
FLASHBACK
"Reina, maafkan ibu kalau hal ini terdengar egois. Tetapi, maukah kau menikah dengan putra sulungku hari ini?"
Reina menatap netra milik Alicia. Netra itu menyorot lembut dan penuh pengharapan.
"Mengapa aku, nyonya?"
"Karena kau mate nya. Kau jodohnya.." Ujar Alicia
Wanita itu menghela nafas pelan "Sejak kecil, aku dan ayahnya tahu kalau Alex memiliki sebuah takdir yang tidak mungkin ia tolak. Kami berusaha mempersiapkannya dengan baik.."
Alicia menoleh menatap Reina "Tetapi itu tidak akan sempurna tanpa bantuan dirimu, sayang."
Reina hanya terdiam dan menyimak setiap kata yang diucapkan Alicia.
"Alex membutuhkan dirimu untuk menghadapi takdirnya. Hanya kau yang bisa menyempurnakan dan membantunya." Alicia menggenggam lembut tangan Reina
"Tapi ini terlalu cepat, nyonya. Saya bahkan tidak begitu mengenal tuan Ulrich.."
"Tapi kau tidak menolak sentuhannya kan?" Alicia mengerling sambil tersenyum nakal ke arah Reina
Ucapan Alicia membuat pipi Reina sontak memerah. Alex memang pria pertama yang dekat dengan Reina, karena selama ini selain Reina tidak terlihat menarik di hadapan lawan jenis, Reina pun tidak merasakan hal apapun saat berhadapan dengan pria manapun, setampan apapun pria itu.
"Itu karena kau adalah jodoh yang dipasangkan Moon Goddess untuk Alex. Hanya kau yang bisa membantunya, Reina.. Hanya kau."
FLASHBACK END
Pelukan Alex menyadarkan Reina dari lamunannya. Apakah ini maksud Alicia untuk membantu Alex? Untuk menutupi kelemahan Alex.
"Rein.."
"Ya?"
"Kenapa kau diam?"
Alex melepaskan pelukan Reina dan mendongak menatap wajah Reina seakan meneliti sesuatu.
"Kau kecewa?"
Reina mengerutkan keningnya sambil tertawa kecil "Kenapa aku harus kecewa?"
"Entahlah. Karena aku tidak bisa bertransformasi?" tanya Alex lagi
__ADS_1
"Tidak, karena aku mungkin akan butuh waktu saat melihat dirimu menjadi serigala. Kalian semua terlihat mirip, nanti aku bingung mencarimu." Gurau Reina sambil tertawa kecil.
Keduanya saling bertatapan. Entah siapa yang memulai, bibir keduanya kembali bertemu. Reina meremas bahu Alex saat merasakan tangan Alex memeluknya makin erat dan mulai menjelajahi tubuhnya
"Aku menginginkanmu Reina.. Malam ini.." Suara Alex terdengar parau dengan nafas terengah-engah.
Ciuman Alex berubah menjadi cepat, nakal dan semakin panas, menghantarkan rasa aneh di perut Reina
Tiba-tiba gadis itu memutuskan ciuman mereka dan mendorong Alex kuat-kuat
"Ada apa Rein?" Alex mengerang frustasi
Reina hanya terdiam. Gadis itu segera bangkit dari pangkuan Alex dan lari menuju kamar mandi tanpa menghiraukan panggilan Alex.
Bagi seorang Alpha seperti Alex, pantang bagi nya diabaikan. Hal itu akan membuatnya amat marah. Kalau saja Reina adalah anggota Pack nya, tentu Alex tidak tinggal diam dan langsung menghukumnya. Namun Reina adalah mate nya, Alex tidak bisa berbuat apa-apa.
Pria itu menggeram keras sambil meremas rambut coklatnya. Alex menahan dirinya untuk tidak mendobrak pintu kamar mandi. Yang bisa dilakukannya hanyalah mondar-mandir menunggu Reina.
Tak lama Reina keluar dari kamar mandi. Melihat wajah pucat Reina membuat amarah Alex menguap dan berubah menjadi kekhawatiran. Seumur hidup, Alex belum pernah merasakan rasa khawatir seperti ini. Segera pria itu menghampiri Reina
"Ada apa? Apa aku menyakitimu?" Tanya Alex cepat sambil menangkup pipi Reina
"Ng, maafkan aku..tetapi sepertinya aku butuh bantuanmu..." Reina menggigit bibirnya seolah ragu untuk mengucapkan kalimat nya
Mata Reina berkerjap menatap Alex yang terlihat khawatir
"Ng, aku baru saja datang bulan dan aku butuh pembalut.." Jawab Reina pelan dengan wajah memerah
"Hah?!"
***
Evan tidak bisa menahan tawanya saat mendengar ucapan Alex. Tadinya Evan sedikit bingung saat menerima mind-link dari Alex untuk menemaninya keluar. Biasanya setelah pernikahan, pasangan pengantin baru menghabiskan waktu mereka di dalam kamar. Tetapi kakaknya malah mengajaknya ke apotek.
Alex berdecak kesal melihat Evan terus saja tertawa. Alex mengalihkan perhatiannya ke arah beberapa tumpukan pembalut dengan merk yang berbeda-beda. Seumur hidup Alex belum pernah membeli benda ini. Alex baru tahu ternyata benda perempuan ini memiliki jenis dan merk berbeda
"Jadi, yang mana?" tanya Alex
"Apanya?" Evan balik bertanya pada Alex
"Ck, benda yang biasa di gunakan Faye. Yang mana?" Tanya Alex tidak sabar. Beberapa pasang mata melihat kearah kedua pria itu. Alex dan Evan terlihat tidak nyaman
"Bagaimana bisa kau pergi sendiri membeli benda ini, kakak. Kau bisa menyuruh salah seorang pelayan." kata Evan melalui mind-link
__ADS_1
"Dan membuat gosip kalau Alpha mereka gagal di malam pertama? Yang benar saja!" Balas Alex
"Itu bukan hal memalukan. Kau saja yang selalu ingin terlihat sempurna." cibir Evan
Alex berdecak kesal "Sudah, jadi yang mana?!"
"Faye biasa menggunakan tampon merk ini." Tunjuk Evan pada salah satu produk
Kening Alex berkerut melihat gambar depan dari merk yang di tunjuk Evan.
"Sepertinya kakak ipar tidak pakai yang seperti itu. Beli yang biasa saja." Ujar Evan melihat keraguan di wajah Alex
Tanpa basa-basi Alex memasukkan beberapa pembalut kedalam keranjang belanjanya. "Biar dia pilih sendiri."
Alex dengan cepat pergi menuju kasir. Evan tidak dapat menahan tawa sambil mengikuti kakaknya dari belakang
"Faye juga biasa meminum pereda nyeri dan minuman kesehatan saat sedang datang bulan." Ujar Evan saat melihat beberapa obat yang biasa digunakan Faye
Alex melihat ke arah obat-obatan yang di tunjuk Evan lalu beralih ke kasir
"Borong semua. Masukkan saja di sini, supaya kita cepat pergi dari tempat ini."
Evan hanya geleng-geleng melihat tingkah kakak sulungnya.
***
Reina terbengong-bengong melihat banyaknya pembalut wanita yang dibelikan Alex. Pria itu menggelar semuanya seperti menggelar dagangan saat festival musim gugur di Kingston
"Aku tidak tahu mana yang biasa kau pakai. Jadi kubelikan semua. Kalau kurang bilang saja."
Reina tersenyum geli mendengar ucapan Alex "Nggak, ini sudah lebih dari cukup. Sepertinya beberapa bulan kedepan, pengeluaran untuk membeli pembalut bisa di hilangkan."
"Ah ya, aku juga beli beberapa obat-obatan pereda nyeri. Kata Evan, Faye biasa meminumnya saat datang bulan." Kata Alex sambil memberikan paperbag berisi obat-obatan yang dibelinya di apotek
Reina menerima paperbag sambil terharu karena mendapatkan perhatian dari Alex. Seumur hidup hanya Penny yang memperhatikan dan menyayangi dirinya, namun sekarang ada seseorang lagi yang juga memperhatikan dirinya
"Kenapa Rein? Kau merasa sakit?" tanya Alex melihat Reina menitikkan air mata.
Pria itu menyingkirkan semua bungkusan pembalut di tempat tidur dan membawa Reina berbaring di kasur.
"Berbaringlah, kau sepertinya lelah seharian menjamu tamu." Alex menyelimuti tubuh Reina.
Pria itu ikut berbaring di samping Reina sambil mengelus pelan kepala Reina. Belaian tangan Alex seakan familiar, seolah Reina pernah merasakan belaian tangan yang sama, entah di mana. Reina menoleh menatap Alex yang masih menatapnya lembut. Reina tersenyum tulus
__ADS_1
"Terima kasih banyak.."