WIND WINDERS PACK

WIND WINDERS PACK
PART 18


__ADS_3

Alex baru saja mengantarkan Reina pulang ke rumahnya. Gadis itu terus menerus meminta pulang, bahkan nekat pergi seorang diri. Alex tidak bisa membiarkan Reina pergi sendirian.


Alex juga sudah berjanji tidak akan memaksa Reina dan membiarkan Reina menenangkan diri di rumahnya. Satu permintaan Reina yang dengan berat hati dikabulkan Alex adalah, Reina tidak ingin diganggu untuk beberapa waktu.


Willy sesekali melirik ke arah Alpha nya yang duduk dibelakang, termenung sembari melihat ke luar kaca jendela mobil. Willy tidak tahu apa yang Alex pikirkan, Willy hanya berharap Alex baik-baik saja


"Tenanglah Willy, aku baik-baik saja." Kata Alex sambil tersenyum tipis tanpa melepaskan pandangannya ke luar jendela


Willy tertawa kecil. Willy lupa kalau Alex bisa membaca pikiran siapapun yang diinginkannya


"Jangan khawatir tuan, nona hanya butuh waktu untuk mengenal tuan." Kata Willy berusaha menghibur hati Alex


Alex tersenyum kecil. Berapa lama kira-kira waktu yang dibutuhkan Reina? Sehari? Seminggu? Setahun? Tidak! Alex secepatnya membutuhkan Reina untuk memanggil jiwa serigala dalam dirinya


Alex menghela nafas berat. Pria itu berusaha tidak memikirkan kekurangannya, selama dirinya bisa menjaga Pack nya dengan baik maka semua akan baik-baik saja.


"Ohya tuan, mengenai Rogue yang kemarin menyerang. Kami belum bisa melacak siapa dalang dibalik penyerangan seminggu lalu. Tetapi Beta Nick menemukan sesuatu."


Alex mengalihkan pandangannya ke arah Willy. Topik pembicaraan yang dipilih Willy benar-benar bisa mengalihkan perhatiannya


"Apa itu?" Tanya Alex


"Di dalam darah Rogue yang menyerang di taman kemarin terkandung racun dari tanaman wolfsbane."


"Apa?!"


"Kemungkinan mereka terlebih dahulu diracun dan dijanjikan akan diberi penawar apabila berhasil membunuh anda, tuan." Ucap Willy sambil menatap jalan raya


"Rogue yang menyerang perbatasan juga dibunuh oleh panah yang dilumuri racun dari tanaman wolfsbane. Apa ini adalah orang yang sama?" Alex seolah bertanya pada dirinya sendiri


Alex memandangi titik-titik hujan yang mulai turun. Dalam sekejap jalanan menjadi basah. Mobil Alex tetap melaju dengan kecepatan sedang


"Kami sudah menyusuri setiap jengkal di Vadre Land, tetap tidak menemukan dimana bunga wolfsbane itu hidup." Kata Willy


Alex tersenyum kecut mendengar analisa konyol dari Willy.


"Wolfsbane tidak akan ada di Vadre Land. Tidak akan ada yang mau menanam bunga itu, Willy. Mereka lebih takut keracunan daripada menanamnya untuk meracuni..."


Tiba-tiba Alex teringat akan sesuatu. Segera diraihnya telepon genggamnya dan menelepon seseorang. Baru panggilan pertama, teleponnya langsung diangkat


"Beta Nicholas melapor pada Alpha.." Jawab suara di seberang


"Paman Nick, kemarin paman pernah mengatakan kalau paman tahu kabar dari paman Joey, betul begitu?" Tanya Alex dengan nada penasaran


"Benar. Dia dan tiga keponakannya sekarang sedang merintis ke dalam bisnis obat-obatan racikan." Kata Nick dari seberang sana


Alex memicing, merasakan sedikit kecurigaan pada Joey "Apa paman tahu dimana paman Joey berada?"

__ADS_1


"Setahuku dia tinggal di pinggir kota. Tetapi aku tidak tahu pasti alamatnya. Kau ingin aku menyelidikinya, Alpha?" Tanya Nick


"Ya. Selidiki secara detail, paman." Ucap Alex


"Aku curiga, dia mengembangkan tanaman wolfsbane di dunia manusia." Kata-kata ini hanya di simpan Alex dalam pikirannya


"Baik, akan kuselidiki." Jawab Nick


"Terima kasih, paman. Berhati-hatilah."


Alex menutup teleponnya. Pria itu memicingkan mata seolah berfikir.


"Willy, nyalakan peta hologram." Perintah Alex


Willy segera menekan beberapa tombol. Tak lama peta hologram muncul di hadapan Alex. Alex segera memeriksa beberapa daerah yang di curigainya


"Gamma Lyxor, kau pergi ke daerah Top Valley. Gamma Sky, kau pergi ke daerah prefektur X dan Gamma Evan, kau periksa perkebunan teh di pinggir kota yang menuju daerah waterheat. Susuri tentang keberadaan wolfsbane di sana. Segera beritahu aku kalau menemukan sesuatu." Alex mengirimkan pesan ke beberapa Gamma di Pack nya


"Baik, Alpha."


"Siap laksanakan, Alpha."


"Ok, kakak."


Alex meng off kan peta hologram di depannya. Pria itu menghela nafas panjang sambil bersandar di kursi mobil. Semenjak pengkhianatan Joey, Alex merasa hidupnya selalu tidak tenang. Alex butuh sesuatu untuk menenangkan dirinya


Alex kembali menghela nafas saat dihadapkan pada kenyataan kalau itu semua tidak akan terjadi. Tidak dalam waktu dekat ini. Gadis itu sangat marah karena peristiwa tadi siang. Pria itu mematikan handphone nya dan kembali memandangi luar jendela


Willy mencuri pandang ke arah tuannya untuk menebak isi hati dan pikiran Alex. Namun Willy gagal menebaknya


"Tuan, anda baik-baik saja?" Tanya Willy dengan hati-hati sambil memperhatikan raut wajah Alex


Alex hanya memasang wajah datar, tidak bereaksi apapun terhadap ucapan Willy


"Kenapa tiba-tiba kau bilang begitu?" Tanya Alex


"Mm..tidak ada apa-apa, tuan." Kata Willy sambil kembali berkonsentrasi ke jalanan di depannya


Keduanya kembali terdiam di mobil dengan pemikirannya masing-masing


***


Reina mendesah pelan saat melihat ke arah penanggalan. Sudah tiga hari semenjak Alex mengantarnya pulang, pria itu tidak datang menemui Reina ataupun mengirimkan pesan. Selama itu pula Reina tanpa sadar mengecek teleponnya kalau-kalau ada panggilan dari Alex. Namun hasilnya nihil, pria itu benar-benar memberinya waktu


"Kamu kenapa begini, Reinaaa.." gumam Reina sambil menepuk-nepuk kepalanya seolah memperbaiki sesuatu yang rusak di sana


Reina kembali menghela nafas saat mengecek handphone nya. Tetap tidak ada berita dari Alex.

__ADS_1


"Apa Alex terlalu sibuk dengan Trixie sampai tidak mencariku?" Gadis itu mengerucutkan bibirnya sambil bergumam


"Reina, tolong kamu periksa jumlah barang dengan data yang masuk di bagian gudang." Suara Anggi, bos divisinya mengejutkan Reina


"Baik bu.." Reina segera meletakkan handphone nya dan mulai mengcopy file data dari komputer ke iPad nya


"Beberapa hari ini kau terlihat aneh, Rein." Kata Anggi sambil bersandar di partisi kubikel Reina dan memperhatikan gadis itu seksama


Reina melihar sekilas ke arah Anggi sambil tertawa "Aneh bagaimana bu?"


"Well ya.. Semenjak kau pulang dari tugas dadakan ke kantor pusat Wind-Corp, kamu terlihat seperti orang linglung. Banyak melamun, senyum-senyum sendiri, sering ngecek handphone.. Sesuatu yang sangat jarang di lakukan Reina Sterling yang kukenal."


Reina tersenyum menanggapi ucapan Anggi. Pernikahannya dengan Alex adalah pernikahan tertutup dan hanya diketahui oleh beberapa bangsa Werewolf yang kebetulan berada di Toronto. Wajar kalau beberapa orang tidak tahu kalau sebetulnya Reina sudah menikah dengan CEO Wind-Corp, Alexander Ulrich. Pernikahan yang sebetulnya dipaksakan, tetapi anehnya Reina menurutinya


"Mm.. Tetapi.." Anggi tidak melanjutkan ucapannya


"Tapi?"


"Kamu kelihatan makin cantik sekembalinya dari kantor pusat. Berbinar-binar seperti sedang jatuh cinta." Puji Anggi


Pipi Reina sedikit memerah mendengar pujian Ella. Reina juga teringat perkataan Evan yang mengatakan dirinya lebih terlihat cantik dibandingkan terakhir kali bertemu. Teringat ucapan Penny semalam


FLASHBACK


Penny memperhatikan gerak-gerik Reina dengan seksama. Putri semata wayangnya terlihat lebih pendiam semenjak pulang dari kantornya dua hari yang lalu.


"Reina.." panggil Penny sembari duduk di sebelah Reina yang tengah memandangi handphon miliknya


"Ya mom?" Jawab Reina sambil menatap Penny


"Ada yang terjadi selama aku tidak ada?" Tanya Penny


Reina mengerutkan kening sambil tertawa kecil "Harusnya aku yang bertanya seperti itu, mom. Memangnya kenapa?"


"Entahlah.. Dua hari ini aku melihat kau lebih pendiam." Tanya Penny.


Reina hanya menggeleng pelan sebagai jawaban dari pertanyaan Penny. Kembali gadis itu melirik handphonenya dan mendesah kecewa. Penny meraih tangan Reina dan menggenggamnya. Reina tidak memperhatikan genggaman tangan mereka karena perhatian Reina lebih ke arah handphone nya


Terlihat pendaran cahaya keemasan dari genggaman tangan mereka. Penny memicingkan mata lalu menatap Reina yang sedang menatap handphonenya


"Reina, coba lihat aku sebentar."


Reina menurut. Gadis itu melihat ke arah Penny "Ada apa mom?"


Penny membuka kacamata Reina. Jemari Penny menyisir lembut rambut Reina yang panjang tergerai sembari memperhatikan sesuatu


"Kau sedang jatuh cinta?"

__ADS_1


__ADS_2