurun dan mati perlahan.


Namun hal itu sangat jarang terjadi, karena setiap pasangan Werewolf yang ditakdirkan akan memiliki perasaan saling mencintai yang berbalas.


Namun Reina bukanlah seorang Werewolf..


Tadinya Reina memutuskan akan me-reject Alex, tetapi kemudian gadis itu berfikir. Penolakan itu tidak akan terlalu berdampak pada Reina, karena dirinya dapat mencari pasangannya sendiri sesama manusia setelah dirinya melupakan Alex.


Walaupun Reina merasa masih terlalu dini untuk mengatakan kalau dirinya terjatuh dengan pesona Alex. Meskipun dua hari ini, Reina merasakan perasaan nyaman dan menenangkan saat bersama Alex, tetapi Reina yakin kalau dirinya akan lebih mudah melupakan Alex


Tetapi bagaimana dengan Alex? Reina tidak ingin Alex menjalani hidupnya tanpa cinta. Karena itu, harus dari mulut Alex lah ucapan itu terlontar. Harus Alex yang tidak menginginkan dirinya. Harus Alex yang me-reject dirinya


Terasa hatinya berdenyut perih saat membayangkan Alex tidak menginginkan dirinya dan me-reject nya


"Kenapa ini?" Pikir Reina sambil memegang dada kanannya, tempat degub kehidupan Reina


Gadis itu menghela nafas panjang. Reina merasa tubuhnya sangat letih. Tanpa sadar, Reina ikut merebahkan tubuhnya di samping Alex. Tangannya masih menggenggam tangan Alex. Gadis itu menatap Alex dari arah samping

__ADS_1


"Sembuhlah.." bisik Reina. Tak lama gadis itu ikut memejamkan matanya di samping Alex


Keduanya terlelap, tanpa tahu dari genggaman tangan keduanya memancarkan sinar keemasan yang perlahan menyelimuti tubuh Alex


__ADS_2