
"SERANG MEREKA!!"
Mendengar perintah yang diteriakkan Alex, ratusan warrior Wind Winders segera bertransformasi dan meraung keras. Rasanya segala amarah yang sejak tadi mereka tahan karena melihat Alpha dan Luna mereka ditawan, kini dapat segera di puaskan. Mereka segera berlari menaiki bukit dan menerjang semua musuh yang ada
Pack Wind Winders adalah pack yang terkenal dengan kecepatan dan ketangkasan mereka dalam berperang. Beberapa dari musuh yang waspada segera melakukan shift untuk menghadapi para warrior Winders, sedangkan yang lambat menyadari lebih dulu diterkam dan mati terkoyak
Beberapa Alpha segera melakukan shift dan ikut menyerang pasukan Wind Winders. Alex yang melihatnya, tidak tinggal diam. Segera pria itu menyambar mantelnya dan mengambil cakar logamnya. Alex segera melompat ke tengah-tengah pertempuran.
Reina melihat semua serigala saling menyerang. Jujur, Reina belum bisa membedakan yang mana kawan dan yang mana lawan. Reina hanya mengenal sosok Alex yang sedang menendang satu serigala dan bergerak cepat menerjang untuk mengoyak leher mereka dengan cakar logam milik Alex
Segera Reina mengalihkan matanya. Pemandangan yang mengerikan..
Reina berusaha untuk berdiri, menjauh dari medan pertempuran. Biar bagaimanapun, dirinya masih dalam bahaya. Bahaya untuk dirinya dan untuk Wind Winders Pack
Satu serigala melompat ke arah Reina sembari meraung keras. Reina memekik, refleks mengangkat kedua tangannya
"Tidak!"
Bersamaan dengan itu, seberkas cahaya perak keemasan keluar dari telapak tangan Reina dan menghantam serigala itu. Tubuh serigala itu terbang melayang dan jatuh ke tanah dengan keras. Serigala itu langsung berubah ke wujud manusianya sambil mengerang, sepertinya terluka
"Rein.." Alex menoleh melihat Reina yang juga terlihat bingung. Alex tidak punya banyak waktu memandang Reina, kembali pria itu disibukkan oleh beberapa orang yang menyerangnya
Reina menatap kedua tangannya dan menoleh ke arah Alex "Apa yang.."
Mata Reina membulat saat melihat Anggi berlari cepat sambil menghunuskan pisau. Tujuan perempuan itu adalah menyerang Alex dari belakang. Alex sepertinya terlalu sibuk sehingga tidak menyadari bahaya yang datang dibelakangnya
"Alex!! Awas!"
Tanpa Reina sadari, tubuhnya bergerak berlari ke arah Alex. Tepat saat Alex berbalik karena mencium wangi tubuh Reina yang kian mendekat, tepat saat Reina melompat ke depan Alex untuk melindungi Alex dari serangan Anggi
"Aaaakh.." Reina menjerit tertahan saat merasakan sengatan panas di perutnya. Matanya menatap ke arah Anggi yang juga terlihat terkejut hingga melepaskan tangannya, membiarkan pisaunya menancap di perut Reina. Anggi tidak pernah menduga kalau Reina akan menahan serangannya.
Tubuh Reina menegang sesaat sebelum ambruk ke tanah. Cairan merah yang hangat membasahi tangan Reina
__ADS_1
Mata Alex terbelalak melihat sebilah pisau menancap di perut Reina saat gadis itu ambruk. Mata Reina terlihat sayu menatap Alex dan mulai terpejam
"Aku mencintaimu, Alexander Ulrich.." Suara bathin Reina bergema di kepala Alex. Mata Alex memerah, tubuhnya terasa panas seolah darahnya tengah menggelegak
"Tidaaak!!"
Sebelum Reina benar-benar kehilangan kesadarannya, Reina mendengar raungan Alex yang memekakkan telinga
***
Suara samar raungan terdengar terbawa angin seakan menggetarkan dedaunan. Pria itu segera membuka matanya dan menegakkan telinganya sembari menatap keluar jendela. Matanya memicing
"Argeronz..."Desis pria itu
Dengan cepat pria itu keluar dan naik ke rooftop. Ditatapnya bulan purnama yang terlihat sempurna. Bulan biru, Blue moon
Pria itu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Kegiatan itu diulanginya beberapa kali, seakan ingin menarik energi yang dipancarkan bulan
Secepat kilat pria itu melompat dari rooftop keatas atap dan mulai melompat dari satu atap ke atap yang lain hingga sampai di taman kota. Didongakkan kepalanya menatap bulan
"Setelah hampir seratus tahun berlalu, mengapa kau masih mempertemukan aku dengannya? Tidak cukupkah hukuman yang kau berikan kepadaku, Moon Goddess.." Bisik pria itu pada rembulan
Lalu pria itu melolong panjang
***
Alex menatap Reina yang masih terbaring di ranjang besar miliknya. Genap lima hari gadis itu tidak sadarkan diri. Sudah beberapa botol cairan infus bercampur obat yang diberikan dokter Brian untuk Reina, tetap saja gadis itu betah berada di dunia mimpi
Semua orang tahu, Alex menjaga Reina dengan baik setiap harinya walau beberapa kesibukan membuat Alex terpaksa meninggalkan Reina sebentar
Seperti hari ini, Alex tengah menjaga Reina sambil terus menggenggam hati-hati jemari gadis itu karena khawatir mengenai intavena yang terpasang. Mata Alex tidak lepas dari wajah Reina yang terlihat damai dalam tidurnya
"Sebegitu indah kah dunia mimpi sampai kau betah disana berhari-hari, Rein?" tanya Alex sambil mencium lembut tangan Reina
__ADS_1
Tatapan Alex beralih ke perut Reina. Perlahan pria itu menyibakkan selimut dan piyama Reina. Terlihat perban yang membalut luka tusukan di perut Reina. Perlahan Alex membelai perban Reina. Masih teringat jelas saat gadis itu melompat dan menghalangi pisau Anggi dengan tubuh mungilnya. Rasa bersalah kembali mendera perasaan Alex
"Bangunlah Rein, jangan biarkan aku merasa bersalah seperti ini. Aku berjanji, aku akan selalu melindungi dan membahagiakanmu tetapi kau harus bangun dulu.." bisik Alex dengan suara tercekat
Satu detik.. dua detik.. tiga detik.. sepuluh detik...
Alex kembali menghembuskan nafas saat melihat Reina tetap diam dan nyaman dalam tidurnya. Alex kemudian ikut naik dan berbaring di sisi Reina. Lengan Alex memeluk Reina setelah memastikan tidak akan mengenai selang infus yang terpasang di tangan kurus Reina. Berharap saat Reina bangun, Alex lah orang pertama yang dilihat Reina
***
Sinar lembut matahari menyapa wajah Reina. Gadis itu mengerang kecil sambil mengerjapkan matanya perlahan, membiasakan menerima sinar. Gadis itu mencoba memindai sekelilingnya dengan batas pandangan mata
"Dimana.." bisik Reina
Kamar yang asing, tetapi Reina familiar dengan wangi kamar ini. Reina juga menyadari adanya lengan kekar yang memeluk dirinya sedang punggungnya menempel pada dada seseorang.
Perlahan Reina mencoba mengangkat lengan yang membelit tubuhnya namun rasanya berat sekali, atau tenaganya yang belum pulih benar
"Reina..?"
Reina tersenyum kecil mendengar suara seseorang yang sangat dirindukannya. Perlahan Reina membalikkan badannya dan menatap wajah tampan Alex yang juga tengah menatapnya dengan lega. Alex menarik lembut dagu Reina
"Akhirnya kau bangun juga.." bisik Alex sambil mengecup pelan bibir Reina. Bibir itu terasa kering, namun Alex tidak perduli
"Aku hanya istirahat sebentar, tuan Ulrich.." suara Reina masih terdengar lemah
Alex memandang mata Reina dengan tatapan kerinduan lalu pandangan Alex mengikuti jemarinya yang bergerak membelai pipi dan bibir Reina
"Kau tertidur selama enam hari, sayang. Kau bilang itu sebentar?"
Alex kembali memeluk Reina erat seolah takut kehilangan gadis itu
"Jangan pergi lagi, jangan tinggalkan aku lagi.."
__ADS_1