
Vadre Land
Kastil besar itu nampak sedikit mencolok karena berada di tepian danau dengan air yang sangat bening. Suasana terlihat damai dari luar, tetapi tidak di dalamnya
SRAAT!
Pisau panjang itu kembali mencabut satu nyawa. Tiga orang tampak tergeletak di rumput. Tiga orang itu adalah Rogue yang tadi menyerang Reina dalam perjalanan pulang
"Kau terlalu buru-buru menghabisi nyawa mereka." Ujar seseorang berjas biru yang sejak tadi duduk diam melihat semua eksekusi yang terjadi di depan matanya.
"Seharusnya mereka mati saat pertempuran. Bukan kembali dalam keadaan kalah dan terluka seperti ini." Ujar seseorang yang tadi memegang pisau
"Alexander Ulrich memang cukup tangguh. Dia menjaga mate nya dengan baik." Orang berjas biru itu mendekati salah seorang Rogue yang tergeletak. Matanya meneliti beberapa luka yang ada di tubuhnya
"Cakar logam Tungsten memang tidak ada duanya. Tetapi tetap tidak bisa menandingi cakar asli seorang Werewolf." Desis orang berjas biru itu
"Tuan, apa aku harus mencari rogue lagi untuk membunuh Alex dan mate nya?" Tanya pria yang memegang pisau itu
Pria berjas biru itu menggeleng "Belum saatnya. Pemimpin Rogue akan marah bila mengetahui kita menggunakan anak buahnya."
Pria itu berbalik sambil menyeringai "Kau sebarkan saja berita kalau para Rogue di bunuh oleh Alexander Ulrich dari Wind Winders Pack."
Pria yang memegang pisau itu juga ikut menyeringai kejam "Akan kulakukan."
"Ohya, apa kau sudah meracik racun wolfsbane?" tanya pria berjas biru itu
"Cukup sulit melakukannya. Aku butuh seorang manusia yang bisa melakukan itu semua. Tetapi sepertinya dia tahu.." Ujar pria pemegang pisau dengan mata memicing marah
"Kau mencurigai dia?"
"Tidak ada salahnya untuk terus waspada, tuan."
Pria berjas biru itu terbahak mendengar jawaban pria pemegang pisau
"Bagus, jangan pernah percaya siapapun."
Pria pemegang pisau itu mengangguk "Ohya, aku juga sudah mendengar kabar tentang gulungan yang di sinyalir sebagai tempat penyimpanan tongkat Ratu Reign."
Pria berjas biru itu tersenyum lebar. Matanya berkilat tajam dan licik "Cari terus tempatnya. Kita harus menemukan tongkat itu terlebih dahulu agar kita bisa menguasai Vadre Land.."
***
Reina mengantar dokter Brian keluar dari kamar setelah mengobati Alex, tepat dengan kedatangan Alicia dan Robert. Reina segera menyambut kedua orang tua Alex
__ADS_1
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Robert
Alex mengacungkan jempolnya menandakan dirinya baik-baik saja
"Sayang, kau pasti syok melihat penyerangan tadi ya." kata Alicia sambil membelai kepala Reina
"Aku tidak apa-apa, ibu. Alex dan Willy melindungiku dengan baik." Ucap Reina menenangkan Alicia
"Berarti sudah dua kali ini Rogue terang-terangan menyerang." kata Robert sambil melihat ke arah Alex dan Reina bergantian
"Apa ayah mencurigai sesuatu?" tanya Alex. Pria itu sedikit meringis menahan luka di perutnya
Robert menatap Reina lalu menoleh ke Alex "Belum, aku belum menemukan alasan dibalik penyerangan mereka."
Alex juga terlihat berfikir, sebelumnya memang beberapa kali para Rogue membuat ulah namun kali ini mereka terlalu sering membuat ulah
"Apa ini ada hubungannya dengan para Alpha yang meminta perlindungan di Wind Winders Pack?" gumam Alex. Pria itu meringis merasakan nyeri di perutnya
"Sebaiknya kita tinggalkan mereka sayang. Alex harus beristirahat untuk memulihkan tubuhnya." Ucap Alicia sambil mendekati Reina
"Maaf merepotkanmu, ibu titip Alex ya." Alicia menggenggam lembut jemari Reina.
"Baik ibu, aku akan merawat Alex sebaik mungkin." Jawab Reina. Alex tersenyum mendengar ucapan Reina
Robert dan Alicia pun pamit meninggalkan Reina dan Alex berdua di dalam kamar
"Tidak, aku hanya ingin tidur. Kau mau menemaniku di sini?" Tanya Alex
Reina mengangguk. Gadis itu mengatur bantal agar Alex berbaring dengan nyaman. Mata gadis itu kembali memindai tubuh Alex. Pria ini adalah seorang pejuang, terlihat dari beberapa bekas luka di tubuhnya. Saat mengenal Alex pun, sudah dua kali pria ini terluka dan Reina merasa itu karena dirinya
"Jangan menyalahkan dirimu, Rein. Seorang Werewolf biasa terluka seperti ini."
"Reina langsung melotot mendengar kata-kata Alex
"Kau.. Berhenti membaca pikiranku!" Reina refleks memukul perut Alex membuat pria itu mengaduh.
"Aduuh.."
"Eh, maafkan aku.." Reina sendiri pun tersadar karena sudah memukul perut Alex yang terluka.
Alex tertawa kecil melihat wajah bersalah Reina yang menurutnya cukup lucu dan menggemaskan
"Kemarilah.." Alex merentangkan tangannya, menyuruh Reina untuk masuk ke dalam dekapannya.
__ADS_1
Reina menurut. Gadis itu segera berbaring dengan bahu Alex sebagai bantalnya. Lengan Alex langsung melingkar di tubuh Reina. Wangi yang selalu dirindukannya selama tiga hari kembali memanjakan indera penciumannya
"Alex.."
"Hmm?" Jawab Alex
"Terima kasih kau sudah datang menolongku." Ujar Reina
"Sama-sama. Akan ku tagih ucapan terima kasih mu nanti." Jawab Alex sedikit jahil
Reina mengerutkan keningnya. Di tagih? Apa Alex akan memotong 50% gajinya? Sungguh terlalu kalau itu benar
Alex hanya tertawa kecil mendengar lintasan pikiran Reina. Alex terlihat lebih rilex. Mungkin juga karena obat yang diberikan dokter Brian membuat Alex mengantuk. Lama kelamaan mata pria itu memberat dan jatuh tertidur
Reina juga sedari tadi menyandarkan kepalanya di bahu Alex. Reina baru sadar kalau tempat ternyaman saat tidur adalah bahu Alex.
Suara dengkuran halus terdengar. Reina mendongak dan melihat Alex yang sudah tertidur. Reina tersenyum sembari membelai rahang kokoh Alex. Belaiannya terus turun ke leher, dada hingga sampai di perut yang sudah diperban rapi. Reina mengusap perlahan perut Alex
"Sembuhlah.." Bisik Reina
Tak lama mata Reina juga ikut terpejam, bersamaan dengan sinar perak keemasan keluar dari tangan Reina dan menyelimuti tubuh Alex
***
Alex terbangun di sebuah tempat yang asing. Bau tanah dan kayu basah menyapa penciumannya. Alex menebak, dirinya tengah berada di hutan.
Perlahan Alex bangkit sambil melihat ke sekeliling. Pengelihatannya hanya dibantu oleh terangnya sinar rembulan. Beruntung bagi Alex karena penglihatan Werewolf amat tajam meskipun di malam hari
"Dimana ini.." Desisnya
Telinganya menangkap deburan ombak, seakan tidak jauh dari tempatnya berdiri. Alex juga menghidu bau laut yang kuat.
"Sepertinya ada pantai di luar hutan."
Alex mengikuti instingnya mendekati suara deburan ombak. Jalan setapak di depannya kian melebar, suara deburan ombak itu semakin jelas terdengar.
Tidak memerlukan waktu lama, Alex sampai di tepi hutan yang langsung berbatasan dengan pantai dengan pasir putih yang berkilau seperti perak karena ditimpa sinar bulan. Sungguh indah pemandangannya.. Alex seperti pernah melihat tempat itu, namun ia lupa dimana
"Alexander.."
Alex menegakkan telinganya. Sebuah suara lirih memanggilnya, suara seorang wanita. Alex kembali melangkah sambil mencari-cari sumber suara tersebut
"Alexander.."
__ADS_1
Alex menoleh, suara itu datang dari balik karang besar yang berada dekat tepi pantai. Alex melangkah mendekati karang besar itu. Matanya memicing melihat apa yang ia temukan di balik karang besar itu
"Sebuah jalan?"